My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 110


__ADS_3

Di pagi harinya Zico berhasil di buat memberengut kesal pasalnya acara tidurnya harus terganggu dikarenakan lima anggota keluarganya tengah berkunjung di kediamannya.


"Mom, bisa kah kesininya agak siangan dikit aja? Ini masih jam setengah 6. Jio masih pengen tidur sambil peluk Fanya," keluh Zico dengan menatap lurus kearah sang Ibunda yang kebetulan duduk lurus di depannya.


"Ohhh kamu ngusir Mommy?" Zico menghela nafas panjang.


"Siapa yang ngusir? Jio gak ngusir Mom, tapi ini masih terlalu pagi. Jio tau niat kalian kesini sangat baik buat bantu kita berdua mempersiapkan segala sesuatu yang sekiranya di butuhkan oleh twins nantinya. Tapi toko mana jam segini sudah buka? Harusnya kalian kesini di jam 9, baru pas waktunya," ujar Zico dengan mata sayu, masih mengantuk.


"Ya terserah kita dong mau datang jam berapa. Lagian kalau kita pergi di jam 9 bakalan macet di jalan. Jadi waktu yang aman ya di jam segini," balas Vivian.


"Tapi ini masih terlalu pagi. Dan kalian para emak-emak yang sudah beranak, anak kalian sama siapa coba? Dan apa mereka tidak akan menangis saat tau emaknya tidak ada di samping dia saat bangun tidur?" tutur Zico membuat keempat perempuan yang sudah berstatus ibu itu saling pandang satu sama lain sebelum Vivian yang merupakan perempuan satu-satunya yang masih jomblo bersuara, "Aku aman karena masih lajang."


"Mommy juga aman karena anak Mommy sudah besar semua. Masa iya sudah besar masih ngempeng. Jadi sudah di pastikan dengan jelas kalau Mommy free dari tugas emak-emak," timpal Mommy Della dengan senyum penuh kemenangan.


"Rea juga aman. Duo tuyul lebih pro ke bapaknya. Kalau bangun tidur juga yang di cari bapaknya bukan emaknya." Kini Edrea yang menyahut.


"Zea juga. Bocil satu anak bapak soalnya bukan anak emak," ucap Zea.


"Kalau aku, hmmm bisa dibilang aman juga sih karena si cerewet itu anak emak sama bapak. Gak ada salah satu dari kita ya dia cari yang ada aja."

__ADS_1


Zico yang mendengar ucapan ke lima orang itu melongo tak percaya. Ini gimana sih? Kok anak mereka lebih milih bapaknya daripada emaknya? Kalau kayak ginikan dia hanya bisa pasrah saat waktu tidurnya harus berkurang.


Zico menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dengan lemas.


"Kamu kenapa sih Jio kayak gak seneng kita semua datang. Padahal Fanya biasa-biasa aja tuh. Dan kita juga udah janjian sama Fanya kemarin buat melakukan rencana kita hari ini juga. Kamu juga tidak perlu khawatir karena saat kita melakukan rencana kita masing-masing. Fanya tidak perlu ikut turun tangan. Dia hanya perlu duduk manis saja lihatin kita nanti bekerja. Istilahnya jadi mandor kita lah. Jadi dia tidak akan mungkin kelelahan. Dan buat kamu, kalau kamu mau istirahat lagi ya sana. Kita gak bakal ganggu tidur kamu kok," tutur Vivian panjang lebar.


Zico yang sudah merasa kalah telak pun ia melirik kearah sang istri yang kebetulan tengah menatap kearahnya. Fanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar Zico mensetujui permintaan ke-lima perempuan itu sekaligus isyarat agar dia tidak mengkhawatirkan tentang kondisi dirinya nanti yang pastinya akan selalu di pantau oleh ke lima orang itu.


Zico hanya bisa menghela nafas panjang sebelum ia kembali menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya kini menyorot kearah lima perempuan di depannya sebelum ia kembali angkat bicara, "Oke kalau begitu, aku izinkan kalian melakukan rencana kalian. Tapi jika terjadi sesuatu dengan Fanya apalagi dengan kandungannya, sampai kalian bersimpuh di bawah kakiku sekalipun aku tidak akan memaafkan kalian semua."


