My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 105


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh Zico sebelumnya dan tepat di sepakati oleh Fanya, kini sepasang suami istri itu telah sampai di kediaman keluarga Abhivandya. Mereka menuju ke pintu utama dengan saling bergandeng tangan.


Zico bisa merasakan semakin dekat mereka dengan pintu bercat putih itu, semakin kencang pula genggaman tangan Fanya. Tanpa Zico tanya pun ia tau jika istrinya itu saat ini tengah gugup maksimal. Ketika mereka telah sampai di depan pintu utama, Zico menoleh kearah Fanya dengan senyum yang mengembang kala tatapannya di balas oleh istrinya itu. Tangan Zico yang menggenggam tangan Fanya, ia angkat, mendekat kearah bibirnya. Ia kecup punggung tangan itu lalu setelahnya ia berkata, "Semuanya akan baik-baik saja."


Fanya tampak menghela nafas panjang, kemudian terlihat dirinya menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari suaminya tadi. Zico yang melihat anggukkan itu pun satu tangannya yang lain mengusap lembut kepala Fanya. Hal itu hanya berlangsung sesaat saja kala pintu di depan mereka tiba-tiba terbuka yang tentunya berhasil mengalihkan atensi keduanya.


Sedangkan orang yang berada di balik pintu utama tadi, ia tampak terkejut dengan mata yang terbuka lebar.


"Astaga Kakak ipar!" teriak orang itu yang justru membuat Zico maupun Fanya langsung terkejut.


Dan keterkejutan mereka bertambah kala orang tadi langsung menerjang tubuh Fanya. Hampir saja Fanya oleng dan mungkin terjatuh karena ulah dari orang tadi tapi untungnya dengan sigap suaminya langsung menahan tubuhnya.


"Astaga, Rea! Kamu bisa hati-hati tidak sih? Hampir saja Fanya jatuh tadi," omel Zico kepada adik perempuan yang tak lain adalah Edrea kembaran Erland (yang sudah baca the triplets story bakal tau dia siapa dan karakternya gimana)


Edrea menulikan telinganya sehingga ia mengabaikan ucapan dari Zico tadi dan dirinya justru semakin mengeratkan pelukannya dari tubuh Fanya sembari berkata, "Uhhhh rindu."


Apa yang di lakukan oleh Edrea tadi tak lepas dari tatapan mata Zico. Bahkan mata Zico saat ini melotot sempurna melihat adegan di depannya saat ini. Dengan gerakan cepat, Zico mencoba melepaskan pelukan adiknya itu. Namun sayangnya semakin ia berusaha memisahkan pelukan tersebut, Edrea semakin mengeratkan pelukannya dengan telinga yang masih saja ia tulikan kala Zico semakin mengomeli dirinya. Tapi tunggu dulu, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di tengah-tengah dirinya dan juga Kakak iparnya itu.


Edrea yang cukup penasaran pun akhirnya ia melepaskan pelukannya. Ia menatap penampilan Fanya dari atas sampai bawah. Dan apa yang ia lakukan tadi justru membuat Fanya merasa risih.


Zico yang mengetahui istrinya merasa risih sekaligus ia merasa dongkol dengan adiknya, tangannya kini bergerak, memiting leher Edrea dengan lengan tangannya. Dan satu tangan lainnya ia gunakan untuk menyentil kening Edrea hingga membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Aduhh! Sakit anjim?!" teriak Edrea.


"Rasain siapa suruh kamu lihatin Kakak ipar kamu seperti tadi, hmm? Kamu tau, dia sampai risih karena kamu tatap dari bawah sampai atas! Dan kamu tau rasanya aku ingin mencukil mata kamu saat ini juga," ucap Zico yang membuat Edrea membeku di tempat. Dan dengan gerakan lambat, ia menatap kearah Zico.


"Bang, jangan bilang kamu kumat kayak dulu lagi?" Zico memutar bola matanya malas. Lalu ia melepaskan tubuh Edrea dari kunciannya sembari menjawab, "Gak!"


"Yakin, kamu gak kumat bang?" tanya Edrea untuk memastikan takut-takut masa lalu itu terulang lagi kan bisa bahaya apalagi ada Fanya juga disini yang mungkin dia memang tau cerita masa lalu Zico tapi Edrea tidak yakin jika Kakak iparnya itu juga tau kegilaan Zico di masa lalu yang sayangnya sangat mengerikan.


