
Kini terhitung sudah 8 bulan Fanya dan Zico menempati rumah baru mereka ini. Dan selama satu bulan itu pula Fanya benar-benar seperti seorang Nyonya, dia tidak melakukan apapun untuk menghalau rasa bosannya sangat berbeda saat ia masih tinggal bersama mertuanya dulu. Memang ia dulu juga terlihat seperti nyonya muda di kediaman keluarga Abhivandya, tapi setidaknya saat ia disana, dirinya masih bisa membantu Mommy Della yang tengah memasak atau hanya sekedar menata hidangan di meja makan. Hanya itu saja memang yang ia lakukan selama tinggal bersama mertuanya tapi setidaknya hal-hal kecil itu mampu membuat dirinya tidak merasa bosan. Namun sekarang, lihatlah, hanya sekedar mencuci gelas sehabis ia gunakan pun tak ada seorang maid yang memperbolehkan dirinya melakukan kegiatan tersebut. Tentu saja larangan dari maid tak jauh-jauh atas perintah Zico, suaminya sendiri. Menyebalkan memang, tapi Fanya tak bisa berbuat apa-apa karena jika ia melakukan protes kepada Zico, dirinya yang tetap akan kalah.
Fanya menghela nafas panjang saat merasakan kejenuhan yang melanda dirinya.
Tubuhnya pun sedari pagi tadi setelah ia mengantar sang suami pergi bekerja, hanya rebahan terus menerus diatas kasur kamarnya.
"Huh, jenuh banget. Mau pergi keluar tapi gak tau mau kemana. Mau nyusul suami di kantor, takut ganggu. Tapi kalau di rumah terus begini tanpa melakukan apapun juga bosen. Ishhh terus aku harus gimana?" batin Fanya sembari menatap kearah langit-langit kamarnya.
Fanya terus terdiam hingga denting ponselnya mengalihkan perhatiannya.
Fanya segera mengambil ponselnya, melihat pesan yang baru saja masuk dari sang suami tercinta.
📨 : My Hubby
"Nanti siang kesini ya. Bawain makan siang sekalian. Tapi jangan dari masakkan koki di rumah atau makanan yang kamu beli di luar. Tapi masakan dari tanganmu sendiri."
Fanya mengerutkan keningnya membaca pesan dari suaminya tersebut. Agak tak menyangka dengan permintaan dari suaminya itu. Jari-jari Fanya bergerak membalas pesan dari suaminya itu.
^^^"Tumben minta dimasakin?"^^^
Tak berselang lama balasan dari Zico masuk.
__ADS_1
"Gak tau kenapa aku tiba-tiba pengen makan masakan kamu. Terserah kamu mau masakin apa yang penting hasil dari tanganmu bukan orang lain. Oh ya satu lagi sayang, buatin es buah sekalian ya. Kayaknya seger minum es buah buatan kamu di siang hari yang panas ini."
Fanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tak urung ia merasa senang karena setidaknya dengan keinginan sang suami bisa membuat dirinya tak jenuh lagi.
Fanya melirik kearah jam dinding di dalam kamar tersebut yang menunjukkan pukul setengah 11 yang artinya ia hanya punya waktu satu setengah jam lagi.
Fanya kini bangkit dari rebahannya, mencepol rambutnya asal. Lalu kemudian ia menyempatkan dirinya untuk membalas pesan dari Zico yang mengatakan jika ia menyanggupi keinginan suaminya tersebut. Setelahnya baru Fanya keluar dari dalam kamarnya dengan langkah riang gembira tak hanya itu saja senyum di bibirnya pun selalu mengembang.
Hingga saat ia sudah masuk kedalam dapur, para maid langsung mencegahnya saat ingin membuka kulkas khusus bahan makanan itu.
Fanya hanya bisa menghela nafas saat melihat dua maid sekaligus yang berdiri tepat di depan kulkas, menghalangi dirinya untuk mengambil bahan makanan yang ia butuhkan.
Fanya menggelengkan kepalanya. Lalu kemudian tangannya yang membawa ponsel ia arahkan ke dua maid tadi. Dua maid tersebut tampak saling pandang satu sama lain setelah melihat room chat tuan dan nyonya mereka. Lalu setelahnya, barulah mereka berdua menyingkir dari depan Fanya.
Fanya yang melihat para maid itu sudah menyingkir, ia kembali menyodorkan ponselnya yang sudah terisi beberapa kata disana.
