
Hanya membutuhkan sekitar 10 menit akhirnya mobil yang dikendarai oleh Daddy Max sampai di pelataran mansion milik kedua orangtuanya. Saat Daddy Max dan Mommy Jea baru keluar dari dalam mobil, tatapan keduanya langsung terfokus kearah gerombolan bodyguard yang sibuk membujuk seseorang yang tengah berdiri diambang pembatas balkon. Daddy Max yang tau situasi saat ini ia segara berlari mendekati para bodyguard tadi sedangkan Mommy Jea, ia terbengong namun sesaat setelah dirinya mengikuti arah pandang para bodyguard tadi, matanya langsung melebar sempurna, bibirnya pun mengangga lebar dengan tangan yang ia buat menutupi mulutnya tadi. Ia tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat. Cheasea yang merupakan putri tunggalnya itu tengah berdiri disana. Entah niatan apa yang akan putrinya itu lakukan yang jelas niatan itu hal yang tidak baik untuk Cheasea ataupun untuknya kedepan.
"Astaga, Cheasea," gumam Mommy Jea setelah sadar dari keterkejutannya tadi. Dan dengan buru-buru ia ikut bergabung dengan suami dan para bodyguard tadi.
"Cheasea! Apa yang kamu lakukan?! Turun sekarang!" teriak Mommy Jea. Sumpah demi apapun kaki Mommy Jea terasa seperti jelly saat ini. Tubuhnya ingin ambruk, namun sebisa mungkin ia tahan. Ia masih harus menyelamatkan putrinya.
Namun sayang, teriakan yang diberikan oleh Deddy Max dan Mommy Jea seakan hanya angin lewat bagi Cheasea. Perempuan muda itu justru menatap kosong pemandangan gelap di hadapannya. Ia tak bisa berpikir jernih lagi karena yang ada di pikirannya saat ini adalah mati. Ia pikir dengan dirinya menghilang dari dunia ini, rasa sesak dan sakit yang menghantam dadanya akan segara sirna dan jangan lupakan ingatan tentang Zico juga akan ikut hilang bertepatan dengan meninggalnya dirinya. Jadi bukannya keputusannya untuk mengakhiri hidupnya adalah keputusan yang tepat?
Cheasea tersenyum dengan anggukkan kepalanya saat satu pertanyaan tadi muncul di otaknya dan dirinya membenarkan hal itu terjadi. Bahkan setelahnya salah satu tangannya kini ia lepas dari pagar pembatas balkon tersebut sehingga tubuhnya kini terhuyung kedepan dan hal tersebut membuat semua orang berteriak. Sampai Mommy Jea kini terduduk di atas tanah dengan air mata yang menetes begitu deras.
__ADS_1
Cheasea seolah menulikan pendengarannya, ia justru tengah di buat kuwalah dengan ingatannya yang memutar memory saat-saat dirinya bersama dengan Zico yang tentunya kenangan-kenangan itu adalah kenangan manis yang pernah mereka buat.
Cheasea menjambak rambutnya frustasi dengan satu tangannya yang bebas tadi.
"Arkkhhhhhhh!" erang Cheasea. Ia sudah tak ingin berlama-lama lagi menunda keinginannya untuk menghilang dari dunia ini. Ia menatap kearah bawah dimana beberapa matras dan kasur sudah ditata disana. Ia tersenyum kecut menatap benda-benda itu lalu dengan beraninya ia menggeser tubuhnya, mencari tempat yang setidaknya masih memiliki celah dari benda-benda empuk dibawah sana. Dan setelah ia mendapatkan celah itu, tanpa pikir panjang lagi Cheasea melompat dari atas balkon dengan mata yang terpejam, menunggu rasa sakit menjalar di tubuhnya. Namun ia bukan seluruh tubuhnya yang sakit, melainkan hanya lengan kanannya saja yang merasakan kesakitan sekaligus tarikan yang begitu kuat. Tunggu, tarikan? Cheasea membuka matanya lebar dan dengan cepat ia menengadahkan kepalanya kearah atas, dimana tatapan matanya langsung beradu dengan tatapan tajam milik seorang laki-laki.