Lagi dan lagi Zico memutar bola matanya malas.


"Aku bukan psikopat dan juga tidak gila yang bisa kumat lagi walaupun masa penyembuhan telah selesai. Jadi hentikan, jangan bicara yang tidak-tidak," ujar Zico dengan suara yang terdengar tegas.


Edrea bukannya takut, ia malah nyengir memperlihatkan deretan gigi rapinya.


"Hah, sudahlah berbicara dengan kamu malah akan mengundang keributan nanti. Sekarang aku dan istriku mau masuk. Kamu mau keluar kan tadi, jadi silahkan," tutur Zico lalu kemudian ia mendekati Fanya yang sedari tadi melihat keributan dari sepasang adik dan Kakak itu.


"Ayo sayang, kita masuk," ucap Zico kala dirinya telah menggandeng tangan Fanya.


Namun sebelum mereka beranjak dari tempatnya, Edrea sudah lebih dulu berdiri tepat didepan Fanya.


"Tunggu dulu," cegah Edrea yang membuat Zico mengusap wajahnya frustasi.

__ADS_1


"Apa lagi sih, Rea?! Astaga!"


"Stttt, Abang diam dulu bisa gak sih. Rea mau memastikan sesuatu dulu ini lho! Nanti kalau Rea sudah memastikan, kalian baru boleh masuk. Jadi jangan protes dulu. Biarkan aku menyelesaikan urusanku dulu," ucap Edrea yang kali ini ia tak ingin mendengar bantahan dari siapapun.


Namun sayangnya Zico tak mengindahkan ucapan dari Edrea tadi, ia berniat untuk membalas ucapan dari Edrea tapi sayangnya Fanya justru mencegahnya. Istrinya itu menggelengkan kepalanya sekaligus ia menyuruh agar Zico menuruti apa yang di mau oleh Edrea. Zico yang merasa tak di bela oleh sang istri, ia mencebikkan bibirnya kesal tapi tak urung ia menuruti perintah dari sang istri.


Kembali lagi dengan Edrea, perempuan itu sedari tadi terus menatap kearah perut Fanya hingga salah satu tangannya kini terulur menyentuh perut Fanya yang terlapisi dress.


Fanya cukup terkejut akan tindakan dari Edrea tadi. Tapi ia hanya membiarkan saja tangan adik iparnya terus bergerak, mengusap perut buncitnya yang ia sembunyikan dibalik balutan dress besar yang ia kenakan. Toh bukannya saat ini memang waktunya ia memberitahu kehamilannya? Jadi tidak masalah jika Edrea tau lebih dulu akan kondisinya saat ini.


Sedangkan Edrea, tangannya kini berhenti bergerak di perut buncit Fanya. Tubuhnya yang tadi sempat ia tundukkan kembali ia tegakkan. Terlihat raut terkejut di wajahnya kala ia tak menyangka jika firasatnya tadi benar adanya, tapi ia tak boleh senang dulu. Ia harus mengkonfirmasi dengan Fanya secara langsung.


"K---Kak, Ka---kamu hamil?" tanya Edrea yang saking terkejutnya ia sampai berbicara dengan gugup.


"Kamu tadi sudah mengelus perut istriku, harusnya tanpa kamu tanya, kamu sudah tau dong kalau istriku memang tengah hamil." Bukan Fanya yang menjawab pertanyaan dari Edrea tadi melainkan Zico.


"Ck, Abang diam dulu bisa gak sih!" ucap Edrea dengan galak bahkan tatapan permusuhan ia layangkan kearah Kakak ketiganya itu sebelum tatapan matanya yang sudah kembali teduh ia alihkan kearah Fanya.


"Kak, jawab. Kakak sedang hamil kan sekarang?" tanya ulang Edrea menuntut jawaban dari Fanya.


Fanya yang sudah berjanji tidak akan menyembunyikan kehamilannya pun ia menganggukkan kepalanya dengan senyum di bibirnya.

__ADS_1


Jawaban Fanya itu seketika membuat Edrea berteriak sekencang-kencangnya sembari berlari kedalam rumah megah tersebut.


"MOMMY! DADDY! KAKAK IPAR HAMIL!" Kira-kira seperti itulah teriakan Edrea yang menggema sampai keluar rumah. Dan hal itu membuat sepasang suami-istri yang Edrea tinggalkan di depan pintu rumah, melongo tak percaya dengan tingkah Edrea.


__ADS_2