Ucapan sarat akan ancaman itu berhasil membuat ke lima perempuan itu meneguk salivanya dengan susah payah. Mereka tau betul sifat Zico yang tak akan pernah main-main dengan ucapannya.


Dengan canggung sekaligus jantung yang berdetak dua kali lebih cepat, Mommy Della tertawa di tengah-tengah ketegangan yang melanda keempat perempuan lain di tempat itu.


"Oke. Jio pegang ya ucapan Mommy tadi." Mommy Della hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Zico yang melihat anggukkan kepala dari sang Ibunda pun, ia kini mengalihkan pandangannya kearah Fanya yang tampaknya ia bingung dengan ekspresi para iparnya yang terlihat tegang itu.


Tangan Zico terulur, menggenggam tangan Fanya hingga membuat istrinya itu mengalihkan pandangannya kearahnya.

__ADS_1


"Ayo sayang, kamu temani aku tidur lagi," ucap Zico sembari berdiri dari duduknya.


Fanya yang memang sedari tadi hanya memfokuskan perhatian ke iparnya pun ia jadi tidak tau jika Mommy Della telah mengizinkan Zico membawanya pergi. Sehingga sebelum Zico melangkahkan kakinya, ia berniat memprotes suaminya itu. Namun niatnya itu urung kala tiba-tiba suara Mommy Della kembali masuk kedalam telinganya.


"Tidak perlu sungkan Fanya. Mommy juga tidak masalah jika kamu menemani tidur suamimu karena itu merupakan salah satu tugas istri. Jadi daripada kamu dapat dosa nanti karena sudah menolak ajakan Zico, lebih baik kamu turutin aja kemauan dia, ya. Mommy dan kita berempat disini tidak mempermasalahkan hal itu. Iya kan?" ujar Mommy Della meminta persetujuan dari keempat putrinya.


Dan dengan serempak keempat perempuan itu menganggukkan kepalanya.


"Tuh kamu lihat sendiri kan. Jadi sana gih istirahat lagi," sambung Mommy Della.


Fanya melirik sekilas kearah Zico, sebelum helaan nafas keluar dari mulutnya.


"Baiklah Mom, Fanya akan menemani Kak Aka dulu untuk istirahat di kamar. Tapi Mommy dan yang lain jangan sungkan-sungkan juga disini. Anggap saja rumah sendiri. Dan maaf Fanya tidak bisa mengobrol dengan Mommy dan yang lain."


"Ahhhh tidak apa-apa sayang. Kan masih ada waktu lain untuk kita mengobrol. Jadi sekarang buruan gih bawa suami kamu ke kamar. Mommy gak tega lihat mata dia yang udah sayu gitu (iya saking sayunya tuh mata, bisa bikin bulu kuduk berdiri)" ucap Mommy Della yang tentunya disambung dengan suara hatinya. Ya, Zico menatapnya bukan dengan tatapan sayu tapi dengan tatapan tajam. Aslinya sih memang tatapan mata Zico selalu tajam, tapi mungkin karena ancaman Zico beberapa saat lalu membuat Mommy Della menganggap jika tatapan Zico itu tatapan tak bersahabat.


Fanya lagi-lagi tampak menghela nafas lalu ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari ucapan Mommy Della tadi.


"Ya udah kalau gitu, Fanya tinggal dulu ya Mom, Kak, Rea," pamit Edrea yang hanya dibalas anggukan kepala oleh kelima perempuan tersebut.

__ADS_1


Setelah melihat anggukkan kepala itu, Zico menarik pelan pergelangan tangan Fanya untuk segara ikut melangkah bersama.


Kepergian dua orang itu membuat ke lima perempuan tadi menghela nafas lega, saking leganya mereka dengan kompak menyadarkan tubuh mereka ke sandaran sofa yang mereka tempati masing-masing.


__ADS_2