My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 36


__ADS_3

"Hati-hati ya nak disana. Ingat apa yang ibu katakan tadi malam, utamakan kesopanan," ujar ibu Suci kala mengantar Fanya di luar rumah panti. Yap, seperti yang dikatakan oleh Zico kemarin malam jika dirinya akan menjemput Fanya pagi-pagi buta. Dan kini ia sudah berada di panti sekitar satu jam yang lalu yang artinya pukul 4 pagi ia sudah berada disana.


Sebenarnya tak hanya ibu Suci saja yang ikut mengantar kepergian Fanya, melainkan ada Lesi dan kelima gadis yang semalam sempat menyidang Fanya tentunya malam tadi juga Fanya langsung menceritakan semuanya tanpa ia tutup-tutupi. Dan reaksi mereka jangan ditanya lagi, pastinya mereka turun senang akan kabar Fanya yang akan di persunting oleh seorang laki-laki yang sangat mereka yakini adalah laki-laki baik walaupun terlihat sedikit menyeramkan di mata mereka. Ya memang hanya dimata mereka saja Zico tampak menyeramkan dengan tatapan datar nan dinginnya, beda lagi jika dia sudah berhadapan dengan Fanya yang pastinya sifat jelek yang ada didalam dirinya dengan seketika menghilang begitu saja.


Fanya tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan ibu Suci.


Tatapan ibu Suci kini berpindah kearah Zico yang berdiri di belakang Fanya.


"Nak Zico, ibu titip Fanya ya. Ibu yakin nak Zico bisa menjaga Fanya disana," ucap ibu Suci dengan mengelus kepala Fanya dengan sayang.


"Tanpa ibu pinta, Zico akan tetap menjaga Fanya dengan nyawa Zico sebagai taruhannya. Ya sudah berhubungan waktu sudah pukul 5 lebih, kita pamit ya Bu." Zico mengulurkan tangannya yang dibalas oleh ibu Suci dan seperti biasa ia mengecup punggung tangan wanita paruh baya tersebut. Dan setelah ia selesai, Fanya melakukan hal yang sama dengannya. Namun kali ini diakhiri dengan pelukan serta ciuman di kedua pipi serta kening Fanya tentunya yang dilakukan oleh ibu Suci.


"Jaga diri baik-baik," ujar ibu Suci yang lagi-lagi dibalas anggukan kepala oleh Fanya. Kemudian perempuan itu berpindah kearah keenam gadis yang ikut mengantarnya tadi, memberikan pelukan singkat ke mereka sebelum ia mendekati Zico.


Zico meraih tangan Fanya, ia genggam tangan itu lalu ia berkata, "Kita berangkat Bu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam," balas ibu Suci dan keenam gadis tadi.

__ADS_1


Tanpa melepaskan tautan ditangannya, Zico membawa Fanya melangkah mendekati mobilnya. Bak seorang ratu Fanya dibukakan pintu oleh Zico sembari laki-laki itu berkata, "Silahkan my lovely Angel."


Fanya hanya bisa tersenyum dengan gelengan kepalanya, lalu setelahnya ia segara masuk dan membiarkan Zico menutup pintu mobil disebelahnya sebelum laki-laki itu sedikit berlari menuju ke pintu kemudi.


Saat Zico sudah berada di dalam, ia menatap Fanya dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.


"Kamu siap bertemu dengan keluargaku, sayang?" tanya Zico dengan memberikan elusan di kepala Fanya.


Sebenarnya Fanya belum siap, tapi ia sudah tidak bisa menundanya lagi. Alhasil ia menganggukkan kepalanya sembari berusaha menekan rasa takut dan pikiran negatifnya tentang apa yang akan terjadi nanti saat ia bertemu dengan keluarga Zico.


"Baiklah kalau begitu. Let's go kita berangkat," ujar Zico terdengar sangat senang dan tak sabaran ingin memperkenalkan Fanya kepada seluruh keluarganya. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Zico melanjutkan mobilnya keluar dari area panti tak lupa ia sempat membunyikan klaksonnya. Sedangkan Fanya yang tengah gugup hebat, ia menyempatkan dirinya untuk melambaikan tangannya kearah keluarganya.


