My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 39


__ADS_3

Mommy Della menatap wajah Fanya dengan senyum di bibirnya. Diam-diam Mommy Della membenarkan ucapan dari Erland tadi jika perempuan yang saat ini berada di depannya benar-benar sangat cantik dengan kulit putih bersih, hidung mancung, bibir ranum, mata yang sangat jernih dan bulu mata yang lentik alami. Benar-benar pahatan wajah yang begitu perfect.


"Uhhhh kenapa kamu sangat cantik sekali. Mommy yang notabennya perempuan saja sampai terpanah dengan kecantikan yang kamu punya," ujar Mommy Della yang membuat Fanya tersipu malu. Ia ingin membalas perkataan dari Mommy Della tadi, namun urung ia lakukan kala ia menyadari kekurangannya sehingga dirinya kini menatap kearah Zico yang lagi-lagi dibalas anggukan serta senyuman oleh laki-laki tersebut.


Fanya yang paham arti dari anggukkan Zico yang ia anggap jika mereka semua sudah tau kekurangannya pun ia kembali menerbitkan senyumannya yang tadi sempat ia lunturnya.


Dan dengan gerakan cepat, ia mengambil notebooknya serta sebuah pena di dalam tas kecilnya lalu ia menuliskan kata balasan untuk Mommy Della.


"Terimakasih atas pujiannya Tante. Tante juga sangat cantik."


Mommy Della yang membaca balasan itu ia tersenyum lalu mengelus lembut surai Fanya.


"Terimakasih juga untuk pujiannya Fanya. Kita duduk dulu, pegel nih kaki Mommy kalau kelamaan berdiri," ucap Mommy Della lalu menarik pelan pergelangan tangan Fanya menuju ke sofa yang bisa menampung mereka berdua. Dimana di sofa itu terdapat Daddy Aiden yang lebih dulu duduk disana.


"Dad, pergi sana. Sofa ini khusus untuk Mommy sama Fanya saja," usir Mommy Della yang membuat Daddy Aiden menghela nafas pasrah dan tanpa membalas ucapan dari sang istri, ia bangkit dari posisi duduknya, perpindahan duduk di sofa singel.


Dan saat Daddy Aiden pergi, barulah Mommy Della mengajak Fanya duduk disana.


"Nama kamu, Fanya kan?" tanya Mommy Della sekedar bada basi semata padahal entah sadar atau tidak ia tadi sudah menyebutkannya nama Fanya saat mengusir Daddy Aiden. Dan tampak lucu mendengar pertanyaan yang dia sendiri sudah tau jawabannya.


Namun Fanya menganggap pertanyaan dari Mommy Della tadi sekedar untuk memastikan saja. Sehingga dirinya kini menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Nama yang cantik seperti wajahnya. Oh ya kenalin, saya Mommynya Jio ahhh Zico maksud Mommy. Maklum ya kebiasaan karena dirumah ini Zico sering dipanggil dengan nama Jio. Nama Mommy, Della. Dan kamu cukup panggil saya dengan sebutan Mommy bukan Tante seperti tadi. Mommy merasa tua banget kalau ada seseorang yang panggil Mommy dengan sebutan Tante. Jadi ingat kamu panggil saya dengan sebutan Mommy." Fanya tampak menganggukkan kepalanya membalas ucapan dari Mommy Della tadi. Walaupun jujur saja ia sedikit segan ketika perempuan paruh baya itu memintanya untuk memanggil dengan sebutan Mommy. Sekaligus ia juga berpikir, apakah hal itu tanda jika hubungan mereka sudah mendapatkan lampu hijau dari keluarga Zico?


Fanya tak ingin terlalu berharap terlebih dahulu, takut fakta yang ia dapatkan nanti justru akan memberikan luka yang sangat besar untuknya. Namun tak urung ia tetap mensemogakan tebakannya tadi menjadi kenyataan.


Tangan Mommy Della yang sedari tadi menggenggam erat telapak tangan Fanya, kini terangkat menuju kearah Daddy Aiden lalu ia berkata, "Nah untuk laki-laki tua yan---"


"Ck, masih sehat bugar begini kok dikatain tua," protes Daddy Aiden tak terima jika dirinya mendapat julukan tua oleh siapapun itu. Padahal kenyataannya dia memang sudah tidak muda.


Mommy Della memutar bola matanya malas setelah mendengar ucapan dari Daddy Aiden tadi. Tapi ia tak berniat membalasnya, ia justru meneruskan ucapannya tadi yang sempat terputus.


