
Seperti yang di sepakati oleh Fanya, jika tepat di hari ini, satu hari setelah pembicaraan mereka berdua kemarin, Zico kini telah siap untuk berangkat ke negara Singapura.
Dengan wajah tertekuk, ia menatap kearah Fanya yang tengah bersiap, perempuan itu berencana untuk mengantar Zico sampai ke bandara.
"Sayang," panggil Zico yang membuat Fanya menolehkan kepalanya kearah sang suami dengan salah satu alisnya yang terangkat, sebagai perwakilan ia bertanya.
"Kamu tidak ingin berubah pikiran kah? Kalau kamu berubah pikiran masih bisa kok," ujar Zico. Jujur walaupun ia sudah memantapkan dirinya sekaligus sudah mengambil sebuah keputusan, tetap saja di dalam hatinya yang paling dalam, ia masih tak rela berjauhan dengan sang istri tercinta. Karena selama dirinya dan Fanya menikah, mereka sama sekali tak pernah berjauhan. Jika Zico memiliki pekerjaan di luar kota maupun di luar negeri, Fanya selalu ia bawa. Tapi sekarang, situasi dan kondisi Fanya yang sudah berbeda.
Fanya yang mendapat pertanyaan yang terus berulang dari sang suami, ia menghela nafas panjang.
"Mau sampai berapa kali sih kamu tanya aku berubah pikiran atau tidak? Padahal kamu sudah tau jelas jawabanku tidak akan berubah. Aku tidak akan berubah pikiran sedikitpun tentang keputusan yang sudah kita sepakati kemarin. Jadi stop, jangan tanya lagi." Yakinlah Fanya merasa sebal dengan suaminya itu. Sehingga setelah menjawab ucapan dari Zico tadi, ia langsung menolehkan kepalanya kearah kaca rias, menyelesaikan make-upnya yang sempat terhenti tadi tanpa memperdulikan ekspresi wajah Zico yang semakin tertekuk.
Tak ada lagi percakapan dari sepasang suami istri tersebut, dua-duanya tampak terdiam dengan kegiatan masing-masing. Fanya yang sibuk merias diri dan Zico sibuk menatap istrinya.
Selang 5 menit setelahnya, Fanya terlihat berdiri dari posisi duduknya. Ia menatap penampilannya sebentar sebelum ia berjalan mendekati sang suami.
"Aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang, 30 menit lagi kan pesawat akan berangkat?"
Zico hanya bisa menghela nafas dengan anggukkan kecil, guna membalas Fanya.
"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo berangkat sekarang."
__ADS_1
Fanya menarik pelan lengan sang suami agar segera berdiri dari posisi duduknya. Sedangkan Zico, ia berdecak tak suka.
"Ck, iya-iya sabar," ucap Zico sembari beranjak dari duduknya. Lalu sepasang suami-istri tersebut bergegas turun kebawah yang langsung di sambut para maid dan para bodyguard Zico yang berjejer rapi, seakan-akan ikut mengantar kepergian tuan mereka.
Zico berhenti di tengah-tengah para bodyguard dan juga para maid. Ia menatap satu persatu dari mereka yang tampak menundukkan kepalanya sebelum ia angkat suara.
"Untuk kalian semua, saya titip istri saya. Jangan biarkan dia terluka sedikitpun jika sampai saat saya pulang atau saya mendapatkan kabar jika istri saya terluka maka nyawa kalian yang akan membayar setiap luka yang ada di tubuh istri saya. Kalian paham!" ucap Zico yang terselip sebuah ancaman untuk semua maid maupun bodyguardnya.
"Paham tuan," jawab mereka semua dengan serempak.
"Bagus," balas Zico lalu setelahnya dengan ia menggandeng tangan Fanya, mereka benar-benar keluar dari dalam mansion tersebut dengan Fanya yang menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sang suami yang begitu tegas dengan orang lain tapi dengan dirinya justru selalu lemah lembut dan Fanya sangat mensyukuri hal itu.
