My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 88


__ADS_3

Zico senantiasa duduk disamping brankar yang diatasnya terdapat Fanya yang masih menutup matanya. Laki-laki itu terus menggenggam tangan Fanya yang tak di infus. Dan salah satu tangannya yang lain mengelus kepala Fanya dengan lembut. Tatapan matanya pun tak lepas dari wajah pucat sang istri.


Mommy Della yang baru masuk kedalam ruang inap Fanya pun ia menghela nafas sebelum dirinya mendekati putranya yang terlihat jelas masih terpukul atas kehilangan calon anaknya.


Mommy Della yang sudah berada di belakang Zico, ia mengelus pundak sang putra. Dan sentuhan yang ia lakukan tadi berhasil membuat Zico menolehkan kepalanya dengan senyum tipis di bibirnya kala tau orang yang mengelus pundaknya tadi.


"Gimana? Apa ada tanda-tanda Fanya bangun sayang?" tanya Mommy Della yang membuat Zico mengalihkan pandangannya kembali menatap Fanya. Lalu setelahnya ia menggelengkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari Mommy Della tadi.


Lagi-lagi Mommy Della menghela nafas.


"Ya sudah kalau begitu kamu makan dulu sana gih sayang. Mommy tadi sudah beliin kamu makanan," ucap Mommy Della.


"Nanti saja Mom. Jio belum lapar."


"Sayang, kamu terakhir makan tadi pagi. Tidak mungkin sampai malam begini kamu tidak merasakan lapar sama sekali. Jadi makan dulu. Jangan sampai karena kamu mengacuhkan jadwal makanmu, kamu jadi sakit. Kan gak lucu sayang kalau Fanya nanti sadar ehhh kamunya yang malah terkapar. Makan ya," bujuk Mommy Della.


Zico tampak terdiam sebelum ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah Jio makan dulu. Titip Fanya ya Mom," ujar Zico sembari bangkit dari posisi duduknya. Padahal dirinya hanya makan di sofa yang masih berada di satu ruangan yang sama dengan sang istri. Tapi ia merasa saat ia melepaskan tangan Fanya, seolah-olah istrinya itu akan pergi darinya seperti sang calon buah hati mereka.


"Iya sayang. Mommy akan menjaga Fanya selagi kamu makan," balas Mommy Della yang diangguki oleh Zico. Dan sebelum laki-laki itu benar-benar beranjak dari samping Fanya, ia menyempatkan dirinya untuk mengecup kening Fanya cukup lama dan diakhiri dengan elusan sekilas di kepala istrinya itu. Kemudian setelahnya, ia benar-benar pergi dari samping Fanya.


Dan setelah kepergian dari Zico tadi, barulah Mommy Della menepati kursi yang tadi di tempati oleh Zico. Ia menatap sekilas Zico yang berada di belakang sana. Tatapan laki-laki itu tertuju kearah dua perempuan di depannya dengan tangan yang terus bergerak menyuapi dirinya sendiri dengan makanan yang dibawakan oleh Mommy Della tadi.


Mommy Della kembali menatap kearah sang menantu dengan tatapan prihatin. Tangannya pun bergerak, menggenggam erat tangan dingin sang menantu.


"Segeralah sadar Fanya. Jujur Mommy tidak tega melihat Zico lemah seperti ini. Dan mungkin sadarnya kamu akan membuat semangatnya kembali," batin Mommy Della. Walaupun dirinya tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Bisa jadi sadarnya Fanya nanti justru akan membuat Zico semakin terpuruk karena harus mengingat kejadian buruk saat pertama kali ia menerima berita duka tadi pagi ketika Fanya menanyakan keadaan calon buah hati mereka.


Tapi Mommy Della selalu berharap semoga Zico bisa menjelaskan semuanya kepada Fanya dengan kesabaran dan keteguhan hatinya.


Mommy Della menganggukkan kepalanya dengan senyum manisnya.


"Baiklah Mommy akan ke sofa. Jika kamu butuh bantuan, panggil Mommy saja ya. Dan ingat, kamu juga butuh istirahat. Jangan begadang," ucap Mommy Della yang memang dari awal kekeuh untuk menemani Zico menunggu Fanya di rumah sakit walaupun Daddy Aiden memaksanya untuk istirahat di rumah tadi.


Zico membalas ucapan sang Mommy hanya dengan anggukkan saja.

__ADS_1


Sedangkan Mommy Della, setelah ia mengatakan hal tersebut, Mommy Della beranjak menuju ke deretan sofa di ruang rawat Fanya. Sehingga ia saat ini hanya bisa melihat putra dan menantunya dari belakang dengan helaan nafas yang kesekian kalinya keluar dari hidungnya sebelum dirinya menyibukkan dirinya dengan ponsel yang sedari tadi bergetar menandakan beberapa pesan masuk kedalam benda pipih miliknya itu.


...****************...


Waktu terus berjalan dan kini peran bulan yang menyinari bumi digantikan oleh matahari. Sinar yang begitu terang itu perlahan masuk kedalam celah-celah jendela di sebuah ruang rawat inap pribadi keluarga Abhivandya hingga membuat seseorang yang sedari kemarin menutup matanya kini mata cantik itu bergerak dan perlahan mulai membuka. Sayup-sayup si pemilik mata itu yang tak lain adalah Fanya mendengar suara orang-orang yang tampak sedang berbincang. Dan benar saja saat ia menolehkan kepalanya kearah samping kanannya, ia bisa melihat seluruh anggota keluarga dari suaminya tengah berkumpul di sofa panjang tak jauh darinya.


Sepertinya semua orang itu tak menyadari jika Fanya sudah sadar hingga suara pintu kamar mandi terbuka dan muncul lah Zico dari dalam sana.


Laki-laki yang hendak menutup pintu kamar mandi, niatannya itu terhenti kala matanya tak sengaja melihat tubuh Fanya yang bergerak sehingga ia kini berlari mendekati sang istri. Pergerakan dari Zico yang terlihat panik itu tentunya mengundang semua pasang mata yang ada di ruangan itu untuk melihat kearahnya. Dan ketika mereka tau hal apa yang membuat Zico panik, mereka segara mendekati Zico dan Fanya.


Sedangkan Zico, ketika ia sudah berada di samping sang istri, ia langsung menekan tombol untuk memanggil Dokter agar ke ruangan itu sekarang juga.


Tapi setelahnya, Zico langsung menggenggam tangan Fanya yang terlihat terdiam saja dari tadi.


"Tunggu sebentar ya sayang. Dokter akan segara kesini," ucap Zico diakhiri dengan ia mengecup punggung tangan sang istri. Entah kenapa saat ia melihat tatapan mata Fanya yang terlihat kosong membuat hatinya Zico rasanya seperti ditikam ribuan belati, sangat sakit dan sesak sekali.


Apalagi kala mata dengan tatapan kosong itu menatap tepat di kedua matanya, rasanya Zico saat ini juga ingin menghilang dari dunia fana ini. Namun sebisa mungkin Zico tetap menguatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa hmmm? Ada yang sakit?" tanya Zico yang tak dibalas sama sekali oleh Fanya. Perempuan itu masih diam membisu hingga tangannya yang lemah mulai bergerak, membuat kata demi kata dengan bahasa isyaratnya.


Zico maupun kedua orangtuanya yang memang paham dengan bahasa isyarat tertegun saat Fanya menyudahi bahasa isyaratnya tadi yang berarti, "Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku karena aku baik-baik saja. Tapi yang harusnya kamu khawatirkan adalah calon anak kita. Gimana? Apa dia baik-baik saja? Apa calon anak kita tidak terluka?"


__ADS_2