
Fanya mengerutkan keningnya kala melihat Zico tak membelokkan mobilnya masuk kedalam perumahan elit yang di dalamnya terdapat kediaman Abhivandya. Tapi laki-laki itu justru melewati perumahan elit itu. Hingga Fanya kembali dibuat bertanya-tanya saat Zico justru membelokkan mobilnya di perumahan yang sebenarnya tak terlalu jauh dari perumahan kediaman keluarga Abhivandya tadi.
Fanya yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya, ia menepuk pelan lengan Zico hingga membuat Zico mengalihkan pandangannya sekilas kearah Fanya.
"Kenapa sayang?" tanya Zico dengan lagi dan lagi mencium punggung tangan Fanya.
Dengan lincah tangan Fanya mengetik kata demi kata sebelum ponselnya yang sudah terdapat tulisan yang mewakili dirinya untuk bertanya kini ia sodorkan kearah Zico.
Tentu saja Zico menolehkan kepalanya kearah ponsel sang istri dan mulai membaca tulisan dari Fanya itu.
"Kita mau kemana? Kenapa kita tidak langsung pulang saja?"
Zico tersenyum, lalu menatap sekilas kearah Fanya yang hanya beberapa detik saja sebelum kembali menatap kearah jalan di depannya. Namun tak urung, Zico menjawab ucapan dari sang istri.
"Kita tidak mau kemana-mana sayang. Kita memang mau pulang ini." Fanya semakin di buat bingung akan balasan dari Zico tadi.
Dan kebingungan Fanya tak sengaja Zico lihat hingga membuat laki-laki itu terkekeh gemas.
"Nanti kamu juga akan tau sayang. Jadi jangan bingung seperti itu," ujar Zico yang hanya dibalas helaan nafas dari Fanya. Dia tak lagi membalas ucapan dari Zico dan memilih untuk diam saja sembari tatapannya terus ia alihkan ke pemandangan di sebrang jalan yang terlihat rumah-rumah indah nan mewah. Tentunya Fanya yang melihat kemewahan di perumahan itu yang jika dibandingkan dengan perumahan kediaman keluarga Abhivandya, perumahan ini jauh lebih mewah dari perumahan keluarga Abhivandya, berdecak kagum melihat keindahan yang di setiap rumahnya terdapat ciri khas masing-masing. Dan tentunya sudah bisa Fanya tebak, jika penghuni kompleks perumahan ini merupakan orang-orang hebat.
Fanya sempat terkejut kala mendengar suara klakson dari mobil yang saat ini ia tumpangi. Sampai-sampai ia memelototkan matanya kearah sang suami.
__ADS_1
"Oh apa kamu terkejut sayang? Maaf aku tidak sengaja. Maaf ya," ujar Zico tulus dengan memberikan kecupan berulang kali di tangan Fanya. Fanya hanya bisa menghela nafas namun tak urung ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari perintah maaf sang suami. Dan balasan dari Fanya tadi bertepatan dengan pintu gerbang di depan mobil itu terbuka. Saat itu pula Zico kembali menjalankan mobilnya.
Sedangkan Fanya, ia melongo melihat rumah berlantai tiga di depan sana yang sangat-sangat mewah. Bahkan saking kagumnya, sampai-sampai ia tak menyadari jika Zico telah keluar dari dalam mobilnya lalu laki-laki itu berlari mengitari mobilnya menuju ke pintu tepat disamping Fanya.
Ia membukakan pintu untuk sang istri sembari berucap, "Welcome home, sayang."
Fanya mengerjabkan matanya, dan dengan gerakan slow mo ia menatap kearah Zico. Entah kenapa dirinya seperti orang bodoh sehingga tidak bisa mencerna ucapan dari sang suami tadi.
Zico yang melihat keterdiaman Fanya dengan bibir yang terbuka pun ia terkekeh gemas. Tangannya terulur, membantu Fanya menutup bibir istrinya tersebut sembari berkata, "Tutup mulutmu, sayang. Takut ada lalat yang masuk nantinya."
Ucapan dari Zico tadi seolah menyadarkan Fanya dari keterdiamannya tadi, ia pun segara memukul pelan lengan Zico sebagai balasan atas ucapan dari sang suami yang menuntutnya sangat menyebalkan itu. Zico yang mendapat pukulan itu, ia lagi-lagi terkekeh lalu ia segara menggeser tubuhnya saat melihat Fanya ingin turun dan dalam mobil tersebut.
