My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 35


__ADS_3

"Jadi begini ibu, maksud dan tujuan Zico datang kemari ingin mengutarakan keinginan Zico yang bermaksud meminang Fanya untuk saya jadikan sebagai istri saya. Zico sangat berharap jika ibu Suci, selaku wali Fanya memberikan restu untuk kita berdua ke jenjang yang lebih serius," tutur Zico dengan jantung yang berdetak cepat. Walaupun ibu Suci bukan ibu kandung Fanya, tapi restu wanita paruh baya itu sangat penting untuk hubungan mereka. Dan Zico saat ini takut jika ibu Suci tidak merestui keinginan mereka untuk menikah.


Sedangkan ibu Suci, ia cukup terkejut dengan penuturan dari Zico tadi. Bahkan ia sempat bertanya-tanya, sejak kapan mereka saling dekat satu sama lain? Dan kenapa Fanya tidak pernah cerita mengenai kedekatannya dengan Zico? Pasalnya Fanya merupakan anak yang sangat dekat kepadanya dan selalu menceritakan kesehariannya dengannya. Begitu juga dengan soal perasannya. Tapi kali ini saat dia dekat dengan Zico, Fanya tidak pernah sama sekali menyinggung nama laki-laki yang saat ini berhadapan dengannya. Dan hal itu benar-benar membuat ibu Suci penasaran. Tapi situasi saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk bertanya kepada Fanya, ia akan menyimpan segala pertanyaan yang memutari otaknya saat ini untuk ia tanyakan nanti saja jika Zico sudah pulang. Dan sekarang lebih baik ia menanggapi niat baik Zico tadi.


Ibu Suci kini tersenyum dan dengan tangan yang kini menggenggam tangan Fanya, ia berkata, "Ibu tidak akan melarang niat baik kalian untuk menikah. Ibu akan memberikan restu untuk hubungan kalian selagi Fanya mau dipinang olehmu karena keputusan sepenuhnya ibu serahkan ke Fanya. Tapi sepertinya tanpa ibu tanya ke Fanya, ibu sudah tau jawabannya jika Fanya mau dipinang oleh nak Zico. Bukan begitu?"


Tatapan ibu Suci berpindah kearah Fanya yang dibalas anggukan oleh perempuan itu yang membuat ibu Suci melebarkan senyumannya sebelum ia kembali menatap kearah Zico yang terlihat tersenyum juga.


"Tapi nak Zico tau kan latar belakang Fanya bagaimana? Dan apa nak Zico sudah membicarakan niat baik nak Zico ini ke keluarga nak Zico?" tanya ibu Suci.


"Ya, saya tau latar belakang Fanya. Saya menerima dia apa adanya. Tidak memandang apapun yang ada didalam diri Fanya. Saya benar-benar tulus dengan Fanya, ibu. Dan untuk membicarakan niat baik kita berdua ini ke keluarga saya, memang belum saya lakukan. Tapi saya bisa pastikan jika mereka juga akan memberikan restu mereka ke hubungan kita berdua. Dan selain saya menyampaikan niat baik saya tadi, saya juga ingin meminta izin ke ibu untuk membawa Fanya ke Jakarta. Saya akan memperkenalkan Fanya ke keluarga besar saja sekaligus membicarakan niatan kita tadi. Apa ibu memberikan izin?" ucap Zico.


Ibu Fanya tampak menganggukkan kepalanya.


"Ibu percaya denganmu, nak Zico. Saya juga mengizinkan kamu untuk membawa Fanya ke Jakarta. Tapi ibu mohon dengan sangat jaga lah Fanya, jangan biarkan dia terluka. Dan jika nanti keluarga kamu tidak menerima kehadiran Fanya, ibu mohon segera bawa Fanya pulang kesini," ujar ibu Suci sirat akan kekhawatiran yang Zico yakini jika kekhawatiran itu mengenai Fanya yang akan dipandang rendah lagi oleh orang lain.


"Baik ibu, saya akan melakukan apa yang ibu katakan. Dan berhubung saya sudah mengutarakan semua niatan saya sekaligus waktu juga sudah malam, saya pamit undur diri." Zico kini berdiri yang membuat Fanya ataupun ibu Suci juga ikut berdiri.


"Baiklah, hati-hati dijalan ya nak." Zico menganggukkan kepalanya sembari tangannya terulur yang langsung dibalas oleh ibu Suci. Dikecupnya punggung tangan calon mertuanya tadi sebelum dirinya menegakkan kembali tubuhnya.

__ADS_1


Sedangkan ibu Suci, mengusap punggung Fanya sembari berkata, "Antarlah nak Zico sampai luar nak."


