My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 109


__ADS_3

Setelah kepulangan mereka dari keluarga Abhivandya, senyum yang tercetak di bibir keduanya tak pernah surut.


"Gimana perasaan kamu sekarang sayang? Setelah semua orang tau jika kamu tengah hamil sekarang?" tanya Zico dengan memiringkan tubuhnya yang awalnya telentang kini menghadap kearah sang istri. Ya keduanya saat ini tengah berada di dalam kamar di rumah pribadi mereka sendiri.


Fanya menolehkan kepalanya kearah Zico sebelum ia menjawab pertanyaan dari suaminya tadi.


"Sangat lega rasanya setelah tidak ada lagi yang aku sembunyikan ke semua orang terutama ke keluarga besar kamu. Rasanya beban yang selama ini aku pikul karena merasa membohongi semua orang telah hilang seketika. Dan aku sangat senang saat mereka tidak marah kepadaku yang telah lancang menutupi kehamilanku dari mereka."


Fanya tidak menyangka jika keluarga besar Zico tidak marah besar kepadanya. Malah merasa terlihat sangat antusias menanti kelahiran twins yang tengah ia kandung. Bahkan Mommy Della dan Edrea sudah berencana untuk berbelanja barang-barang untuk twins. Padahal mereka saja belum tau jenis kelamin twins, bukan hanya mereka saja yang belum tau tapi Fanya dan Zico yang merupakan calon orangtua mereka saja juga tidak tau jenis kelamin mereka. Tak hanya Mommy Della dan Edrea saja yang begitu antusias, melainkan para iparnya dan juga Vivian sudah berniat mendekorasi kamar untuk twins. Mereka tidak peduli jika Zico tidak mengizinkan mereka, karena mereka akan tetap melakukannya besok juga. Sedangkan Fanya, dia tadi hanya bisa pasrah saja. Ia tak bisa menolak keinginan mereka karena tentunya akan percuma saja, mengingat kebanyakan dari keluarga besar Abhivandya terutama para wanita sangat keras kepala dan yang ada dia akan kalah jika menolak semua keinginan mereka tadi. Alhasil ia membiarkan mereka merencanakan apa yang ingin mereka lakukan. Toh sebenarnya Fanya juga sangat senang karena dengan rencana mereka, menandakan jika mereka semua sangat peduli dengan twins. Jadi Fanya tidak perlu khawatir jika mereka tidak mencintai dan menyayangi twins nantinya. Pasalnya saat masih di dalam kandungan saja mereka sangat peduli, apalagi nanti.


Membayangkan hangatnya kasih sayang yang akan di terima oleh twins dari keluarga besar sang suami nanti, membuat Fanya tersenyum lebar hingga matanya terlihat menyipit. Dan itu semua tak luput dari pandangan Zico yang ikut tersenyum sebelum salah satu tangannya terulur, mengusap pipi lembut sang istri. Hingga Fanya tersadar dari lamunannya.


"Lagi melamunin apa sih sampai kamu senyum selebar ini?" tanya Zico ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Fanya.

__ADS_1


"Aku lagi bayangin bagaimana nantinya twins di sayang sama mereka, di perhatiin, dan dicintai sama keluarga kamu. Dan kamu tau saat aku membayangkan hal itu hatiku rasanya hangat sekaligus aku merasa tenang. Aku tidak perlu takut sekaligus khawatir siapa yang akan menjaga mereka jika aku pergi nanti karena ada keluarga kamu yang menjaga twins."


Balasan dari Fanya tadi berhasil membuat senyum di bibir Zico yang sedari tadi mengembang di bibirnya luntur seketika. Entah kenapa ia sangat tak suka mendengar ucapan dari Fanya. Ia merasa jika ucapan itu akan menjadi kenyataan di suatu saat nanti. Sungguh dirinya takut jika Fanya benar-benar akan meninggalkan dirinya dan twins nantinya.


Dan karena pikiran Zico yang sudah mengarah ke hal yang negatif, tanpa sadar tatapan matanya menajam menatap kearah sang istri.


