
"Sudahlah Fanya, Jio jangan dipaksa. Biarkan dia mau memaafkan Cheasea atau tidak karena memaafkan itu hak Jio. Uncel dan Aunty juga tidak masalah kok jika memang itu keputusan Jio, biar hal ini juga sebagai bentuk pembelajaran bagi Cheasea. Kita tunggu waktu saja kapan Jio memang sudah mau memaafkan Cheasea dengan tulus tanpa paksaan apapun," ucap Daddy Max secara tiba-tiba dan itu semua mengalihkan perhatian semua orang disana kecuali Cheasea yang saat ini semakin memejamkan matanya dengan air mata yang mulai tumpah.
"Benar apa yang dikatakan oleh Uncle Max tadi Fanya. Biarkan Jio memaafkan Cheasea tanpa adanya paksaan. Jadi jangan di paksa lagi ya, Aunty tidak mau Jio memaafkan Cheasea dengan adanya keterpaksaan," sela Mommy Jea.
Fanya menghela nafas sebelum dirinya mengalihkan pandangannya kearah sang suami yang tengah mengalihkan pandangannya kearah lain dengan raut wajah yang sangat masam. Fanya tau jika suaminya itu tengah merajuk.
Dan karena dirinya tak ingin semakin membuat Zico marah, akhirnya ia menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan dari Mommy Jea dan Daddy Max. Toh dirinya juga tidak akan memaksa Zico lagi karena menurutnya sangat percuma pasalnya ujung-ujungnya nanti dia juga yang akan kalah dengan sifat keras kepalanya Zico.
Sedangkan Zico yang tadi diam-diam melirik kearah Fanya, ia kini tersenyum cerah. Posisinya yang awalnya membelakangi Fanya dengan cepat ia merubah posisinya menghadap kearah Fanya kembali, lalu langsung memeluk erat tubuh istrinya itu.
"Nah gitu dong sayang. Jangan paksa-paksa aku lagi. Aku kan gak suka di paksa," ujar Zico dengan nada suara yang terdengar manja. Dan hal tersebut membuat Daddy Aiden berlagak ingin muntah sedangkan ketiga orang tua lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sedangkan untuk Cheasea, gadis itu tiba-tiba berdiri dari duduknya kemudian ia berlari, keluar dari dalam rumah mewah tersebut.
"Lho Cheasea mau kemana?!" teriak Mommy Della terkejut akan kepergian Cheasea secara tiba-tiba.
"Cheasea!" teriak Mommy Jea dan Daddy Max bersamaan. Sedangkan Fanya, ia melebarkan matanya, tanpa dia sengaja tadi ia sempat melihat mata Cheasea yang berakhir. Dan tanpa bertanya-tanya lagi, ia tau jika gadis itu tengah menangis dan ia simpulkan alasan Cheasea menangis gara-gara penolakan Zico yang tak ingin memaafkannya ditambah kedua orangtuanya justru tidak membantu dirinya agar mendapat maaf melainkan mereka secara tidak langsung memberikan dukungan kepada Zico yang tak memaafkan Cheasea.
__ADS_1
Saat orang-orang tengah heboh dengan kepergian Cheasea secara tiba-tiba, Zico malah mencebikkan bibirnya sembari bergumam, "Drama banget jadi orang. Makanya kalau mau gampang dimaafkan jangan buat salah terus. Bodoh kok di pelihara."
Fanya yang mendengar gumaman dari Zico langsung memukul pelan bibir suaminya itu dengan pelototan matanya. Dan saat Zico ingin protes kepadanya, Fanya berdiri dari posisi duduknya sampai membuat tubuh Zico terjerembab karena dia tadi masih memeluk tubuh Fanya tapi tidak erat.
Zico merintih kesakitan sembari berdiri dari posisi terjatuhnya tadi. Namun lagi-lagi saat Zico kembali ingin protes, protesannya tertahan karena ia sudah tak melihat semua orang yang ada di ruangan tadi tak terkecuali Fanya. Zico yakin kepergian mereka pasti menyusul Cheasea yang entah kemana perginya tadi.
