My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 7


__ADS_3

"Bos, sepertinya saya hanya halusinasi saja tadi!" teriak Baim dengan berlari kearah Zico.


Tentunya ucapan nyaring itu membuat kedua manusia berjenis kelamin berbeda tersebut mengalihkan pandangannya kearah belakang Zico, dimana Baim telah berdiri disana.


Laki-laki itu kini menatap kearah Zico yang ternyata bersama dengan seorang perempuan yang sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan mata Baim yang tadi menatap kearah Zico dan Franda secara bergantian, teralihkan kala ia tak sengaja melihat tangan Zico yang menggenggam erat tangan Fanya. Tentunya hal tersebut membuat Baim terkejut bukan main. Pasalnya Zico tipe orang yang tidak mau disentuh oleh seorang perempuan kecuali keluarganya sendiri. Bahkan perempuan itu kliennya sendiri, pasti dia akan menyuruh Baim untuk mewakili dirinya bersalaman. Tapi sekarang, lihatlah, bosnya itu menggenggam erat tangan seorang perempuan yang ia yakini bukan merupakan bagian dari keluarganya ataupun saudaranya karena Baim tau betul seluk beluk Zico.


Fanya yang melihat Zico tengah terbagi fokusnya, ia memanfaatkan situasi tersebut untuk kabur. Ia masih harus waspada dengan laki-laki yang tak ia tau asal-usulnya dan menurut dia sangat menyeramkan itu. Dengan sekali hentakkan, genggaman tangan Zico terlepas. Fanya langsung berlari sekencang-kencangnya, tak perduli lagi dengan luka yang ia miliki saat ini karena yang ada di pikirannya saat ini, ia segara pergi juga menjauh dari laki-laki yang sangat menakutkan itu.


Sedangkan Zico, ia terkejut atas aksi Fanya tadi. Namun saat dirinya ingin menyusul kepergian Fanya, dirinya dihadang oleh Baim. Zico berusaha untuk menghindari hadangan dari sekretarisnya itu. Tapi saat ia mencari celah untuk melewati tubuh Baim, Baim justru dengan cepat kembali memblok jalannya yang membuat Zico menggeram kesal. Kalau seperti ini terus, ia akan kehilangan jejak Fanya.


"Minggir sialan!" bentak Zico. Baim yang mendapat bentakan dari sang atasan sekaligus sahabatnya itu, nyalinya sedikit menciut, tapi ia tak ingin menghentikan aksinya, ia harus memastikan dulu siapa perempuan tadi.


"Bentar dulu. Kamu harus kasih tau ke saya siapa perempuan tadi? Ingat sama janji kamu, Jio yang hanya akan menaruh hati kamu untuk perempuan yang selama ini kamu cari. Jadi laki-laki itu harus bisa dipegang ucapannya, bukan malah mengingkari janjinya. Kalau sampai ingkar janji, pengecut namanya!" tutur Baim yang memegang teguh kesetiaan.


Zico mengusap wajahnya, kala ia tak lagi melihat tubuh Fanya. Alhasil tatapan matanya kini menyorot tajam kearah Baim sebelum dirinya berkata, "Kamu tau! Perempuan tadi adalah perempuan yang saya cari selama ini! Dia Fanya! Dan kamu malah dengan seenaknya membuat saya kehilangan jejak dia lagi! Sialan! Minggir sekarang!"

__ADS_1


Zico mendorong kencang tubuh Baim, sampai-sampai tubuh Baim jadi mendarat di jalan trotoar. Lalu setelahnya, ia berlari menyusul kepergian Fanya. Tapi sebelum dirinya benar-benar pergi ia sempat berucap, "Undur pertemuan untuk membahas masalah proyek kita! Jika tidak di undur, kamu saja yang menjadi wakil saya! Tapi setelah kamu bisa menemukan Fanya. Tanggungjawab karena kamu penyebab utama saya kehilangan jejak Fanya lagi!"


Baim yang mendengar jelas ucapan dari Zico, ia segara berdiri dengan ringisan saat merasakan sakit di bokongnya sembari ia bergumam, "Jadi perempuan tadi adalah perempuan yang selama ini dia cari?"


"Ya Tuhan kalau tau begitu, aku tidak akan mendekati mereka tadi dan tidak akan menghadang jalan Zico buat mengejar perempuan itu," sambung Baim dengan menepuk keningnya sendiri. Ia merasa jika ucapan Zico tadi benar adanya jika dirinya lah penyebab Zico kehilangan jejak Fanya lagi. Jadi ia harus bertanggungjawab untuk menemukan Fanya agar Zico tak lagi seperti orang yang kehilangan arah seperti hari-hari biasanya.


Baim bergegas mencari keberadaan Fanya, tentunya dengan otak yang cerdik, ia memilih mengejar Fanya menggunakan mobil milik Zico. Tujuan pertama, ia akan mencari ke taman yang tak jauh dari lokasinya tadi, mungkin perempuan itu ada disana, mengingat ia tadi sempat melihat ada luka di kakinya yang memungkinkan Fanya tak kuat jalan jauh.


