
Zico yang melihat Fanya sudah keluar dari dalam restoran melalui kaca mobilnya, ia berniat untuk mendekati Fanya. Tapi baru saja ia membuka pintu mobil, Fanya sudah berlari sekencang-kencangnya menjauhi restoran tersebut.
Zico mengerutkan keningnya, berpikir apa yang terjadi dengan Fanya? Kenapa dia keluar dengan keadaan menangis? Apa ada seseorang yang menyakiti dirinya? Jika memang benar seperti itu, Zico tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah membuat Fanya meneteskan air mata.
Zico mengepalkan tangannya di setir kemudi, sebelum ia mulai menjalankan mobilnya, menyusul kepergian Fanya.
Fokus Zico terbagi antara rute jalan dan mencari keberadaan Fanya yang sangat cepat sekali menghilangnya.
"Sumpah demi apapun kalau sampai Fanya kenapa-napa, restoran itu akan aku ratakan saat ini juga," ucap Zico dengan mata yang masih mencari ke kanan dan kiri jalan. Sampai saat ia melewati taman, matanya melihat sosok yang ia cari. Dengan segara Zico menghentikan mobilnya lalu keluar dari dalam mobilnya.
Dengan langkah lebar Zico mengejar Fanya. Sampai di tepi danau tepat di bawah pohon, Fanya menduduk tubuhnya. Ia telusupkan wajahnya di lipatan lengannya yang ia tumpukan di kedua kakinya. Tangisnya kembali pecah saat otaknya memutar setiap kata yang tadi sempat dilontarkan oleh pemuda dan bosnya.
Sedangkan Zico, ia menghela nafas panjang kala melihat tubuh Fanya bergetar. Tanpa bertanya pun, Zico tau jika perempuan pujaannya tengah menangis saat ini.
Zico semakin mengikis jarak antara dirinya dan Fanya, lalu setelahnya ia ikut duduk disamping Fanya.
Fanya yang merasakan ada pergerakan seseorang dengan cepat ia menegakkan kepalanya. Saat ia tau Zico lah yang duduk disampingnya, ia langsung berdiri dari posisi duduknya. Niatnya ia ingin pergi, namun cekalan di tangannya menghentikan dirinya.
"Kamu kenapa?" pertanyaan itu keluar dari bibir Zico saat Fanya menolehkan kepalanya.
Fanya diam, tak menjawab pertanyaan dari Zico tapi dirinya berusaha untuk melepaskan cekalan tangan Zico dari lengannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu kasih tau ke aku, kenapa kamu menangis seperti ini? Apa orang itu kembali memarahimu? Atau bosmu lah yang buat kamu nangis kayak gini? Kalau memang seperti itu, aku akan membalas perbuatan dia." Terlihat kilat amarah di mata Zico saat ia mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Fanya yang masih tak ingin di usik oleh orang lain, ia terpaksa menggigit tangan Zico yang membuat laki-laki itu meringis kesakitan dan akhirnya ia melepaskan tangannya.
Saat tangan Zico sudah terlepas, Fanya tidak langsung pergi begitu saja. Ia menuliskan sebuah kalimat yang akan ia berikan ke Zico.
Zico menerima kertas yang saat ini diulurkan oleh Fanya. Sebelum dirinya membaca tulisan itu, ia melihat Fanya sudah berlari. Alhasil mau tak mau Zico mengejar kepergian Fanya sembari membaca tulisan itu.
"Bisakah kamu tidak menggangguku lagi. Kita sudah tidak memiliki urusan apapun. Urusan kita sudah selesai setelah kamu membantuku mengobati lukaku dan setelah aku memaafkanmu. Jadi tolong mulai hari ini jangan menemuiku lagi ataupun menggangguku. Dan terimakasih atas kebaikan yang sudah kamu lakukan untukku. Aku harap kamu paham maksudku ini."
"Sialan! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu, Fanya mau kamu sampai bersujud di depan kakiku sekalipun, aku tidak akan pernah menjauh darimu," ujar Zico dengan menatap punggung Fanya yang semakin menjauh darinya.
"Shitt," umpat Zico saat dirinya baru ingin menyeberang, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju kencang membuat dirinya hampir tertabrak oleh mobil itu jikalau ia tidak refleks mundur tadi.
