
Di ke-esokkan harinya, tanya menatap penampilannya dari pantulan kaca di kamarnya. Masih dengan pakaian yang sama seperti yang ia kenakan kemarin, Fanya akan melakukan aksi melamar pekerjaan untuknya sendiri.
Dengan mengepalkan tangannya di udara, ia berkata di dalam hatinya, "Ayo semangat Fanya. Hari ini kamu pasti mendapatkan pekerjaan. Dan ingat kata Kak Aka kemarin, jika ada orang yang kembali mencemooh kekuranganmu lagi, anggap saja mereka setan yang gemar mengganggu manusia atau anggap saja suara mereka hanya hembusan angin."
Fanya menyemangati dirinya sendiri dengan senyum yang mengembang. Tapi sesaat setelahnya senyumannya luntur kala ia mengingat sesuatu.
"Ngomong-ngomong tentang Kak Aka, setelah pertemuan terakhir kemarin dia tidak mengirimku sebuah pesan ataupun menerorku lagi seperti sebelum-sebelumnya. Apa dia tengah sibuk? Atau jangan-jangan kalimat terakhir yang dia katakan kemarin merupakan sebuah kalimat perpisahan."
Terus terang Fanya merasa ada yang kurang saat ponselnya tak ada sebuah notifikasi dari nomor baru yang merupakan nomor Zico yang terus berganti-ganti kala ia memblokir nomornya. Tapi semua blokiran nomor yang mengatasnamakan Zico sudah ia buka kembali, tapi ponselnya masih saja senyap. Ketakutan-ketakutan pun muncul didalam benak Fanya. Takut jika Zico benar-benar menjauh darinya, entah kenapa hanya hitungan hari saja Zico sudah berhasil menciptakan rasa aman dan nyaman untuk Fanya.
Fanya menggelengkan kepalanya guna menghilangkan pikiran negatifnya tadi.
"Tidak, dia tidak akan pergi dariku. Dia tidak mengirimku pesan karena dia tengah sibuk saja bukan yang lain!"
Fanya menganggukkan kepalanya saat ia yakin dengan ucapannya barusan.
Perhatian Fanya teralihkan kala ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Fanya segara mengambil tas selempang kecil, ponsel serta berkas lamaran pekerjaannya sebelum dirinya berjalan menuju kearah pintu kamarnya.
Saat pintu kamarnya terbuka, ia melihat Dania berdiri di balik pintu tersebut dengan senyum manisnya.
"Kakak sudah di tunggu yang lain di meja makan," ujar Dania yang dibalas anggukkan oleh Fanya tak lupa senyum pun ia juga perlihatkan.
Kedua perempuan itu berjalan beriringan menuju ke ruang makan yang berada di lantai satu di panti asuhan tersebut. Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Dania tadi jika dirinya sudah di tunggu oleh anggota panti yang lain, terbukti meja makan yang terbilang sangat besar dengan kapasitas 30 orang itu hanya tersisa dua kursi saja yang artinya dua kursi itu miliknya dan milik Dania.
Fanya melemparkan senyuman kepada mereka dengan gerakan tangan yang mengatakan, "Selamat pagi semua!"
__ADS_1
Semua orang yang sudah tau dengan bahasa isyarat yang tengah Fanya peragakan tadi, mereka dengan serempak membalas, "Selamat pagi juga!"
Fanya tersenyum kemudian ia duduk di kursi yang masih kosong tadi bergitu juga dengan Dania. Lalu setelahnya sesi sarapan pagi dimulai.
Beberapa menit telah berlalu, sesi sarapan pun sudah selesai sebagian anak-anak sudah berangkat sekolah dan sebagian lainnya langsung bermain, tinggal lah orang-orang dewasa yang masih tinggal di meja makan untuk membersihkan tempat tersebut sebelum sebagian nanti akan berangkat bekerja.
"Fanya, sini nak." Fanya yang tadi tengah sibuk estafet peralatan makan bersama temannya, ia segara mengalihkan perhatiannya kala ibu Suci memangilnya. Dan tanpa menunggu dirinya di panggil dua kali oleh wanita paruh baya tersebut, ia segara mendekati ibu Suci. Saat sampai, ia menyeret salah satu kursi lalu ia duduk berhadapan dengan wanita paruh baya tersebut.
Tangan ibu Suci kini bergerak, mengusap surai halus milik Fanya sembari berkata, "Nak, sebaiknya kamu jangan mencari pekerjaan di luar lagi ya. Tetap disini saja menemani ibu."
