My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 29


__ADS_3

Zico melihat keterbingungan di mata Fanya, ia melanjutkan ucapannya yang sempat ia jeda tadi dengan tangan yang semakin erat menggenggam tangan Fanya.


"Maaf jika sekitarnya apa yang akan aku katakan ini terlalu mendadak buat kamu. Tapi jujur dari dalam hatiku yang paling dalam jika aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak kita pertama kali bertemu," ujar Zico yang sudah tidak kuasa lagi menahan rasa di dalam hatinya yang selalu meronta-ronta agar ia segara menyatakan cintanya kepada Fanya.


Tentunya Fanya terkejut dengan ungkapan yang baru saja Zico katakan itu. Dan tentu saja gelagat Fanya dipahami oleh Zico.


"Mungkin kamu sedikit lupa dengan kejadian waktu pertama kita bertemu di sebuah toko bunga di Jakarta. Saat itu kita memang tidak saling sapa, tapi kita hanya saling pandang saja itu pun hanya sesaat saja, tapi justru dari situlah aku merasakan perasaan aneh di dalam hatiku saat melihat tatapan teduh darimu dan senyum manismu. Ingin sekali saat itu aku berkenalan denganmu tapi waktuku tidak banyak saat itu sehingga dengan terpaksa aku mengurungkan niatku. Tapi Tuhan terlalu baik kepadamu sehingga kita di pertemukan lagi untuk yang kedua kalinya. Ya kamu tau sendiri walaupun saat itu pertemuan kita tidak sebaik pertemuan pertama kita. Tapi saat itu aku menyadari jika aku sudah terpikat olehmu. Rasa khawatir melihat kamu terluka, rasa hangat saat melihat senyummu dan rasa nyaman saat aku melihat tatapan teduhmu sudah menyadarkanku tentang perasaanku yang sebenarnya kepadamu. Dan mungkin kamu belum tau satu alasan kenapa aku mencarimu sampai bertahun-tahun selain untuk meminta maaf kepadamu tapi juga untuk memiliki hatimu serta ragamu. Aku mencintaimu tanpa adanya alasan Fanya. Aku benar-benar mencintaimu," ucap Zico panjang lebar meluapkan seluruh isi hatinya. Dulu memang ia pernah menjelaskan kepada Fanya tentang pertemuan mereka tapi ia tak memberitahu alasan utama ia mencari Fanya karena ia merasa belum tepat waktunya dan karena ia merasa saat ini sudah tepat, maka ia mengatakannya sekarang.


Fanya mengerjabkan matanya dengan jantung yang berpacu dua kali lebih cepat. Perlahan tangannya pun melepaskan genggaman tangan Zico untuk meraih notebooknya. Tangannya terlihat bergetar saat ia menggenggam pena di tangannya. Namun tetap saja ia menuliskan kata demi kata untuk membalas ucapan dari Zico tadi.


"Maaf Kak Aka, tapi aku tidak bisa menerima cinta kamu. Aku tidak bisa menjadi pacar kak Aka. Maaf."


Bukannya merasa hatinya sakit, Zico justru tersenyum melihat balasan dari Fanya.

__ADS_1


"Aku mengungkapkan perasaanku bukan untuk meminta kamu menjadi pacarku Fanya. Tapi aku meminta kamu untuk menjadi istriku."


Fanya terkejut bukan main. Ia kita tadi Zico mengungkapkan perasaannya karena ia ingin berpacaran kepadanya makanya secara tegas Fanya menolak karena menurutnya pacaran akan membuang waktunya saja sekaligus nanti kalau putus pasti hanya akan menjadi musuh. Namun ucapan Zico tadi benar-benar tak ada di dalam pikirannya.


"Maaf sudah membuat kamu terkejut akan ajakkanku ini. Tapi aku benar-benar tidak mau berpacaran sama kamu. Aku maunya langsung menikah denganmu. Bukannya pacaran setelah menikah itu lebih baik? Jadi Fanya, ayo kita menikah," ajak Zico yang sangat-sangat enteng.


Fanya refleks menggerakkan tangannya membuat bahasa isyarat guna membalas ucapan Zico tadi.


