
Zico menghela nafas. Terpaksa ia harus mengalihkan perhatiannya yang semula terus menatap layar iPad dengan gambar Fanya disana menjadi kearah Vivian yang duduk disebelahnya.
"Baiklah-baiklah, Jio akan menjelaskan kenapa Jio tidak mau turun langsung buat mengontrol restoran itu dan sejak kapan Jio memiliki usaha dalam bidang food. Jadi sebenarnya usaha ini baru Jio rintis kemarin. Sebenarnya Jio tidak memiliki kepikiran untuk usaha di bidang itu. Tapi berkat Fanya, Jio langsung memiliki inisiatif untuk memiliki usaha itu," ucap Zico dengan melanjutkan kronologi kejadian dua hari yang lalu yang mengakibatkan Fanya dipecat dari kerjaannya.
"Kakak tau sendiri kan kalau Fanya memiliki keterbatasan dalam berbicara. Nah karena itu membuat dia jadi kesulitan mendapatkan pekerjaan. Jadi berkat hal itu Jio membangun usaha ini. Lebih tepatnya meneruskan usaha ini sih karena Jio membeli restoran itu setalah si pemilik yang dulu sempat mencemooh Fanya dan Jio hanya mengganti nama restorannya saja," sambung Zico.
"Meneruskan dengan cara baik atau dengan cara licik?" tanya Vivian yang sangat tau tabiat Zico.
Zico yang mendapat pertanyaan itu pun ia memperlihatkan cengiran kudanya.
"Tanpa Jio jawab Kakak sudah tau jawabannya. Lagian itu semua bukan salah Jio, tapi salah si pemilik restoran yang dulu yang berani-beraninya mencemooh kekurangan Fanya," ujar Zico yang membuat Vivian memutar bola matanya malas.
"Terus alasan kamu untuk tidak terjun langsung mengurus restoran itu?" Tanya Vivian.
Zico terlihat cemberut kala Vivian bertanya hal itu. Ia mengalihkan pandangannya kearah iPadnya, menatap lekat Fanya disana.
"Fanya marah sama Jio setelah kejadian di tempat kerja dia yang dulu. Dia bilang kalau Jio harus menjauh dari dia karena kita sudah tidak ada urusan lagi. Semua akses Jio untuk menghubungi dia, di putus bergitu saja sama Fanya. Semua akun media sosial Jio dan nomor ponsel Jio diblokir semua. Dan saat Jio menemui dia, dia langsung menjaga jarak sama Jio. Dia benar-benar tidak mau bertemu sama Jio lagi Kak. Jadi Jio memutuskan untuk tetap membantu dia tapi sebisa mungkin Jio menyembunyikan apa yang Jio lakukan kepadanya. Jio tidak ingin membuat dia semakin marah dengan Jio, Kak. Jio tidak mau dia menghilang lagi dari hadapan Jio," ujar Zico dengan mata berkaca-kaca.
Vivian yang melihat raut wajah sedih dari adiknya, ia menepuk pundak Zico.
"Jadi apa kamu akan berhenti memperjuangkan dia lagi dan berjuang untuk meluluhkan hati dia?" Zico terdiam. Ia juga bingung akan berhenti atau lanjut. Jika ia berhenti, ia tidak akan rela jika Fanya nantinya akan bersanding dengan laki-laki lain selain dirinya. Tapi jika dia melanjutkan perjuangannya, ia takut Fanya akan semakin marah kepadanya dan berakhir menghilang lagi dari pandangannya.
__ADS_1
"Jika kamu memang mau berhenti, pikir-pikir lagi dan coba kamu ingat perjuangan kamu selama ini. Banyak pengorbanan yang sudah kamu lakukan hanya untuk menemukan Fanya. Tapi setelah kamu menemukan dia, kamu akan menyerah begitu saja? Dan dimana tekat kamu yang selalu membara untuk meluluhkan hati Fanya dulu? Sudah hilang kah?" Zico menggelengkan kepalanya.
"Tidak hilang hanya saja---"
"Hanya saja kamu tidak mau Fanya semakin marah kepadamu dan berakhir kamu akan kehilangan dia lagi?" Zico menganggukkan kepalanya.
Vivian tampak menghela nafas panjang.
"Apa dengan kamu yang menghentikan perjuangan kamu dan hanya memantau Fanya dari kejauhan tidak membuat Fanya menjauh darimu? Kakak rasa tidak, kamu dan Fanya akan semakin menjauh sampai-sampai kamu nanti tidak akan bisa meraih Fanya apalagi memiliki dia jika Fanya sudah menikah dengan laki-laki lain selain kamu. Memangnya kamu ikhlas orang lain memiliki Fanya?" Dengan cepat Zico menggelengkan kepalanya.