Bukan tidak ada alasan ibu Suci mengatakan hal tersebut, tentunya ia memiliki alasan yaitu ia tak ingin Fanya pulang dalam keadaan mata sembab seperti kemarin.
Permintaan ibu Suci agar Fanya tidak bekerja sudah berkali-kali ia utarakan kepada gadis didepannya itu tapi tetap saja ia mendapatkan jawaban yang sama. Dan kali ini ia mencoba lagi siapa tau Fanya berubah pikiran dan mau mendengarkan permintaannya.
Fanya menggelengkan kepalanya sebelum ia menjawab dengan bahasa isyarat, "Maaf ibu, Fanya tidak bisa. Fanya sudah cukup dewasa untuk mencari uang sendiri guna membiayai hidup Fanya, ibu. Fanya tidak bisa terus menerus bergantung dengan uang donatur panti. Dan lebih baik uang-uang donatur itu digunakan untuk membeli keperluan anak-anak lainnya terutama ke balita yang masih butuh susu dan pampers."
"Ibu, percaya dengan Fanya. Fanya akan baik-baik."
Fanya tersenyum guna meyakinkan ibu Suci.
Fanya merasakan sebuah elusan di kepalanya, saat ia menolehkan kepalanya kearah samping, yang mana disana sudah ada seorang perempuan yang 5 tahun lebih tua darinya.
"Kakak akan bantu kamu mencari pekerjaan," ucap perempuan tersebut dengan stelan baju penjaga tokonya.
Fanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu ibu, Fanya, aku berangkat dulu." Perempuan dengan nama Haifa menyalami tangan ibu Suci kemudian bersalaman dengan Fanya yang langsung mencium punggung tangannya.
"Assalamualaikum," pamitnya sebelum pergi dari hadapan dua perempuan tersebut setelah mendengar balasan salam dari ibu Suci.
Setelah Haifa sudah menghilang dari pandangan mereka berdua, Fanya menepuk pelan punggung tangan ibu Suci agar mengalihkan pandangannya kearahnya.
"Ibu, Fanya juga berangkat dulu ya."
Lagi dan lagi ibu Suci menghela nafas kemudian ia menganggukkan kepalanya. Fanya yang melihat anggukkan kepala itu, ia tersenyum lalu mencium punggung tangan ibu Suci lalu setelahnya ia berdiri dari posisi duduknya dan saat tangannya ingin mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di meja sampingnya, layar ponselnya berkedip serta berdering menandakan sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya itu.
Fanya segara mengambil benda pipih tersebut. Keningnya berkerut kala ia melihat deretan nomor yang sama sekali ia tak kenali. Ia pikir tadi nomor itu milik Zico, tapi setelah ia membuka pesannya dan ia scroll ke bawah ia tak menemukan nama Zico dibawah pesan yang sama sekali belum ia baca itu.
Fanya menghela nafas kecewa dan dengan tak minat Fanya mulai membaca pesan tersebut.
Mata Fanya yang tadinya meredup kini terbuka lebar saat ia telah membaca pesan tersebut yang mengatakan jika dirinya harus pergi ke Diamond cafe and resto untuk mulai bekerja di restoran tersebut yang katanya baru buka hari ini. Tentu saja hal tersebut membuat hati Fanya senang bukan main.
Ibu Suci yang sedari tadi memperhatikan Fanya, ia berkata, "Ada apa nak?"
Fanya menatap ibu Suci lalu ia menyodorkan ponselnya kehadapan wanita paruh baya tersebut tanpa melunturkan senyumannya. Senyum ibu Suci terbit setelah membaca pesan tersebut.
"Wah selamat nak, kamu di terima di Diamond cafe and resto." Fanya langsung memeluk tubuh ibu Suci yang tadi sudah berdiri dari duduknya.
Pelukan itu hanya sesaat saja lalu setelahnya ia melepaskan pelukannya sembari membalas ucapan ibu Suci tadi, "Terimakasih ibu. Ya sudah kalau begitu Fanya berangkat dulu. Bye ibu, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
__ADS_1
Fanya kini berlari keluar dari panti asuhan tersebut dengan perasaan bahagia yang membuncah. Dan saking senangnya ia sampai-sampai ia tak menaruh curiga tentang darimana orang yang mengirim pesan tadi tau nomor teleponnya padahal saat ia melamar pekerjaan kemarin, ia tak pernah meninggalkan nomor teleponnya sama sekali ke tempat yang ia lamar pekerjaannya. Dan darimana mereka tau namanya serta informasi mengenai dirinya tengah mencari sebuah pekerjaan? Sungguh Fanya tidak berpikir sampai kesana saking rasa senang dihatinya.