My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 65


__ADS_3

Mommy Jea perlahan melepaskan pelukannya saat dirasa Cheasea sudah terlelap dalam tidurnya. Wanita paruh baya itu menghela nafas saat melihat mata Cheasea sembab. Ia mengusap lembut kepala Cheasea sembari berkata, "Setelah ini Mommy harap kamu selalu bahagia, Sayang."


Mommy Jea meninggalkan sebuah kecupan singkat di kening Cheasea sebelum dirinya beranjak dari ranjang milik putrinya itu lalu ia bergegas keluar dari dalam kamar tersebut. Saat ia sudah keluar, dirinya dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di sebelah pintu.


"Astaga, kenapa kamu berdiri disitu? Bikin kaget saja," ujar Mommy Jea sembari mengelus dadanya yang tampak berdetak kencang.


"Maaf sayang. Aku tidak bermaksud buat mengejutkanmu," ujar Daddy Max. Ya, setelah menyelamatkan Cheasea dari aksi bunuh diri tadi, ia memang langsung meninggalkan sang putri begitu saja namun dirinya bukan benar-benar pergi tapi ia hanya keluar dari kamar Cheasea dan menunggu sang istri menenangkan Cheasea di luar kamar tersebut.


Sedangkan Mommy Jea, ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari Daddy Max tadi.


"Baiklah-baiklah, aku memaafkanmu. Tapi apa yang kamu lakukan disini?" tanya Mommy Jea heran dengan suaminya itu.


"Apa Cheasea sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Daddy Max.


Mommy Jea menganggukkan kepalanya, "Ya, dia sudah baik-baik saja. Tapi ya tadi dia sempat putus asa. Dan sepertinya tanpa aku beritahu alasan dia ingin mengakhiri hidupnya tadi, kamu sudah tau lebih dulu. Benarkan?"


Daddy Max dengan lesu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya, aku tau. Sebelum aku kembali ke pesta pernikahan Jio tadi, aku sempat mendengar semua curhatan Cheasea mengenai perasaannya kepada Jio. Dia menyukai Jio entah sejak kapan aku juga tidak tau tapi yang pasti dia terlambat untuk bisa memiliki Jio. Dan aku juga menyalahkan diriku sendiri karena tidak peka dengan perasaan putriku sendiri yang memiliki rasa kepada Jio. Jika saja aku tau lebih awal aku mungkin bisa menjodohkan mereka. Tapi semuanya sudah terlambat, Jio sudah menikah dengan perempuan pilihannya sendiri. Aku merasa aku tidak becus jadi seorang ayah, sayang," ujar Daddy Max penuh penyesalan.


Mommy Jea yang melihat rasa bersalah yang cukup besar dari mata Daddy Max pun ia langsung memeluk tubuh sang suami.


"Kamu sudah berhasil menjadi ayah yang terbaik untuk Cheasea. Jadi jangan menyalakan dirimu sendiri hanya karena kamu tidak tau perasaan Cheasea. Ingat sayang, semua orang di dunia ini tidak akan pernah tau isi hati orang lain termasuk orang-orang yang memiliki darah yang sama dengan kita. Jadi please jangan menyalahkan dirimu. Kita memang terlambat untuk mengetahui perasaan Cheasea dan kita juga tidak bisa berbuat apapun untuk membantunya. Jadi sekali lagi aku tegaskan, kita tidak perlu menyalahkan diri kita. Tapi harusnya kita mendoakan Cheasea agar dia cepat bangkit, cepat move on dan mendoakan agar Cheasea mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari Jio yang rasa cintanya jauh lebih dalam dari rasa cinta Cheasea kepadanya," ucap Mommy Jea dengan menepuk-nepuk punggung sang suami.


Sedangkan Daddy Max, ia menganggukkan kepalanya, mensetujui apa yang dikatakan oleh Mommy Jea tadi.


