
Fanya yang sedari tadi melamun dengan tatapan lurus kearah langit-langit kamar inapnya, kini mata indah itu mengerjab saat ia merasakan ciuman di keningnya. Ia menolehkan kepalanya dan saat itu juga ia menemukan suaminya yang berdiri disampingnya dengan senyum yang begitu menenangkan. Namun sayang senyuman itu masih saja belum membuat hati Fanya tenang sepuhnya. Ia masih risau dengan keadaan calon buah hatinya. Terlebih saat ia tadi bertanya kepada Dokter Ariana dan Kakak iparnya tentang kondisi calon buah hatinya, mereka berdua sama-sama diam. Tak ada yang mau menjawab pertanyaan darinya sama dengan suami dan keluarga besar Abhivandya. Sehingga Fanya kini kembali bertanya dengan pertanyaan yang lagi-lagi sama, "Apakah kamu bisa menjelaskan tentang keadaan calon anak kita sekarang juga?"
Pertanyaan penuh tuntutan agar mendapat jawaban itu membuat Zico menghela nafas panjang, dirinya pun sempat menolehkan kepalanya kearah keluarga besarnya yang berada di belakangnya seolah-olah ia meminta persetujuan dari mereka. Dan dengan kompak, keempat orang di belakang sana menganggukkan kepalanya. Sehingga Zico yang melihat anggukkan itu kembali menatap kearah Fanya yang menatapnya dengan lekat.
Zico memejamkan matanya sembari menghirup nafas dalam-dalam sebelum ia membuangnya dengan kasar dan matanya kembali ia buka.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menjelaskan kondisi calon anak kita. Tapi janji sama aku, setelah kamu tau kondisi dia, kamu harus tetap kuat dan kamu harus ingat jika semua yang terjadi sudah menjadi takdir kita dari yang maha kuasa. Kamu paham sayang?" balas Zico dengan suara yang sangat lembut. Namun balasan dari Zico tadi justru membuat jantung Fanya rasanya akan copot saat ini juga. Matanya pun memanas karena entah kenapa ia sangat yakin jika calon buah hati yang selama 3 bulan ia kandung sudah tidak ada di rahimnya lagi. Tapi mau tidak mau ia menganggukkan kepalanya. Ia butuh penjelasan yang lebih jelas lagi dari pada dirinya menebak-nebak seperti ini dan bersedih terlebih dahulu padahal belum tau kebenarannya. Siapa tau kan ada keajaiban dari tuan jika calon buah hatinya tak kenapa-kenapa dan ucapan dari Zico tadi hanya gurauan semata atau bisa dibilang prank buatnya.
Fanya masih berusaha menampik firasat buruk yang ia rasakan hingga Zico mulai menjalankan tentang keadaan calon buah hati mereka.
"Sebelumnya aku minta maaf jika jawaban dariku ini menyakitimu, sayang. Tapi aku harus mengatakan yang sebenarnya kepadanya mengenai buah hati kita. Kamu ditemukan pingsan di halaman belakang oleh seorang maid dan dibawa langsung kesini dalam keadaan kamu pendarahan hebat. Kamu sempat kehilangan banyak darah dan menyebabkan kamu kritis. Tapi syukur Alhamdulillah kamu bisa melewati masa kritis kamu. Tapi untuk calon buah hati kita, dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi sayang. Tepat pukul 10 kamu dinyatakan keguguran," jelas Zico dengan suara berat. Tanda jika dirinya tengah menahan tangisnya. Ia sudah berjanji bukan untuk tetap tegar dihadapan Fanya. Jadi sebisa mungkin ia tak akan mengeluarkan air matanya lagi.
