My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 37


__ADS_3

Tangan Zico kini bergerak, mengetuk pintu yang berada di depannya. Dan tak menunggu waktu lama, pintu bercat putih itu terbuka lebar bersamaan dengan munculnya salah satu maid dibalik pintu tersebut.


"Ehhh Tuan Jio," ucap maid tadi yang sempat terkejut dengan kemunculan Zico setelah 5 tahun terakhir sebelum laki-laki itu kembali ke negara Rusia.


Zico tersenyum ramah kepada wanita paruh baya tersebut.


"Selamat pagi bik. Gimana kabar bibik?" tanya Zico sekedar untuk basa-basi semata.


"Bibik baik-baik saja tuan. Tuan sendiri gimana kabarnya? Lama bangat tuan gak pulang, bibik sempat pangling tadi," ujar wanita paruh baya tersebut.


"Seperti yang bibik lihat. Saya baik-baik saja," balas Zico.


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya silahkan masuk," ucap maid tadi sembari membuka pintu rumah semakin lebar lagi sehingga memudahkan kedua orang itu masuk.


"Terimakasih bik." Maid tadi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya Zico yang dengan setia menggenggam tangan Fanya masuk kedalam rumah tersebut. Otomatis hal tersebut membuat maid tadi menyadari keberadaan Fanya.


Tapi saat maid tadi ingin bertanya siapa perempuan yang tengah bersama salah satu tuan mudanya itu, bibirnya kembali terkatup kala suara seseorang yang baru turun dari lantai dua terdengar.


"Lho Jio," kaget orang tersebut yang mengalihkan atesi Zico maupun Fanya.


"Kapan Lo baliknya?" tanyanya dengan berjalan mendekati Zico berada. Dan setelah jarak keduanya terkikis, mereka melakukan salaman ala laki-laki diakhiri dengan pelukan hangat.


"Sebenarnya gue pulang ke negara ini udah 2 mingguan lebih. Tapi baru sempat kesini sekarang. Gimana? Lo sehat kan Er?" tanya Zico dengan menatap penampilan adiknya yaitu Erland dari atas sampai bawah. Terlihat laki-laki itu menggunakan pakaian santainya.


"Gue baik-baik saja," jawab Erland.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Zico yang ditanggapi anggukan kepala oleh Erland sebelum mata laki-laki itu melihat seorang perempuan yang berdiri disamping Zico. Satu kata yang terlintas pertama kali di otak Erland saat melihat Fanya yaitu kata cantik.


Fanya yang merasa di tatap intens oleh Erland dengan tatapan datar milik laki-laki itu, ia semakin menundukkan kepalanya dengan genggaman tangannya kepada Zico semakin ia eratkan.


Zico yang merasakan itu pun ia menolehkan kepalanya kearah Fanya dengan kerutan di keningnya saat melihat Fanya justru menundukkan kepalanya sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Erland. Ia memutar bola matanya malas sebelum dengan ringan tangan ia memukul pelan kepala Erland. Tapi tetap saja membuat Erland meringis kesakitan.

__ADS_1


"Jaga mata lo, Er sebelum mata Lo gue colok pakai pisau dapur," ucap Zico memperingati.


"Ck, sakit sialan," ujar Erland tak mengindahkan ucapan dari Zico tadi. Ia sekarang justru sibuk mengusap-usap kepalanya.


"Gue gak peduli. Mommy sama Daddy kemana?" tanya Zico yang tak melihat kedua orangtuanya sedari tadi. Tidak mungkin kan kalau mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing karena hari ini merupakan hari weekend yang biasanya keluarganya itu manfaatkan untuk berkumpul dengan seluruh anggota keluarga.


"Masih ada di kamar. Semalam tempur kayanya jadi jam segini belum pada bangun," tutur Erland tanpa disaring terlebih dahulu.


Zico yang mendengar hanya bisa mendengus, lalu setelahnya ia menatap kearah Fanya yang masih setia menundukkan kepalanya.


Zico mengelus kepala Fanya sembari berkata, "Sayang, kamu duduk dulu ya. Aku panggil kedua orangtuaku dulu. Kamu gak papa kan aku tinggal sebentar?"


Fanya akhirnya menegakkan kepalanya tapi ia langsung memusatkan pandangannya kearah Zico. Lalu ia menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin mencegah Zico agar tak pergi dari sampingnya dan biar maid di rumah itu saja yang membantunya memanggilkan kedua orangtuanya. Tapi ia tadi sempat melirik kearah para maid yang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Alhasil, Fanya mengiyakan ucapan Zico tadi dengan harapan saudara Zico yang berada di hadapannya juga ikut pergi.


Zico tampak tersenyum lembut. Kemudian genggaman tangannya ia lepas. Lalu ia mulai melangkahkan kakinya, namun saat ia berada di samping Erland, ia langsung menyeret lengan Erland, ikut pergi bersamanya. Tentu saja ia melakukan hal tersebut karena dirinya tak ingin Fanya merasa tak nyaman jika harus berdua saja dengan Erland yang sudah sangat ia hafal sifatnya yang super duper jahil itu.


