My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 106


__ADS_3

Teriakan cetar membahana itu berhasil membuat anggota keluarga Abhivandya yang tengah berkumpul di ruang keluarga langsung menolehkan kepala mereka kearah sumber suara. Bahkan Erland yang hampir sampai di depan pintu kamarnya di lantai dua, memilih untuk kembali turun ke lantai satu, melihat ada apa gerangan sampai Edrea teriak-teriak seperti orang gila itu. Ia samar-samar mendengar kata hamil di akhir teriakan tadi. Tapi siapa yang hamil? Tidak mungkin Edrea sendiri kan yang hamil?


Disisi lain, tepatnya di ruang tamu Edrea kini telah berada dan dengan tatapan semua orang yang mengarah kearahnya, ia memperlihatkan cengirannya.


"Ishhh Mommy belicik." Suara anak kecil membuat semua orang mengalihkan pandangannya kearah salah satu anak laki-laki yang duduk di karpet bulu. Anak itu terlihat menutup kedua telinganya.


Edrea yang mendengar protesan dari sang putra pun ia memelototkan matanya. Dan saat dirinya ingin membalas ucapan dari salah satu putranya itu, suara seseorang yang baru saja bergabung dengan mereka menghentikan niatannya tadi.


"Rea ada apa? Kenapa kamu teriak tadi? Dan aku dengar kata hamil. Siapa yang hamil? Kamu?" Tanya Erland yang berdiri di depan Edrea.


Ucapan dari Erland tadi langsung mendapat toyoran di kepalanya. Jangan tanya siapa pelakunya karena siapa lagi kalau bukan Edrea, adik laknatnya itu.


"Sembarangan kalau ngomong. Ngurus dua bocil itu aja bikin kepala rasanya kayak mau pecah pakai segala mau tambah anak. Bisa mati muda aku," ucap Edrea yang sepertinya sudah tidak sanggup lagi menambah buah hati mengingat dua putranya yang setiap hari membuat dirinya darah tinggi.


"Lah kalau bukan kamu terus siapa?" Tanya Erland lagi.


Edrea senyam-senyum sendiri sembari melirik kearah Zico dan Fanya yang sudah duduk manis di salah satu sofa di ruang keluarga itu setelah mereka menyalimi semua orang yang ada disana. Tapi walaupun begitu, tak urung Edrea menjawab, "Kakak ipar yang hamil."


Semua orang tentunya mengerutkan keningnya. Tentu saja mereka tengah menebak-nebak Kakak ipar yang dimaksud oleh Edrea itu siapa? Istri Adam kah? Istri Azlan kah? Atau istri Zico? Ayolah dia memiliki banyak Kakak ipar.


"Kak Yola, kamu hamil?" tanya Erland kepada istri Adam tentunya perempuan yang mendapat pertanyaan itu menggelengkan kepalanya karena memang ia sedang tidak hamil sekarang.

__ADS_1


Tatapan Erland kini beralih ke sepasang suami istri yang duduk di atas karpet bulu dengan putri mereka.


"Kak Ze," panggil Erland yang ia tujukan kepada istri Azlan.


"Gak, Abang kamu belum mau nambah anak lagi, katanya mau ngurus putri kecil dia dulu sekaligus kita juga takut kalau gak adil dalam membagi kasih sayang buat anak-anak kita nanti," jawab Zea.


Edrea yang mendengar Abangnya itu justru bertanya satu persatu kepada Kakak iparnya, ia berdecak kesal.


"Bang Erland gak peka banget sih jadi orang. Masak Abang gak tau siapa yang aku maksud." Erland melirik kearah sang adik dengan tatapan permusuhan.


"Gak peka matamu. Gimana orang mau peka kalau kita aja punya banyak Kakak ipar? Lagian apa susahnya sih langsung sebut namanya tanpa harus main tebak-tebakan dulu?" geram Erland.


Fanya sempat melongo mendengar perdebatan kedua orang itu hingga genggaman di tangannya menyadarkan dirinya. Ia mengalihkan pandangannya kearah Zico yang duduk disampingnya sekaligus pelaku yang menggenggam tangannya tadi.


"Ini saatnya kita mengungkapkan kehamilan kamu karena kalau sampai kita menunggu Rea yang memberitahu semua orang, mungkin kita harus menunggu sampai besok. Tau sendiri dia malah cek cok sama Erland. Jadi kamu sekarang siap sayang?" tanya Adam dengan suara yang mengecil sehingga hanya dia dan Fanya lah yang mendengar perkataannya tadi.


Fanya menganggukkan kepalanya. Siap tidak siap, ia harus siap karena ini sudah menjadi keputusannya.


Anggukkan kepala oleh Fanya tadi, membuat Zico kini menegakkan tubuhnya, tatapan matanya pun saat ini tertuju kearah kedua orangtuanya yang sedang membalas ucapan cucu mereka yang mengajak mereka bermain.


