My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 93


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu, kini Fanya yang sudah dinyatakan pulih sepenuhnya sudah di perbolehkan untuk pulang. Dan kini Zico yang selalu berada di samping sang istri tengah mengemasi barang mereka yang berada di ruang inap tersebut. Awalnya Fanya ingin membantu Zico mengemasi barang mereka, tapi laki-laki itu menolak keras niat Fanya dan menyuruh wanita itu untuk duduk saja. Sehingga Fanya hanya bisa menuntuti ucapan dari sang suami. Ia hanya duduk manis di sofa sembari matanya terus menatap Zico yang tengah sibuk dengan kegiatannya.


Mengenai perasaan Fanya yang kehilangan calon buah hatinya, ia tak lagi merasakan sesakit saat pertama kali dirinya mendapatkan berita menyakitkan itu walaupun tetap saja ada sedikit rasa sesak saat mengenang masa-masa dirinya mengandung dulu. Tapi Fanya mencoba untuk mengikhlaskan kepergian calon buah hatinya itu. Dan tentunya kebangkitan dirinya dari masa kesedihan tak lepas dari support sang suami. Fanya sangat bersyukur memiliki suami yang selalu memberikan dukungan kepadanya yang selalu merangkulnya kala sedih dan selalu ada untuknya. Fanya benar-benar bersyukur akan hal tersebut.


"Sayang, heyy!" panggil Zico sembari tangannya melambai tepat di depan wajah Fanya. Hal tersebut membuat Fanya mengerjabkan matanya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat sang suami sudah berdiri di depannya.


Sedangkan Zico, ia kini menghela nafas saat menyadari Fanya tengah melamun. Pantas saja sedari tadi ia memanggilnya, istrinya itu tak kunjung menjawab. Zico menjongkokkan tubuhnya tepat dihadapan Fanya. Ia tatap lekat mata indah tersebut dengan kedua tangannya yang sudah menggenggam erat tangan Fanya.


"Ada apa hmmm? Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu sampai-sampai membuat kamu melamun seperti tadi? Coba cerita sini sama suamimu ini," ujar Zico yang dibalas senyuman oleh Fanya. Salah satu tangan Fanya yang di genggam Zico, ia lepaskan lalu kini bergerak untuk mengelus rahang suaminya.


Zico sempat memejamkan matanya, merasakan usapan lembut dari istrinya itu sebelum mata itu kembali ia buka. Dan bertepatan dengan ia membuka matanya Fanya menggelengkan kepalanya sembari bibirnya bergerak membentuk sebuah kata, "Tidak ada apa-apa, sayang. Aku baik-baik saja."


"Kamu yakin?" Fanya menganggukkan kepalanya yang membuat Zico menghela nafas panjang sebelum tangannya meraih tangan Fanya yang masih bertengger di rahangnya. Ia kecup tangan itu sebelum dirinya berkata, "Ya sudah kalau memang tidak ada apa-apa. Tapi ingat sayang kita ini suami-istri yang harus selalu terbuka satu sama lain. Jika kamu memiliki masalah, maka jangan sungkan untuk bercerita kepadaku, siapa tau suamimu ini bisa membantu kamu menyelesaikan masalah yang tengah kamu hadapi. Tapi jika memang aku tidak bisa membantumu, setidaknya bisa membuat hati kamu sedikit lega karena tidak memendam lagi permasalahan kamu yang memang harus ada seseorang yang bisa kamu ajak curhat, seseorang yang mendengarkan keluh kesahmu dan seluruh ceritamu dengan senang hati dan orang itu adalah pasanganmu sendiri yaitu aku. Begitupun sebaliknya, aku juga akan terbuka kepadamu. Toh tidak baik jika kita menyembunyikan sesuatu kepada pasangan kita sendiri yang justru pada akhirnya akan menjadi bumerang di suatu saat nanti. Jadi aku mohon, selalu terbuka ya sama aku."


Tentu saja ucapan dan permintaan dari Zico dibalas dengan anggukkan setuju dari Fanya. Wanita itu juga tidak berniat menyembunyikan apapun dari suaminya sendiri. Ia takut saat ia menyembunyikan sesuatu dari Zico dan laki-laki itu tau dari orang lain, ia akan kehilangan kepercayaan dari suaminya itu. Dan tentunya ia tak akan sanggup melihat tatapan penuh kekecewaan dari suaminya jika semua itu terjadi.