Mata Fanya terus bergerak, menatap kearah sekelilingnya. Fanya sangat yakin jika si pemilik rumah itu adalah orang yang super kaya, bukan hanya terlihat dari rumah mewah dengan halaman luas saja melainkan Fanya juga melihat kearah garasi yang terparkir banyaknya mobil dan di garasi lainnya terdapat motor sport. Gak hanya itu saja saat Fanya menatap kearah pintu utama, ia lihat banyaknya maid yang berjejer rapi seperti tengah menyambut sang tuan rumah.
Tunggu, apa tadi? Menyambut tuan rumah? Tunggu sebentar, kalau tidak salah Fanya tadi mendengar suaminya yang berkata, "Welcome home, sayang."
"Apa? Tidak mungkin kan kalau rumah ini?" ucap Fanya menggantung didalam hatinya. Karena ia saat ini langsung menatap kearah Zico yang ternyata sedari tadi menatapnya.
Dengan segara Fanya menggerakkan tangannya berkata, "Kita ada di rumah siapa?"
Fanya hanya ingin membuktikan jika ia tak salah dengar tadi.
__ADS_1
Sedangkan Zico, ia mengetuknya keningnya.
"Lah kan tadi aku sudah jelas mengatakannya sayang. Kamu tidak dengar ya apa yang aku katakan tadi?" Dengan tatapan polosnya Fanya menggelengkan kepalanya yang membuat Zico hanya bisa bersabar.
Zico menggenggam kedua tangan Fanya.
"Rumah ini, rumah yang ada di hadapan kita sekarang ini adalah rumah kita berdua sayang. Mulai sekarang kita akan tinggal disini," ucap Zico menegaskan siapa pemilik rumah tersebut.
"Hah? Rumah ini rumah kita?"
Zico menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu tidak suka dengan rumah ini? Jika kamu tidak suka, kita bisa cari rumah lainnya yang sesuai dengan rumah impian kamu." Tentunya ucapan dari Zico tadi langsung dibalas gelengan kepala oleh Fanya. Entah memang kebetulan atau tidak, rumah impian yang sejak kecil Fanya impikan itu sama persis dengan rumah dihadapannya ini.
"Tidak bukan begitu maksudku. Jujur saja aku sangat suka dengan rumah ini. Tapi bukannya Mommy Della tidak mengizinkan kita untuk keluar dari kediaman keluarga utama kamu?"
"Untuk masalah Mommy sudah aku tangani, sayang dan hasilnya Mommy mengizinkan kita tinggal berdua dengan syarat jarak rumah kita dengan rumah utama tidak terlalu jauh. Jadi berhubung aku punya rumah ini, ya kita tinggal disini saja. Dan aku bersyukur kamu ternyata suka dengan rumah ini," ujar Zico. Ia sebenarnya takut jika Fanya tidak menyukai rumah baru mereka. Tapi syukurnya Fanya justru suka dan hal itu berhasil membuat hati Zico merasa lega. Dan untuk masalah Mommy Della, memang sangat sulit meminta izin dirinya membawa Fanya ke rumah baru mereka ini bahkan sempat terjadi keributan kecil sebelum Daddy Aiden menengahi keributan itu. Dan berakhir mereka melakukan diskusi dengan Zico yang memberikan alasan mereka harus pergi dari kediaman utama karena ia tak ingin Fanya kembali bersedih mengingat masa-masa wanita itu mengandung sebelum keguguran. Sebenarnya itu bukan hanya alasan semata melainkan kekhawatiran dari diri Zico. Dan sepertinya kedua orangtuanya setuju, sehingga mereka memberikan izin Zico membawa Fanya ke rumah pribadi mereka sendiri dengan alasan yang sama seperti yang Zico katakan kepada Fanya tadi.
"Sudah yuk, tanya-tanyanya nanti saja. Kita masuk dulu ya sayang, pegel juga nih lama-lama berdiri begini," ujar Zico dengan mengibas-ibaskan kakinya yang sedikit kesemutan.
Fanya yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya namun tak urung ia tersenyum kecil sebelum dirinya mengiyakan ajakan dari sang suami. Sehingga kini sepasang suami-istri itu melangkahkan kaki mereka masuk kedalam rumah baru keduanya dengan sambutan para maid yang dengan serentak membungkukkan tubuh mereka.
__ADS_1