My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 21


__ADS_3

Zico menatap ke seluruh penjuru taman mencari sosok Fanya di taman itu. Ia mendapat laporan dari salah satu anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi Fanya dari kejauhan jika seharian ini Fanya tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali, perempuan itu juga sempat mendapatkan gunjingan juga kata-kata yang menyakiti hati Fanya dari beberapa toko ataupun restoran yang sempat Fanya melamar pekerjaan disana. Tentunya gunjingan itu tidak jauh-jauh dari merendahkan Fanya karena kekurangannya.


Zico yang mendapat laporan tersebut, darahnya langsung mendidih seketika. Ia tak terima jika Fanya kembali terluka karena mulut sampah orang-orang di luar sana. Dan berkat kemarahannya itu, ia mengutus anak buahnya untuk memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani melukai hati Fanya. Bahkan Zico menyuruh anak buahnya melakukan apa yang mereka mau, tidak peduli jika sampai orang yang melukai hati Fanya itu kehilangan nyawanya. Ingat Zico memang sudah sembuh tapi sifat iblisnya akan muncul jika dirinya atau orang tersayangnya terusik.


Zico menghela nafas panjang kala matanya menangkap seorang perempuan yang sedari tadi ia dari keberadaan tengah berada di tempat yang sama seperti kemarin saat dirinya baru di pecat oleh tempatnya bekerja. Dibawah pohon tak jauh dari lokasi danau berada.


Zico perlahan mendekati Fanya, lalu ia mendudukkan tubuhnya disamping perempuan tersebut yang tampaknya tak menyadari kedatangannya. Terbukti Fanya hanya menatap kearah depan dengan tatapan kosong tapi air matanya terus membasahi pipinya.


Zico yang melihat air mata itu tak kunjung berhenti, tangannya secara refleks bergerak menghapus air mata Fanya sembari berkata, "Demi tuhan, air mata yang terus keluar dari mata indah kamu membuat hatiku sakit, Fanya."


Ungkapan jujur dari Zico, mendapat respon terkejut dari Fanya. Perempuan itu menolehkan kepalanya kearah Zico dan saat ia melihat Zico lah yang duduk disampingnya, ia langsung berdiri dari tempat duduknya.


Tapi saat dirinya baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, Zico berucap, "Maaf telah mengganggu ketenangan kamu tadi. Tapi apa yang aku katakan tadi kebenaran yang saat ini aku rasakan. Hatiku sakit saat melihat air matamu jatuh. Jadi aku mohon, teruslah tersenyum jangan menangis seperti ini lagi. Jika ada seseorang yang menyakiti hatimu atas ucapan sampah mereka, aku mohon jangan dimasukkan kedalam hati walaupun itu sulit kamu lakukan. Tapi yakinlah dengan cara kamu menangis seperti ini, orang-orang yang telah mencemoohmu akan merasa menang atas tindakan salah mereka. Jadi jika kamu mendapatkan hal yang membuat hati kamu sakit lagi, aku mohon lawan mereka. Jika kamu tidak bisa melawan, tersenyumlah kepada mereka yang telah mencemoohmu karena walaupun kamu diam, tuhan yang akan bergerak membalas perbuatan mereka yang telah melukaimu."

__ADS_1


Setelah mengatakan perkataannya tadi yang entah akan di terima oleh Fanya atau tidak, ia berdiri dari posisi duduknya, memutar tubuhnya hingga ia bisa melihat punggung Fanya didepannya. Zico tersenyum sembari melangkahkan kakinya dan saat tepat di samping Fanya, ia menolehkan kepalanya menatap wajah cantik Fanya yang saat itu juga ia mengalihkan pandangannya ke sisi lain, menghindari tatapan Zico.


Zico memaklumi tingkah Fanya itu, lalu dirinya kembali berucap, "Kamu sempurna Fanya. Kamu perempuan terindah yang pernah aku temui. Tuhan memilihmu menjadi perempuan yang memiliki setitik kekurangan karena Tuhan tau kamu kuat. Tapi ingat Tuhan memberimu sedikit kekurangan tapi Tuhan juga memberikanmu kelebihan. Sayangi dirimu Fanya seperti Tuhan menyayangimu, jangan menyalahkan dirimu sendiri atas takdir yang sudah menjadi milikmu. Terus tersenyum dan jangan menangis. Aku pergi."


