My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 11


__ADS_3

Terlihat di sebuah kamar apartemen, seorang laki-laki tengah berguling-guling diatas ranjang king sizenya. Rasa bahagia yang membuncah tak kunjung reda juga. Padahal jika dihitung sudah 7 jam yang lalu dirinya bertemu dengan sang pujaan hati. Tapi rasa bahagianya itu masih enggan untuk pergi dari hatinya.


Laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zico, menghentikan aksinya itu dengan diakhiri ia menelentangkan tubuhnya, menatap ponselnya yang sempat ia raih dari atas nakas. Ia menatap layar ponselnya yang saat ini tengah memperlihatkan deretan nomor ponsel seseorang. Nomor miliki Franda telah tersimpan di dalam ponsel Zico saat ini. Tapi bukannya ia menamai nomor ponsel tersebut dengan nama sang pemilik, ia justru menamainya dengan nama "Calon istri".


Entah ide darimana nama itu bisa tercantum di nomor milik Franda. Tapi Zico berharap dengan nama yang sudah ia berikan itu akan menjadi doa baginya yang berakhir Fanya memang calon istrinya lebih-lebih lagi siapa tau sampai kata calon terhapus dan menyisakan nama istri saja. Diam-diam Zico mengaminkan suara hatinya itu dengan tatapan yang terus tertuju ke layar ponselnya tersebut.


Tangan Zico kini menggulir dengan akhir ia menekan aplikasi pesan. Seketika helaan nafas keluar dari diri Zico. Pasalnya sejak ia berpisah dengan Fanya, dirinya sudah mengirim banyak pesan untuk perempuan itu mulai dari memberitahu jika nomor itu adalah miliknya, bertanya sedang apa? Apa sudah makan dan lain sebagainya. Tapi tak satupun pesan yang sudah ia kirim mendapat balasan dari Fanya, membuat Zico sedikit melunturkan senyumannya dengan otak memikirkan Fanya tentunya.


"Kenapa semua pesanku tidak dia balas sama sekali? Apa dia sedang sibuk? Tapi masa iya sibuknya dari tadi, kan gak mungkin. Apa aku telepon dia aja?" gumam Zico yang mulai menimbang-nimbang apakah ia akan menelepon atau tidak.


"Arkhhh sudah lah lebih baik aku telepon saja," putus Zico sebelum jarinya bergerak menekan ikon telepon lalu tak berselang lama nada telepon terhubung terdengar.


Zico dengan setia menunggu teleponnya diangkat oleh perempuan pujaannya itu. Namun sayang, telepon tersebut tak diangkat oleh Fanya. Zico tak menyerah ia kembali menghubungi Fanya berkali-kali. Ia akan berhenti jika Fanya sudah mengangkat telepon darinya dan itu merupakan tekat Zico.


Sedangkan disisi lain, Fanya yang tengah sibuk membantu ibu Suci menyiapkan makan malam untuk semua orang yang berada di rumah berlantai dua itu fokusnya teralihkan saat salah satu anak perempuan menarik-narik ujung bajunya.


Fanya mengangkat kedua alisnya sekedar untuk bertanya, "Kenapa?" kepada anak perempuan tersebut.


"Itu Kak, ponsel Kakak dari tadi bunyi terus, sepertinya ada yang telepon Kakak," ucap anak perempuan tersebut memberitahu.

__ADS_1


Fanya mengerutkan keningnya. Siapa orang yang menghubunginya? Tidak mungkin kan jika rekan kerjanya yang tau betul siapa Fanya?


"KAK FANYA, PONSEL KAKAK BUNYI LAGI!" teriakan nyaring itu berasal dari Jaiden yang berlari menghampiri Fanya dan Gista, si anak perempuan tadi dengan membawa ponsel Fanya ditangannya.


Jaiden yang sudah sampai dihadapan Fanya, ia langsung menyerahkan ponsel milik Kakaknya itu ke sang pemilik. Tentunya langsung diterima oleh Fanya dengan senyum di bibirnya. Dan sebelum dirinya pergi Fanya menggerakkan tangannya, memberikan isyarat ucapan terimakasih kepada kedua anak kecil tersebut yang dibalas anggukan oleh keduanya sebelum anak-anak itu lari kembali ke ruang bermain mereka. Sedangkan Fanya, ia sedikit menjauh dari dapur tersebut.


Lagi dan lagi kerutan di dahi Fahya terlihat saat perempuan tersebut melihat deretan nomor yang tidak ia kenal muncul di layar ponselnya.