Walaupun Zico tau kepergian mereka, ia tak ingin ikut-ikutan mencari keberadaan Cheasea, membuang-buang waktu saja. Daripada ia mencari Cheasea, lebih baik dirinya tidur saja biar nanti malam ia bisa begadang membuat baby dengan Fanya biar cepat jadi.
Disisi lain, semua orang yang tadi menyusul kepergian Cheasea, mereka kehilangan jejak gadis itu yang ternyata berlari keluar dari area rumah keluarga Abhivandya. Beberapa bodyguard di rumah itu tadi juga sempat diperintahkan oleh Daddy Aiden untuk menyusul keberadaan Cheasea, tapi mereka semua kembali dengan hasil yang nihil. Dan hal tersebut berhasil membuat semua orang menjadi khawatir. Bahkan Daddy Aiden kembali mengerahkan semua anak buahnya begitu juga Daddy Max.
Cheasea terus berlari sampai tak terasa kaki jenjangnya itu memasuki sebuah taman yang cukup besar dengan beberapa pengunjung disana. Dan karena ia tak fokus dengan jalanan yang ia lalui, tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang hingga membuat orang yang ia tabrak itu terjatuh lalu merintih kesakitan. Rintihan itu tentunya membuat Cheasea menghentikan langkah kakinya. Ia segara memutar tubuhnya, menghadap kearah seseorang yang baru saja ia tabrak tadi. Dan betapa terkejutnya ia saat mendapati seorang anak kecil laki-laki yang tengah terduduk di atas rumput dengan tangan yang memegangi lututnya.
Cheasea bergegas mendekati anak kecil yang ia tabrak tadi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Cheasea sembari menjongkokkan tubuhnya dihadapan anak laki-laki tersebut.
__ADS_1
Anak laki-laki yang sedari tadi menatap kearah lututnya dengan ringisan di bibirnya seketika mengalihkan pandangannya kala mendengar suara seseorang. Dan saat ia melihat wajah Cheasea, rasa sakit yang sempat ia rasakan tadi hilang seketika dan tergantikan dengan rasa penasaran yang tiba-tiba menerpa dirinya.
Bahkan tangan anak laki-laki itu terulur kearah pipi Cheasea kemudian mengusap lembut pipi itu yang membuat Cheasea memejamkan matanya merasakan kelembutan akan usapan dari anak laki-laki itu.
"Kakak habis nangis ya?" pertanyaan dari anak kecil itu membuat Cheasea membuka matanya kembali dan dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah lain sembari menghapus air matanya.
"Kakak kenapa?" Tanya anak laki-laki itu lagi.
Cheasea menatap kearah anak laki-laki itu dengan senyum yang terbit di bibirnya.
"Ti---tidak. Kakak tidak kenapa-napa kok. Kakak tidak habis menangis," ucap Cheasea mengelak. Tapi anak laki-laki itu terus menggelengkan kepalanya sembari berdiri dari duduknya lalu dengan langkah tertatih anak laki-laki itu pergi dari hadapan Cheasea. Membuat Cheasea tersenyum sendu melihat kepergian dari anak laki-laki itu.
"Bahkan anak kecil saja tidak mempercayaiku. Tapi apa yang aku katakan dengan dia tadi memang bukan kenyataannya. Di bibir aku berkata, aku baik-baik saja dihadapan dia tapi yang sebenarnya aku sedang tidak baik-baik saja. Aku berbohong kepadanya. Maafkan aku, hiks," gumam Cheasea tak bisa menahan sesak di dadanya. Jujur saja saat ia mengatakan sebuah kebohongan kepada anak kecil tadi, rasanya sungguh tidak mengenakkan di hatinya.
Cheasea sudah tidak peduli lagi dengan bajunya yang kotor, ia langsung duduk saja diatas rumput yang sudah diinjak-injak banyak orang sembari ia sembunyikan wajahnya di lipatan kedua lengannya yang ia tumpukan diatas kakinya. Cheasea juga tidak peduli jika saat ini ia menjadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang disana.
__ADS_1