"Maka dari itu. Berjuanglah lagi. Kakak yakin jika kamu berjuang, Fanya tidak akan marah lagi denganmu apalagi semakin menjauh atau menghilang darimu. Restu Kakak akan terus bersamamu," ujar Vivian dengan senyum yang mengembang kala Zico menatap kearahnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Zico yang mendengar perkataan dari Vivian tadi, ia dengan tiba-tiba menerjang tubuh Fanya yang membuat perempuan itu terhuyung ke belakang, untung saja tangannya refleks menyangga tubuhnya sehingga ia tak sampai jatuh telentang.
Vivian tersenyum kemudian ia menepuk-nepuk punggung Zico.
Beberapa jam telah berlalu kini Vivian telah kembali ke restoran tempat Fanya berada. Setelah berdiskusi dengan sang adik yang memutuskan untuk memberikan Fanya waktu untuk sendiri selama satu minggu, sebelum ia akan mulai memperjuangkan Fanya lagi tapi ia tetap tidak mau memberitahu tentang restoran tempat Fanya bekerja jika restoran itu miliknya. Biarkan saja supaya Fanya tidak merasa jika tindakan Zico ini merupakan bentuk kasihan kepadanya atau hal-hal yang akan memicu pikiran negatif Fanya kepada Zico.
Vivian tersenyum kala tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Fanya saat ia baru saja masuk kedalam ruang kerja milik perempuan tersebut.
"Gimana? Apa ada kesulitan?" tanya Vivian sembari berjalan mendekati Fanya.
__ADS_1
Fanya menggelengkan kepalanya, lalu setelah Vivian duduk di sampingnya ia menggeser laptop serta note booknya ke hadapan Vivian.
"Saya sudah selesai mengerjakannya Kak. Kakak bisa mengoreksinya sekarang apa ada yang salah dengan pekerjaan saya atau tidak."
"Baiklah, saya akan mengoreksi hasil kerja kamu," ujar Vivian lalu kemudian ia mulai fokus dengan layar laptop di hadapannya.
Fanya tentu saja jantungnya berdebar kencang. Ia takut jika dirinya melakukan kesalahan fatal yang justru akan membuat restoran nanti rugi karena ulahnya.
Beberapa saat setelahnya Vivian telah selesai mengoreksi hasil kerja Fanya yang sangat sempurna, sampai-sampai Vivian curiga jika Fanya bukan tamatan SMA.
Dan dengan menatap kearah Fanya, Vivian berkata, "Hasil kerja kamu sangat bagus Fanya. Tidak ada kesalahan sama sekali. Saya curiga kalau kamu itu bukan lulusan SMA tapi lulusan sarjana dalam bidang bisnis."
Fanya yang mendengar perkataan dari Vivian, ia akhirnya bisa bernafas lega. Dan dengan tersenyum ia mulai menulis untuk membalas perkataan Vivian tadi.
"Terimakasih atas pujiannya Kak. Tapi saya memang hanya lulusan SMA saja. Hanya saja saya memang memiliki minat dalam bidang bisnis. Saya juga sempat mempelajari dunia bisnis melalui buku dan website saja. Jadi mungkin ini semua merupakan hasil belajar saya juga hasil dari Kakak yang sudah mengajari saya banyak hal tentang dunia bisnis tadi. Terimakasih banyak atas pelajarannya Kak. Saya sangat senang sekali."
Vivian tersenyum setalah membaca tulisan dari Fanya tadi. Dan dengan mengelus kepala Fanya, ia berkata, "Ini semua murni dari usaha kamu sendiri Fanya, Kakak hanya membantu menerangkan sedikit saja kepadamu. Oh ya besok Kakak akan kembali ke Jakarta. Jadi kamu besok sudah resmi memegang kendali restoran ini. Dan kalau nanti pekerjaan kamu sudah selesai kamu tinggal kirim ke email ini saja ya. Nanti akan ada tangan kanan Kakak yang akan mengoreksi pekerjaan kamu."
Fanya menerima sebuah kertas yang di dalamnya sudah terdapat alamat email yang tanpa ia sadari jika email itu milik Zico.
"Nah berhubung sekarang sudah jam setengah 12, kita makan siang sama-sama yuk. Kamu belum makan kan?" Fanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo. Kita turun ke bawah," ajak Vivian yang sudah lebih dulu berdiri dari posisi duduknya dengan tangan yang ia ulurkan kearah Fanya yang langsung diterima oleh perempuan tersebut. Dan kini dua perempuan berbeda usia itu berjalan beriringan menuju lantai satu untuk makan siang bersama untuk pertama kalinya.