My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 56


__ADS_3

"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Akalanka Zico Bagaskara Abhivandya bin Yuda Bagaskara dengan Evanthe Fanya Zahira binti Jazelin Zahira dengan maskawin 20 gram emas, 12 gram berlian dan uang tunai dua ribu dua puluh dua rupiah dibayar tunai!" ucap sang wali hakim dengan sangat lantang.


Zico tampak mengambil nafas dalam-dalam lalu dengan menutup matanya ia berucap, "Saya terima nikah dan kawinnya Evanthe Fanya Zahira binti Jazelin Zahira dengan maskawin tersebut dibayar tunai!"


Zico berhasil mengucapakan kalimat kabul itu hanya dengan satu kali tarikan nafas dan tak berselang lama setelah ia mengatakan ijab kabul tersebut terdengar suara sang penghulu, "Bagaimana para saksi, sah?" tanyanya.


"SAH!" teriak semua orang yang menyaksikan acara sakral tersebut bahkan Edrea dan Azlan yang melihat acara ijab kabul melalui video call yang turut heboh mengatakan kata sah untuk pernikahan Zico.


Sedangkan Zico, ia yang tadi masih menutup matanya rapat-rapat karena takut jika apa yang ia ucapkan tadi salah yang berakhir pernikahannya dengan Fanya tidak sah kini membuka matanya yang berkaca-kaca setelah dirinya mendengar teriakan orang-orang tadi.


Bahkan Zico masih tak percaya jika ia berhasil mengatakan kalimat ijab kabul tanpa kendala padahal dari kemarin ia menghafal, ia selalu saja salah tapi syukurnya saat acara dilangsungkan justru ia di lancarkan dalam berucap dan ia sangat-sangat bersyukur akan hal tersebut.

__ADS_1


Daddy Aiden yang melihat Zico tengah meneteskan air matanya pun ia dengan sigap mengulurkan sapu tangannya kearah sang putra yang tentunya langsung diterima oleh Zico dengan senyuman di bibirnya kala tatapan matanya bertemu dengan mata Daddy Aiden. Kemudian setelahnya, mereka dengan khusuk mendengar doa-doa yang dibacakan oleh sang penghulu sampai selesai.


Dan bersamaan dengan pelafalan doa tadi usai, pintu ruangan tersebut terbuka. Semua pasang mata langsung mengalihkan pandangan mereka kearah pintu dimana disana terlihat dua orang perempuan dengan senyum yang mengembang di bibir mereka.


Mata Zico tak berkedip saat melihat seseorang yang berada di ambang pintu. Orang itu adalah Fanya, perempuan yang sudah sah menjadi istrinya beberapa menit yang lalu. Perempuan itu tampak cantik dan anggun dengan gaun putih yang sangat pas sekali di tubuhnya.


Daddy Aiden yang melihat sang putra tak berkedip bahkan bibirnya sampai melongo, ia menyenggol lengan Zico kemudian ia mendekatkan wajahnya sampai disamping telinga sang putra lalu ia berbisik, "Tutup mulutmu Jio jangan sampai air liurmu menetes."


Bisikan dari Daddy Aiden tadi berhasil menyadarkan Zico. Laki-laki itu langsung mengatupkan bibirnya seperti yang diperintahkan oleh sang Daddy. Namun tak urung ia menolehkan kepalanya kearah Daddy Aiden yang tengah terkekeh geli. Zico yang melihat hal tersebut pun ia hanya bisa mendengus kesal. Walaupun memang ia akui jika saja Daddy Aiden tadi tidak memperingati dirinya untuk segera menutup mulutnya, ia yakin air liurnya yang tadi sudah berada di ujung bibirnya menetes dan akan membuat dirinya malu setengah mati nantinya. Tapi Zico tetap kesal saat melihat tawa Daddy Aiden yang terlihat seperti mengejeknya. Namun rasa sebal Zico musnah seketika kala ia kembali mengalihkan pandangannya kearah Fanya yang kini sudah duduk tepat disampingnya.


Sang penghulu tersenyum lalu tangannya kini terulur kearah Zico. Zico yang melihat hal tersebut pun membalasnya.

