My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 104


__ADS_3

"Sayang, hey," ucap Zico dengan meraih salah satu tangan Fanya ketika ia tak mendapatkan jawaban apapun atas ucapannya tadi bahkan ia melihat istrinya malah melamun.


Fanya kini mengerjabkan matanya sebelum ia menatap lekat kearah sang suami dengan salah satu alis yang terangkat.


"Kamu kenapa sih bukannya balas ucapan aku malah ngalamun? Ada apa hmmm? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiran kamu?" Lagi, Fanya hanya terdiam dengan wajah yang tertunduk murung.


Zico yang melihat perubahan di wajah sang istri, ia menelisik mencoba menebak hal apa yang berhasil mengusik pikiran istrinya itu. Hingga Zico kini mengangguk-anggukkan kepalanya, sepertinya ia tau kekhawatiran yang tengah Fanya pikirkan kali ini.


"Jangan bilang kamu murung begini karena kamu takut kejadian di masa lalu terulang lagi? Kejadian saat kita mendapatkan kabar bahagia tentang kehamilanmu dan memberitahu ke keluarga kita tapi tidak berselang lama kita kehilangan calon buah hati kita? Begitu kan isi pikiranmu sekarang?" Tepat sekali, Zico benar-benar menebak isi pikiran Fanya dengan benar. Sehingga Fanya semakin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Keterdiaman kamu ini aku artikan bahwa apa yang telah aku katakan tadi memang benar adanya."


Zico menjeda ucapannya dengan helaan nafas kasar, sebelum ia kembali angkat suara.


"Tegakkan wajah kamu, tatap aku!" perintah Zico dengan nada suara yang terdengar tegas. Dan tentunya Fanya tak bisa mengabaikan perintah dari suaminya itu sehingga dirinya kini mengangkat kepalanya dengan mata yang takut-takut menatap manik mata Zico.


Fanya yang mendengar ucapan dari sang suami seketika kepalanya ia tundukkan lagi, tapi kini matanya menyorot tepat di perutnya yang sudah membuncit itu. Ia mengusap perutnya dengan lembut. Hatinya berdesir kala tangannya itu terus bergerak, mengusap-usap perutnya. Otaknya pun saat ini ikut berpikir, apa memang ini saat yang tepat dirinya mempublish kehamilannya kepada orang lain?


Cukup lama Fanya terdiam dan tentunya kali ini hanya dibiarkan begitu saja oleh Zico tanpa berbicara sepatah katapun, membiarkan Fanya berpikir sebentar hingga akhirnya ia melihat gerakan kepala Fanya yang semula menunduk kini tegak kembali.

__ADS_1


Terlihat wanita itu menghela nafas panjang sebelum ia menganggukkan kepalanya lalu salah satu tangannya bergerak, memberi bahasa isyarat untuk memberikan jawaban atas keinginan Zico tadi juga atas keputusan yang telah ia ambil.


"Setelah aku pikir-pikir, kamu memang benar. Tidak mungkin aku terus menyembunyikan kehamilanku ini sedangkan seiring berjalannya waktu perutku akan semakin membesar yang tentunya tidak mudah lagi untukku menyembunyikan kehamilanku ini. Aku juga tidak mungkin egois dengan mengenakan korset untuk menutupi perutku yang justru akan menyakiti anak-anakku. Aku juga tak ingin mereka di dalam sana mengalami tekanan atas ulahku yang terus-terusan menyembunyikannya. Jadi aku setuju dengan keputusanmu tadi. Kita beritahu keluarga kamu tentang kehamilanku ini. Dan kamu juga benar jika jalan hidup kita tidak selalu seperti masa lalu kita. Pasti ada saatnya kita terus mengalami yang namanya kebahagiaan, bukan kebahagiaan sesaat tapi kebahagiaan untuk selamanya."


Zico yang melihatnya balasan dari Fanya, ia tersenyum cerah. Ia tak sabar melihat ekspresi yang akan diperlihatkan oleh keluarganya saat mengetahui jika Fanya hamil kembali bahkan hamil bayi kembar. Pasti mereka sangat bahagia seperti dirinya dan Fanya.


"Terimakasih ya sayang, kamu sudah mau memutuskan keputusan yang aku yakini sangat berat untukmu. Dan mulai sekarang, jangan lagi berpikir yang aneh-aneh lagi ya sayang, jangan berpikir yang negatif tentang masa depan yang belum kita ketahui jalan hidup kita akan seperti apa. Jadi tugas kita saat ini hanya terus berusaha untuk saling membahagiakan satu sama lain dan membiarkan takdir yang akan menuntun kita di setiap waktunya. Entah itu takdir yang membuat kita untuk bersyukur dan tersenyum bahagia ataupun takdir yang membuat kita belajar dengan sedikit ada tangisan. Tapi yakinlah sayang takdir apapun yang nanti akan kita terima, selagi kita terus berpegangan tangan, kita bisa melewatinya bahkan dengan senyum yang terukir di bibir kita," ujar Zico dengan menyematkan sebuah kecupan di punggung tangan Fanya.


Sedangkan Fanya, ia yang mendengar kata-kata dari sang suami, matanya pun kini berkaca-kaca. Ia sungguh terharu saat mendengar kata-perkata yang keluar dari bibir Zico yang perlahan meyakinkan dirinya bahwa kebahagiaan telah menunggunya di masa depan. Jadi ia tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi bukan seperti ucapan suaminya tadi? Selagi mereka tetap bersama, bergandengan tangan dengan saling menguatkan satu sama lain, apapun masalah yang nantinya akan menerjang mereka berdua, mereka pasti akan bisa melewatinya. Ya, ucapan Zico tadi berhasil memotivasi Fanya, berhasil menghilangkan pikiran negatif yang selama ini bersarang di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2