"Stttt, Lo apa-apa sih. Main tarik-tarik aja," protes Erland yang tak diindahkan oleh Zico. Laki-laki itu masih mempertahankan genggaman di lengan Erland saat adiknya itu ingin meloloskan dirinya. Dan saat mereka sudah sampai di lantai dua, barulah Zico melepaskan lengan Erland dari genggamannya.


"Ck, lemah," balas Zico yang langsung mendapat pelototan mata oleh Erland.


"Ini ada apa sih, ramai banget tumben." Suara yang berasal dari belakang tubuh Zico, membuat kedua laki-laki tadi menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Dan betapa terkejutnya dua orang yang sudah tak muda itu saat mendapati Zico berada di hadapan mereka.


"Ya Allah anak Mommy," heboh Mommy Della mempercepat langkah kakinya dengan tangan yang ia rentangkan.


Zico tersenyum lalu ia masuk kedalam pelukan sang Mommy kala wanita paruh baya itu sudah berada di depannya.


"Jio rindu Mommy," ucap Zico dengan menyematkan kecupan di pipi Mommy Della hanya sekilas saja sebelum ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Sama Daddy gak kangen gitu?" celetukan dari laki-laki disamping Mommy Della membuat Zico melepaskan pelukan dari sang ibunda. Lalu ia berpindah memeluk tubuh sand Daddy yang langsung dibalas oleh laki-laki paruh baya itu.


"Jio juga rindu Daddy," ucap Zico yang dibalas senyuman oleh Daddy Aiden.

__ADS_1


Beberapa saat Zico melepas rindu kepada kedua orangtuanya hingga ia hampir melupakan seseorang yang telah menunggu kedatangannya dan mungkin menunggu kedatangan kedua orangtuanya juga.


"Oh ya Mom, Dad. Jio datang kesini sama seseorang," ucap Zico.


"Seseorang? Siapa dia?" tanya Mommy Della mulai kepo.


"Seorang perempuan Mom. Bahkan Jio tadi sempat manggil dia dengan sebutan sayang. Dan Mommy sama Daddy tau lah kalau Jio udah panggil seorang perempuan dengan panggilan sayang, maka perempuan itu kemungkinan besar adalah kekasih Jio atau mungkin sebentar lagi akan menjadi menantu Mommy sama Daddy." Bukan Zico yang menjawab pertanyaan dari Mommy Della tadi melainkan Erland lah yang melakukannya.


Mommy Della yang tadi menatap kearah Erland, kini ia kembali mengalihkan pandangannya kearah Zico.


"Apa benar yang dikatakan Erland, Jio?" tanya Mommy Della yang tentu saja diangguki oleh Zico.


"Benar apa yang di katakan oleh Erland, Mom, Dad. Jika perempuan yang Jio bawa pulang adalah kekasih Jio. Perempuan yang sama dengan perempuan yang Jio cari selama ini," ujar Zico. Sudah bukan tabu lagi cerita tentang dirinya hampir gila karena satu perempuan yang sangat sulit ia ketahui keberadaannya. Semua keluarganya sudah tau semua tentang cerita menyedihkan itu.


"Hah? Jadi dia tadi cewek yang Lo cari selama ini?" tanya Erland terkejut yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Zico.


"Pantas saja Lo sulit melepas dia, orang dianya cantik banget begitu," celetuk Erland kembali.


"Dia kekasih Abang kamu, Er. Jangan jadi pebinor di hubungan saudara sendiri," ujar Daddy Aiden.


"Ck, Erland tidak serendah itu, Dad. Erland mengakui kecantikan kekasih Jio bukan berarti Erland suka sama dia dan berniat merebut dia dari Jio. Kalaupun memang suka sama dia, ya Erland akan mengikhlaskan buat Jio karena dia yang pertama kali bertemu dengannya. Jio tidak setega itu menghancurkan perasaan saudara Erland sendiri," balas Erland.


"Syukurlah kalau memang kamu memiliki pemikiran seperti itu, Er. Oh ya sekarang dia ada dimana? Ayo kita temui sekarang," ujar Mommy Della excited, tak sabar ingin bertemu dengan calon menantunya.


"Dia ada di ruang tamu Mom. Tapi ada satu hal yang akan Zico beritahu ke kalian sebelum kalian bertemu dengan Fanya."


"Apa? Apa yang ingin kamu beritahu ke kita?" tanya Mommy Della.


Zico tampak menggigit bibir bawahnya, jujur saja ia gugup untuk mengatakan hal ini. Tapi ia harus mengatakannya sebelum nanti ada kesalahpahaman jika mereka sudah berhadapan langsung dengan Fanya. Zico menghela nafas panjang lalu ia berkata, "Dia memiliki keterbatasan dalam berbicara Mom. Hmmm lebih tepatnya dia tidak bisa bicara. Jadi Jio mohon Mommy, Daddy dan Erland bisa memakluminya."


Setelah kalimat itu Zico lontarkan, ia bisa melihat keterkejutan di wajah ketiga orang tadi yang justru membuat jantung Zico berdegup kencang. Ada seklibat rasa takut dihatinya saat melihat reaksi dari ketiga keluarganya itu.

__ADS_1


__ADS_2