
Zico dan Fanya kini telah berada di dalam mobil menuju ke salah satu rumah sakit yang akan mereka jadikan tempat pemeriksaan kandungan Fanya. Awalnya Zico berniat memeriksa kandungan Fanya ini ke rumah sakit milik Adam yang tentunya ditangani langsung oleh dokter Ariana, namun saat mereka telah sampai di rumah sakit itu, Fanya enggan turun dari dalam mobil. Hingga perdebatan kecil tadi sempat terjadi. Sampai akhirnya Zico mengalah dan memilih untuk menuruti keinginan Fanya ketika istrinya itu mengatakan bahwa dirinya masih trauma ketika bertemu dengan dokter Ariana. Tentu saja Zico sempat terkejut tadi, tapi hanya sesaat saja sebelum ia memaklumi rasa takut Fanya terhadap dokter Ariana. Karena terus terang saja, bukan hanya Fanya saja yang merasa takut bahkan trauma dengan dokter perempuan itu melainkan Zico juga merasa hal yang sama. Bahkan ada rasa benci kepada Dokter Ariana karena tanpa bisa ia cegah, didalam hatinya sudah menganggap jika Dokter Ariana adalah penyebab semua calon buah hatinya meninggal. Padahal ia sudah tau jika semua itu sudah menjadi takdirnya. Tapi walaupun ada sedikit rasa benci, Zico tadi tetap berbuat membawa Fanya bertemu dengan dokter Ariana karena hanya dokter Ariana lah yang mengerti kekurangan Fanya dan belum tentu Dokter lain nanti akan paham dengan kekurangan Fanya ini dan Zico takut, dokter yang akan menangani Fanya justru mencemooh istrinya itu. Jadi itulah alasan terjadinya perdebatan kecil tadi sebelum akhirnya Zico mengiyakan keinginan Fanya.
Mobil yang dikendarai oleh Zico kini telah sampai di sebuah rumah sakit yang tak kalah besar dari rumah sakit milik Adam. Zico memilih rumah sakit itu karena ia pikir penanganan di rumah sakit ini tak kalah jauh dari rumah sakit milik Adam.
Zico kini turun terlebih dahulu setelah ia memarkirkan mobilnya. Kemudian ia berlari kecil menuju pintu disamping Fanya, membukakan pintu itu untuk sang istri tercinta.
"Hati-hati," ucap Zico sembari memegang lengan Fanya saat perempuan itu turun. Fanya yang mendapat perhatian pun ia tersenyum lalu saat dirinya sudah benar-benar turun, bibirnya bergerak, mengucapkan kata terimakasih kepada sang suami. Zico menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sebagai balasan atas ucapan dari Fanya tadi.
Kini sepasang suami-istri itu berjalan masuk kedalam ruang sakit disana. Karena mereka tak membuat janji terlebih dahulu dengan dokter kandungan, terpaksa mereka harus melakukan setiap rules yang berlaku di rumah sakit itu mulai dari mengambil nomor antrian untuk pendaftaran, melakukan pendaftaran hingga mereka di suruh mengantri lagi saat sudah berada di depan ruang khusus dokter Obgyn atau dokter kandungan yang kebetulan sudah ada 5 pasang suami-istri yang tengah antri terlebih dahulu satu Zico dan Fanya. Hal itu tentunya membuat Zico menghela nafas dengan mendudukkan tubuhnya yang lemas di kursi tunggu.
Fanya yang melihat hal itu pun ia terkekeh kecil sebelum ia ikut duduk disamping sang suami. Dan baru saja ia mendaratkan bokongnya, Zico langsung bersandar di bahunya.
"Setelah kita antri selama 1 jam di loket pendaftaran tadi. Sekarang kita di suruh antri lagi. Mana masih ada 5 orang yang belum periksa. Ck, kalau begini kita mau pulang jam berapa coba? Arkhhh aku benci mengantri," ucap Zico yang tentunya hanya bisa di dengar oleh Fanya saja karena ucapan dari Zico sangat lirih.
