
"Cepatlah Kak. Tolongin Kakak cantik. Kasihan dia nangis terus dari tadi!" teriakan seorang anak kecil remang-remang masuk kedalam indra pendengaran Cheasea. Namun Cheasea masih berada di dalam posisinya, ia tak berpikir jika ucapan dari anak kecil itu ditujukan untuknya. Padahal ucapan anak kecil itu memang untuknya.
Anak kecil itu tak lain dan tak bukan anak laki-laki yang ditabrak oleh Cheasea terus menyeret tangan seseorang yang ia panggil Kakak.
"Ish Kakak jalannya lama!" teriak anak kecil itu merasa kesal.
"Ck, sabar lah. Lihat nih tali sepatu Kakak lepas. Kalau Kakak jalan cepat yang ada Kakak nanti jatuh gimana coba dan kaki Kakak berdarah seperti kakimu tadi? Memangnya kamu mau mengobati luka Kakak sedangkan kamu saja takut dengan darah," balas orang tersebut yang membuat anak laki-laki itu dengan seketika menghentikan langkahnya, ia pun memutar tubuhnya hingga menghadap kearah sang Kakak dengan kerucutan di bibirnya. Dan tanpa mengucapakan sepatah kata, ia melepaskan genggaman tangannya dari lengan Kakaknya lalu berlari mendekati Cheasea yang jaraknya hanya beberapa langkah dari tempatnya tadi. Ia tak ingin memaksa Kakaknya itu untuk membantu menenangkan perempuan yang baru saja ia temui. Ia berpikir jika dirinya juga bisa menenangkan perempuan itu sendiri tanpa bantuan Kakaknya.
Sedangkan orang dewasa itu menggedikkan bahunya, kemudian ia membenarkan tali sepatunya yang tadi sempat lepas lalu setelahnya ia baru mendekati adiknya yang berdiri didepan seseorang yang tengah duduk di atas rumput dengan menyembunyikan wajahnya dilipatan lengannya. Adiknya itu hanya diam saja sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mungkin adiknya itu bingung harus berbuat apa.
Hal itu membuat orang dewasa itu terkekeh dan saat dirinya sudah berada di samping sang adik, dengan jahil tangannya menoyor kepala adiknya itu hingga membuat anak laki-laki tersebut mengaduh.
"Arkhhh. Ck, jangan noyor kepala. Bikin bodoh tau gak sih!" omel anak laki-laki itu yang hanya di balas gedikkan bahu oleh orang dewasa tersebut sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang duduk di bawah mereka.
Orang dewasa itu mengerutkan keningnya lalu ia menatap sang adik sembari menyenggol lengan anak laki-laki tersebut.
"Apa?" tanya anak laki-laki itu dengan galak.
"Haish, biasa aja kali. Kakak cuma mau tanya apa dia orang yang kamu maksud tadi?" Anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kasian kan?" tanyanya.
"Hmmm. Tapi kenapa dia nangis?" tanya orang dewasa itu.
Anak laki-laki tersebut memutar bola matanya malas.
"Kalau aku tau, aku juga tidak akan menyuruh Kakak buat bantu menenangkan Kakak cantik ini," ucap anak laki-laki itu yang membuat orang dewasa tersebut berdecak kesal.
Namun sesaat setelahnya, ia menjongkokkan tubuhnya dihadapan Cheasea yang masih setia dengan posisinya. Ia menggigit bibir bawahnya, sebenarnya dirinya juga tidak tau bagaimana caranya menenangkan orang yang tengah menangis apalagi orang itu bukanlah orang yang ia kenal.
Tapi karena injakan dari sang adik, kode agar dirinya segera bergerak alhasil ia memilih untuk menarik tubuh perempuan itu kedalam dekapannya. Tentu saja apa yang dia lakukan membuat Cheasea yang tadi sibuk dengan tangisannya terkejut dan saking terkejutnya ia menghentikan tangisannya sebelum ia menolehkan kepalanya kearah samping tepat saat orang itu juga menatap kearahnya. Dan betapa terkejutnya Cheasea saat tau jika yang memeluknya adalah seorang laki-laki. Tapi belum juga ia protes ataupun memberikan pemberontakan, pelukan dari laki-laki itu semakin mengerat bahkan wajahnya yang tadi sempat ia perlihatkan kearah Cheasea ia arahkan lurus kedepan.