"Jangan pernah mengatakan hal yang tidak akan pernah terjadi," ucap Zico dengan tegas.


Fanya yang tak paham dengan maksud dari ucapan Zico, ia mengerutkan keningnya.


Zico yang mendapat pertanyaan pun seketika matanya rasanya memanas dengan tenggorokan yang rasanya seperti tercekat.


Fanya yang melihat perubahan ekspresi wajah Zico terlebih melihat mata Zico yang tampak berkaca-kaca, tangannya terulur, mengelus rahang tegas sang suami.

__ADS_1


"Heyyy ada apa?" tanya Fanya.


Bukannya langsung menjawab ucapan dari sang istri, Zico justru menatap lekat wajah Fanya sebelum akhirnya ia memeluk tubuh sang istri, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita yang ia cintai itu. Perlahan lelehan bening dari matanya keluar, menetes hingga membasahi leher Fanya. Fanya cukup tersentak saat ia merasa lehernya basah. Tapi saat dirinya ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Zico untuk melihat wajah suaminya, niatnya itu ia urungkan kala suara lirih Zico masuk kedalam gendang telinganya.


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dariku maupun dari twins. Jadi jangan bilang seperti tadi. Sungguh aku tidak menyukai perkataan kamu yang seolah-olah kamu akan meninggalkanku dan twins nantinya. A---aku tidak mau kamu meninggalkanku. Aku tidak peduli jika aku nanti kamu cap sebagai laki-laki egois karena aku akan selalu mencegah kepergianmu, hiks," ucap Zico dengan isak tangisnya.


Fanya yang mendengar ucapan dari Zico itu akhirnya ia paham maksud dari ucapan Zico sebelumnya. Ia menghela nafas panjang, ternyata suaminya itu salah paham atau ucapannya tadi.


Fanya perlahan melepaskan pelukan Zico yang sepertinya enggan melepaskan pelukannya. Dan saat pelukan keduanya berhasil terlepas, Fanya mengusap air mata Zico yang terus mengalir lalu setelahnya ia mulai merangkai sebuah kata melalui bahasa isyaratnya.


"Pikiran kamu terlalu jauh sayang dan kamu telah salah paham dengan apa yang aku katakan tadi. Toh siapa juga yang meninggalkan kamu dengan twins? Ayolah semua itu tidak akan pernah terjadi. Aku juga tidak tega melakukannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi tentang ucapanku tadi karena maksud dari ucapanku yang mengatakan jika aku pergi nanti, maksudnya aku pergi ke mall, ke pasar, ke supermarket atau menemani kamu pergi keluar kota untuk kepentingan pekerjaan kamu. Tidak mungkin kan saat si twins sudah masuk sekolah kita ajak mereka ke luar kota ketika kamu ada urusan pekerjaan yang tentunya tidak akan selesai dalam waktu satu atau dua hari. Yang ada mereka nanti akan ketinggalan pelajaran dan mungkin akan tinggal kelas saat kenaikan kelas nanti. Jadi salah satu cara agar mereka tidak ketinggalan pelajaran ya kita titip ke keluarga kamu untuk sementara waktu. Dan jika mereka menyayangi twins, kita tidak perlu was-was lagi meninggalkan mereka bersama keluarga kamu. Gitu lho maksud dari ucapanku tadi. Bukan malah seperti yang kamu pikirkan."


Perjelasan panjang lebar dari Fanya justru membuat Zico semakin memberengut. Lalu setelahnya ia kembali memeluk tubuh sang istri.

__ADS_1


"Tetap saja aku tidak suka mendengar ucapan kamu tadi. Jadi jangan berani-beraninya kamu mengulanginya lagi," ujar Zico yang membuat Fanya menghela nafas panjang tapi tak urung ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari Zico tadi. Kemudian barulah ia membalas pelukan sang suami dengan tangannya yang kini mengelus punggung gagah sang suami, mencoba menenangkan Zico agar laki-laki itu tak lagi berpikir yang macam-macam lagi seperti sebelumnya.


__ADS_2