
Waktu terus berputar dan kini jam sudah menunjukkan pukul 12 siang yang artinya sudah berjam-jam Vivian, Zea dan Yola mendekorasi kamar baby untuk calon keponakan baru mereka. Dan di pukul 12 tepat itulah pekerjaan mereka akhirnya selesai.
Ketiganya dengan kompak merebahkan tubuh mereka di karpet bulu di ruangan yang tadinya hanya kosong dan kini berubah menjadi ruangan bayi. Di ruangan itu sudah terdapat dua box bayi dengan dua warna yaitu pink dan biru. Entah kenapa mereka memiliki dua warna itu padahal mereka belum tau jenis kelamin keduanya.
Fanya juga sempat bertanya di sela-sela mereka bekerja tadi ketika ia melihat dua warna yang menjadi ciri khas dua gender yang berbeda. Dan jawaban mereka ketika Fanya bertanya kenapa mereka memilih dua warna itu padahal belum tentu twins berjenis kemarin laki-laki dan perempuan, bisa jadi laki-laki semua atau perempuan semua dan mereka menjawab, "Ya kalau nanti twins memiliki gender yang sama ya tinggal kita rombak lagi kamar ini. Entah warna pink yang kita ganti atau sebaliknya. Jadi masalah ini tidak perlu kamu pikirkan."
Begitulah kira-kira jawaban mereka yang membuat Fanya hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan iparnya itu.
Dan kini saat ia melihat hasil kerja ketiga iparnya, tak bisa dipungkiri lagi jika Fanya tengah menatap kagum kamar yang tadinya hanya polos dengan cat putih kini berganti menjadi kamar yang lebih hidup lagi. Dan seketika Fanya membayangkan ketika ia bermain dengan twins bersama Zico di kamar ini. Ahhhh membayangkan saja sudah membuat hati Fanya menghangat apalagi sampai kejadian. Pasti ia akan sangat bahagia.
"Huh, akhirnya selesai juga. Capek juga ternyata, huh." Keluhan dari Yola berhasil menarik Fanya dari lamunannya tadi.
Wanita itu mengerjabkan matanya sebelum tatapan matanya ia alihkan ke tiga iparnya yang terlihat sekali jika ketiganya tengah kelelahan.
Fanya tersenyum, lalu tanpa bertanya kepada ketiganya, ia keluar dari dalam kamar twins menuju ke dapur. Ia berinisiatif untuk membuatkan mereka minum.
Sedangkan ketiga perempuan tadi, mereka sama sekali tak menyadari perginya Fanya karena ketiganya asik mengobrol ahhh lebih tepatnya mengeluh satu sama lain. Hingga 10 menit telah berlalu, Zea yang sadar jika ada Fanya juga didalam ruangan yang sama dengan mereka, ia berniat mengajak Fanya bergabung sekaligus meminta penilaian dari sang pemilik rumah. Namun saat dirinya menatap kearah Fanya tadi duduk, ia tak menemukan ibu hamil itu disana. Seketika Zea panik dan langsung berdiri dari posisi duduknya, tak memperdulikan punggungnya yang tengah encok itu.
Dua perempuan lainnya yang belum tau pun mereka saling pandang satu sama lain dengan gedikkan di bahu mereka masing-masing. Keduanya berniat mengabaikan Zea dan memilih untuk tidur, mengistirahatkan tubuh lelah mereka hingga akhirnya suara cetar Zea membuat mata mereka yang tadi terpejam kini terbuka lebar.
"Fanya hilang!"
Jangan tanya, ucapan dari Zea langsung membuat Vivian dan Yola berdiri dengan tatapan mereka yang mengarah ke kursi tempat duduk Fanya tadi.
Mengetahui jika Fanya tak ada disana, keduanya ikut panik seperti Zea sebelumnya.
__ADS_1
"Kok bisa hilang sih?" tanya Yola.
"Ya mana kita tau. Kita kan dari tadi ngobrol sekaligus fokus sama apa yang kita kerjakan jadi kita tidak bisa terus mengawasi Fanya," ucap Vivian.
"Iya juga sih. Terus ini gimana?"
"Ck, ya cari dia sekarang juga. Gimana sih Kakak ipar," jawab Zea yang ia tujukan kepada Yola.
"Kalau gitu tunggu apa lagi, cepat kita cari dia!" perintah Yola menggebu-gebu. Dan setelah mengatakan ucapannya tadi, tanpa aba-aba ia langsung berlari keluar dari dalam kamar twins tentunya untuk mencari keberadaan Fanya yang sangat ia yakini jika wanita hamil itu tidak di culik mengingat keamanan di sekitar rumah mewah ini sangat ketat dalam penjagaan para bodyguard Zico, jadi Yola yakin jika Fanya masih berada di dalam rumah ini. Tapi ia tak yakin jika Fanya dalam keadaan baik-baik saja. Entahlah ia tiba-tiba khawatir dengan adik iparnya itu.
