My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 82


__ADS_3

Sesampainya Fanya tadi di rumah sakit, para suster dengan sigap memindahkan Fanya yang masih tak sadarkan diri ke brankar. Kemudian tubuh perempuan tersebut langsung di bawa ke ruang UGD yang didalamnya sudah ada dokter Adam yang sedari tadi sudah standby sesaat setelah Mommy Della meneleponnya dan mengabarkan jika adik iparnya tengah tak sadarkan diri dan tengah di bawa ke rumah sakit.


Adam yang melihat Fanya sudah masuk kedalam ruangan yang sama dengannya, ia dengan cekatan mulai memeriksa keadaan Fanya.


Dan saat Adam tengah memeriksa keadaan Fanya, Mommy Della menunggu di luar ruang UGD dengan cemas. Tak lupa wanita paruh baya itu memanjatkan doa untuk kebaikan Fanya.


Sedangkan disisi lain lebih tepatnya di sebuah perusahaan raksasa terlihat seorang laki-laki paruh baya berjalan tergesa masuk kedalam lift menuju ke lantai paling atas perusahaan tersebut. Dan kala pintu lift terbuka, ia berlari kecil sampai-sampai beberapa karyawan yang menyapanya, ia abaikan hingga membuat para karyawan itu terheran atas sikap ayah dari pemilik perusahaan itu.


Tapi laki-laki paruh baya tersebut tak peduli atas tatapan mata para karyawan yang penuh tanda tanya, ia semakin mempercepat langkah kakinya hingga dirinya telah sampai di depan pintu ruangan yang bertuliskan ruang meeting. Tanpa basa-basi lagi laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Daddy Aiden, membuka pintu ruang meeting didepannya. Tak peduli jika ia di cap sebagai orang yang tak memiliki etika dan kesopanan santunan oleh semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


Suara terbukanya pintu yang cukup keras mengalihkan atensi seluruh orang di ruangan tersebut tak terkecuali Zico. Ia hampir memarahi orang yang sudah berbuat lancang itu, tapi saat ia melihat siapa orangnya, ia mengurungkan niatnya. Dirinya saat ini justru langsung berdiri dari kursi kepemimpinannya, mendekati Daddy Aiden yang masih berdiri diambang pintu sembari mengatur nafasnya.


"Dad, ada apa?" tanya Zico. Entah kenapa saat melihat wajah Daddy Aiden yang terlihat kelelahan dengan nafas ngos-ngosan, ia berpikir jika kedatangan sang Daddy bukan hanya kunjungan biasa saja melainkan tengah membawa sebuah kabar entah kabar bahagia atau justru kabar buruk. Dan perasaan Zico berkata jika Daddy Aiden saat ini menemuinya dengan kabar buruk yang laki-laki paruh baya itu bawa.

__ADS_1


Daddy Aiden yang berhasil mengatur nafasnya, ia berkata, "Hentikan meeting kamu sekarang juga. Kita harus segara pergi."


Zico mengerutkan keningnya, "Hah? Pergi? Kenapa tiba-tiba Daddy mengajak Jio pergi? Dan kemana kita akan pergi?"


"Fanya, istri kamu sekarang tengah dibawa ke rumah sakit. Jadi kita harus segera kesana!"


Ucapan dari Daddy Aiden berhasil membuat jantung Zico berdetak begitu cepat. Ada apa dengan istrinya? Kenapa tiba-tiba sekali dia dibawa ke rumah sakit? Bukannya tadi pagi dia baik-baik saja? Banyak sekali pertanyaan yang berputar di otak Zico saat ini. Perasaan khawatir pun menjalar didalam hati Zico. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung berlari keluar dari dalam ruang meeting tanpa mengucapakan sepatah katapun kepada orang-orang penting yang masih berada di dalam ruangan tersebut ataupun kepada sekretaris maupun Daddy Aiden yang hanya bisa menghela nafas melihat kepergian putranya itu.


Daddy Aiden yang tadinya menatap kearah Zico yang semakin lama semakin menjauh, ia kini mengalihkan pandangannya kearah orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut sebelum tatapan matanya berhenti ke salah satu laki-laki yang menjabat sebagai sekretaris sang putra.


