My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 20


__ADS_3

Zico termenung di dalam apartemennya. Setelah kepulangannya dari panti tempat tinggal Fanya, otaknya selalu saja di penuhi dengan banyaknya pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya sampai-sampai ia tak menyadari Bima yang datang mendekati dirinya dengan sebuah ponsel di tangannya.


"Semua masalah sudah terselesaikan. Kita besok pulang," ujar Bima yang sibuk dengan ponselnya tanpa menatap kearah Zico yang duduk tepat di depannya.


Beberapa saat telah berlalu namun Bima tak kunjung mendapatkan jawaban dari ucapannya tadi sehingga ia mengalihkan pandangannya kearah Zico. Dirinya berdecak kala melihat sang bos justru tengah melamun.


"Woy bos!" ucap Bima meninggikan suaranya. Tapi tetap saja Zico masih sibuk dengan pikirannya.


"Astaga orang ini!" erang Bima sebelum dirinya mengambil nafas panjang dan berancang-ancang untuk berteriak.


"Akalanka Zico Bagaskara Abhivandya!" Teriakan menggema dari Bima kali ini berhasil membuat Zico kembali ke alam sadarnya. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.


"Jangan teriak-teriak disini bukan hutan," ujar Zico memperingati.


"Ck, aku juga tau disini bukan hutan. Tapi apa yang aku lakukan itu salah kamu yang dari tadi aku panggil tidak menjawab malah diam saja, kesambet baru tau rasa kamu," celetuk Bima tapi sayangnya ucapannya hanya di balas gedikkan bahu oleh Zico. Lalu setelahnya ia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dengan tangan yang ia gunakan untuk menutup kedua matanya.


Bima yang melihat tingkah Zico, ia menghela nafas. Tanpa ia tanya, ia tau jika Zico saat ini tengah mendapat masalah.


"Masalah proyek sudah selesai, semuanya sudah kembali berjalan normal. Tapi kenapa kamu kayak masih banyak pikiran begitu?" tanya Bima kepo.


Zico menggelengkan kepalanya. Mungkin untuk saat ini ia tak akan menceritakan masalah Fanya kepada siapapun. Toh bukannya masa kelam Fanya merupakan privasi jadi ia akan membungkam mulutnya rapat-rapat untuk menyembunyikan kisah menyakitkan itu.


Tapi tak berselang lama, Zico tiba-tiba mendudukkan tubuhnya kembali, kedua tangannya pun sudah menyingkirkan dari kedua matanya.

__ADS_1


Mata tajam Zico kini menatap lekat kearah Bima yang membuat laki-laki itu kelabakan.


"Ja---jangan natap aku kayak gitu," ujar Bima sebisa mungkin menghindari matanya bertemu dengan mata tajam Zico. Jujur saja ia takut dengan sahabatnya itu jika dalam mode seperti ini karena ia merasa nyawanya terancam.


Zico yang melihat raut wajah ketakutan dari Bima, ia mengusap wajahnya kasar, kemudian ia berkata, "Bim, kamu tau tempat kursus bahasa isyarat?"


Bima yang tiba-tiba mendapat pertanyaan itu ia menatap Zico dengan salah satu alisnya yang terangkat. Ia bingung kenapa tiba-tiba Zico bertanya tempat kursus? Terlebih kursus bahasa isyarat lagi. Ia tidak salah dengar kan?


"Ck, Bim, aku tanya serius ini. Jadi cepat katakan kamu tau atau tidak?" ujar Zico tak sabaran.


Bima mengerjabkan matanya. Ia yakin kali ini jika ia tak salah dengar setelah Zico mengulang ucapannya.


"Sebentar-sebentar, kamu cari tempat kursus bahasa isyarat?" Zico memutar bola matanya malas. Apakah ucapannya tadi tak cukup jelas bagi Bima? Astaga, Zico benar-benar ingin memukul kepala sahabatnya itu. Tapi Zico tetap mengangguk walaupun ia sangat kesal dengan Bima.


"Ck, tinggal bilang kamu tau atau tidak apa susahnya sih?" geram Zico dengan mengacak-acak rambutnya.


