
Setelah Zico dan Fanya tau jika Fanya tengah mengandung, mereka tak juga langsung memberitahu berita gembira itu kepada keluarga besar Abhivandya tentunya itu semua atas permintaan Fanya. Wanita itu hanya takut saat ia memberitahu kepada mertuanya di awal kehamilannya dan kehamilannya itu kembali gagal, ia takut mengecewakan keluarga suaminya untuk yang kesekian kalinya. Sehingga sampai usia 3 bulan ini, seluruh keluarga Abhivandya tidak ada yang tau menahu kabar bahagia itu. Bahkan jika mereka mengadakan acara keluarga yang menyuruh seluruh anggota keluarga Abhivandya datang tak terkecuali Fanya dan Zico, Fanya sengaja mengenakan pakaian yang over size di tubuhnya karena jika tidak, pasti kehamilannya sudah di ketahui oleh keluarga Abhivandya sejak awal.
Dan di masa kehamilannya itu, Zico lebih posesif kepadanya. Seluruh pekerjaannya pun ia kerjakan di rumah. Ia tak mau kecolongan untuk yang kesekian kalinya sehingga ia harus lebih memperhatikan Fanya dari dekat. Seperti sekarang ini, Fanya yang pergi ke kamar mandi di sebuah rumah sakit pun Zico menunggu tepat di depan pintu kamar mandi.
Saat pintu terbuka dan muncul lah Fanya dari balik pintu, Zico langsung memeluk pinggang Fanya secara positif.
"Tidak ada keluhan apapun kan?" tanya Zico.
Fanya memutar bola matanya malas. Ayolah ini bukan satu kali saja Zico bertanya dia memiliki keluhan atau tidak, pasalnya sejak dia tau jika sang istri tengah hamil, ia selalu bertanya seperti yang dia tanyakan tadi dan karena hal itu, Zico justru terlihat seperti seorang dokter pribadi Fanya.
"Sayang, jawab ih. Ada keluhan gak?" tanya ulang Zico kala ia tak mendengar balasan dari Fanya.
Fanya menghela nafas, namun tak urung ia membalas ucapan dari Zico tadi, "Tidak. Aku tidak merasakan keluhan apapun. Toh Dokter Safitri tadi juga bilang kalau si twins baik-baik saja di dalam. Jadi stop lah jangan tanya aku punya keluhan apa."
Fanya yang semenjak hamil memiliki mood yang setiap saat bisa berubah itu pun kini cemberut kepada sang suami hanya karena pertanyaan yang tersirat akan kekhawatiran dari Zico tadi yang justru membuat wanita itu badmood dalam waktu dekat.
"Ya kan aku hanya tanya saja sayang. Aku juga khawatir kalau kamu dan twins kenapa-napa. Tapi setelah kamu jawab kalau kamu tidak merasakan keluhan apapun, aku merasa lega," balas Zico yang hanya dibalas anggukan oleh Fanya.
Zico yang melihat anggukkan itu namun wajah Fanya masih cemberut, ia menghela nafas panjang. Sudah tidak terkejut melihat Fanya yang dikit-dikit marah ataupun ngambek kepadanya karena hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari Zico. Tapi tenang saja, Zico tau apa yang bisa membuat mood istrinya balik lagi yaitu dengan...
__ADS_1
"Sayang mau es krim?" tanya Zico dan saat Fanya menatap ke arahnya, ia bisa melihat binar bahagia didalam mata cantik itu. Dan tanpa menunggu lama, Fanya menganggukkan kepalanya.
"Tapi sebelum itu, aku mau kamu tersenyum dan jangan cemberut lagi. Gimana? Kamu mau?" tanya Zico dengan menghadap kearah Fanya saat mereka telah sampai di parkiran rumah sakit tepat di samping mobil Zico sendiri.
Dengan senang hati Fanya menuruti apa yang di perintahkan oleh Zico tadi. Bibir yang awalnya maju beberapa senti kedepan, kini bibir itu berganti dengan senyuman.
Senyuman dari Fanya tentunya berhasil membuat Zico ikut tersenyum. Tangannya bergerak untuk mengelus kepala Fanya dengan lembut.
