
Fanya berniat ingin kabur dari hadapan Zico. Namun sayangnya, laki-laki itu justru meletakkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri kedua kakinya, mengukung dirinya agar tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Zico menatap lekat wajah Fanya yang serat akan ketakutan.
"Kenapa reaksi dia seperti ini? Apa sikapku membuat dirinya takut dan menganggap aku seseorang yang berbahaya?" batin Zico bertanya-tanya.
Ia cukup sadar jika aksinya saat pertama kali mereka bertemu tadi sangat kelewat. Bagaimana tidak, ia tiba-tiba langsung mencekal lengan Fanya agar tidak pergi darinya, ditambah ia tadi sempat memanggil nama perempuan itu. Di situlah mungkin Fanya merasa dirinya terancam karena tiba-tiba orang yang tidak ia kenal justru mengenali dirinya.
Zico menghela nafas panjang. Tatapan matanya ia alihkan ke lutut Fanya yang masih mengeluarkan darah segar.
"Luka kamu harus segara di obati. Aku bukan orang jahat seperti yang kamu pikirkan. Aku akan membantu kamu untuk mengobati luka kamu. Jadi jangan pergi," ujar Zico tanpa mengapa kearah Fanya karena fokusnya kini mengarah ke kotak P3K.
Fanya terdiam, ia masih meragukan ucapan dari laki-laki didepannya itu yang mengatakan jika dirinya bukan orang jahat. Tapi saat ia melihat sekilas tatapan mata dari laki-laki itu tadi yang sempat menatapnya saat berbicara, tak ada kebohongan di dalam tatapan itu yang artinya apa yang dia katakan itu adalah kebenarannya. Alhasil Fanya menurut akan ucapan yang Zico katakan tadi. Tubuhnya yang tadi sempat menegang, telah rileks kembali. Walaupun ia tetap meneguhkan hatinya agar tetap waspada.
"Mungkin ini akan sedikit sakit, jadi tahan sebentar," ujar Zico sebelum ia mulai mengobati luka Fanya.
__ADS_1
Suara ringisan dari Fanya terdengar sangat lirih yang membuat Zico langsung menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah cantik Fanya.
"Sakit?" tanya Zico yang diangguki oleh Fanya.
"Maaf. Aku akan lebih hati-hati lagi," tutur Zico lalu kembali melanjutkan aksinya. Niat Zico yang ingin membawa Fanya ke rumah sakit urung seketika saat Fanya menatapnya penuh ketakutan tadi. Alhasil mau tak mau ia harus mengobati dengan obat-obatan seadaanya dengan harapan tidak ada luka dalam di tubuh perempuan pujaannya itu.
Suasana yang menyelimuti kedua insan sangat tenang, tak ada salah satu dari mereka yang berucap sampai akhirnya Zico selesai mengobati luka di kaki Fanya lalu ia bangkit dari posisi berjongkoknya tadi.
"Aku tadi juga sempat melihat lengan kamu terluka. Sini biar aku obati sekalian," ujar Zico dengan lembut. Dan tanpa menunggu persetujuan dari Fanya, ia meraih pelan lengan kiri Fanya yang terdapat goresan yang cukup lebar disana.
Sedangkan Fanya, ia tak berani melakukan apa yang Zico katakan tadi. Jadi dirinya merasakan rasa sakitnya dengan mengepalkan tangannya erat-erat dan menggigit bibir bawahnya.
Zico yang melihat ekspresi wajah Fanya menjadi tak tega. Tapi ia tak bisa menghentikan apa yang sedang ia lakukan saat ini.
Zico memutar otaknya, agar ia bisa mengalihkan perhatian Fanya dari rasa sakitnya. Hingga sebuah ide melintas di otaknya. Dan mungkin dengan ia melakukan ide ini akan membuat Fanya tak terlalu takut kepadanya.
__ADS_1
"Evanthe Fanya Zahira, itu nama kamu kan?" Benar saja, saat Zico mengucapakan nama panjang Fanya, perempuan itu mengalihkan atesinya dari rasa sakit kearahnya.
"Kamu tidak perlu terkejut kalau aku mengetahui nama kamu karena kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Mungkin kamu lupa, tapi aku tidak. Kita pertama kali bertemu di sebuah toko bunga nama tokonya Fresh Flower Store. Kamu pasti tau kan toko itu?" Terlihat jelas Fanya kembali terkejut atas ucapan dari Zico.