Fanya menganggukkan kepalanya lalu ia beranjak mendekati Zico. Dan saat Fanya sudah berdiri disamping Zico, Zico berucap, "Ibu, Zico pamit. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


Setelah balasan salam dari ibu Suci tadi, Zico dan Fanya berjalan secara beriringan menuju ke pintu utama. Lalu saat mereka sudah berada di luar, Zico memutar tubuhnya, menghadap kearah Fanya.


Ia raih kedua tangan kekasihnya tersebut dengan memberikan elusan di punggung tangan Fanya menggunakan jempolnya.


"Besok jam 5 aku jemput kamu. Bawa barang seperlunya saja karena disana nanti aku akan menyiapkan segala kebutuhan kamu. Malah kalau perlu kamu tidak perlu bawa apa-apa dari sini agar kamu tidak harus packing malam ini biar kamu langsung tidur saja," ujar Zico yang dibalas gelengan kepala oleh Fanya. Dan dengan melepaskan salah satu tangannya, Fanya mengetik balasan ucapan Zico tadi melalui ponselnya yang sedari tadi tergantung di lehernya.


Zico menghela nafas panjang setelah membaca kalimat di layar ponsel Fanya tadi.


"Ya sudah terserah kamu saja. Yang penting jam 11 kamu sudah harus istirahat. Mengerti sayang?" Fanya menganggukkan kepalanya yang otomatis membuat Zico tersenyum.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Selamat malam, beauty." Zico menyematkan kecupan di kedua tangan Fanya sebelum berpindah ke kening perempuan itu dengan durasi yang cukup lama.


Dan setelah kecupan itu ia lepaskan, tangan Zico mengusap lembut kepala Fanya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," pamit Zico yang kali ini dibalas dengan bahasa isyarat oleh Fanya tanpa peduli laki-laki itu paham atau tidak dengan arti bahasa isyarat yang tengah ia lakukan ini.


"Waalaikumussalam. Hati-hati dijalan dan selamat malam juga, prince."


Zico terkekeh melihat balasan dari Fanya itu. Untung saja beberapa hari belakangan ini ia rajin belajar bahasa isyarat jadi ia bisa sedikit memahami bahasa isyarat yang Fanya lakukan.


"Baiklah-baiklah aku akan berhati-hati dan terimakasih atas ucapan selamat malamnya. Aku pergi ya." Fanya menganggukkan kepalanya. Dan saat Zico melihat anggukan itu, ia beranjak dari depan Fanya menuju ke mobilnya.


Sebelum mobil itu melaju meninggalkan area panti, Zico menyempatkan dirinya untuk melambaikan tangannya yang tentunya dibalas oleh Fanya. Bahkan perempuan itu terus melambaikan tangannya sampai mobil Zico benar-benar tak terlihat dari pandangan matanya.


Fanya kini menurunkan tangannya dan tanpa melunturkan senyumannya, ia kembali masuk kedalam rumah panti tersebut, tapi baru saja ia menutup pintu dan memutar tubuhnya, ada sekitar lima perempuan yang tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan mata datar.


Fanya yang tak paham situasinya pun ia memincingkan salah satu alisnya seakan berkata, "Ada apa?"


Dan salah satu dari lima perempuan itu membalas, "Kita perlu penjelasanmu sekarang juga!"


"Penjelasan tentang apa?" tanya Fanya dengan bahasa isyaratnya. Ia benar-benar belum mengerti maksud mereka berlima.


"Tentang berita mengejutkan tadi. Tentang kamu yang tiba-tiba membawa seorang laki-laki dan laki-laki itu mengatakan jika kalian akan menikah. Pokoknya kamu harus menjelaskan secara detail ke kita. Tidak ada penolakan!" ucap Yusma.

__ADS_1


Fanya yang baru paham pun ia hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya acara packingnya akan tertunda sebentar karena ia harus menjelaskan kepada lima perempuan yang saat ini berdiri didepannya karena jika dirinya tidak menjelaskannya sekarang, ia yakin mereka pasti akan menerornya. Alhasil Fanya kini menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan dari permintaan mereka berlima. Dan terlihat mata kelimanya langsung berbinar dan tanpa diminta, mereka semua mengikuti langkah Fanya menuju ke arah sofa ruang tamu yang disana masih ada ibu Suci dan jangan lupakan Lesi yang sudah duduk manis disamping wanita paruh baya itu. Sepertinya Lesi juga ingin mendengar penjelasan darinya sama seperti ke-lima perempuan tadi.


__ADS_2