
Sudah 2 hari Fanya ditinggal Zico sendirian di negara Indonesia. Selama itu pula semuanya aman, tak ada gangguan sama sekali. Dan selama dua hari itu juga Zico, satu hari pun tak pernah berhenti menghubungi Fanya. Laki-laki itu pasti menyempatkan dirinya untuk melakukan panggilan video kepada sang istri, memastikan sendiri keadaan Fanya.
Dan kini terlihat Fanya sudah sangat rapi, perempuan itu berencana untuk memeriksakan kandungannya yang kebetulan saat ini tepat berusia 4 bulan.
Dengan senyum lebar di bibirnya, Fanya menatap dirinya yang tengah mengelus perut buncitnya. Rasa-rasanya ia sudah tidak sabar menunggu kelahiran twins.
Perhatian Fanya teralihkan kala ia mendengar suara dering ponsel yang menggema di kamarnya. Tanpa melihat siapa penelpon pun Fanya sangat yakin jika telepon itu dari sang suami. Dan benar saja kala ia mengangkat panggilan video itu, terpampang jelas wajah tampan sang suami.
📱 : "Morning sayang," sapa Zico dari sebrang telepon. Tentunya dibalas senyuman serta anggukan oleh Fanya.
📱 : "Mau kemana? Kok udah rapi aja? Mau keluar ya?" tanya Zico yang sepertinya tidak ingat jika saat ini jadwal periksa Fanya.
"Iya, aku mau keluar sekarang. Mau periksa kandungan. Kan sekarang sudah tanggalnya aku periksa."
Terlihat di sebrang sana Zico memukul keningnya sendiri.
📱 : "Astaga, kenapa aku bisa melupakan tanggal penting ini sih sayang? Arkhhh maafkan aku sempat melupakan jadwal cek up twins," sesal Zico.
"Tidak apa-apa sayang. Maklum kamu lupa sama tanggal cek up twins, lagian kamu kan lagi ada masalah yang pastinya kamu selalu memikirkan masalahmu itu. Jadi aku memaklumi kelupaan kamu ini."
📱 : "Ck, tetap saja aku merasa bersalah dengan twins. Kalau aku tidak lupa, aku pasti saat ini akan pergi menemani kamu untuk cak up. Tapi gara-gara aku lupa, aku malah memilih terbang ke negara ini dan tidak menemani kamu. Padahal aku juga ingin lihat perkembangan twins. Aku juga ingin lihat bagaimana bentuk mereka sekarang. Huh, apa aku sekarang pulang saja ya?" Mata Fanya terbuka lebar kala mendengar penuturan dari sang suami.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh kamu. Urusan kamu disana belum selesai jadi jangan berani-berani kamu pulang kesini. Ingat tanggungjawab kamu sebagai pemimpin sebuah perusahaan."
Benar apa yang dikatakan Fanya jika masalah yang tengah di hadapi oleh Zico saat ini sungguh bukan masalah yang sepele, melainkan sangat rumit untuk di selesaikan.
📱 : "Tapi aku tidak ingin melewatkan untuk menemani kamu cek up sayang."
"Iya, tapi tidak dengan cara kamu meninggalkan tanggungjawab kamu juga. Untuk hari ini tidak masalah kamu melewatkan proses cek up ini. Lagian nanti akan aku beritahu hasil cek upnya. Aku juga akan mengirimkan foto hasil USG ke kamu. Jadi anggap saja dua hal yang akan aku sampaikan nanti setelah cek up, kamu tidak ketinggalan sedikitpun informasi mengenai twins hari ini. Jadi jangan pernah berpikir untuk pulang. Tapi jika kamu tetap nekat, maka jangan salahkan aku jika aku tidak ingin bicara lagi sama kamu." Fanya terpaksa memberikan ancaman kepada sang suami karena ia sangat tau betul tabiat Zico yang selalu nekat jika menginginkan sesuatu.
Terlihat wajah Zico yang tampak cemberut. Ia tak suka dengan keputusan sang istri. Tapi ia tak mungkin mengikuti kemauannya mengingat ancaman Fanya yang membuat dirinya tidak bisa berkutik lagi.
Sedangkan Fanya yang melihat wajah cemberut dari sang suami, ia terkekeh kecil.
