My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 50


__ADS_3

Disisi lain tepatnya di negara Rusia, Cheasea langsung membanting ponselnya diatas ranjang. Tumbuhnya lalu luruh kebawah dengan air mata yang sedari tadi tak bisa ia cegah untuk keluar.


Cheasea memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak. Ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh laki-laki yang ia cintai berhasil melukai hati mungilnya.


"Hiks, sakit. Sakit sekali," gumam Cheasea yang kini meremat dadanya.


"Hiks, kenapa Kak Jio tega denganku. Kenapa dia berkata seperti itu? Kenapa dia menuduhku sebagai penghancur proses penyembuhannya dulu. Hiks, padahal aku waktu itu tidak sengaja memangil dia dengan nama Zico. Jadi itu bukan salahku! Itu semua hanya ketidak sengajaanku saja. Hiks, tapi Kak Jio kenapa bisa bicara seolah-olah ketidak sengajaanku itu menghancurkan hidupnya. Hiks, Kak Jio jahat. Hiks, sakit!" ucap Cheasea. Ia terus menangis sebagai pelampiasan rasa sakit yang tengah melanda hatinya. Hingga suara ketukan pintu, masuk kedalam pendengaran Cheasea.


Cheasea segara menghapus air matanya sembari berteriak, "Siapa?!"


"Ini Mommy, sayang. Sudah waktunya sarapan. Jadi turunlah ke bawah, Daddy kamu sudah menunggu!" Teriak sang Mommy dari balik pintu kamar Cheasea.


"Ya, Mom. Cheasea akan segara turun. Cheasea mau ke buang air kecil dulu jadi Mommy turun saja dulu nanti Cheasea susul!" teriak Cheasea.


"Ya sudah Mommy turun dulu. Jangan lama-lama ya kasihan Daddy yang sudah keroncongan dibawa! Mommy pergi!"


"Iya, Mommy."


Tak ada lagi balasan dari sang ibunda tandanya wanita paruh baya itu pasti sudah kembali ke lantai satu. Cheasea kini buru-buru menuju ke toilet untuk mencuci mukanya agar tak terlalu kelihatan jika dirinya baru saja selesai menangis.


Cheasea menatap pantulan wajahnya di kaca kamar mandi untuk memastikan keadaan wajahnya saat ini. Walaupun hidungnya masih terlihat memerah sedikit, tapi ia pastikan jika kedua orangtuanya tak akan sadar akan hal itu.


Cheasea kini keluar dari dalam kamarnya menuju ke meja makan yang berada di lantai satu rumah tersebut setelah ia merasa tampilannya kembali sempurna.


Cheasea tersenyum saat dirinya sampai di ruang makan, dimana ia bisa melihat kedua orangtuanya yang menatap dirinya dengan senyuman pula.

__ADS_1


"Selamat pagi Daddy, Mommy," sapa Cheasea saat ia sudah berada di tengah-tengah kedua orangtuanya sembari memberikan kecupan singkat di pipi kedua orangtuanya.


"Selamat pagi juga sayang," balas sepasang suami-istri itu dan secara bersamaan mereka mengecup pipi Cheasea dimasing-masing sisinya.


Saat kecupan dari kedua orangtuanya sudah terlepas, Cheasea semakin melebarkan senyumnya. Lalu ia segara duduk tepat di sebelah kiri sang Daddy berhadapan langsung dengan Mommynya.


Dengan cekatan wanita paruh baya itu mengambilkan makanan untuk suami dan anaknya.


"Selamat makan," ucap Mommy Jea setelah menaruh piring didepan suami dan putrinya.


"Terimakasih Mommy, selamat makan juga," balas Cheasea sebelum dirinya menyentap sarapannya sedangkan Daddy Max, ia berterimakasih kepada sang istri dengan cara mengecup puncak kepala Mommy Jea sembari memberikan elusan lembut di kepala istrinya itu. Semua hal yang dilakukan oleh sepasang suami-istri itu tak luput dari tatapan mata Cheasea yang tersenyum melihat keharmonisan keluarganya, ia jadi membayangkan masa depannya nanti dengan Zico setelah mereka menikah. Cheasea dengan cepat melupakan kejadian beberapa menit yang lalu saat dirinya dibentak oleh Zico sampai dirinya merasakan rasa sakit di hatinya. Tapi lihatlah sekarang, dirinya malah membayangkan jika dirinya membangun rumah tangga dengan laki-laki itu.


"Jika Mommy sama Daddy saja bisa seharmonis ini walaupun mereka menikah melalui jalur perjodohan. Maka aku harus bisa bukan?" batin Cheasea dengan senyum miring di bibirnya sebelum ia kembali fokus dengan makanan yang berada di hadapannya.


"Mom, Dad," panggil Cheasea yang berhasil mengalihkan pandangan kedua orangtuanya yang tadinya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing kini menatap kearah putri semata wayangnya.