__ADS_1


Zico yang melihat anggukkan dari sang istri pun ia tersenyum sebelum dirinya berdiri dari posisi berjongkoknya tadi. Ia mengacak gemas rambut Fanya.


"Kita pulang sekarang," ujar Zico diakhiri dengan kekehan kecil saat melihat bibir Fanya mengerucut lucu sembari tangannya membenarkan tatanan rambutnya yang sudah berantakan akibat ulah suami jahilnya itu.


Sedangkan Zico, setelah berucap, ia melangkahkan kakinya menuju ke atas brankar, mengambil koper kecil berisi barang-barang miliknya.


"Mau gendong apa jalan sendiri?" tanya Zico kala Fanya sudah berdiri disampingnya.


"Jalan sendiri. Aku sudah sembuh total. Jadi jangan mengkhawatirkanku lagi."


Zico yang melihat balasan dari sang istri hanya bisa menganggukkan kepalanya. Lalu dengan bergandeng tangan, keduanya keluar dari ruang inap tersebut.


Zico yang peka dengan keadaan istrinya pun ia semakin mempercepat langkah kakinya hingga keduanya telah sampai di dalam mobil yang ternyata sudah terparkir tak jauh dari pintu keluar gedung rumah sakit tersebut.


Fanya menghela nafas lega kala ia sudah duduk di kursi samping kemudi. Sedangkan Zico, ia lebih dulu meletakkan barang bawaan mereka di bagasi mobilnya. Lalu setelahnya barulah ia ikut masuk kedalam, duduk di belakang kemudi. Namun sebelum ia menggunakan seat beltnya, ia mencuri sebuah kecupan di pipi Fanya hingga membuat istrinya itu terkejut.

__ADS_1


"Maaf sudah membuat kamu tidak nyaman sayang," ujar Zico tak enak hati.


Fanya menggeleng, "Tidak apa-apa. Itu sudah menjadi resikoku menjadi seorang istri dan menantu dari salah satu orang ternama di negara ini."


Zico hanya bisa tersenyum dengan mengusap lembut kepala Fanya. Sebelum dirinya mulai memasang seat beltnya lalu menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang terlihat lengang siang ini.


Didalam perjalanan mereka hanya ditemani dengan lantunan lagu yang terlah diputar oleh Zico. Karena sepasang suami-istri itu tengah fokus dengan kegiatan mereka masing-masing. Zico yang fokus dengan jalanan didepannya sedangkan Fanya, ia fokus pada ponselnya yang berada di tangan kirinya karena tangan kanannya senantiasa digenggam erat oleh suaminya tercinta.


Tapi walaupun begitu Zico tetap sesekali menatap kearah Fanya dengan senyum lembut di bibirnya. Tak hanya itu saja melainkan Zico juga sesekali mengecup punggung tangan Fanya yang berada di genggaman tangannya.


Fanya yang diperlakukan seperti itu oleh suaminya, ia membalas dengan senyuman tulus yang ia peruntukan kepada Zico seorang. Seolah-olah senyuman itu mengatakan dalamnya cinta Fanya kepada suaminya tercinta.


...****************...


Info-info kalau konflik cerita ini gak akan ada orang ketiga alias pelakor. Gimana-gimana apa kalian senang karena tidak harus menahan diri untuk memukul ataupun menjambak tokoh pelakor? Jawab di kolom komentar cepat!!!

__ADS_1


Tapi walaupun tidak ada pelakor tetap saja ada konflik tapi tenang konfliknya gak berat kok. Sampai-sampai aku pun gak yakin kalau itu konflik. Pokoknya cerita ini lebih ke cerita enjoy, bukan yang buat beban pikiran bertambah. Dan aku harap kalian gak bosen itu aja udah.


Oh ya jangan lupa, LIKE, KOMEN, HADIAN DAN VOTE ya biar aku tambah semangat. See you next eps bye bye 👋 Love you sekebon buat kesayangan semua❤️


__ADS_2