
"Mau mampir kemana dulu gak? Atau mau langsung ke rumah?" tanya Zico kala dirinya dan Fanya sudah berada di dalam mobil miliknya bahkan mobil itu telah bergerak meninggalkan area rumah sakit.
Fanya tampak berpikir sebentar sebelum tatapan matanya ia alihkan kearah Zico. Ia ragu untuk mengatakan keinginan dirinya mengingat kondisi Zico masih mengalami yang namanya mual.
Zico yang tampak paham dengan keraguan dari sang istri kembali angkat suara, "Kenapa diam saja hmmm? Kalau kamu mau kemana katakan saja, jangan ragu. Dan satu lagi jangan mengkhawatirkanku karena aku sekarang sudah baik-baik saja. Lagian aku juga bawa permen yang kapan saja saat aku merasa mual, aku akan memakan permen ini untuk meredakan rasa mualku. Jadi jangan khawatir. Ayo katakan kamu mau kemana."
Ya, selama beberapa hari mengalami mual dan muntah membuat Zico yang awalnya sangat benci dengan permen perasa jahe itu mau tak mau sekarang menjadi konsumsinya karena hanya permen itulah yang membantu dirinya.
Fanya kini tampak menggigit bibir bawahnya. Tapi mau tak mau kini ia mulai membalas ucapan dari sang suami. Namun karena Zico tengah menyetir, ia memilih untuk mengungkapkan keinginannya kepada sang suami lewat tulisan saja daripada lewat bahasa isyarat yang akan membuat Zico tak akan fokus dengan menyetirnya.
Setelah selesai menuliskan keinginannya, Fanya menyodorkan ponselnya tepat di telinga Zico lalu memutar sebuah suara yang mewakili tulisannya tadi. Fanya memilih untuk menulis memang tapi ia menulis di sebuah aplikasi yang memiliki fitur suara juga, seperti google translate.
"Bolehkah kita mampir ke pemakaman umum dulu? Aku rindu anak-anak kita. Aku ingin mengunjungi mereka."
Suara itu tentunya berhasil membuat Zico terkesiap sesaat. Sebelum ia menatap kearah sang istri yang menatapnya dengan tatapan penuh permohonan. Zico yang melihat hal itu pun ia jadi tidak tega untuk menolak permintaan dari Fanya sehingga ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kearah sang istri bahkan tangan kirinya kini bergerak, mengusap lembut kepala Fanya.
__ADS_1
"Baiklah kita kesana. Aku juga sangat merindukan mereka. Lagian sudah dua minggu ini kita tidak mengunjungi mereka. Tapi sebelum kesana kita mampir ke toko bunga dulu," ucap Zico yang tentunya diangguki oleh Fanya dengan senyum cerah yang terpancar di wajah cantik wanita itu.
Dan setelah persetujuan dari Zico kemudian mereka juga sudah mampir ke toko bunga, kini keduanya telah sampai di tempat pemakaman umum, tempat dimana keempat buah hati mereka yang sayangnya belum pernah mereka lihat wajahnya bahkan bentuk tubuhnya sekalipun di semayamkan di sana.
"Kamu yakin sayang mau jalan sendiri, tidak mau aku gendong saja?" tanya Zico yang sifat posesifnya kembali hadir kala ia tau jika sang istri tengah hamil. Ya walaupun sebelum hamil ia juga posesif tapi tingkat ke posesifannya kali ini jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Fanya menggelengkan kepalanya dan ketika ia sudah benar-benar keluar dari dalam mobil milik sang suami, ia menghadap sepenuhnya kearah Zico, lalu ia menggerakkan tangannya, "Kandunganku memang masih lemah, tapi untuk berjalan di area makam ini tidak masalah sayang. Jangan khawatir seperti itu."
Zico hanya bisa menghela nafas setelah tau keputusan yang diambil sang istri dan dengan berat hati, ia membiarkan Fanya berjalan beriringan bersamanya memasuki area pemakaman itu dengan tangan mereka yang saling bergandengan.
Fanya menatap nanar makam kecil di depannya dengan nama yang sama yaitu littel angel. Tentu saja nama itu atas persetujuan dirinya dengan Zico karena mereka belum tau jenis kelamin anak mereka, mereka sepakat memberikan nama yang sama kepada keempat anak mereka.
Zico mengusap setiap gundukan itu, seakan-akan gundukan tanah itu adalah wajah cantik maupun tampan dari anak-anaknya.