"Jangan memberontak. Saya tidak akan macam-macam denganmu. Saya hanya ingin meminjamkan bahu saya untukmu. Jadi menangis lah, tumpahkan segala kesedihanmu. Jangan segan maupun malu dengan saya. Anggap saja saya dan kamu sudah saling kenal," ucap laki-laki tersebut yang membuat bibir Cheasea kembali bergetar, kemudian tanpa aba-aba air matanya menetes membasahi pipinya. Bahkan Cheasea saat ini membalas pelukan dari laki-laki itu.
"Aku kan tadi suruh Kakak buat membantu menenangkan Kakak cantik bukan malah menyuruh dia memeluk Kakak cantik. Ck, dasar buaya darat, mencari kesempatan dalam kesempitan," gumam anak laki-laki tersebut terus menggerutu, memarahi sang Kakak.
Beberapa menit telah berlalu, tangis Cheasea pun sudah mereda tanda jika perempuan itu sudah tenang. Perlahan pelukan mereka pun terlepas.
Cheasea tampak menundukkan kepalanya, merasa canggung dengan laki-laki yang sudah meminjamkan bahunya. Begitu pula dengan laki-laki tadi. Ia langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Beberapa saat suasananya hanya sepi hingga suara anak laki-laki yang sedari tadi mereka abaikan terdengar.
__ADS_1
"Kakak cantik." Cheasea menengadahkan kepalanya hingga ia bisa melihat anak kecil yang ia tabrak tadi.
"Kakak kenapa sedih sih? Apa masalah yang sedang Kakak hadapi sangat berat?" tanyanya sok tau jika Cheasea tengah mendapat ujian yang berat.
Cheasea tersenyum dan kedua tangannya kini bergerak menangkup kedua pipi anak kecil tersebut.
"Kakak tidak kenapa-napa, ganteng. Terimakasih atas perhatian yang sudah kamu berikan ke Kakak. Kakak menangis karena Kakak merasa sedih saja. Dan kesedihan yang Kakak rasakan sekarang sudah hilang. Ahhh Kakak hampir lupa. Gimana? Apa kamu terluka setelah Kakak tabrak tadi?" tanya Cheasea mengecek tubuh anak laki-laki itu dari atas sampai bawah. Sampai matanya melihat kearah lutut anak laki-laki itu yang terperban.
"Ini pasti sakit kan. Maafin Kakak," ujar Cheasea sembari mengelus pelan perban di lutut anak laki-laki tersebut.
Anak laki-laki tersebut menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Ini tidak sakit Kakak cantik. Lagian ini kan sudah di obati," ucap anak laki-laki itu mencoba untuk tidak membuat Cheasea khawatir kepadanya.
"Tapi tetap saja luka ini disebabkan oleh Kakak," sesal Cheasea.
"Sudah tidak apa-apa Kakak. Daripada kita sedih-sedih. Bagaimana kalau kita pindah tempat duduk saja. Gak enak duduk disini, banyak orang yang lihat kita juga," ujar anak laki-laki tersebut.
Cheasea maupun laki-laki dewasa itu menatap kearah sekeliling mereka dan benar saja orang-orang yang berlalu lalang menatapnya dengan bisik-bisik yang mereka lakukan.
__ADS_1
Cheasea meringis melihat hal tersebut sedangkan laki-laki dewasa itu, ia langsung berdiri dari posisi duduknya begitu juga dengan anak laki-laki tadi. Dan saat Cheasea juga ingin ikut berdiri, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang terulur didepannya. Dan saat ia menengadahkan kepalanya, laki-laki dewasa itulah yang melakukan uluran tangan tersebut walaupun wajahnya ia alihkan ke arah lain tanpa menatap kearah Cheasea sedikit pun.
Sedangkan anak laki-laki tadi yang juga melihat adegan tersebut, ia mendengus kesal. Bisakah Kakaknya itu tidak terus-terusan me mencari kesempatan dalam kesempitan untuk bermesraan dengan Kakak cantik yang sebentar akan ia jadikan sebagai pacar jika ia sudah besar nantinya. Tapi sepertinya niatannya itu harus terkubur dalam-dalam berkat ia mencium bau-bau Kakaknya akan menikungnya.