"Dia, suami Mommy alias Daddy-nya Zico. Namanya Aiden. Kamu panggil saja dengan sebutan Daddy Aiden. Dan untuk satu laki-laki tengil itu." Jari telunjuk Mommy Della berpindah, menunjuk kearah Erland berada. Laki-laki itu hanya bisa mendengus mendengar julukan yang diberikan oleh sang Mommy.


Fanya tampak mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu sedikit membungkukkan tubuhnya saat ia bertatapan dengan Daddy Aiden dan Erland sebagai tanda perkenalan.


Kedua laki-laki itu pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Fanya tadi sebelum suara cempreng seseorang kembali masuk kedalam.


"Sebenarnya Mommy masih punya anak lain selain dua cecunguk itu," ujar Mommy Della dengan menunjuk kearah Erland dan Zico.


Sedangkan kedua laki-laki itu hanya bisa pasrah sembari memutar bola matanya malas.


"Nomor satu Adam, terus Vivian, habis itu Azlan dan yang paling bontot Edrea. Tapi mereka semua sedang tidak ada disini. Mereka selalu sibuk entah sama keluarga kecil mereka atau dengan pekerjaan mereka, begitu pula tuh dua anak itu. Dia juga sama-sama sibuk. Jadi Mommy merasa kesepian kalau mereka bertiga itu pergi bekerja," ucap Mommy Della sembari menunjuk kearah ketiga laki-laki yang duduk anteng memperlihatkan interaksi dua perempuan itu.

__ADS_1


Sedangkan Fanya hanya bisa tersenyum canggung, membalas ucapan hmmmm lebih tepatnya curhat colongan yang dilakukan oleh Mommy Della karena ia tak tau harus berbuat apa selain tersenyum.


Namun ucapan Mommy Della berikutnya membuat Fanya tersedak oleh salivanya sendiri. Bagaimana tidak, jika tiba-tiba Mommy Della berkata, "Nah karena Mommy tidak ada teman disini. Kamu besok menikah sama Zico ya. Terus kamu tinggal disini, nemenin Mommy."


"Uhukk!"


Zico dengan cepat mengambilkan minuman dihadapannya. Tapi saat ia ingin menyodorkannya ke arah Fanya, sudah kedahuluan oleh Mommy Della. Alhasil ia meletakkan kembali gelas yang tadi berada di genggamannya. Kemudian ia duduk kembali sembari menatap datar kedua laki-laki yang tampak menahan tawa mereka sebelum Daddy Aiden yang duduk disampingnya menepuk bahunya sembari berkata, "Jangan harap kamu memiliki waktu dengan Fanya disini. Karena Mommymu yang akan mengambil semua waktu yang dimiliki kekasihmu."


Zico mendengus kesal karena apa yang dikatakan oleh Daddy Aiden tadi ada benarnya. Mommy Della pasti akan mengambil seluruh waktu Fanya hanya untuk dirinya seorang dan hal itu sudah terbukti dengan dekatnya ia kepada menantu perempuannya.


Kembali ke Mommy Della yang sudah meletakkan gelasnya setelah Fanya menghabiskan isi didalam gelas tersebut.


"Kenapa bisa tersedak, Fanya? Pasti sakit kan tenggorokannya sekarang? Mau Mommy panggilkan Dokter untuk memeriksa tenggorokanmu?" Fanya yang mendengar hal itu ia membelalakkan matanya. Yang benar saja dia harus sampai diperiksa oleh seorang dokter sedangkan dirinya hanya tak sengaja tersedak air liurnya saja bukan tersedak linggis.


Fanya dengan cepat menggelengkan kepalanya. Lalu dengan cepat ia menggerakkan tangannya diatas notebooknya.


"Tidak perlu, Mom. Fanya baik-baik saja kok. Tenggorokan Fanya pun juga tidak sakit. Jadi Mommy jangan khawatir."


"Kamu yakin kalau kamu tidak apa-apa?" Fanya menganggukkan kepalanya yang membuat Mommy Della menghela nafas panjang.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau kamu merasa tenggorokanmu sakit langsung panggil Mommy, oke." Fanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari ucapan Mommy Della tadi. Kemudian setelahnya kedua perempuan itu saling sibuk dengan pembasahan yang tengah mereka bicarakan saat ini. Mengabaikan ketiga laki-laki yang sedari tadi menatap mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2