__ADS_1


"Selamat atas pernikahan kalian. Saya doakan semoga langgeng sampai kakek nenek, sampai maut memisahkan. Jangan ada kata cerai ya karena perceraian sangat dibenci oleh Allah. Semoga sakinah mawadah warahmah untuk pernikahan kalian dan semoga segera diberi momongan. Sekali lagi selamat," ucap sang penghulu ikut berbahagia.


"Terimakasih atas doanya, Pak," balas Zico tak lupa dengan senyumannya. Sang penghulu tadi menganggukkan kepalanya lalu tangannya yang sudah lepas dari genggaman tangan Zico beralih kearah Fanya. Fanya membalasnya dengan senyum di bibirnya sembari menganggukkan kepalanya saat penghulu tadi mengucapakan selamat.


"Sekarang silahkan nak Fanya menyalami tangan nak Zico," ucap sang penghulu memberikan titahnya.


Fanya hanya menganggukkan kepalanya lalu ia memutar posisi duduknya menjadi menghadap kearah Zico begitu juga Zico, ia melakukan apa yang Fanya tadi lakukan hingga saat ini keduanya saling berhadapan. Fanya mengulurkan tangannya tentunya dengan senang hati Zico membalas uluran tangan itu.


Fanya kini mencium punggung tangan Zico yang sudah sah menjadi suaminya. Sedangkan Zico, ia memposisikan tangan kirinya tepat di kepala Fanya. Laki-laki itu tampak membaca doa yang tentunya masih didengar oleh Fanya sehingga perempuan itu memejamkan matanya sampai Zico selesai membacanya doa, barulah ia menegakkan kepalanya dan saat itu juga, Zico langsung mengecup lama keningnya yang lagi-lagi membuat Fanya menutup matanya.


Saat Zico sudah menjauhkan bibirnya dari kening Fanya, bukannya ia langsung kembali berdiri tegak, laki-laki itu justru menyatukan keningnya dengan kening Fanya sembari ia berkata, "Tetaplah berada di sisiku dalam keadaan apapun. Aku tidak bisa menjamin jika aku bisa menjadi suami yang sempurna untukmu tapi aku bisa menjamin jika kamu akan selalu bahagia hidup bersamaku. Evanthe Fanya Zahira, terimakasih sudah mau menerimaku menjadi suamimu, menjadi kepala keluarga di dalam rumah tanggamu dan terimakasih sudah memilihku untuk menjadi pelabuhan terakhir cintamu. Evanthe Fanya Zahira, aku Akalanka Zico Bagaskara Abhivandya menyatakan jika aku mencintaimu dengan sangat dalam. Jangan pernah berniat meninggalkanku karena kamu separuh hidupku, kamu hidupku dan kamu harta berharga yang aku punya di dunia ini. Jika kamu pergi dariku maka aku juga akan pergi dari dunia ini karena lebih baik aku mati daripada harus kehilanganmu. Evanthe Fanya Zahira, aku benar-benar sangat mencintaimu."

__ADS_1


Fanya yang mendengar ucapan panjang lebar yang dikatakan oleh suaminya ia sempat terkejut sekaligus terharu. Sebegitu besarnya kah cinta suaminya kepadanya sampai-sampai ucapan dari laki-laki itu seperti menyatakan jika seluruh hidupnya diberikan untuk Fanya seorang. Demi apapun Fanya merasa jika dirinya sangat berharga sekarang padahal dulu ia menganggap ia hanyalah sampah yang tak pernah ternilai harganya sama dengan nasibnya yang dibuang oleh kedua orangtuanya. Ia merasa jika ia tidak beruntung, namun ternyata dia sadar jika kehadiran Zico didalam hidupnya adalah keberuntungan yang sangat besar untuknya. Dan ia berjanji dengan dirinya sendiri jika ia akan berusaha menjadi istri terbaik untuk Zico dan ia juga berjanji menyerahkan segalanya yang ia punya hanya untuk Zico seorang.


Fanya sudah tak kuat untuk menahan rasa harunya, ia langsung memeluk tubuh sang suami yang langsung di sambut dengan tepuk tangan dari seluruh tamu undangan. Sedangkan Zico, laki-laki itu tersenyum sembari tangannya bergerak membalas pelukan dari sang istri tercinta tak kalah erat dari pelukan yang Fanya berikan kepadanya.


__ADS_2