
Seperti yang diperintahkan oleh Mommy Della tadi, setelah Zico dan Fanya selesai sarapan bersama mereka bergegas menuju ke butik milik Vivian. Dan didalam perjalanan itu, tak ada yang angkat suara, dua orang yang berada didalam mobil yang sama hanya diam dengan Zico yang fokus ke jalanan didepannya sedangkan Fanya, gadis itu menatap kearah samping, melihat gedung-gedung pencakar langit. Walaupun mereka saling diam satu sama lain tapi tangan mereka tak pernah lepas, selalu bergandengan dengan sesekali jempol Zico mengelus punggung tangan Fanya.
Tak terasa, mobil yang dikendarai oleh Zico kini berhenti disebuah butik milik Kakaknya. Tanpa menunggu lama lagi, Zico bergegas keluar untuk membukakan pintu untuk Fanya.
Fanya tersenyum sebelum dirinya keluar dari dalam mobil itu.
Zico tak pernah bosan menggandeng tangan Fanya seolah-olah jika ia melepaskan genggaman itu Fanya akan kabur darinya padahal Fanya tidak memiliki niatan seperti itu.
Saat keduanya sudah masuk kedalam butik tersebut terlihat sudah beberapa pengunjung disana walaupun waktu masih pagi hari.
Fanya terkesima saat melihat banyaknya busana yang sangat cantik dan tentunya harganya sangat mahal. Saking terkesimanya, Fanya tak menyadari jika dirinya di tuntun Zico menuju ke lantai dua di butik itu. Dan setelah sampai barulah Fanya tersadar walaupun matanya masih berbinar kala ia melihat lagi busana yang sangat memanjakan mata.
Zico yang melihat itu pun ia hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya sebelum ia mengetuk pintu ruang kerja Vivian lalu tanpa menunggu jawaban dari dalam ia membuka pintu tersebut. Dan saat pintu itu terbuka, ia bisa melihat sang Kakak yang menatapnya dengan senyum manis. Zico tentu saja membalas senyuman itu sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Fanya yang masih menatap kearah busana-busana itu.
"Sayang," panggil Zico dengan mengusap lembut kepala Fanya.
Fanya dengan cepat menolehkan kepalanya kearah Zico.
"Kita sudah sampai di ruangan Kakakku. Masuk yuk," ujar Zico yang diangguki oleh Fanya.
Gadis itu melangkah kakinya memasuki ruangan tersebut dengan tatapan mata yang menyapu keseluruhan ruangan sampai tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata seorang perempuan yang tak asing baginya.
Raut terkejut pun tak bisa ia sembunyikan saat ia ingat jika perempuan yang saat ini duduk di kursi kerjanya sembari memberikan senyuman kearahnya itu adalah seorang perempuan yang menjabat sebagai bosnya. Ya, dia perempuan yang sudah membantunya mendapatkan pekerjaan dan dia juga mempercayakan urusan restoran sepenuhnya kepadanya.
__ADS_1
Vivian yang melihat raut terkejut dari calon adik iparnya itu ia berdiri dari duduknya lalu mendekati Fanya juga Zico.
"Hai Fanya. Apa kabar? Sudah lama ya kita tidak bertemu langsung. Biasanya hanya lewat video call saja," ujar Vivian basa-basi. Padahal semalam ia sudah melihat keadaan Fanya dan ia yakin jika Fanya baik-baik saja. Semalam memang ia tak bertemu dengan Fanya karena perempuan itu selalu di kurung oleh Mommy Della dan dilanjut dikurung oleh Zico. Dan tadi pagi, ia kembali tak bertemu dengan Fanya di kediaman keluarga Abhivandya karena dirinya buru-buru harus ke butiknya karena ada salah satu kliennya yang meminta bertemu dengannya. Alhasil mereka baru bertemu secara langsung di butik ini.
"Kamu pasti bingung kan sekarang? Ya sudah begini saja biar kamu tidak bingung, Kakak akan menjelaskan semuanya tapi kalian duduk dulu. Pegal juga kalau ngobrol sambil berdiri begini," ujar Vivian lalu ia menggandeng tangan Fanya menuju ke sofa yang berada di ruangan tersebut diikuti oleh Zico.
Dan saat mereka sudah duduk, tanpa di minta Vivian langsung menjelaskan tentang dirinya dan tentang Zico yang menyuruhnya untuk berpura-pura menjadi pemilik restoran tempat Fanya bekerja padahal laki-laki itulah si pemilik aslinya.
Fanya tentu saja terkejut lalu saat Vivian selesai menjelaskan, ia menatap kearah Zico. Yang ditatap hanya memberikan cengiran tak berdosanya.