Fanya yang mendengar ucapan dari Zico, ia menolehkan kepalanya ke sembarang arah dengan bibir yang bergetar bahkan air matanya pun saat ini sudah menetes. Bohong jika ia tak merasakan rasa sakit yang mendalam atas kehilangan keempat calon buah hatinya walaupun waktu terus berjalan, rasa sakit itu tetap saja tinggal di hati Fanya. Kesedihan mendalam atas hilangnya keempat buah hatinya masih melekat di dalam benaknya. Namun ketika ia berada di depan Zico maupun orang lain, sebisa mungkin ia berusaha untuk kuat agar tak membuat orang-orang khawatir dengan dirinya terutama kepada sang suami, ia tak ingin semakin membebani Zico ketika laki-laki itu melihat dirinya bersedih.
__ADS_1
Zico yang merasa Fanya tak ikut duduk, ia menolehkan kepalanya kearah Fanya berada. Ia tak bisa melihat istrinya yang tengah menangis sehingga ia berkata, "Sayang, kalau kamu jongkok bisa buat twins kesakitan tidak?"
Fanya yang mendengar ucapan dari sang suami, ia jadi gelagapan sendiri. Dan dengan secepat kilat, ia menolehkan kepala kearah Zico dengan senyum di bibirnya, tak lupa ia pun membalas, "Untuk sekarang mereka tidak akan kesakitan, sayang kalau aku ikut jongkok bersama kamu karena mereka masih kecil. Tapi kalau nanti perutku sudah besar, aku rasa aku tidak akan sanggup karena pastinya akan sangat susah buatku untuk berdiri."
Zico yang melihat balasan dari sang istri, ia tersenyum dan ia jadi membayangkan perut Fanya yang membesar, pasti akan sangat lucu.
"Kalau begitu, jongkok sini. Kita doa sama-sama," ucap Zico yang diangguki oleh Fanya. Dan ketika Fanya sudah berjongkok, Zico mulai membacakan doa untuk keempat anak surganya itu.
Sedangkan Fanya, ia yang tadi sempat khawatir, takut Zico menyadari jika dirinya habis menangis, kini ia bisa menghela nafas lega saat ia merasa jika Zico tidak menyadari akan hal tersebut. Dan kini Fanya memilih untuk memandangi keempat gundukan tanah di hadapannya dengan sesekali mengaminkan apa yang Zico panjatkan.
"Aamiin," ucap Zico kala ia telah selesai dengan doanya. Begitupun dengan Fanya, wanita itu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sebelum ia bergerak, menaburkan bunga ke empat makam buah hatinya begitu pun dengan Zico. Dan setelahnya barulah mereka meletakkan buket bunga satu persatu ke empat makam tersebut.
Kemudian setelah melakukan segala ritual yang mereka selalu lakukan saat mengunjungi makan buah hati mereka, Zico kini berjongkok disamping Fanya yang sudah lebih dulu berjongkok di depan ke-empat makam tadi, lalu ia meraih tangan istrinya itu lalu ia genggam.
"Daddy sama Mommy sebenarnya sangat merindukan kalian. Daddy dan Mommy memang tidak bisa bertemu dengan kalian tapi semoga dengan doa yang selalu Daddy dan Mommy panjatkan bisa membuat kalian merasakan rasa rindu dan kasih sayang kita untuk kalian. Oh ya, Daddy dan Mommy punya kabar gembira, kalian akan mempunyai adik baru, mereka twins. Daddy harap kalian disana juga bahagia mendengar kabar ini. Dan Daddy harap kalian doakan semoga adik kalian selalu sehat sampai lahir ke dunia ini begitupun dengan Mommy, kalian doakan Mommy semoga sehat selalu dan dimudahkan segalanya. Aamiin," ucap Zico. Ia sadar jika dirinya berbicara dengan keempat gundukan tanah saja tapi entah kenapa ada rasa tersendiri ketika ia selalu berbicara didepan makam buah hatinya seakan-akan anak-anaknya saat ini tengah dihadapannya, memperhatikan dirinya yang tengah berbicara kepada mereka.
__ADS_1
Sedangkan Fanya yang mendengar ucapan dari Zico selaku mengaminkan ucapan dari Zico tadi.
"Maaf untuk hari ini Daddy dan Mommy tidak bisa berlama-lama disini karena Mommy harus banyak-banyak istirahat. Tapi perlu kalian tau, rasa sayang dan cinta Daddy maupun Mommy tidak akan pernah pudar untuk kalian walaupun kita sudah berada di alam yang berbeda. Bahagia selalu disana ya anak surganya Daddy dan Mommy. Daddy dan Mommy pamit pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Zico berpamitan dengan keempat buah hatinya. Lalu setelahnya ia berdiri diikuti oleh Fanya. Tentunya Fanya sudah mengucapakan kata pamit didalam hatinya sebelum ia mengikuti langkah kaki sang suami yang selalu menggandeng tangannya pergi meninggalkan makam keempat buah hati mereka berdua.