
Kepulangan keluarga Daddy Max tentunya di ketahui oleh keluarga Abhivandya tak terkecuali dengan Zico. Tapi laki-laki itu tetap tak peduli. Justru malah bersyukur karena seseorang yang ia klaim sebagai hama untuknya telah pergi jauh darinya dan tentunya ia akan hidup tentram dan damai setelah kepergian hama pengganggu itu. Dan ketentraman dan kedamaian itu terbukti sampai saat ini, saat usia pernikahan Zico dan Fanya memasuki usia 1 tahun hubungan keduanya semakin erat dan terlihat tak pernah bisa di pisahkan.
Keduanya pun sampai saat ini masih tinggal di kediaman keluarga Abhivandya. Awalnya Zico kekeuh ingin membina rumah tangganya di rumah yang sudah ia beli untuk keluarga kecilnya tapi Mommy Della tidak memberikan izin untuk mereka pergi dari rumah mewah itu sehingga mau tak mau Zico akhirnya mengalah dan tetap tinggal di kediaman Abhivandya sembari berusaha terus membujuk Mommy Della agar segera memberikan izinnya walaupun hasilnya tetap sama saja.
"Sayang, aku berangkat dulu," ucap Zico kala dirinya dan Fanya telah sampai di depan pintu utama. Kegiatan mengantar Zico berangkat bekerja kini menjadi rutinitas utama bagi Fanya dan dia sangat menyukai hal itu.
Fanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan dari Zico itu sembari tangannya yang membawakan tas kerja milik Zico, ia serahkan kepada suaminya itu. Lalu setelah tas itu berpindah tangan, ia meraih tangan Zico untuk ia salami.
Saat Fanya selesai dengan ritualnya, kini giliran Zico yang mengecup kedua pipi, kening dan berakhir bibir ranum milik istrinya itu.
"Aku berangkat," pamit ulang Zico sembari mengelus rambut Fanya.
Tanya menganggukkan kepalanya, "Hati-hati. Jika sudah sampai jangan lupa kabarin. Semangat kerjanya, sayang."
Zico tersenyum membalas bahasa isyarat dari Fanya tak lupa anggukkan kepala pun ia lakukan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Zico yang sudah mendapatkan jawaban dari Fanya, ia melangkahkan kakinya, meninggalkan Fanya yang menunggu kepergian. Dan saat ia sudah melajukan mobilnya, kemudian membunyikan klakson tanda pamit untuk terakhir kalinya, barulah Fanya masuk kembali kedalam rumah mewah tersebut setelah ia sudah tak melihat keberadaan mobil Zico.
Mansion itu tampak sepi karena penghuni rumah telah pergi, melakukan aktivitas mereka masing-masing dan tinggal lah Fanya sendiri di rumah tersebut. Ahhh sebenarnya tidak hanya sendiri tapi ada Mommy Della juga tapi beliau saat ini berada di halaman belakang rumah, merawat bunga-bunga cantik yang sengaja ia tanam.
Fanya memijit pangkal hidungnya kala pusing melanda kepalanya. Bukan secara tiba-tiba ia merasakan pusing ini melainkan sudah sejak kemarin tapi tak ada yang mengetahui keadaannya karena memang Fanya sengaja tak mengatakan apa yang tengah ia rasakan saat ini kepada Zico. Ia pikir dengan mengonsumsi obat pereda rasa pusing, rasa sakit yang tengah ia rasakan akan hilang dengan sendirinya. Namun ternyata salah, rasa sakit itu justru semakin menjadi sampai saat ini.
Fanya menggelengkan kepalanya untuk menghalau rasa pusingnya itu. Tapi saat ia telah sampai di kamarnya, bukan rasa pusing lagi yang ia rasakan melainkan rasa mual yang melanda dirinya secara tiba-tiba.
Fanya berlari menuju kamar mandi, memuntahkan apa yang bisa ia muntahkan.
Fanya terus mual dan muntah hingga hanya cairan bening saja yang keluar. Tubuhnya lemas setengah mati. Dan saking lemasnya, tubuhnya luruh, terduduk di lantai dingin kamar mandi tersebut dengan wajahnya yang memucat.