"Nah berhubung Cheasea sudah tenang. Kita ke kamar saja. Kita butuh istirahat." Mommy Jea melepaskan pelukannya, lalu tangannya kini melingkarkan di lengan Daddy Max. Dan tanpa menunggu persetujuan dari Daddy Max, Mommy Jea melangkahkan kakinya yang otomatis membuat Daddy Max turut melangkahkan kakinya.


...****************...


Zico, laki-laki itu terbangun lebih dulu dari Fanya, saat ia membuka matanya dan melihat wajah istrinya masih terlelap, sudut bibirnya seketika terangkat, membentuk sebuah senyum manis.


Tangannya bergerak, mengelus kepala Fanya dan perlahan sentuhan itu turun kebawah tepat di kedua mata lentik yang menutup itu, turun lagi ke hidung mancung milik hanya hingga tangannya kini berhenti di bibir kecil milik Fanya. Ia mengusap bibir yang berhasil membuat dirinya candu saat ini. Rasa manis dari bibir istrinya semalam masih sangat terasa di bibir Zico sehingga tangannya kini menyentuh bibirnya sendiri sebelum ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya kala merasakan panas di kedua pipinya. Ayolah, Zico saat ini tengah salah tingkah saat mengingat kejadian semalam yang membuatnya harus keluar berkali-kali. Ahhhh mengingat hal tersebut, membuat adik Zico kini terbangun.


Zico yang sempat tersipu malu, kini menggeram saat hasratnya terbangun.

__ADS_1


"Tenanglah, aku mohon jangan sekarang. Kasihan jika aku harus membangunkan Fanya dari tidur lelapnya. Jadi adik manis, bersabarlah," ujarnya dengan menatap miliknya dibawah sana yang terbalut selimut.


Namun sayang seribu sayang, adiknya itu tak kunjung tidur kembali apalagi saat melihat Fanya bergerak dalam tidurnya. Dan saat perubahan posisi tadi, tidak sengaja selimut yang menutupi tubuh tanpa sehelai benang milik Fanya itu menyingkap dan memperlihatkan dua gunung kembar yang terdapat banyak tanda keunguan tentunya tanda itu hasil karya Zico semalam.


Zico menelan salivanya dengan susah payah. Tolonglah Zico sudah tidak tahan.


Zico mengacak-acak rambutnya. Ia hampir gila hanya karena hasratnya itu.


"Sialan!" umpat Zico.


"Arkhhh aku sudah tidak tahan lagi." Zico kini bangkit dari posisi telentangnya. Jika kalian pikir Zico akan pergi ke kamar mandi untuk menjinakkan adiknya sendirian, maka kalian salah. Zico bukannya ke kamar mandi untuk bermain solo, tapi dia justru menelentangkan tubuhnya Fanya dan mengukung tubuh polos itu dibawahnya.


Tatapan penuh napsu milik Zico itu menyorot tajam di setiap inci tubuh Fanya sebelum dirinya menyelusupkan wajahnya di leher jenjang milik Fanya, ia menghirup bau badan milik Fanya yang masih saja wangi seperti semalam. Tak hanya itu, dirinya juga mencium sesekali menghisap leher itu, menambah tanda biru keunguan disana.


Akibat dari perbuatan Zico itu, membuat tidur Fanya terusik. Ia menggeliatkan tubuhnya menahan sensasi rasa geli di lehernya itu. Dan saat ia berhasil membuka matanya sempurnanya, ia dibuat terkejut saat melihat ada seseorang yang menindih tubuhnya. Hampir saja Fanya memukul kepala orang yang berada di atasnya itu jika saja, orang tersebut alias Zico tidak segara menjauh dari leher jenjang Fanya.


"Sayang, adikku bangun. Bantu aku untuk menidurkannya lagi ya. Hanya satu ronde saja, please," pinta Zico dengan suara seraknya.

__ADS_1


Fanya yang melihat tatapan penuh permohonan dari suaminya pun ia jadi tak tega untuk menolaknya, alhasil ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas permintaan dari Zico tadi. Anggukan kepala dari Fanya berhasil membuat Zico tersenyum merekah. Dan karena dirinya tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, ia langsung tancap gas untuk memulai olahraga paginya itu.


__ADS_2