"Kamu mengajakku menikah seperti mengajakku beli cilok saja. Sangat-sangat enteng sekali. Ingat Kak, menikah itu untuk seumur hidup bukan untuk main-main saja."


Zico yang mendapat tatapan itu, ia segera meredakan tawanya namun kedua tangannya kini bergerak, mencubit pelan kedua pipi Fanya dengan gemas, "Kenapa kamu gemesin gini sih? Jangan gemes-gemes lah sayang, kalau kamu gemesin gini bisa-bisa aku besok nikahin kamu."


Celetukan dari Zico tadi membuat Fanya membelalakkan matanya dan salah satu tangannya menepuk sedikit keras tangan Zico yang otomatis cubitan tadi terlepas dari pipinya.

__ADS_1


"Awas bercanda kali sayang. Tapi kalau kamu mau sih, bisa aja. Aku juga tau kalau pernikahan itu untuk selamanya dan tidak untuk bermain-main saja. Aku sangat tau hal itu sayang. Dan apa kamu kira saat aku mengajakmu menikah, aku tidak mempertimbangkan banyak hal sekaligus meyakinkan diriku sendiri agar nantinya aku bisa menyikapi setiap permasalahan didalam rumah tangga kita nanti? Aku sudah memikirkan semuanya sayang dan aku merasa jika aku sudah siap untuk menjalin rumah tangga bersamamu. Jadi, aku mohon kamu mau ya menikah denganku, menjadi istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Aku tau jika lamaranku ini tidak romantis sama sekali tapi aku benar-benar berharap jika kamu mau menikah denganku, Fanya," ucap Zico yang baru kali ini ia memohon kepada seorang perempuan selain Kakaknya sendiri. Ia tak peduli jika harga dirinya jatuh di depan Fanya, yang penting ia harus menikah dengan Fanya secepatnya.


Fanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Zico yang teramat panjang kemudian ia menyerahkan notebooknya yang sudah gefapa tulisannya.


"Kak, Kakak tau bukan kalau aku ini hanya orang cacat?"


"Kamu tidak cacat, Fanya. Jangan katakan hal itu lagi. Kamu sempurna di mataku. Aku menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Aku tidak peduli dengan hal itu. Karena aku mencintai kamu tulus dari dalam hatiku," sanggah Zico.


"Tapi Kak. Aku tidak pantas untuk Kakak."


"Dari segi mana kamu tidak pantas untukku? Dan siapa yang memberikan penilaian seperti itu?"


Fanya terdiam, ia tak lagi membalas ucapan dari Zico lewat tulisan ataupun bahasa isyarat yang baru ia sadari jika ternyata Zico memahami bahasa isyaratnya.

__ADS_1


"Kamu juga tidak tau kan dari segi mana kamu tidak pantas untukku? Dengar Fanya, kamu sangat-sangat lah pantas bersanding denganku. Jangan dengarkan mulut sampah orang-orang yang menilai kita ini lah itu lah karena jika kamu mendengar ucapan mereka, kamu sampai kapanpun tidak akan pernah merasakan yang namanya kebahagiaan. Tulikan telingamu ketika kamu mendengar omongan kosong orang-orang di luar sana dan terus raih kebahagiaanmu sendiri. Dan satu lagi jangan pernah merendahkan diri kamu sendiri sampai menganggap kamu tidak pantas untuk orang lain contohnya untukku. Dengar Fanya, jika aku memilih kamu menjadi istriku maka kamu sangat cocok untukku," tutur Zico menggebu-gebu sebelum tubuhnya ia ambrukkan ke depan hingga kepalanya kini bersandar di bahu Fanya.


"Aku benar-benar akan gila jika kamu menolakku, Fan," sambung Zico jujur dari dalam hatinya. Ia tak bisa membayangkan betapa hancurnya dia jika Fanya menolaknya. Dan mungkin ia akan melampiaskan semuanya di dunia malam yang sudah bertahun-tahun ia hindari. Tapi Zico sangat berharap Fanya menerimanya, walaupun perempuan itu menerimanya dengan alasan iba, Zico tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting lamarannya sudah di terima oleh Fanya itu sudah cukup baginya. Lagian cinta bisa tumbuh dengan sendirinya nanti.


__ADS_2