Vivian dan Zea yang di tinggal oleh Yola tampak melongo sebelum helaan nafas terdengar dari keduanya. Kemudian barulah mereka menyusul kepergian Yola.
Disisi lain tepatnya di dapur, Fanya tersenyum senang kala melihat tiga gelas dengan jus jeruk di dalamnya yang kini sudah tersusun rapi di atas nampan.
Dengan harapan ketiga iparnya itu senang dengan minuman hasil buatannya, Fanya mulai mengangkat nampan yang berisi tiga gelas itu. Ia berjalan sangat pelan, berusaha agar tak ada sedikitpun air jus yang tumpah. Hingga saat ia ingin keluar dari ruang makan, seseorang hampir saja menabrak tubuhnya kala ia tak refleks menggeser tubuhnya ke samping. Fanya juga tampak menghela nafas lega kala ketiga gelas yang berada di nampan tak jatuh.
"Fan, kamu tidak apa-apa kan? Ada yang luka gak? Tadi aku udah sempat nabrak tubuh kamu gak?" Pertanyaan beruntun itu keluar dari bibir Yola. Ya orang yang hampir saja menabrak Fanya itu Yola yang tengah berlari mencari Fanya. Dan untungnya ia mengerem laju larinya tadi jika tidak, entah lah hal apa yang akan terjadi setelahnya. Mungkin Fanya akan terluka dan dirinya akan mati di tangan iparnya sendiri karena sudah melukai Fanya.
Fanya yang mendapat pertanyaan itu, ia tersenyum lalu dirinya menggelengkan kepalanya sebagai balasan atas ketiga pertanyaan dari Yola.
"Kamu yakin tidak terluka sedikitpun?" tanya ulang Yola untuk memastikan dan jawaban yang ia dapatkan dari Fanya masih sama.
Dan hal itu membuat Yola kini menghela nafas lega, aman, nyawanya aman.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi tunggu, kenapa kamu ada disini? Kamu tau aku khawatir kamu hilang tadi," ucap Yola yang tak bohong sama sekali. Fanya yang mendengar itu ia terkekeh kecil sebelum ia menunjuk tiga gelas dengan dagunya.
__ADS_1
Yola mengerutkan keningnya sebelum ia menatap kearah nampan yang di pegang oleh Fanya.
"Jadi kamu buat minuman ini dari tadi?" Fanya lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
"Astaga, kamu ini ya Fan. Huh, lain kali kalau mau kemana-mana izin dulu ya," ucap Yola dengan mengusap lembut kepala Fanya.
Fanya hanya bisa mengangguk, mengiyakan.
Tak berselang lama, suara kaki yang tampak berlari mendekati mereka berdua. Dan terlihatlah Vivian dan Zea lah yang kini sudah berdiri di depan Fanya dan Yola.
"Ya ampun Fan, kamu disini ternyata. Aku sama Kak Vi cari di lantai dua sampai halaman belakang lho. Huh, capek," keluh Zea sebelum tatapan matanya tampak berbinar saat melihat jus jeruk yang sangat menggoda untuk ia minum.
Tatapan matanya ia alihkan kearah Fanya, "Fan, aku minta satu ya jusnya."
Tanpa menunggu persetujuan dari Fanya, Zea langsung mengambil satu gelas diatas nampan itu lalu dengan cengiran di wajahnya ia berucap, "Terimakasih ya Fan." Kemudian barulah ia menengguk jus jeruk itu hingga tandas. Hal itu membuat Yola dan Vivian meneguk ludahnya.
Fanya yang melihat hal itu, ia tersenyum sebelum dengan kehati-hatian, ia menepuk bahu Yola yang kebetulan berada disampingnya.
"Kenapa Fan?" tanya Yola. Fanya mengkode Yola dengan gerakan dagunya yang mengarah ke jus jeruk itu.
"Itu buat aku, Fan?" tanya Yola penuh binar kebahagiaan. Fanya tentu saja hanya mengangguk.
"Wahhh makasih lho, Fan. Aku minum ya," ucap Yola yang sudah mengambil satu minuman itu dan lagi-lagi Fanya hanya mengangguk. Hingga suara Vivian mengalihkan perhatiannya.
"Fan, mereka berdua kan udah dapat nih. Terus buat aku mana?" tanya Vivian dengan tampang memelas.
__ADS_1
Fanya lagi-lagi terkekeh, merasa lucu dengan ekspresi Kakak iparnya itu lalu tanpa ba-bi-bu lagi, ia menyodorkan satu gelas minuman yang masih tersisa kearah Vivian yang tentunya langsung disambut penuh antusias oleh Vivian.
"Thank you, Fan." Fanya tersenyum kala melihat ketiga iparnya menikmati minuman buatannya itu.