My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 28


__ADS_3

Fanya perlahan membuka matanya kala usapan lembut di kepalanya ia rasakan. Dan hal pertama kali yang ia lihat wajah Zico dengan senyum manis di bibirnya.


"Makan dulu ya. Nanti baru lanjut istirahat lagi," ujar Zico yang dibalas anggukan kepalanya oleh Fanya.


Zico segara membantu Fanya untuk mendudukkan tubuhnya dan saat perempuan itu terduduk sempurna, dirinya baru menyadari jika ia sudah pindah tempat yang tadinya tidur di atas sofa dan sekarang ia sudah berada di atas tempat tidur.


Tatapan mata Fanya kini tertuju kearah Zico yang sudah duduk di pinggir ranjang dengan semangkuk bubur di tangannya.


"Buka mulutnya," ujar Zico yang sudah menyodorkan sesendok bubur tepat di depan bibir Fanya.


Fanya menatap bubur itu lekat. Jujur saja ia termasuk orang yang tidak menyukai makan lembek itu. Menurutnya rasanya terlalu aneh dan tidak bisa di terima oleh dirinya.


"Ayo, buka mulutnya. Aaa," ujar Zico kembali tapi Fanya masih enggan membuka mulutnya. Ia justru menatapnya dengan puppy eyesnya yang justru membuat Zico gemas ingin mencium seluruh wajah perempuan dihadapannya itu. Tapi beruntung otaknya masih waras sehingga ia tak melakukan hal tersebut.


"Kenapa tidak mau buka mulut hmmm? Kamu tidak suka buburnya?" tanya Zico yang sudah menjauhkan sendok tadi dari depan mulut Fanya.


Fanya yang mendapat pertanyaan itu matanya otomatis berbinar, ia menganggukkan kepalanya.


"Kamu tidak suka makan bubur?" tanya Zico mematikan yang kembali diangguki oleh perempuan itu.


Zico tampak tersenyum. Tangannya kini bergerak meraih tangan dingin Fanya, ia elus punggung tangan yang berada di genggamannya tersebut menggunakan jempolnya. Tatapannya pun intens menatap manik mata Fanya.


"Kalau begitu katakan, kamu mau apa? Tapi jangan minta yang pedas dan asam karena jika kamu meminta makanan dengan cita rasa seperti itu maka aku tidak akan memberikannya." Sorot mata Fanya yang tadi sempat berbinar kini redup seketika. Padahal ia tadi ingin request makanan pedas kepada Zico.

__ADS_1


"Kamu memiliki riwayat sakit maag, sayang. Jadi turuti apa kataku oke. Jangan bandel," ucap Zico dan saking ia sudah tidak bisa menahan kegemasannya, ia sempat menarik hidung Fanya dengan lembut.


Fanya terkejut akan aksi Zico tadi yang menarik pelan hidungnya ahhhh lebih tepatnya ia sangat terkejut saat kata sayang keluar dari bibir Zico.


"Tunggu, apa aku tadi salah dengar? Kak Aka memanggilku dengan sebutan sayang? Ahhh tidak mungkin. Aku yakin aku hanya salah dengar tadi," batin Fanya meyakinkan dirinya sendiri agar ia tak terlalu ke-PDan.


"Kok malah bengong. Ayo katakan kamu mau makan apa? Ini sudah siang, kamu dari pagi belum makan. Takutnya kalau menunda-nunda lagi rasa sakitmu akan semakin parah dan aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi kepadamu." Ucapan Zico menyadarkan keterbengongan Fanya.


Perempuan itu langsung mengerucutkan bibirnya kala mengingat Zico tak mengizinkan dirinya makan pedas. Tapi ia tak urung dirinya menarik tangan kanannya guna menulis untuk menjawab pertanyaan dari Zico tadi dan ia membiarkan tangan kirinya dimainkan oleh Zico.


Fanya yang sudah selesai menulis pun ia menyodorkan notebooknya yang langsung diterima oleh Zico.


"Apa boleh aku makan bakso?"


"Kamu tunggu disini sebentar. Aku turun kebawah dulu buat cari makanan yang kamu inginkan. Jika kamu menginginkan sesuatu lainnya, telepon Ita atau Teri untuk membantu kamu. Aku pergi dulu." Fanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Sebelum dirinya dibuat terkejut untuk kesekian kalinya atas aksi Zico yang tiba-tiba saja mendaratkan sebuah kecupan di kening Fanya. Kecupan itu hanya berlangsung beberapa detik saja sebelum Zico menjauhkan wajahnya kemudian mengusap lembut kepala Fanya. Lalu barulah ia pergi dari dalam ruang pribadi Fanya tanpa tau peduli wajah Fanya yang saat ini sudah seperti kepiting rebus, sangat panas dan terlihat memerah.