__ADS_1
Zico yang melihat tangis Fanya yang cukup histeris itu, ia langsung memeluk tubuh istrinya yang masih terbaring lemah diatas brankar itu. Ia tak peduli jika punggungnya saat ini di pukul ataupun di cakar oleh Fanya yang memberontak didalam dekapannya. Ia yakin pemberontakan yang dilakukan oleh istrinya itu karena Fanya menganggap jika ia tak pantas lagi untuk Zico karena telah lalai dan menyebabkan calon buah hati mereka yang sangat di tunggu-tunggu kedatangannya oleh Zico harus meninggal sebelum ia lahirkan. Kenapa Zico bisa yakin jika Fanya berpikir ia tak pantas lagi bersama Zico? Tentu saja karena ia sudah tau watak istrinya yang sudah ia nikahin selama satu tahun lebih dan sudah ia kagumi selama bertahun-tahun itu. Fanya tipikal orang yang selalu menyalahkan dirinya sendiri jika sesuatu terjadi kepada dirinya apalagi sesuatu itu membuat seseorang merasa di rugikan. Dan tak sedikit kemungkinan ia bisa menghukum dirinya sendiri entah dengan cara apapun termasuk melukai dirinya sendiri akan ia lakukan selagi itu bisa menebus kesalahan yang menurutnya itu karena ulahnya.
Zico memberikan usapan lembut di puncak kepala Fanya tanpa melepaskan pelukannya yang justru semakin membuat Fanya memberontak.
Zico menggigit bibir bawahnya. Lidahnya sangat kelu hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan membuat Fanya tenang.
__ADS_1
"Sayang, tenang. Bukannya aku tadi sudah bilang dari awal jika kamu mau tau semua kenyataan yang memang menyakitkan ini kamu harus kuat? Dan kamu sudah berjanji akan hal itu sayang. Jadi aku mohon jangan seperti ini. Kita terima takdir ini dengan ikhlas ya. Mungkin Allah mengambil kembali calon buah hati kita karena yang maha kuasa mau calon anak kita nanti yang akan membawa kita ke surga. Allah mau membuat calon anak kita menjadi malaikat kecil yang akan menunggu kita di surga sana nanti. Dan aku yakin saat kita ikhlas menerima takdir ini, Allah akan mengganti keikhlasan kita dengan hal-hal indah di masa depan kita nanti. Dan memangnya kamu mau malaikat kecil kita bersedih di surga ketika melihat kamu seperti ini? Tentu saja dia akan bersedih, sayang. Bagaimana dia tidak bersedih kalau lihat Mommynya yang paling dia sayang menangis seperti ini. Jadi demi malaikat kecil kita agar terus tersenyum di atas sana, kamu jangan nangis lagi oke. Kamu harus terus tersenyum agar malaikat kecil kita ikut tersenyum disana," ucap Zico panjang lebar dengan sesekali ia mengusap air matanya sendiri yang sialnya masih saja menetes walaupun ia tahan sepenuh tenaga sedari tadi. Ia pun juga berharap semoga dengan ucapan penenang yang ia lontarkan untuk Fanya bisa membuat istrinya itu tenang. Dan sepertinya hadapannya itu terkabulnya kerena ia sudah tak merasakan pukulan dan cakaran dari Fanya. Justru ia merasakan jika istrinya itu saat ini tengah memeluknya dengan sangat erat. Walaupun ia masih mendengar tangisan Fanya yang sangat menyayat hatinya.
Sedangkan keempat orang yang tadinya berniat untuk mendekati sepasang suami-istri itu dan berniat untuk membantu Zico menenangkan Fanya, niatan mereka terhenti kala melihat Fanya perlahan tenang. Tapi tak urung karena mereka sempat mendengar ucapan dari Zico yang berhasil menyentuh hati mereka membuat keempat orang tadi tak tahan untuk tidak mengeluarkan air matanya. Mommy Della menangis didalam pelukan Daddy Aiden yang saat ini menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mommy Della guna menyembunyikan tangisannya. Sedangkan Vivian menangis sesenggukan di dada bidang Erland yang juga tengah menangis dengan sesekali mengusap air matanya dengan kasar.