Fanya yang mendengar keluh kesah sang suami, tangannya bergerak, mengusap lembut kepala Zico sembari satu tangannya yang masih bebas ia gerakkan hingga membuat kata, "Sabar sayang. Mungkin tidak ada 2 jam giliran kita yang masuk nanti. Jadi sabar sebentar ya. Atau kalau kamu mau, kamu pulang saja dulu, atau jalan-jalan kemana gitu biar kamu tidak bosan, gimana?"
Zico menengadahkan kepalanya, menatap wajah Fanya yang hanya beberapa centi di atasnya.
"Sama kamu?"
Fanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kamu jalan-jalan sendiri. Toh kalau aku ikut, gimana dengan antrian pemeriksaanku nanti? Takutnya saat kita enak-enak jalan, namaku di panggil dan karena aku tidak ada, justru orang lain yang antri di belakang kita yang di periksa lebih dulu. Dan kalau kita sudah kembali, kita harus antri di belakang lagi. Memangnya kamu mau mengantri dari awal lagi?"
"Tidak. Aku tidak mau mengulang antrian lagi dan aku juga tidak mau meninggalkan kamu sendirian disini," ujar Zico.
__ADS_1
"Tapi kalau kamu tidak mau jalan-jalan, kamu nanti akan bosan."
Zico menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa kalau aku bosan yang penting aku tetap bersama kamu. Jadi aku akan tetap disini menemani kamu sampai waktu nama kamu di panggil," ucap Zico sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Fanya, ia memeluk tubuh sang istri dari samping tanpa mempedulikan tatapan orang lain disekitarnya. Bodoamat jika aksinya ini membuat itu semua orang disana, toh bukannya mereka juga membawa pasangan mereka masing-masing jadi kalau mereka iri dengan keromantisan dirinya dan Fanya, gampang saja mereka hanya perlu mempraktekkan apa yang mereka lihat kepada istri ataupun suami mereka masing-masing. Jadi Zico benar-benar tak peduli dengan situasi di sekitarnya.
Sedangkan Fanya, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan membiarkan Zico memeluk tubuhnya dengan kepala yang masih bersandar di bahunya.
...****************...
Waktu kini terus berputar dan benar saja seperti yang dikatakan oleh Fanya sebelumnya, tepat 1 jam setengah mereka menunggu akhirnya nama Fanya di panggil juga oleh suster.
"Atas nama nyonya Evanthe Fanya Zahira dimohon untuk masuk kedalam ruang pemeriksaan!" Panggilan keras itu tentunya membuat Zico yang tadinya memejamkan matanya, mata itu dengan seketika terbuka lebar. Ia pun segara menegakkan tubuhnya dengan merenggangkan otot-otot badannya sembari bergumam, "Huh akhirnya nama istri di panggil juga."
Zico menolehkan kepalanya kearah Fanya, yang telah berdiri terlebih dahulu darinya. Dan ketika Fanya ingin mengatakan sesuatu kepadanya, niatnya itu terhenti ketika tiba-tiba Zico berkata, "Aku ikut." Seolah-olah laki-laki itu bisa mengetahui pertanyaan darinya yang memang ingin bertanya apakah Zico mau ikut masuk atau tidak. Dan berhubung Zico berkata mau ikut, Fanya menganggukkan kepalanya. Lalu kini sepasang suami-istri itu berjalan masuk kedalam ruang pemeriksaan.
"Dengan nyonya Evanthe Fanya Zahira?" Fanya menganggukkan kepalanya.
"Silahkan duduk dulu Nyonya. Saya akan cek tensi darah nyonya terlebih dahulu." Fanya lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
Dan selama pemeriksaan itu, dokter yang di name tagnya bertuliskan Dokter Safitri Zalendra angkat suara kembali.
"Baru pertama kali cek kandungan kesini?" Fanya menganggukkan kepalanya.
Zico yang melihat dokter itu tak melihat kearah Fanya, ia yang sedari tadi diam, kini bersuara mewakili ucapan dari istrinya tadi.