"Nomor siapa ini?" tanyanya didalam hati.


Jujur saja Fanya paling takut jika ada nomor baru menghubungi dirinya, mengingat ia pernah di teror habis-habisan oleh seorang laki-laki yang menyukainya sampai laki-laki itu mengancam ingin bunuh diri gara-gara Fanya tak menerima cintanya. Mengingat hal tersebut Fanya bergidik ngeri dan karena ia tak ingin hal tersebut terulang kembali, Fanya langsung menolak permintaan video call tersebut.


"Astaga, banyak sekali. Sebenarnya siapa orang yang memiliki nomor ini? Apa mungkin dia ada kepentingan denganku atau dia hanya iseng saja?"


Saat Fanya termenung memikirkannya, ponselnya kembali berbunyi. Lagi dan lagi permintaan video call tertera di layar ponselnya. Dengan ragu Fanya menggeser ikon video call tersebut. Ia benar-benar penasaran siapa orang yang sampai puluhan kali mencoba menghubunginya itu.


Saat Fanya memutuskan mengangkat sambungan video call itu, saat itu pula wajah tampan seorang laki-laki memenuhi layar ponselnya. Mata Fanya melotot sempurna, ia tak lupa siapa orang yang memiliki wajah tampan tersebut.


Sedangkan Zico yang sudah merubah posisi tubuhnya dengan duduk, kini ia membuka suaranya.

__ADS_1


📱 : "Hay Fanya," sapa Zico dengan senyum manisnya yang semakin membuat kadar ketampanannya meningkat. Tentunya sapaan dari Zico hanya dibalas anggukkan oleh Fanya.


📱 : "Oh ya kamu sedang apa Fan?" tanya Zico.


Fanya tampak terdiam sesaat sebelum tangannya bergerak masuk kedalam room chat, menekan nomor Zico lalu mengetikkan sesuatu disana tanpa memutus sambungan video call mereka.


📱 : "Fan, kok kamu---" belum sempat Zico memprotes Fanya karena perempuan itu yang hanya diam saja, bibirnya kembali bungkam saat tiba-tiba ia mendapat notifikasi pesan dari Fanya.


Zico diam sesaat dengan kerutan di keningnya. Bukannya mereka berdua saat ini tengah melakukan video call, tapi kenapa Fanya malah mengirim sebuah pesan kepadanya dan pesan itu berbunyi...


📨 : "Maaf Aka, aku saat ini sedang sibuk. Jadi aku putus dulu sambungan video callnya. Assalamualaikum."


Fanya yang menebak jika Zico sudah membaca pesannya pun tanpa menunggu balasan dari laki-laki tersebut, Fanya langsung mematikan sambungan video call mereka diiringi dengan helaan nafas lega Fanya. Ia segara memasukkan ponselnya ke saku celana yang ia pakai saat ini kemudian kembali bergabung dengan beberapa orang yang tengah menyiapkan makan malam mereka.


Sedangkan disisi lain, Zico yang sedang dilanda kebingungan, ia dibuat berdecak saat sambungan video call tersebut terputus. Padahal ia tadi sempat ingin bertanya kenapa Fanya tak bicara langsung saja jika ingin mematikan sambungan VC mereka. Tapi belum juga ia angkat suara, niatnya itu urung kala layar ponselnya kembali ke wallpaper utama ponselnya.


Zico menatap langit-langit kamarnya dengan otak yang tengah berpikir keras memikirkan keanehan yang baru saja terjadi tadi.


"Sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan Fanya? Kenapa dia begitu aneh? Apa di takut orangtua tau dia tengah melakukan VC dengan seorang laki-laki yang berakhir dia akan dimarahi nanti? Atau ada alasan lain dia melakukan hal aneh tadi? Apa sebaiknya aku menyelediki dia saja sekaligus biar aku tau semuanya tentang Fanya yang tentunya akan membuat aku lebih mudah mendekati Fanya nantinya jika aku tau semuanya tentang dia. Toh bukannya tugas seorang calon suami untuk memahami calon istrinya. Jadi dengan aku mencari tahu semuanya tentang Fanya, aku bisa memahami dia. Ya, aku harus menyelidiki dia," ucap Zico mantap. Selain karena ia yang ingin mendapatkan jawaban tentang keanehan yang terjadi hari ini, ia juga harus belajar memahami Fanya dengan tahu sifat perempuan pujaannya itu.

__ADS_1


__ADS_2