Dan saat sekretaris Zico telah berada dihadapannya, Daddy Aiden kembali berucap, "Saya minta tolong ke kamu untuk menjelaskan ke semua orang yang ada di sini jika meeting hari ini harus di tunda terlebih dahulu karena ada hal genting yang tengah menimpa Jio."


"Baik tuan. Saya akan memberinya pengertian kepada semua orang yang ada disini." Daddy Aiden menganggukkan kepalanya dengan salah satu tangannya bergerak, menepuk pundak Baim.

__ADS_1


"Saya percayakan perusahaan ini kepadamu," ujar Daddy Aiden sebelum dirinya pergi dari hadapan Baim, menyusul kepergian Zico tadi.


Sedangkan Baim, ia segara melakukan perintah yang diberikan oleh Daddy Aiden tadi kepadanya, membubarkan orang-orang penting itu dengan memberikan penjelasan kepada mereka agar tak terjadi keributan di masa mendatang dengan menganggap jika Zico tak profesional saat bekerja atau menuduh yang tidak-tidak kepada atasannya itu. Dan untungnya semua orang disana yang kebanyakan adalah rekan bisnis Zico memahami kepergian Zico tadi dan meminta untuk menjadwal ulang acara meeting mereka. Hal tersebut tentunya membuat Baim menghela nafas lega. Dan saat semua orang sudah mulai meninggalkan ruangan itu, dia menatap kepergian mereka satu persatu, namun batinnya berdoa untuk masalah Zico yang merupakan sahabatnya agar segara selesai.


Sedangkan Zico, laki-laki itu kini telah sampai di rumah sakit pribadi milik keluarganya hanya dengan menempuh waktu yang sangat singkat. Dirinya berlari menuju ke ruang UGD. Ia tadi sempat melihat ponselnya yang saat meeting tadi ia silent, dimana ponselnya itu menunjukkan riwayat panggilan tak terjawab dari kedua orangtuanya dan beberapa pesan masuk, Zico sempat membaca pesan dari Mommy Della yang memberitahukan Fanya berada di rumah sakit mana dan ruangan apa. Jadi tanpa ia bertanya terlebih dahulu kepada suster yang menjaga tempat informasi, ia sudah tau keberadaan Fanya.


Zico bisa melihat dari kejauhan Mommy Della yang terduduk di ruang tunggu dengan kedua tangan yang senantiasa menutupi wajah cantik wanita paruh baya itu. Zico yakin jika sang ibu saat ini tengah menangis. Dan benar saja saat ia sudah berada di hadapan Mommy Della, ia bisa mendengar isak tangis yang berasal dari wanita paruh baya tersebut.


"Mom," panggil Zico yang berhasil membuat wanita paruh baya itu menyingkirkan kedua tangannya. Dan kala ia melihat Zico tengah berdiri di depannya, ia langsung berdiri dan memeluk tubuh sang putra. Tangisnya semakin menjadi yang semakin membuat Zico resah.


"Mom, sebenarnya ada apa? Kenapa Fanya tiba-tiba masuk rumah sakit?" tanya Zico yang sudah tak bisa menahan rasa penasaran tentang alasan Fanya masuk kedalam rumah sakit.


"Mo---Mommy tidak tau hiks. Tiba-tiba Mommy nemuin Fanya di dalam kamar mandi dalam keadaan pingsan. Mommy takut Jio hiks Mommy takut Fanya kenapa-napa," ujar Mommy Della memeluk erat tubuh Zico. Sedangkan Zico yang pikirannya sudah berkelana, ia hanya diam saja tak membalas ucapan dari Mommy Della maupun membalas pelukan dari wanita paruh baya tersebut hingga Daddy Aiden sampai dan laki-laki paruh baya itu mengambil alih tubuh istrinya dari pelukan Zico.

__ADS_1


Sedangkan Zico, ia melangkahkan kakinya mendekati pintu ruang UGD dengan harap-harap cemas untuk keadaan istrinya tercinta itu.


__ADS_2