"D---Daddy," gumam Cheasea saat melihat orang yang tengah memegang erat tangannya dan ya dia adalah sang Daddy.
Dan saat tubuh Cheasea telah berhasil mereka naikan, Cheasea langsung merasakan pelukan hangat dari seorang wanita yang telah melahirkannya. Ia tak tau kapan kedua orangtuanya itu berhasil masuk kedalam kamarnya dan menggagalkan aksinya tadi.
__ADS_1
Ketika Mommy Jea memeluk tubuh Cheasea, berbeda dengan Daddy Max yang langsung menjauh dari kedua perempuan kesayangannya itu bahkan ia sudah keluar dari dalam kamar Cheasea. Ia tak ingin bertindak kelewat karena rasa marahnya kepada sang putri. Jadi daripada ia melukai Cheasea lebih baik dirinya pergi dan mempercayakan istrinya yang berbicara kepada Cheasea.
Cheasea yang berada di dekapan sang ibunda langsung menumpahkan air matanya. Ia memeluk tubuh perempuan paruh baya itu begitu erat.
"Apa yang kamu lakukan nak? Kenapa kamu sampai berpikir untuk melakukan aksi bunuh diri seperti tadi? Ada masalah apa yang kamu sembunyikan dari Mommy? Katakan nak, cerita semua kepada Mommy. Jangan dipendam sendiri. Ada Mommy disini sayang. Mommy tempat sandaran kamu, Mommy tempat kamu berkeluh kesah. Ayo sayang ceritakan," ucap Mommy Jea dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Tangannya pun bergerak, mengusap punggung Cheasea yang bergetar hebat.
"Mo---Mommy hiks. Sakit," adu Cheasea.
"Dimana yang sakit sayang? Katakan, biar Mommy bisa melihat luka kamu sebelum kita kerumah sakit," ucap Mommy Jea sembari melepaskan pelukannya dari Cheasea. Ia menatap lekat kearah putri kesayangannya itu yang terlihat sangat-sangat berantakan.
__ADS_1
Sedangkan Cheasea yang mendapat pertanyaan dari sang Mommy, ia menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya. Mommy tidak akan pernah bisa melihat luka yang ada di dalam hatinya dan luka itu juga tidak bisa di sembuhkan oleh dokter manapun.
"Mom--Mommy hiks tidak bisa melihat luka Cheasea hiks ka---karena luka itu ada di dalam sini. Luka itu ada di dalam sini Mommy hiks, sakit Mom sakit," tutur Cheasea dengan menunjuk kearah dadanya sebelum ia memukul-mukul dada tersebut. Namun beberapa saat setelahnya, Mommy Jea menghentikan aksi dari Cheasea tadi. Perempuan paruh baya itu menggenggam erat kepalanya tangan Cheasea yang dari tadi selalu mendarat di dadanya. Dan saat itu juga Mommy Jea paham masalah apa yang tengah putrinya itu hadapi yaitu masalah patah hati. Mommy Jea kini juga tau siapa yang sudah membuat putrinya itu patah hati sampai berniat untuk mengakhiri hidupnya, siapa lagi jika bukan Zico orangnya. Pantas saja Cheasea tadi sempat berpikir untuk mengacaukan acara pernikahan laki-laki itu. Ternyata oh ternyata putrinya memiliki perasaan lebih kepada Zico. Padahal ia tadi sempat berpikir Cheasea ingin menghentikan acara pernikahan Zico karena ia tak terima menjadi orang terakhir yang di beritahu bahwa Zico padahal dirinya adalah adik dari Zico, pikir Mommy Jea. Namun ternyata pikirannya itu salah besar. Dan karena Mommy Jea sudah paham semuanya, maka ia langsung mendekap erat tubuh Cheasea kedalam pelukannya. Ia akan membiarkan Cheasea menangis didalam pelukan hangatnya. Dan jika nanti Cheasea sudah tenang kembali, ia baru akan bertanya dan angkat suara.