Dan saat Zico sudah tak terlihat lagi, Fanya memegang keningnya yang tadi sempat di kecup oleh Zico. Kemudian tangan itu berpindah memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Arkkhhhhhhh! Fiks Kak Aka bikin aku tiba-tiba punya sakit jantung. Arkhhh jantungku seperti ingin lepas dari tempatnya!" Jerit Fanya sembari menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Sungguh tubuhnya saat ini rasanya seperti tidak memiliki tulang, meleleh seperti butter yang terkena panas. Dan semua ini disebabkan oleh satu manusia yang belum lama ini ia kenal. Orang yang bisa membuat Fanya terlihat seperti orang gila karena tindakan yang laki-laki itu berikan.


Contohnya seperti saat ini ia berguling-guling diatas kasur berukuran king size tersebut dengan sesekali menghentak-hentakkan kaki atau tangannya dan tak hanya itu saja ia juga sesekali menyembunyikan wajah memerahnya saat mengingat Zico yang mencium keningnya tadi.


Karena kelelahan akibat salting yang melanda dirinya, Fanya sampai ketiduran. Sedangkan Zico yang baru membuka pintu ruang pribadi milik Fanya itu, ia sedikit terkejut saat melihat kondisi diatas kasur Fanya yang berantakan terlebih saat melihat Fanya menutup matanya dengan posisi tubuh tengkurap.

__ADS_1


Zico sedikit berlari mendekatinya Fanya. Ia menatap intens wajah Fanya dengan jari telunjuknya mengarah ke depan hidung Fanya. Zico menghela nafas lega kala ia merasakan hembusan nafas Fanya.


"Huh, anak ini buat aku khawatir saja," gumam Zico sebelum ia mengusap kepala Fanya sembari berkata, "Hey baby, wake up."


Fanya yang merasa tidurnya terganggu ia menggeliatkan tubuhnya, merubah posisi tidurnya yang tadi tengkurap menjadi telentang sebelum matanya terbuka lebar. Dan saat nyawanya sudah sepenuhnya kembali, ia membelalakkan matanya.


"Astaga. Kak Aka sudah ada disini. Berarti dia tadi melihatku tidur dalam posisi tidak etis seperti tadi. Astaga! Mau di taruh dimana mukaku ini!" jerit Fanya didalam hatinya. Ia ingin berharap Zico tidak melihat posisi tidurnya tadi yang sangat ia yakini tidak ada kata anggun sama sekali. Tapi mengingat jika laki-laki itu yang membangunkan dirinya, alhasil harapnya musnah seketika dan ia hanya bisa pasrah jika Zico akan ilfil kepadanya.


"Duduk. Aku akan menyuapimu," ujar Zico yang langsung di lakukan oleh Fanya dengan kepala yang tertunduk.


"Jangan menunduk. Tegakkan kepalamu dan mulai makan baksomu ini," titah Zico yang lagi-lagi di lakukan oleh Fanya tanpa ada protes sedikitpun.


Tak terasa suapan demi suapan masuk kedalam mulut Fanya sampai satu mangkok bakso habis tak tersisa.


Zico yang melihat Fanya makan dengan lahap ia tersenyum. Lalu ia meletakkan mangkok yang sudah kosong tadi diatas nakas di samping tempat tidur Fanya. Dan tangannya kini bergerak meraih obat yang bungkusnya sudah ia buang serta air putih lalu ia sodorkan kearah Fanya.


Fanya yang paham pun ia segera mengambil 3 butir obat tadi lalu meminumnya secara bertahap.


Zico menatap lekat Fanya yang baru saja meletakkan gelas air minum tadi.


Fanya yang merasa di perhatikan pun ia mengalihkan pandangannya kearah Zico dengan kerutan di keningnya.


Zico menghela nafas panjang sebelum tangannya meraih kedua tangan Fanya lalu kembali ia genggam, "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Fan."

__ADS_1


Ucapan Zico itu semakin membuat Fanya bingung. Bukannya dari tadi, Zico sudah bicara kepadanya? Tapi kenapa laki-laki itu malah berkata seperti tadi? Atau ada hal serius dalam topik pembicaraannya nanti? Hmmm jika seperti itu, Fanya jadi penasaran tentang hal apa yang akan Zico katakan nanti.


__ADS_2