Saat Baim memiliki tujuan yang pasti, Zico justru berlari tanpa arah tujuan, ia hanya berusaha menapaki jejak kepergian Fanya tadi dengan sesekali bertanya kepada seseorang yang berpapasan dengannya. Namun orang-orang yang ia tanyai tak ada yang melihat kepergian Fanya. Sampai-sampai ia berpikir, apakah dirinya salah lihat arah perginya Fanya tadi? Atau ia hanya halusinasi semata, seolah-olah ia melihat Fanya padahal orang itu bukan Fanya? Tapi sepertinya ia tidak halusinasi, wajah Fanya yang tadi ia lihat benar-benar nyata, walaupun rambutnya lebih panjang dari 5 tahun yang lalu. Tapi ia ingat betul wajah cantik perempuan yang merebut hatinya itu. Jadi tidak mungkin ia salah orang. Perempuan tadi benar-benar Fanya, kekasih hatinya. Tapi dimana dia sekarang? Kenapa Zico tidak bisa menemukan dia lagi?


"Ya Tuhan, kamu dimana Fanya. Aku mohon jangan menghilang lagi," gumam Zico dengan air mata yang tiba-tiba menetes membasahi pipinya. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Tuhan hanya memberikan dirinya kesempatan untuk bertemu dengan Fanya beberapa menit saja? Padahal yang ia mau dirinya bisa bertemu Fanya setiap hari disisa umurnya.


Zico segara menggeser ikon telepon berwarna hijau.


"To the point!" ucap Zico saat sambungan telepon mereka terhubung.

__ADS_1


Terdengar decakan dari Baim di sebrang sana sebelum laki-laki itu mengatajany tujuan ia menghubungi Zico.


📞 : "Buka pesan dari saya, disana saya sudah mengirim lokasi perempuan yang kamu cari. Dia sekarang ada di taman, duduk di kursi pinggir danau sendirian. Kesini sekarang sebelum kamu kehilangan jejak dia lagi," ujar Baim.


Zico yang mendengar perkataan dari Baim, sebuah senyuman terbit di bibirnya. Ia yang tak ingin kehilangan jejak pujaan hatinya, ia bergegas berlari menuju ke lokasi yang sudah di kirimkan boleh Baim. Sambungan telepon yang tadi sempat terhubung pun ia matikan sepihak tanpa mengucapakan sepatah kata penutup atau sekedar berterimakasih kepada Baim.


Sedangkan Baim, ia lagi-lagi berdecak saat menatap layar ponselnya yang menampilkan layar hitam.


"Gini nih kalau orang gak punya sopan santun. Main di matiin gitu aja tanpa mengatakan terimakasih terlebih dahulu. Huh, untung sahabat sendirian sekaligus bos sendiri, kalau dia orang lain, aku gak akan segan-segan buat pukul kepala dia. Huh, sabar," gumam Baim dengan mengelus dadanya sembari tangannya bergerak lincah menuju ke sebuah aplikasi pemesanan taksi online. Tentunya seperti yang dikatakan oleh Zico tadi, jika ia harus mengurus masalah yang tengah terjadi dengan proyek perusahaan milik Zico sendirian tanpa sang pemilik. Baim akan membiarkan Zico menghabiskan waktunya untuk Fanya hari ini. Kasihan juga kan jika ia masih menuntut Zico untuk ikut menyelesaikan masalah ini dan membiarkan Fanya pergi lagi dari genggaman Zico.


Disisi lain, Zico yang menguras tenaganya hanya untuk berlari akhirnya ia telah sampai di sebuah taman yang lumayan luas dengan beberapa pengunjung disana. Zico mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Fanya yang katanya berada di pinggir danau.


Lagi dan lagi senyum lebar terbit di bibir Zico saat matanya menangkap sosok perempuan yang ia cari. Zico melangkahkan kakinya sepelan mungkin agar tak diketahui oleh Fanya yang sepertinya tengah melamun. Dan saat ia sudah sampai, tanpa meminta izin terlebih dahulu, ia mendudukkan tubuhnya disamping Fanya dengan kotak P3K yang berada di pangkuannya.


Zico menatap lekat wajah Fanya dari samping. Wajah yang memiliki hidung mancung, bibir mungil dan bulu mata yang sangat lentik, benar-benar sangat indah dipandang. Tapi Zico tak boleh lama-lama menatap wajah Fanya karena ia ingat ada satu tugas yang harus ia selesaikan yaitu mengobati luka Fanya yang sepertinya perempuan itu tak menyadari keberadaannya saat ini.

__ADS_1


Dengan perlahan tapi pasti, Zico merubah posisi tubuhnya yang tadinya duduk disamping Fanya, ia kini berjongkok di depan Fanya lalu membuka kotak P3K dan sebelum dirinya menyingkap sedikit dress yang dikenakan oleh Fanya, ia berkata, "Maaf jika aku tidak sopan."


Fanya tentunya tersadar dari lamunannya dan betapa terkejutnya dia saat ia melihat seseorang yang tadi sempat bertemu dengannya kini berjongkok di depannya. Dan seseorang itu adalah laki-laki misterius yang perlu ia waspadai.


__ADS_2