"Good girl. Sekarang kamu masuk dan kita berangkat ke kedai es krim," ujar Zico lalu ia membukakan pintu mobil untuk istrinya tercinta yang langsung di masuki oleh Fanya.
Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, Zico menutup pintu di samping Fanya dan dengan senyum yang semakin lebar karena dengan sebuah es krim ia bisa membujuk istrinya yang lagi badmood, ia berjalan menuju pintu samping kemudi. Lalu saat ia sudah masuk, ia mulai menjalankan mobilnya menuju ke sebuah kedai es krim yang selama 3 bulan belakangan ini menjadi langganan mereka berdua.
Sembari menikmati es krim yang telah berada di hadapan keduanya, ahhh tidak, lebih tepatnya Fanya saja yang menikmati es krim itu karena Zico, ia memilih memperhatikan istrinya yang dengan lahap memakan makanan dingin itu dan membiarkan es krim miliknya meleleh begitu saja.
Fanya yang merasa dirinya diperhatikan pun ia mengalihkan pandangannya kearah sang suami dengan salah satu alisnya yang terangkat seolah-olah alis itu mewakilinya untuk bertanya, "Kenapa?"
Tentunya Zico yang paham pun ia menggelengkan kepalanya dengan senyum di bibirnya.
"Tidak ada apa-apa sayang. Aku menatapmu karena aku terpesona akan kecantikanmu," ujar Zico terselip sebuah gombalan dibalik kata-katanya tadi.
__ADS_1
Sedangkan Fanya, ia memutar bola matanya mendengar gombalan maut dari sang suami yang sialnya justru membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Zico yang melihat wajah sang istri tersipu pun ia terkekeh geli.
"Gemes banget sih," ucap Zico sembari mengacak rambut Fanya dengan gemas. Yakinlah saat ia melihat wajah Fanya yang memerah, ingin sekali ia memakan istrinya saat ini juga.
Fanya bukannya dia marah, ia malah semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang ia yakini saat ini sudah semakin memerah dari sebelumnya.
Zico yang merasa kasihan kepada sang istri pun akhirnya ia menghentikan aksi menggodanya tadi dengan diakhiri hembusan nafas guna meredakan tawanya.
"Lanjutkan makannya sayang. Saltingnya di lanjutkan nanti lagi," ujar Zico sembari merapikan rambut Fanya yang seperti singa itu karena ulahnya.
Fanya yang mendengar penuturan sang suami, ia mendelik kearah Zico. Ayolah dirinya saat ini tengah malu, bisa-bisanya ia salah tingkah di waktu yang tidak pas begini, apalagi di depan banyak pasang mata yang menatap kearah dirinya dan Zico.
Tapi sepertinya suaminya itu tidak memperdulikan tatapan orang-orang disekitarnya, lihat saja dia saat ini justru terus menatap kearahnya dengan senyum manis seakan-akan mereka berdua saja yang tinggal di dunia ini tanpa perduli tatapan iri semua pengunjung di kedai es krim ini.
Sedangkan Fanya yang sudah kepalang malu, ia memilih kembali melanjutkan aksi menikmati es krimnya tentunya dengan tundukkan kepalanya. Hingga tak berselang lama, suara Zico kembali masuk kedalam indra pendengarannya.
"Sayang, usia kandungan kamu sekarang sudah 3 bulan, perut kamu pun juga sudah membuncit. Dan semakin lama perut kamu akan semakin membesar bersamaan dengan usia kandungan kamu bertambah yang tentunya saat perut kamu sudah benar-benar besar, kamu tidak bisa lagi menyembunyikan kehamilan kamu kepada orang lain terutama ke keluarga kita sendiri. Jadi sayang, apa tidak lebih baik kita kasih tau mereka sekarang juga? Toh kata dokter Safitri tadi tidak ada yang perlu di cemaskan karena kandungan kamu baik-baik saja. Lagian sayang, kamu bukan hamil di luar nikah yang harus kamu sembunyikan kepada orang lain tentang kehamilanmu ini. Kehamilanmu ini bukan sebuah aib sayang. Jadi aku mohon kita beritahu mereka sekarang ya, supaya mereka juga bisa ikut menjaga kamu dan twins," pinta Zico yang justru membuat Fanya diam seribu bahasa.
__ADS_1