Selama perjalanan menuju ke bandara, Zico tak pernah melepaskan pelukannya dari sang istri dengan sesekali ia mengecup puncak kepala Fanya yang kebetulan tengah bersandar di bahunya. Hingga tak terasa kini mobil yang mereka tumpangi telah sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Tanpa banyak ba-bi-bu lagi, keduanya langsung masuk kedalam bandara tersebut kerena ternyata sesampainya mereka bertepatan dengan suara boarding pesawat. Hingga membuat mereka harus bergegas.
Zico hanya bisa menghela nafas kala mendapat jawaban yang tak sesuai dengan keinginannya.
"Baiklah kalau begitu aku percaya kamu dan twins pada dirimu sendiri. Jika nanti ada sesuatu yang terjadi denganmu ataupun dengan twins segera hubungi aku. Kamu paham kan sayang?"
"Iya, aku sangat paham sayang. Sudah-sudah jangan banyak bicara lagi. Waktu kamu cuma tinggal 10 menit lagi. Segera masuk sana karena aku tidak mau melihat kamu ketinggalan pesawat. Jika sampai kamu ketinggalan pesawat yang membuat kamu tidak jadi ke Singapura, awas saja kamu akan aku depak dari kamar, tidur di luar selama 1 bulan penuh tanpa peluk, cium ataupun jatah hubungan suami-istri."
Perkataan yang bermakna ancaman itu berhasil membuat Zico hanya bisa pasrah saja. Daripada dirinya harus puasa menyentuh istrinya lebih baik ia menuruti keinginan Fanya.
__ADS_1
"Ck, iya-iya ini juga mau berangkat," ucap Zico kemudian ia memeluk tubuh Fanya untuk salam perpisahan mereka. Lalu setelahnya, ia mengecup seluruh bagian wajah sang istri.
"Aku berangkat ya. Jaga diri baik-baik," ucap Zico dengan mengelus lembut pipi Fanya.
Fanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Posisi Zico yang tadi berdiri tegak, kini tubuhnya ia bungkukan agar sejajar dengan perut buncit Fanya.
Elusan lembut pun Zico berikan sembari ia berkata, "Baik-baik di dalam sini ya twins. Jangan merepotkan Mommy saat Daddy tidak ada. Jangan buat Mommy mengidam yang aneh-aneh, kasihan Mommy nanti. Perlu kalian tau, jika Daddy sangat sayang kalian."
Zico memberikan kecupan cukup lama di perut Fanya. Hingga suara boarding kembali terdengar memerintahkan para penumpang pesawat jurusan Singapura untuk segara memasuki pesawat. Zico yang mendengar itu kini menjauhkan wajahnya dari gundukan yang berisi calon buah hatinya.
Ia tersenyum kala menatap wajah Fanya.
"Aku berangkat," ucap Zico yang diangguki Fanya.
Zico yang melihat anggukkan itu ia mengecup kembali kening serta bibirnya Fanya barulah ia mulai melangkahkan kakinya dari hadapan sang istri yang diiringi dengan lambaian tangan oleh Fanya.
Zico sesekali menolehkan kepalanya kearah Fanya dengan senyum terpaksa yang terbit di bibirnya. Tak lupa ia pun sesekali membalas lambaian tangan dari Fanya hingga akhirnya mereka benar-benar terpisah dengan tubuh Zico yang tak bisa Fanya lihat lagi.
Fanya tampak menghela nafas dengan tatapan nanar yang terus tertuju kearah menghilangnya Zico tadi. Sampai tiba-tiba terdengar suara intrupsi dari arah sampingnya.
__ADS_1
"Nyonya, mari kita pulang," ucap salah satu bodyguard Zico yang tadi memang di perintahkan oleh laki-laki itu untuk ikut ke bandara.
Fanya menolehkan kepalanya kearah bodyguard tersebut kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ajakan dari bodyguard tadi sebelum dirinya melangkahkan kakinya terlebih dahulu meninggalkan area bandara tersebut.