"Tolong kalian beritahu koki masalah ini agar saya nanti tidak menjelaskan ke mereka dan menunda waktu saya lagi."
"Baik Nyonya akan kami sampaikan ke koki. Kalau begitu kami permisi," ucap maid tadi dengan sopan. Tentunya hanya dibalas anggukan serta senyuman dari Fanya. Walaupun dirinya memiliki kekurangan, tetapi bisa dikatakan dirinya dan para pekerja di rumah ini memiliki hubungan yang cukup dekat. Dan tentunya semua itu atas keinginannya yang tak mau siapapun tolak. Alhasil para pekerja di rumah itu menganggap Fanya sebagai teman tapi tanpa menghilangkan ke sopan santunan mereka kepada atasan mereka. Sehingga mereka masih memanggil Fanya dengan sebutan Nyonya.
Dan setelah dua maid tadi pergi, Fanya segara mempersiapkan bahan masakan yang akan ia masak untuk Zico. Lalu setelah dirasa cukup, Fanya segara menuju ke dapur. Di sana tak ada siapapun, mungkin gara-gara maid tadi yang sudah menyampaikan pesannya tadi kepada para koki untuk membiarkan Fanya menguasai dapur kali ini.
__ADS_1
Dengan perasaan senang yang membuncah, Fanya memulai aksinya.
Butuh waktu 1 jam lamanya Fanya menyelesaikan semua aktivitasnya. Termasuk dengan ia yang berdandan tapi sebelum pergi menemui Zico. Ia yang tampak cantik dengan balutan dress berwarna biru muda itu berjalan dengan membawa lunch bag yang berisi pesanan Zico ditangannya.
Sesampainya ia di depan pintu utama, ia melihat supir pribadinya yang sudah stand by disamping pintu dan kala ia melihat keberadaan Fanya, dengan sigap ia langsung membuka pintu mobil tersebut.
Tentu saja Fanya langsung masuk tapi sebelumnya ia memberikan senyuman sebagai ucapan terimakasih. Lalu setelahnya mobil itu membawa dirinya menuju ke kantor Zico.
Dan hanya membutuhkan waktu singkat, Fanya telah sampai di gedung pencakar langit tentunya milik sang suami. Dengan anggun Fanya berjalan memasuki area kantor tersebut. Tak sedikit dari karyawan kantor itu menyapanya yang lagi-lagi hanya dibalas dengan anggukan dan senyum dari Fanya.
Dan saat ia telah sampai di depan pintu besar yang berada di lantai paling atas, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia langsung membuka pintu ruangan tersebut.
Fanya mengerutkan keningnya kala ia tak melihat siapapun di dalam ruangan tersebut. Namun tak urung ia tetap masuk kedalam.
"Kok gak ada orang? Kemana dia?" tanya Fanya pada dirinya sendiri sembari menaruh barang bawaannya diatas meja santai di ruangan tersebut.
"Apa jangan-jangan dia masih ada urusan lagi di luar? Meeting gitu mungkin? Karena aku tadi juga gak lihat pak Baim di depan. Hmmm mungkin memang begitu. Ya sudah lah, aku tunggu saja sampai dia kembali."
Fanya tampak mengangguk-anggukkan kepalanya dan berniat untuk duduk di salah satu sofa di ruangan tersebut. Tapi belum juga tubuhnya menyentuh benda empuk tersebut, telinganya tak sengaja mendengar suara aneh dari balik pintu kamar pribadi Zico. Hingga membuat Fanya yang cukup penasaran, kini kembali berdiri dan mendekati pintu tersebut. Suara aneh itu semakin jelas terdengar di telinganya saat ia semakin mendekat kearah pintu kamar tersebut.
Fanya yang sudah benar-benar penasaran pun, tangannya bergerak memutar kenop pintu kamar tersebut. Dan saat pintu itu terbuka lebar, tubuh Fanya seketika mematung di ambang pintu tersebut. Dan suara pintu terbuka itu tentunya membuat dua orang yang berada di dalam kamar langsung menghentikan aksi mereka dan tatapan mata mereka menatap kearah sumber suara. Zico yang merupakan salah satu orang yang ada di dalam kamar itu terkejut bukan main melihat sang istri tengah berdiri di ambang pintu dengan tatapan lurus kearahnya.
__ADS_1