Zico menghela nafas panjang, ia menyerah untuk menenangkan Fanya yang tengah dilanda gugup itu sehingga kali ini yang bisa ia lakukan yaitu menggenggam tangan Fanya seerat mungkin.


"Jika kamu gugup ambil nafasmu dalam-dalam lalu hembuskan secara perlahan," ucap Zico memberikan instruksi yang mungkin bisa membuat Fanya tenang.


Diam-diam Fanya melakukan instruksi dari Zico tadi sampai berulangkali. Dan instruksi itu sedikit memberikan efek kepada Fanya.

__ADS_1


Zico yang melihat Fanya lebih tenang dari sebelumnya, ia menyunggingkan senyuman.


"Jika kamu ngantuk tidur saja. Nanti aku bangunkan kalau kita sudah sampai," ujar Zico diakhiri dengan mengecup singkat punggung tangan Fanya. Ia tau Fanya tengah mengantuk karena menurut informasi yang ia dapatkan dari ibu Suci tadi jika perempuan itu baru tidur pukul 2 pagi dan bangun di jam setengah 4 yang berarti Fanya hanya istirahat sekitar satu jam setengah, mungkin hal itu merupakan salah satu efek dari kegugupan yang tengah Fanya rasakan.


Namun sayangnya ucapan dari Zico tadi dibalas dengan gelengan oleh Fanya lalu disusul sebuah kalimat yang tertuang di dalam notebook. Zico melirik kearah notebook tersebut guna membaca kalimat tersebut.


"Aku tidak mengantuk. Dan lebih baik kamu fokus dengan jalanan di depan. Jangan sampai karena kamu terus berbicara kepadaku, fokus kamu ke jalan hilang dan berakibat fatal ke kita berdua. Aku tidak mau meninggal karena aku belum menikah."


Zico terkekeh membaca tulisan tersebut.


"Baiklah-baiklah, aku akan fokus ke jalan mulai sekarang," ujar Zico yang dihadiahi dua jari jempol oleh Fanya. Lalu setelahnya Zico benar-benar diam dengan mata yang menatap lurus kedepan sedangkan Fanya, perempuan itu memilih melihat kesamping jalan walaupun ia tak benar-benar melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya, melainkan diam-diam ia melamun dengan otaknya yang penuh dengan pikiran negatif.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam akhirnya mobil Zico memasuki pekarangan rumah mewah yang berhasil membuat Fanya terkesima menatap rumah tersebut tanpa berkedip sedetikpun sampai-sampai ia tak menyadari Zico yang sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Kita sudah sampai, sayang. Keluar yuk," ajaknya menyadarkan Fanya dari keterdiamannya.


Fanya tampak mengerjabkan matanya lalu mengalihkan pandangannya dari rumah tadi ke arah Zico sebelum ia menatap kearah uluran tangan laki-laki itu yang berada tepat didepannya. Dan dengan ragu Fanya membalas uluran tangan tersebut, kemudian dirinya keluar dari dalam mobil milik Zico.

__ADS_1


"Ini rumah milik kedua orangtuaku. Kamu tidak perlu gugup ataupun takut karena keluargaku tidak akan menggigitmu," ujar Zico yang membuat Fanya menghela nafas kasar. Bisa-bisanya kekasihnya itu masih berusaha menghiburnya dengan candaan yang sama sekali tak lucu. Tidak taukah dia, jika dirinya saat ini hampir mati berdiri sekaligus minder setelah melihat rumah mewah di depannya. Dan tanpa ia mencari tahu terlebih dahulu, ia yakin jika Zico keturunan konglomerat, ya walaupun Fanya sempat melihat Zico memakai pakaian formal, ia dulu berpikir jika Zico bekerja sebagai karyawan kantor bisa dan walaupun dia kaya tapi tidak sampai disebuah konglomerat. Tapi setelah melihat rumah di depannya ini dengan seketika tebakannya yang dulu musnah dan digantikan dengan rasa rendah diri yang merasa tak pantas bersanding dengan Zico karena yang pastinya keluarganya akan mencari menantu yang setara dengan mereka entah dari bebet, bibit dan bobotnya, dan jika dibandingkan dengannya tentunya Fanya kalah jauh dari kriteria para menantu konglomerat itu.


__ADS_2