__ADS_1
"Benar Dok, istri saya baru pertama kali periksa kesini. Dan saya harap dokter memaklumi jika istri saya hanya menjawab ucapan dokter dengan anggukkan, gelengan kepalanya atau bahkan tulisan tangan saja karena istri saya tercinta ini memiliki keterbatasan dalam berbicara tapi dia masih bisa mendengar baik ucapan dari orang lain. Jadi saya mohon dokter bisa memakluminya," ucap Zico panjang lebar. Tentu saja ucapan darinya itu berhasil membuat sang dokter kandungan terkejut, bahkan saking terkejutnya sampai-sampai kepala yang tadinya ia tundukkan kini ia tegakkan. Ada semburat rasa tak enak dari kedua mata dokter tadi ketika menatap kearah Fanya.
"Maafkan saya nyonya, saya tidak tau jika anda memiliki keterbatasan. Tapi nyonya tenang saja jika bersama dengan saya, nyonya tidak perlu menulis sebuah kalimat untuk bertanya atau sekedar berbincang-bincang dengan saya karena kebetulan sepupu saya juga memiliki keterbatasan yang sama dengan nyonya, jadi saya bisa bahasa isyarat. Tapi sekali lagi saya minta maaf karena tidak tau akan hal yang satu itu," ucap dokter Safitri merasa tak enak.
Dengan senyum lembutnya Fanya membalas dengan bahasa isyarat seperti yang di inginkan oleh dokter Safitri tadi.
"Tidak apa-apa Dok. Saya mengerti kok."
Dokter Safitri tampak menghela nafas lega. Ia pun kini membalas senyuman dari Fanya sembari melepas benda yang melingkar di lengan Fanya.
"Tensi darah anda normal, nyonya. Dan sekarang mari kita periksa kandungan anda. Silahkan berbaring di brankar sebelah sana nyonya." Dokter Safitri menunjuk ke sebuah brankar yang tak jauh dari meja kerjanya.
Tentunya perintah dari dokter perempuan itu langsung dijalankan oleh Fanya. Wanita itu beranjak menuju ke brankar tersebut lalu merebahkan tubuhnya disana dengan Zico yang berada di samping kirinya karena jika samping kanan takut akan mengganggu aktivitas dokter nantinya.
Dokter Safitri kini mengambil posisi, ia menyingkap baju yang dikenakan oleh Fanya setelah meminta izin kepada pasiennya.
"Terakhir menstruasi kapan?" tanya dokter Safitri sembari mengoleskan gel diatas perut Fanya sebelum nanti ia menempelkan alat USG di atas perut mulus itu.
"Bulan lalu, tanggal 4." Bukan Fanya yang menjawab melainkan Zico lah yang bersuara.
Dokter Safitri pun tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai respon atas ucapan dari Zico tadi.
"Baiklah kalau begitu, kita lakukan USG ya. Supaya jelas usia kandungannya." Sepasang suami-istri itu menganggukkan kepalanya.
Sedangkan dokter Safitri kini ia telah menempelkan alat USG di atas perut Fanya. Alat itu ia gerakkan mencoba mencari keberadaan kantung janin di dalam perut Fanya itu. Hingga saat ia berhasil menemukannya, dokter Safitri tersenyum lebar. Ia mengalihkan pandangannya dari layar monitor di depannya ke hadapan sepasang suami-istri itu yang terlihat jelas wajah mereka tampak menegang bahkan saat tatapan matanya jatuh ke tangan Fanya, senyuman dokter Safitri semakin melebar kala melihat tangan Fanya di genggaman erat oleh Zico. Sungguh pemandangan ini membuat hati dokter Safitri menghangat sekaligus gemas dengan pasangan suami-istri yang tengah mengumbar kemesraan di depannya.
__ADS_1
"Ini pasangan gemes banget. Jadi iri. Arkkhhhhhhh nanti sampai rumah harus minta paksu buat mesra-mesraan sama aku. Titik no debat!" Bukannya dokter Safitri fokus dengan pekerjaannya, ia justru dibuat gagal fokus dengan aksi sepasang suami-istri itu yang membuatnya gemas maksimal.