My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 111


__ADS_3

Fanya perlahan melepaskan pelukan sang suami. Helaan nafas ia lakukan kala ia berhasil melepaskan diri dari sang suami sekaligus ia juga merasa lega karena pergerakannya tak membuat Zico terusik sedikitpun dari tidurnya.


Fanya sekali lagi melirik kearah Zico, memastikan jika memang suaminya itu sama sekali tak terbangun. Dan setelah dirasa aman, ia turun dari atas ranjang sembari meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa pegal setelah dipeluk oleh Zico selama 4 jam lamanya. Ya, selama itu memang karena saat Fanya ingin membebaskan diri, Zico terus saja terbangun yang mengakibatkan ia tak bisa kemana-mana pasalnya Zico akan semakin mengeratkan pelukannya.


Fanya berjalan menuju ke kamar mandi. Ia akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum menemui keluarga suaminya. Dengan cepat, Fanya menyelesaikan acara mandinya itu.


Fanya melirik kearah ranjang dimana tubuh Zico masih terbaring disana dengan kedua mata yang masih tertutup.


"Aman," batin Fanya.


Ia keluar dari dalam kamar mandi dengan cara mengendap-endap. Bahkan ketika membuka dan menutup pintu pun sebisa mungkin ia pelankan agar tak menimbulkan bunyi sedikitpun.


Lagi dan lagi Fanya menghela nafas kala ia berhasil keluar dari kamar tanpa mengusik Zico.


Saat Fanya ingin melangkahkan kakinya, remang-remang ia menangkap suara heboh tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Kerutan di keningnya pun terlihat sebelum ia memutuskan untuk mendekati sumber suara yang mengarah ke salah satu kamar yang berada tepat di samping kamar utama, alias kamar Fanya dan Zico.


Fanya menempelkan telinganya di pintu itu untuk memastikan pendengarannya tadi benar atau salah.

__ADS_1


"Tidak salah lagi, sumber suara itu berasal dari ruangan ini," batin Fanya.


Lalu tangannya kini bergerak, memutar kenop pintu tersebut. Perlahan ia buka pintu itu hingga matanya dibuat melebar sempurna saat melihat kondisi ruangan tersebut.


"Lho Fanya udah bangun ternyata. Sini, masuk sini," ucap Yola, orang yang pertama kali melihat kehadiran Fanya. Dan ucapan dari istri Adam itu membuat 2 orang lainnya yang tak lain adalah Vivian dan Zea menolehkan kepalanya ke arah pandang Yola.


Senyum lebar pun mereka perlihatkan hingga membuat Fanya turut tersenyum. Kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati ketiga perempuan itu dengan langkah penuh ke hati-hatian mengingat di lantai ruangan itu sudah bercecer banyak barang, entah itu gunting, lem, stiker, beberapa pilah kayu, dan masih banyak lagi.


Ketika Fanya telah sampai dihadapan ketiganya, ia merasakan elusan lembut di kepalanya yang dilakukan oleh Vivian.


"Kamu pasti penasaran kan kenapa ruangan ini sangat berantakan?" Fanya yang memang penasaran pun ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas pertanyaan dari Vivian tadi.


Fanya tampak tersenyum kearah Kakak iparnya itu sembari ia menganggukkan kepalanya, "Tidak apa-apa Kak. Dan sepertinya keputusan yang Kakak ambil sudah sangat benar. Adanya pintu penghubung itu memudahkan aku nantinya. Dan aku setuju atas keputusan Kakak dan yang lainnya untuk menjadikan ruangan ini sebagai kamar twins. Aku juga yakin Kak Aka juga setuju."


Ketiganya saling pandang satu sama lain, lalu dengan serempak ketiganya menghela nafas.


"Huh, syukurlah kalau begitu. Kakak kira kamu tadi akan marah sama kita-kita," ucap Vivian yang dibalas gelengan kepala oleh Fanya.

__ADS_1


"Syukurlah. Nah berhubung kita sudah mengantongi izin dari si pemilik rumah. Kita lanjutkan aksi kita yang sempat tertunda tadi. Dan kamu, Fanya. Kamu duduk saja ya lihatin kita. Jangan ikut bantu. Karena kalau kamu bantu kita dan ketahuan Jio, nyawa kita yang terancam nanti," ujar Yola dengan wajah penuh permohonan agar Fanya menuruti ucapannya.


Fanya yang melihat raut wajah lucu dari Kakak iparnya itu ia terkekeh pelan, setelah itu ia menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, kamu duduk di kursi itu ya." Yola menunjuk kearah salah satu kursi yang terlihat baru dan kelihatannya juga sangat nyaman. Fanya yang tadi mengikuti arah tunjuk Yola pun ia menganggukkan kepalanya. Tapi baru saja ia ingin melangkahkan kakinya, ia teringat sesuatu sehingga ia menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh kearah ketiga perempuan yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kak, mana Mommy dan Edrea? Kenapa mereka tidak ada disini sama kalian?" tanya Fanya penasaran. Tidak mungkin kan kalau dua orang itu sudah berangkat belanja. Namun jawaban dari Zea membuat Fanya melongo tak percaya.


"Oh Mommy sama Edrea ya. Mereka sudah berangkat buat belanja keperluan si twins sejak 2 jam yang lalu."


2 jam yang lalu berarti mereka berangkat pukul setengah 9 tadi. Astaga, kenapa sangat pagi sekali, batin Fanya tak habis pikir.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan masalah Mommy dan Edrea. Mereka memang begitu kalau lagi excited dengan sesuatu, seperti sekarang ini mereka excited menjadi orang pertama yang membelikan twins perlengkapan bayi. Jadi sebisa mungkin mereka akan melakukan lebih awal agar tidak ke duluan dengan yang lain. Pemikiran Mommy dan Rea memang diluar nalar dari dulu. Jadi jangan di pikir lagi. Dan ayo, Kakak antar kamu ke kursi," ucap Vivian lalu kemudian ia memegang salah satu lengan Fanya, menuntun adik iparnya itu menuju ke kursi yang ditunjukkan oleh Yola tadi.


"Anteng-anteng disini ya bumil," ucap Vivian sembari menepuk-nepuk puncak kepala Fanya pelan saat adik iparnya itu telah duduk manis di kursi nyaman tersebut. Lalu setelahnya, Vivian beranjak dari depan Fanya dan mulai bergabung dengan dua iparnya itu untuk memulai aktivitas mereka mendekorasi kamar baby twins.


Fanya yang disuruh duduk pun ia hanya bisa menatap kegiatan di depannya dengan sesekali tersenyum kala salah satu dari ketiga perempuan sibuk itu menatapnya dengan senyuman pula.

__ADS_1


Sungguh Fanya merasa bersyukur telah diberikan keluarga yang menerima dirinya apa adanya, tidak menghakiminya walaupun mereka tau asal usul dan kekurangan dirinya, sungguh Fanya tak ingin moments kehangatan ini segara berakhir. Ia ingin menerima kehangatan seperti ini untuk selamanya sampai dirinya menua.


__ADS_2