"Kenapa sayang?" tanya Daddy Max sembari menaruh ponselnya diatas meja makan bergitu pula dengan Mommy Jea. Mereka berdua memilih fokus dengan putri mereka.


"Cheasea mau ke Indonesia. Boleh tidak?" pinta Cheasea.


"Tentu saja boleh sayang. Kebetulan 1 minggu lagi Daddy dapat undangan dari Uncle Aiden sama aunty Della buat menghadiri acara---" Belum juga Daddy Max menyelesaikan ucapannya, Cheasea sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Jadi satu minggu lagi kita akan ke Indonesia Dad, Mom?"


"6 hari lagi kita berangkatnya sayang karena biar kita tidak ketinggalan acara penting itu," jawab Daddy Max.

__ADS_1


"6 hari lagi?" Kedua orangtuanya itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Cheasea tadi. Seketika saat gadis itu melihat anggukan kepala dari kedua orangtuanya, ia langsung melompat-lompat kegirangan yang berhasil membuat Mommy Jea dan Daddy Max saling pandang satu sama lain sebelum mereka dengan serempak menggedikkan bahu mereka masing-masing.


"Berapa lama kita akan disana?" tanya Cheasea setelah dirinya menghentikan lompatannya.


"5 hari," jawab Mommy Jea yang membuat bahu Cheasea langsung merosot kebawah.


"Yahhh kok cuma 5 hari sih Mom. Masak kita keluar negeri bentar doang. Gak seru ih," protes Cheasea.


"Minimal 1 bulan lah kita di sana. Lagian apa Daddy tidak rindu dengan aunty Della sana Oma dan Opa? Dan memangnya Daddy tidak kasihan sama keluarga Daddy yang ada di Indonesia kalau Daddy hanya mengunjungi mereka selama 5 hari saja? Cheasea yakin mereka merindukan Daddy, Mommy dan Cheasea juga. Dan dalam kurun waktu 5 hari itu tidak bisa mengobati rindu mereka selama bertahun-tahun tidak bertemu secara langsung," sambung Cheasea membujuk kedua orangtuanya agar memperpanjang mereka berada di negara Indonesia, negara yang sama dengan negara yang saat ini di tinggali oleh sang pujaan hati. Dan tentunya kata-kata yang ia lontarkan tadi memilki maksud terselubung. Ia menjadikan Oma dan Opanya hanya sebagai alasan saja padahal niat aslinya saat dirinya berada di Indonesia nanti ia akan 24 jam menempel kepada Zico dan berusaha untuk mencari cara agar dirinya bisa mendapatkan hati Zico walaupun dengan cara kotor sekalipun.


Tanpa Cheasea sadari, rasa sayang dan cintanya kepada Zico ternyata sudah berubah menjadi obsesi. Otak dan pikirannya hanya dipenuhi dengan cara mendapatkan laki-laki itu secepatnya sebelum diambil oleh orang lain. Dan jika semua cara yang saat ini sudah tersusun rapi di otaknya gagal, maka ia akan memilih jalan pintas yaitu dengan perjodohan. Ia akan meminta kedua orangtuanya untuk menjodohkan dirinya dengan Zico. Dan ia sangat yakin jika laki-laki itu tak akan bisa menolak permintaan kedua orangtuanya yang sudah membantu banyak dirinya.


"Tapi kamu harus kuliah Cheasea. Jadi kita tidak bisa lama-lama disana," ucap Mommy Jea yang membuyarkan lamunan Cheasea.


"Cheasea bisa kuliah secara online, Mommy," ujar Cheasea masih berusaha bernegosiasi dengan kedua orangtuanya.


"Ya sudah kalau begitu, bagaimana 3 Minggu kita disana," sambung Cheasea yang dibalas gelengan oleh kedua orangtuanya.


"Ayolah Mom, Dad. Cheasea sangat rindu Oma dan Opa lho ini. Jadi please kita tinggal disana selama 3 minggu." Daddy Aiden menghela nafas panjang.


"2 minggu. Daddy tidak mau mendengar bantahan lagi," final Daddy Aiden yang membuat Cheasea merasa tak puas. Tapi jika dipikir-pikir lagi, waktu yang diberikan oleh Daddy Max lebih baik daripada hanya 5 hari saja. Dan selama 2 minggu nanti ia akan memaksimal dirinya untuk rencana yang sudah ia susun.


"Oke, Cheasea setuju. Ya sudah kalau begitu, Cheasea siap-siap mau ke kampus dulu. Bye Mom, Dad," ujar Cheasea dengan mengecup pipi orangtuanya secara bergantian sebelum ia melangkahkan kakinya dengan riang menuju kamarnya.


Mommy Jea dan Daddy Max hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat melihat tingkah Cheasea yang tampak sangat bahagia itu.

__ADS_1


__ADS_2