"Apa yang dikatakan laki-laki ini benar adanya jika kita pernah bertemu di Fresh Flower Store? Kalau benar kenapa aku tidak mengingatnya sama sekali? Dan kapan pertemuan itu terjadi?" tanya Fanya dalam hati.
Zico yang tak mendapat respon apapun dari Fanya, ia kembali berkata, "Aku yakin kamu mengingat toko bunga itu tapi tidak ingat dengan pertemuan singkat kita. Aku memaklumi karena pertemuan kita sudah berlangsung selama lima tahun yang lalu. Aku saat itu hanya seorang pembeli dan tengah melihat-lihat isi toko bunga itu sampai aku berada di sebuah ladang bunga milik toko bunga itu dan melihat kamu disana. Kita saat itu hanya saling tatap sekilas. Kamu melempar senyum kepadaku sebelum aku pergi dari toko bunga itu."
Pikiran Zico melayang ke kejadian 5 tahun yang lalu disaat ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Fanya. Membayangkan bibir Fanya yang tersenyum manis membuat bibir Zico kini ikut tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Dan kamu ingat, kita tidak hanya bertemu saat di toko bunga saja tapi beberapa hari setelah pertemuan kita di toko bunga itu, kita bertemu lagi tapi dalam situasi yang tak menyenangkan. Pertemuan kita untuk kedua kalinya saat aku tidak sengaja menabrak kamu di samping taman kota," sambung Zico yang kembali fokus membalut luka di lengan Fanya dengan kasa steril.
Fanya semakin terkejut dengan pengakuan dari Zico tadi. Namun ia tetap diam, seakan-akan ia menunggu lanjutan cerita dari laki-laki yang duduk disampingnya itu.
"Saat kejadian itu, aku panik setengah mati ketika aku melihat kepala kamu yang mengeluarkan darah. Mungkin jika warga tidak menyadarkanku untuk segera membawa kamu ke rumah sakit, keadaan kamu akan sangat parah saat itu. Tapi aku bersyukur tidak telat membawa kamu ke rumah sakit sehingga kamu tidak perlu transfusi darah. Luka kamu pun juga ternyata tidak separah yang aku bayangkan. Luka kamu tidak terlalu dalam sehingga kamu tidak memerlukan jahitan. Aku sangat bersyukur akan hal itu. Walaupun kamu sempat mengalami pingsan yang sangat lama, aku tetap menemani kamu di rumah sakit karena aku tidak tau harus menghubungi keluarga kamu lewat mana karena saat itu kamu sama sekali tak membawa kartu identitasmu, ponsel pun juga aku tidak menemukannya. Alhasil aku memilih untuk menemani kamu sekaligus menunggu kamu sadar untuk meminta maaf atas kejadian yang menimpa kamu karena perbuatanku. Tapi sayangnya, aku yang saat itu memiliki urusan harus keluar dari ruang inap kamu dan saat aku kembali ternyata kamu sudah tidak ada di kamar inapmu. Semua orang tidak tau keberadaanmu sampai aku memilih untuk mengecek sendiri rekaman CCTV di rumah sakit dan saat itu aku melihat kamu kabur dari rumah sakit. Saat itu, aku merasa kecewa dengan diriku sendiri yang belum mengucapakan kata maaf kepadamu. Jadi karena saat ini kita bertemu kembali, perkenalkan namaku Akalanka Zico Bagaskara Abhivandya ingin meminta maaf dengan ketulusan hatiku kepadamu Evanthe Fanya Zahira atas luka yang pernah aku ciptakan untukmu dan maaf tadi sempat membuatmu takut. Aku benar-benar meminta maaf atas semua hal yang merugikan bagimu. Maafkan aku, Fanya," ucap Zico panjang lebar dan secara diam-diam setelah dirinya selesai ia mengobati luka Fanya, tangannya meraih tangan dingin Fanya. Ia genggam tangan yang lebih kecil dari tangannya itu.
__ADS_1
Fanya tak menolak sama sekali, mungkin perempuan itu tak menyadari akan hal itu karena dirinya terpaku dengan wajah Zico yang memancarkan ketenangan disana, dimana ketenangan itu membuat rasa takut Fahya perlahan mengikis dari benaknya.