"Astaga Fanya!"
Mommy Della yang tadinya berniat untuk mengajak Fanya jalan-jalan keluar, justru ia terkejut kala melihat menantu kesayangannya itu tengah terduduk di lantai kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Dirinya tambah terkejut saat tubuh Fanya tiba-tiba ambruk sepenuhnya ke lantai dingin itu. Hingga ia berteriak sangat keras. Sampai-sampai teriakan cetar membahana itu terdengar hingga keluar kamar yang pintunya memang tak ia tutup.
Para maid yang tengah bertugas membersihkan lantai dua rumah itu saling pandang satu sama lain sebelum mereka berlari menuju ke sumber suara. Dan kehadiran mereka tentunya di sadari oleh Mommy Della yang saat ini tengah memangku kepala Fanya.
"Kalian, cepat cari bantuan. Dan salah satu dari kalian cari pak Mamat untuk segera menyiapkan mobil sekarang juga. Cepat!" perintah Mommy Della tak terbantahkan.
__ADS_1
Ketiga maid tadi tentunya langsung berlari keluar dari kamar tersebut guna untuk menjalankan perintah dari atasan mereka.
"Fanya, bangun nak," ucap Mommy Della sembari menepuk-nepuk pelan pipi Fanya. Berharap dengan tepukan kecil itu bisa membangunkan Fanya dari pingsannya. Tapi sayangnya, usahanya itu tak berhasil. Mata cantik dari istri Zico itu masih senantiasa tertutup rapat.
Mommy Della yang tak bisa berbuat apapun, matanya berkaca-kaca ketika rasa khawatir sekaligus rasa gundah menerpa dirinya.
"Bertahanlah sayang. Kita akan segara ke rumah sakit," gumam Mommy Della yang ia tujukan kepada Fanya walaupun ia tau menantunya itu tak akan pernah menjawab ucapannya itu.
Tak berselang lama beberapa bodyguard yang tadi dipanggil oleh para maid berbondong-bondong menghampiri Mommy Della yang sudah meneteskan air matanya.
"Cepat, kalian angkat Fanya!" perintah Mommy Della kepada para bodyguard itu untuk segara bergerak.
Salah satu bodyguard bergerak, mengangkat tubuh Fanya kemudian membawa tubuh ringkih itu keluar dari kamar tersebut. Tentunya kepergian bodyguard yang membawa Fanya di susul oleh Mommy Della yang berusaha untuk menghubungi Zico maupun Daddy Aiden. Tapi entah kenapa disaat genting seperti ini kedua orang itu tak dapat di hubungi.
"Ck, kenapa anak dan bapak sama saja sih? Sama-sama tidak bisa di hubungi! Sialan!" umpat Mommy Della sembari duduk di mobil pribadinya yang didalamnya sudah ada Fanya.
Tanpa menunggu aba-aba dari Mommy Della, mobil yang disopiri oleh Pak Mamat melaju membelah jalanan. Laki-laki yang menjabat sebagai sopir pribadi Mommy Della sudah tau kenapa rumah sakit yang akan mereka tuju sehingga tanpa Mommy Della bilang terlebih dahulu, ia sudah menjalankan mobilnya itu.
Selama perjalanan menuju ke rumah sakit pribadi milik keluarga Abhivandya, tak henti-hentinya Mommy Della berdoa akan kebaikan Fanya. Tapi sebelumnya Mommy Della sudah menghubungi putra pertamanya yang kebetulan menjabat sebagai seorang dokter untuk menyiapkan segala sesuatu untuk menangani Fanya di rumah sakit itu.
__ADS_1
"Bertahanlah sayang. Jangan pernah tinggalkan Mommy. Mommy sayang kamu melebihi rasa sayang Mommy ke anak Mommy sendiri. Jadi Mommy harap bertahan, sayang," ucap Mommy Della dengan pikirannya yang sudah menuju ke hal yang negatif. Tangannya pun sedari tadi tak henti-hentinya mengelus kepala Fanya dengan sayang.