"Mom, Dad," panggil Zico dengan suara yang sedikit ia perkeras agar kedua orangtuanya bisa mendengar panggilan darinya. Dan berhasil, kedua orang paruh baya itu mengalihkan pandangannya kearahnya.

__ADS_1


"Iya sayang, kenapa?" tanya Mommy Della.


"Jio mau bicara sama Mommy, Daddy dan mungkin sama semua orang yang ada disini." Semua orang yang mendengar perkataan dari Zico itu pun langsung memfokuskan diri mereka kearah laki-laki tersebut. Tak terkecuali dengan Edrea dan Erland. Keduanya langsung berhenti berdebat dan memilih memperhatikan apa yang akan dibicarakan oleh Zico.


"Bicara? Bicara apa?" tanya Daddy Aiden sembari memangku putri dari pasangan Adam dan Yola.


Entah kenapa jantung Zico tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia merasa sangat gugup padahal ia hanya akan membicarakan tentang kehamilan Fanya. Mau ia urungkan niatnya itu, tapi saat melihat tatapan semua orang yang menunggu dirinya kembali meneruskan ucapannya membuat dirinya terpaksa harus melanjutkannya.


Zico menghela nafas dua kali sebelum akhirnya ia kembali angkat suara.


"Mom, Dad dan semuanya. Maksud dan tujuan Zico juga Fanya kesini bukan hanya sekedar main ataupun mengunjungi Mommy dan Daddy melainkan kita ingin memberitahu jika Fanya saat ini tengah hamil," ucap Zico. Tentu saja sesaat setelah dirinya mengatakan hal itu, ia bisa melihat wajah semua orang yang tampak terkejut atas kabar yang dibawa oleh Zico tadi terkecuali Edrea yang sudah lebih dulu tau kabar ini. Dan perlu kalian tau, semua anggota keluarga Abhivandya telah tau tentang kejadian menyedihkan yang menimpa keluarga kecil Zico itu. Bahkan mereka juga tau jika Fanya kemungkinan akan sulit memiliki anak kembali atau mungkin tak bisa lagi. Dan karena hal itu pula membuat semua anggota keluarga Abhivandya memutuskan untuk tidak menyinggung tentang kehamilan saat berada di depan Fanya, takut dia akan merasa sedih dan menyalahkan dirinya sendiri sama seperti dulu. Dan karena vonis dari dokter itu pula yang membuat semua orang disana terkejut setelah pemberitahuan dari Zico tadi.


Mommy Della yang tampaknya sudah tersadar dari keterkejutannya tadi, ia berdiri, mendekati Fanya. Lalu setelahnya ia mendudukkan tubuh disamping menantunya itu.


"Kamu hamil sayang?" tanya Mommy Della memastikan. Tentu saja Fanya menganggukkan kepalanya. Lalu tangan Fanya bergerak, mengambil salah satu tangan sang mertua kemudian ia arahkan ke perutnya.


Dan ketika tangan yang sudah mulai berkeriput itu menyentuh perut Fanya yang terbalik kain dress, lagi-lagi Mommy Della terkejut di buatnya saat ia merasakan jika perut dari sang menantu sudah sangat menonjol. Dan tidak mungkin bukan kalau menantunya itu tengah hamil di usia kandungan kurang dari satu bulan karena perut yang ia elus saat ini terlihat seperti tengah hamil 5 bulan, sangat besar. Tapi tidak mungkin bukan kalau Fanya maupun Zico baru tau jika Fanya tengah hamil saat ini? Ia yakin pasti mereka berdua telah menyembunyikan kehamilan Fanya cukup lama.


"Dari kapan?" Tanya Mommy Della yang justru membuat Zico maupun Fanya saling pandang satu sama lain, mereka tidak paham maksud dari ucapan Mommy Della tadi.


"Dari kapan kalian menyembunyikan semua ini dari Mommy?! Dari kapan?!" teriak Mommy Della yang berhasil membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main terlebih Fanya, apalagi ia melihat mata Mommy Della yang mulai berkaca-kaca. Tapi yakinlah, Fanya saat ini justru takut. Ia takut jika semua orang marah karena dirinya yang menyembunyikan kehamilannya itu. Ia juga takut mereka tidak akan menganggap anak di dalam kandungannya ini menjadi bagian dari keluarga mereka dengan alasan mereka kecewa terhadapnya yang sudah berani menyembunyikan kabar kehamilannya ini kepada semua orang. Dan masih banyak lagi pikiran-pikiran negatif di otaknya saat ini. Sehingga karena pikirannya yang sudah tak bisa ia arahkan ke pikiran positif, dengan otomatis tubuh Fanya, ia mundurkan, mencoba menjauh dari hadapan Mommy Della.

__ADS_1


__ADS_2