"Tidak usah cemberut begitu. Hanya sekali saja kamu tidak menemaniku. Masih ada kesempatan lagi buat kamu selalu berada disampingku kala aku cek up sampai usia kandunganku 9 bulan. Toh cek up ini juga tidak terlalu penting jadi tidak masalah jika kamu tidak menemaniku, selagi bukan saat aku melahirkan karena jika saat aku melahirkan dan kamu tidak ada di sampingku, siapa-siapa saja surat cerai dari pengadilan agama aku pastikan sampai di tanganmu."
📱 : "Jangan aneh-aneh sayang. Tidak lucu tau jika dalam pembicaraan kita, kamu bawa-bawa pengadilan agama segala. Lagian jika nanti kamu melahirkan dan disaat itu pula aku tengah sibuk atau memiliki masalah yang sama dengan masalah yang tengah aku hadapi saat ini atau lebih rumit lagi, aku akan tetap memilih untuk menemani kamu melahirkan. Aku tidak peduli konsekuensi apa yang akan aku dapatkan nantinya karena di dalam hidupku, kamu dan twins lah yang lebih berharga daripada apapun yang aku punya."
Fanya yang mendengar penuturan dari Zico, hatinya sangat tersentuh. Hingga rasa-rasanya ia ingin menangis tapi dengan sekuat tenaga ia tahan air matanya agar tak jatuh.
Zico yang melihat istrinya hanya diam saja, ia mengerutkan keningnya sebelum ia kembali bersuara.
📱 : "Sayang, kamu kenapa?"
__ADS_1
Fanya tersadar dari pikirannya sendiri. Dan dengan senyum manisnya ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa terharu karena ucapan kamu tadi. Oh ya sayang, sepertinya sampai disini dulu ya. Soalnya disini sekarang sudah jam setengah 10 dan jadwal cek up pukul 10 tepat. Aku harus segara pergi sekarang, takut nanti Dokter Safitri menunggu. Aku matikan teleponnya ya. Nanti aku hubungi lagi setelah selesai dari cek up. Semangat kerjanya sayang. Semoga masalah kamu segara selesai. Bye bye sayang. Assalamualaikum," pamit Fanya.
Zico tampak berdecak. Ia tak rela jika sambungan teleponnya harus terputus. Tapi mau tak mau ia menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan dari Fanya tadi. Toh sebentar lagi dia juga akan mengadakan meeting dengan para pemegang saham.
📱 : "Waalaikumsalam, hati-hati di jalan. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku dan orang rumah."
Tentu saja Fanya menganggukkan kepalanya, lalu setelahnya ia melambaikan tangan kepada Zico sebelum sambungan video itu ia tutup.
Fanya melirik kembali jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang saat ini menunjukan pukul 09:35. Fanya kini buru-buru memasukkan ponselnya kedalam tas kecil. Lalu dengan langkah lebar ia menuju ke lantai bawah. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh sopir pribadinya. Kemudian tanpa diperintahkan pun sopir itu mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit yang dijadikan tempat pemeriksaan kandungan Fanya.
Sesampainya disana waktu sudah menunjukkan pukul 10 kurang 5 menit lagi. Dengan langkah tergesa-gesa akhirnya Fanya berhasil sampai di depan ruang periksa dokter Safitri tepat waktu bersamaan dengan namanya yang di panggil.
"Atas nama ibu Evanthe Fanya Zahira, dimohon untuk segera masuk kedalam ruang pemeriksaan."
Sang pemilik nama pun segara masuk dan kala ia sudah menginjakkan kakinya di dalam ruang periksa, ia langsung disambut dengan senyum hangat dokter Safitri.
"Bagaimana? Apa ada keluhan?" tanya dokter Safitri kala Fanya telah duduk di kursi tepat di depannya.
"Untuk saat ini sepertinya tidak ada keluhan yang membuat saya parno Dok. Semuanya aman-aman saja."
__ADS_1
"Syukurlah kalau memang begitu. Ya sudah kita mulai sekarang saja ya." Fanya menganggukkan kepalanya. Dan tanpa di suruh pun ia segara menuju ke brankar di dalam ruangan itu.
Fanya tampak tenang saat terbaring bahkan saat dokter Safitri mulai memeriksa kandungan. Matanya pun tak lepas dari layar monitor di sampingnya sampai-sampai ia tak melihat perubahan raut wajah Dokter Safitri yang tampak terkejut bercampur dengan ekspresi khawatir kala ia mendapatkan sesuatu yang mencurigakan di kandungan Fanya.