Zico mengacak rambutnya frustasi kala ia sudah tak melihat keberadaan Fanya.
"Gara-gara mobil sialan. Aku kehilangan jejak Fanya. Arkkhhhhhhh! Tidak, aku harus mencari dia. Aku tidak akan melepaskan dia. Aku tidak mau kehilangan dia lagi!" tekat Zico kemudian ia berlari menuju mobilnya. Ia berpikir Fanya belum jauh dari taman itu yang artinya ia masih mudah untuk menemukannya.
Dan benar saja, Zico tak salah ambil jalan. Ia bisa melihat Fanya didepan sana. Perempuan itu sudah tak berlari lagi seperti tadi, melainkan berjalan dengan tergesa-gesa sampai saat Fanya sudah berada di gerbang sebuah rumah. Ia langsung masuk kedalam. Otomasi Zico yang mengikutinya secara diam-diam, menghentikan mobilnya tepat di sebrang rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas. Asalnya ia ingin langsung ikut Fanya masuk kedalam. Tapi niatnya itu ia urungkan, bukan karena dirinya mau mewujudkan permintaan dari Fanya tadi melainkan ia akan memberikan Fanya waktu untuk menenangkan dirinya sendiri untuk hari ini saja. Untuk kedepannya tentunya Zico akan berusaha untuk menaklukkan hati Fanya.
Zico mengerutkan keningnya saat ia melihat beberapa anak kecil memeluk Fanya secara bersama.
"Di rumah dia banyak sekali anak kecil? Apa mereka semua adik dia?" Ucap Zico bertanya-tanya sebelum ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Tidak mungkin mereka semua adik Fanya. Dari ciri-ciri fisik saja mereka sangat berbeda satu sama lain. Tapi kalau bukan adik kandung Fanya. Lalu anak-anak itu siapa?" tanya Zico masih penasaran hubungan Fanya dan para anak kecil yang terlihat sangat akrab itu.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya satu pikiran terlintas di otak Zico.
"Apa jangan-jangan---" ucapan Zico menggantung dengan tatapan yang saat ini melihat ke sekeliling rumah berlantai dua itu. Hingga ia melihat sebuah papan berdiri kokoh di sebelah kanan gerbang rumah tersebut.
Papan itu bertuliskan, "Panti Asuhan Kasih Bunda."
Bohong jika Zico tidak terkejut saat melihat tulisan di papan itu yang baru saja ia lihat.
"A---apa Fanya tinggal disini?" tanya Zico kepada dirinya sendiri.
"A---atau dia hanya sekedar orang yang sering mengunjungi panti asuhan itu untuk bermain dengan anak-anak tadi?" Sumpah demi apapun otak Zico saat ini dipenuhi dengan Fanya. Masih banyak pertanyaan yang harus segera ia dapatkan jawabnya.
Zico mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku akan mencari jawabannya segara," ucap Zico sembari meraih ponselnya. Ia dengan cepat mencari salah satu nomor anak buahnya dan setelah mendapatkan, Zico langsung menghubungi anak buahnya itu.
Tanpa menunggu lama, sambungan telepon tersebut terhubung.
📞 : "Halo, selamat sore bos. Ada yang bisa saya kerjakan?" tanya anak buah Zico dari sebrang sana.
"Datang ke panti asuhan kasih bunda sekarang juga bawa 5 atau 10 orang untuk ikut denganmu. Awasi semua orang yang ada di panti asuhan itu. Terutama dengan Fanya karena saya tadi sempat melihat dia masuk kedalam. Beritahu saya jika kamu ataupun yang lainnya melihat Fanya keluar dari dalam panti asuhan ataupun tidak keluar sama sekali. Kamu paham?" ujar Zico dengan tegas.
📞 : "Siap, paham tuan. Saya akan segara menghubungi yang lain untuk segara datang ke panti asuhan kasih bunda dan melaksanakan tugas yang tuan berikan."
__ADS_1
"Saya tunggu informasi dari kalian," ucap Zico dan tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya, Zico lebih dulu mematikan sambungan telepon mereka.
Tatapan mata Zico kembali beralih menatap pintu gerbang panti asuhan tersebut yang sudah tak ada siapa-siapa lagi disana. Zico menghela nafas sebelum ia menjalankan mobilnya pergi dari depan panti asuhan tadi.