"Maaf sayang. Aku terpaksa melakukan semua itu karena pertama aku tidak mau melihat kamu selalu di rendahkan oleh orang lain saat kamu melamar pekerjaan, karena jujur saja saat kamu menerima hal itu, hatiku rasanya ikut sakit. Dan hal kedua, jika saat itu aku tidak menyuruh Kak Vivian buat berpura-pura menjadi pemilik restoran itu, aku tidak yakin jika kamu mau bekerja di restoranku karena waktu itu kan kamu lagi marah sama aku. Aku bingung juga saat itu, ingin sekali aku membantu kamu tapi posisinya kamu tengah marah kepadaku dan jika aku turun langsung untuk membantu kamu, aku takut kamu semakin marah denganku. Alhasil aku memiliki ide itu dan akhirnya apa yang kita mau yaitu aku mau kamu tidak perlu susah-susah lagi cari pekerjaan dan kamu yang memiliki pekerjaan, terkabul juga berkat ideku itu," jelas Zico.
Fanya hanya bisa menghela nafas. Pantas saja Zico waktu itu bisa leluasa masuk kedalam ruang kerjanya, ternyata dia pemilik asli restoran itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Fanya melalui bahasa isyaratnya.
"Aku minta maaf sama kamu, sayang. Jadi please jangan marah sama aku," ujar Zico memelas.
Untuk yang kesekian kalinya Fanya menghela nafas.
"Aku tidak bilang kalau aku marah denganmu. Jadi berdirilah, jangan berlutut seperti itu."
Setelah membalas ucapan Zico dengan bahasa isyaratnya, Fanya memegang kedua lengan Zico dan mencoba untuk membuat laki-laki itu bangkit dari posisinya saat ini. Namun sayangnya, sebesar apapun tenaga yang ia keluarkan untuk mengangkat tubuh Zico, tubuh laki-laki itu terlihat tak bergeming dari tempatnya.
__ADS_1
"Kamu benar-benar tidak marah denganku?" tanya Zico untuk memastikan yang langsung saja Fanya jawab dengan anggukan kepalanya.
Zico yang melihat anggukan kepala itu pun ia dengan cepat berdiri dari posisi berlututnya tadi dan segara memeluk tubuh Fanya sampai-sampai tubuh Fanya terhuyung ke belakang dan berakhir bersandar di sandaran sofa.
"Terimakasih karena kamu tidak marah denganku," ucap Zico yang dibalas anggukan oleh Fanya tak lupa ia juga memberikan elusan di punggung sang kekasih.
Vivian yang melihat interaksi sepasang sejoli yang tengah menebar adegan romantis tanpa peduli dengan keadaan sekitar pun ia memutar bola matanya malas sebelum ia berdehem untuk menyadarkan mereka jika masih ada orang lain disekitar mereka.
"Ehemmm. Tolong hentikan keromantisan kalian berdua. Dan lebih baik segeralah mencoba pakaian untuk pertunangan kalian," ujar Vivian sembari berdiri dari duduknya.
Sepasang sejoli itu pun kini melepaskan pelukannya dengan Fanya yang langsung menunduk malu, sedangkan Zico mencebikkan bibirnya sebelum sebuah kalimat ia lontarkan.
"Lihatlah sayang, si jomblo sedang iri."
Vivian yang masih bisa mendengar perkataan dari adiknya itu, ia menolehkan kepalanya dengan tatapan tajam sembari ia berkata, "Sialan! Adik laknat!"
Bukannya takut, Zico malah tertawa terbahak-bahak. Hanya sesaat saja sebelum pahanya dicubit oleh Fanya dan saat ia mengalihkan pandangannya kearah Fanya dengan ringisan, kekasihnya itu menggelengkan kepalanya sebagai kode agar dirinya berhenti menertawakan Vivian yang sudah tersulut api amarah dan mungkin sebentar lagi, ia akan diserang oleh Vivian.
Dan benar saja, seperti tebakannya tadi, Vivian berjalan cepat dengan sepatu yang sudah berada di tangannya menuju kearah Zico. Dan sebelum Zico mencoba menghindar, Vivian sudah mengunci pergerakkannya lalu tanpa rasa kasihan Fanya memukul Zico menggunakan sepatunya sembari berucap, "Rasakan! Adik laknat! Sialan!"
Sedangkan Zico, ia berteriak kesakitan dengan terus mengatakan kata ampun dan meminta Vivian menghentikan aksinya.
Dan aksi dari sepasang Kakak beradik itu tak luput dari pandangan Fanya. Gadis itu hanya tertawa tanpa berniat membantu Zico yang membutuhkan bantuannya.
__ADS_1