Zico mengusap lembut rambut Fanya sebelum dirinya melangkahkan kakinya menjauh dari Fanya yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jujur saja perkataan dari Zico tadi membuat hatinya yang sedari tadi bergemuruh dengan seketika kembali tenang. Bahkan ia yang selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kekurangan yang ia miliki, ia akhirnya sadar jika apa yang ia lakukan itu sebuah kesalahan. Harusnya ia tidak menyalahkan dirinya dengan keterbatasan yang ia punya dan harusnya ia bersyukur karena dengan ia memiliki kekurangan ia bisa tau mana orang yang baik dan mana orang jahat serta mana orang yang bermuka dua sepeti para teman-temannya di tempatnya bekerja dulu.


Fanya menghapus air matanya dengan kasar menggunakan kedua punggung tangannya.


Fanya kini tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya kearah Zico semakin jauh dari pandangannya.


"Terimakasih Kak Aka sudah membuatku sadar betapa berharganya diriku walaupun memiliki sebuah kekurangan. Mulai sekarang aku tidak akan mendengarkan kata orang-orang yang mencemoohku karena aku akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Dan aku minta maaf sudah menilai kamu yang negatif. Aku kira kamu sama seperti mereka yang datang hanya ingin merendahkanku saja. Yang datang karena ada maunya saja. Maaf Kak, aku telah salah menilaimu."

__ADS_1


Tatapan mata Fanya saat ini berubah menjadi sendu, senyum yang tadi terbit di bibirnya kembali luntur. Bukan karena ia memikirkan tentang manusia-manusia memiliki mulut sampah itu, tapi karena ia menyesal telah salah menilai Zico. Ingin sekali Fanya meminta maaf secara langsung didepan Zico saat ini juga, tapi saat dirinya sudah tidak bisa melihat Zico, ia mengurungkan niatnya tadi. Alhasil Fanya memendam perkataan maafnya, namun ia tetap akan meminta maaf ke Zico jika dirinya bertemu lagi dengan laki-laki itu. Tapi apakah dirinya bisa bertemu lagi dengan Zico yang sudah ia suruh menjauh darinya? Terlebih kalimat terakhir yang Zico ucapan tadi terdengar seperti sebuah perpisahan.


Fanya menggelengkan kepalanya, menepis kemungkinan-kemungkinan yang tiba-tiba masuk kedalam otaknya.


"Tidak. Aku yakin kita akan bertemu lagi besok. Kak Aka tidak akan kemana-mana. Dia besok pasti akan menemuiku lagi seperti dua hari belakangan ini. Ya, dia akan tetap disini."


Fanya terus menyakinkan dirinya sendiri jika Zico tetap akan mengganggu dirinya seperti biasanya. Karena jujur saja ada rasa takut sekaligus khawatir didalam diri Fanya jika Zico benar-benar pergi darinya.


Disisi lain, Zico yang sebenarnya masih berada di pinggir taman, ia segara melajukan mobilnya secara perlahan kala ia melihat tubuh Fanya mulai meninggalkan area taman. Ia akan mengikuti Fanya agar ia bisa memastikan jika perempuan kesayangannya itu sampai di tempat tinggalnya dengan selamat.


Dan saat Fanya sudah masuk kedalam area panti, Zico menghentikan mobilnya. Lalu dengan cepat menghubungi salah satu anak buahnya.


"Beli salah satu restoran atau toko yang tadi membuat Fanya terluka. Terserah kalian mau pakai cara apa untuk mendapatkannya, saya tidak peduli yang terpenting kalian sudah harus mendapatkannya hari ini juga. Untuk uangnya akan saya transfer sekarang juga jika harganya sudah kalian bicarakan dengan pemilik toko atau restoran!" perintah Zico setelah sambungan teleponnya terhubung.

__ADS_1


📞 : "Baik tuan. Laksanakan," balas anak buah Zico dengan patuh. Dan setelahnya sambungan telepon itu terputus bersama dengan itu pula, Zico menjalankan mobilnya menjauhi depan panti asuhan.


__ADS_2