"Aku tidak tau, tapi aku bisa bantu kamu buat cari tempat itu. Jadi katakan alasannya kamu mencari tempat kursus itu buat siapa dan untuk apa?" ujar Bima. Zico menghela nafas kesal. Sepertinya untuk kekurangan Fanya, ia tak bisa merahasiakannya kepada Bima karena jika ia tetap merahasiakannya, laki-laki didepannya itu tidak akan berhenti berbicara sebelum tau apa yang ingin ia ketahui.


"Fanya, kamu tau kan dia siapa?" ujar Zico yang diangguki oleh Bima.


"Tentu saja, bukannya Fanya adalah perempuan yang selama ini kamu cari dan baru bertemu dengan dia beberapa hari yang lalu?"


"Hmmm dan Fanya, dia memiliki keterbatasan dalam berbicara sejak dia lahir." Terlihat jelas Bima terkejut akan penuturan dari Zico tadi.

__ADS_1


"Aku gak salah dengar kan kalau dia tidak bisa bicara?" Zico menggelengkan kepalanya.


Bima tampak menganggukkan kepalanya, ia sepertinya sedikit mengerti sekarang alasan Zico sedari tadi hanya merenung tentunya karena memikirkan Fanya. Tapi sebelum ia bergerak untuk membantu mencarikan tempat kursus yang diperlukan oleh Zico, ia perlu memastikan satu hal.


"Kamu sekarang tau kalau Fanya memiliki kekurangan. Jadi apa kamu akan mundur untuk tidak mengejar Fanya lagi? Atau---" Belum selesai Bima berbicara, Zico lebih dulu memutusnya dengan suara tegas.


"Apa kamu gila sampai bertanya hal yang mustahil aku lakukan? Aku bertanya kepadamu tentang tempat kursus artinya aku tetap akan mengejar Fanya. Aku tidak peduli dengan keterbatasan yang dia miliki. Aku akan tetap berusaha untuk meluluhkan hati dia sampai aku memilikinya selamanya!"


Bima tampak tersenyum sembari berdiri dari tempat duduknya tadi. Lalu ia mendudukkan tubuhnya tepat disamping Zico yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin. Tapi kali ini Bima tak takut sama sekali, ia justru menepuk-nepuk bahu Zico sembari berkata, "Aku dukung keputusanmu. Aku akan segara mendapatkan informasi mengenai tempat kursus bahasa isyarat yang kamu mau. Tapi mau tempat kursus di kota mana? Karena besok kita akan kembali pulang."


"Kamu saja yang kembali, aku akan tetap disini," jawab Zico.


"Kamu tenang saja, aku tidak akan melimpahkan semua urusan kantor kepadamu. Aku tetap akan bekerja jika kamu mengirimiku pekerjaan melalui email. Tapi jika kamu tidak mengirimnya, ya aku tidak akan bekerja," sambung Zico saat ia tau Bima akan protes atas Keputusannya tadi.


Bima tampak mengangguk pasrah sebelum ia fokus kembali ke ponselnya.


Beberapa saat tak ada suara dari dua orang tersebut, Bima yang fokus dengan ponselnya sedangkan Zico kembali ke lamunannya.


Zico merasakan tepukkan di bahunya yang otomatis membuat dirinya menolehkan kepalanya kearah samping, tempat Bima berada.


"Aku sudah menemukan guru privat khusus bahasa isyarat. Nama dia, Miss Grace, dia seorang guru di sekolah luar biasa." Bima menyodorkan ponselnya kehadapan Zico untuk memperlihatkan foto guru bahasa isyarat yang baru saja ia temukan. Namun tanpa melihat, Zico mendorong tangan Bima agar menjauh dari hadapannya.


"Carikan aku guru dengan jenis kelamin laki-laki jangan perempuan," ujar Zico yang jelas sekali ia menghindari untuk berinteraksi dengan guru perempuan tersebut.

__ADS_1


Bima yang paham jika Zico memang sangat membatasi jarak antara dirinya dengan seorang perempuan, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan segera mencari guru privat bahasa isyarat seperti yang diinginkan oleh Zico.


__ADS_2