
Seorang maid berjalan riang menuju ke halaman belakang rumah mewah milik tuannya guna membersihkan halaman itu. Namun ketika dirinya baru membuka pintu belakang, matanya terbuka lebar saat ia tak sengaja menatap seseorang yang sudah terkapar tak berdaya.
"Astaga, siapa itu?" gumam maid tadi sebelum dirinya berlari menuju seseorang yang pingsan tak sadarkan diri.
Saat dirinya telah sampai di samping orang pingsan itu, dirinya semakin di buat terkejut ketika ia tau siapa orang itu terlebih ia melihat banyak darah yang mengalir di kaki orang tersebut.
"Ya Tuhan. Nyonya Fanya!" teriak maid tadi histeris. Dan teriakan nyaring itu berhasil membuat beberapa maid serta bodyguard yang mendengar teriakan tadi, mereka berbondong-bondong menuju ke sumber suara.
"Ada apa ini?" tanya salah satu bodyguard yang tak kalah terkejut dengan maid yang tadi melihat keadaan Fanya pertama kali.
"Aku tidak tau kenapa nyonya Fanya seperti ini. Dan daripada kalian banyak tanya, lebih baik kita bawa nyonya Fanya ke rumah sakit sekarang juga. Aku takut terjadi sesuatu yang membahayakan untuk janin ataupun nyonya Fanya sendiri. Jadi cepat kalian angkat nyonya Fanya sekarang juga!" perintah maid tadi yang sudah panik setengah mati.
Bodyguard yang tadi sempat bertanya, kini berjongkok dan dengan entengnya ia mengangkat tubuh Fanya. Bodyguard tadi sedikit berlari agar segara sampai di mobil yang dengan cekatan sudah di siapkan oleh sopir yang memang tadi juga turut melihat kondisi Fanya.
Sedangkan maid tadi, ia menatap kearah partner kerjanya lalu ia berkata, "Kalian tolong telepon Nyonya Della, tuan Aiden ataupun tuan Jio. Beritahu ke mereka jika nyonya Fanya tengah di bawa ke rumah sakit AWA Hospital."
Beberapa maid menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan tadi. Dan setelah mendapat anggukan, maid yang memilki nama Jaidah berlari menyusul kepergian Fanya. Walaupun ia yakin mobil yang membawa tubuh nyonya mudanya itu sudah pergi, ia tetap harus menyusul ke rumah sakit dengan cara apapun, yang terpenting ia harus menemani Fanya disana sebelum anggota inti keluarga Abhivandya datang. Sekaligus ia juga memiliki tanggungjawab untuk menjelaskan apa yang terjadi walaupun ia tak tau kronologi sepenuhnya tentang kejadian yang menimpa nyonya mudanya itu.
Dan kepergian dari Fanya beserta beberapa bodyguard serta dua maid tadi membuat beberapa maid yang lainnya yang mendapat perintah segara menjalankan apa yang di titipkan kepada mereka. Tiga orang bergerak lincah mencoba menghubungi tuan mereka. Dan hanya dengan sekali panggilan Mommy Della yang lebih dulu mengangkat telepon dari salah satu maidnya.
📞 : "Ya, halo." Suara di sebrang sana terdengar menyapa pendengaran maid tadi.
"Halo nyonya. Maaf jika saya menggangu waktu nyonya. Ada hal penting yang perlu saya sampaikan kepada nyonya. Nyonya muda tadi pingsan di halaman belakang dengan darah yang mengalir di kedua kakinya. Dan sekarang nyonya Fanya tengah dibawa ke AWA hospital."
Ucapan to the points dari maidnya membuat tangan Mommy Della yang ingin mengambil bahan makanan terhenti di udara.
__ADS_1
📞 : "Apa kamu bilang? Fanya pingsan dan sekarang tengah dibawa ke rumah sakit?"
"Benar nyonya."
📞 : "Astaga, ya tuhan. Baiklah saya segara ke rumah sakit sekarang juga. Terimakasih atas informasinya," ucap Mommy Della sebelum ia memutus sambungan telepon tersebut.
Dan tanpa mementingkan barang belanjaannya, ia berlari keluar dari dalam supermaket tersebut menuju ke parkiran mobil.
"Pak ke AWA hospital sekarang juga. Cepat!" ucap Mommy Della kala dirinya baru masuk kedalam mobil miliknya.
Sang sopir yang tadinya tengah bersantai, sempat terkejut atas kehadiran atasannya itu. Ia juga sempat bertanya-tanya kenapa Nyonyanya itu terlihat panik dan menyuruh dirinya mengantar ke rumah sakit? Tapi ia tak berani bertanya dan memilih untuk segara menjalankan tugasnya.
"Yang cepat pak!" ucap Mommy Della sembari tangannya berusaha menghubungi Zico. Dan akhirnya setelah beberapa kali ia mencoba menghubungi putranya yang selalu sibuk, sambungan telepon tersebut terhubung juga.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Mommy Della yang rasa khawatirnya semakin bertambah. Belum juga rasa khawatirnya mengenai kondisi Fanya hilang kini ditambah ia khawatir saat mendengar putranya menangis.
📞 : "Hiks Mom. Fanya, Mom."
Mata Mommy Della terbuka lebar.
"Kamu sudah tau Fanya saat ini di rumah sakit?" tanya Mommy Della.
📞 : "Iya. Jio tadi ditelepon salah satu maid dirumah. Kata mereka Fanya pingsan dengan darah yang cukup banyak. Dan Jio sekarang sudah ada di rumah sakit Mom. Jio memang belum tau keadaan Fanya, tapi Jio takut dia kenapa-napa Mom. Jio tidak mau sampai kehilangan Fanya. Jio sayang Fanya. Jio cinta Fanya, Mom. Jio tidak akan sanggup jika Fanya meninggalkan Jio sendiri Mom. Hiks," ucap Zico diseberang sana. Laki-laki itu sudah kalut dengan pikiran negatif yang terus saja berputar di otaknya. Bahkan sedari ia sampai di rumah sakit, kakinya tidak pernah diam, ia terus mondar-mandir sembari menunggu dokter yang tengah menangani Fanya keluar dengan kabar baik ataupun kabar buruk yang mereka bawa.
Mommy Della yang mendengar kepanikan dari sang putra, ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya agar tak keluar dari peluk matanya.
__ADS_1
"Sayang, tenang ya. Fanya pasti baik-baik saja. Dia kan perempuan kuat. Dia tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian. Percaya sama Mommy ya," ucap Mommy Della mencoba menenangkan Zico.
Zico yang ada di sebrang sana hanya bisa terus menangis tanpa mengiyakan ucapan dari Mommy Della tadi. Namun sambung telepon mereka terus terhubung satu sama lain.
"Sayang, kamu masih disana kan? Kamu baik-baik saja kan? Mommy sekarang sudah di parkiran sebentar lagi Mommy kesana," ucap Mommy Della. Dan saat mobil yang ditumpangi telah terparkir, Mommy Della segera keluar dan dengan berlari mesuk kedalam area rumah sakit. Tapi ketika dirinya berada di lobi rumah sakit, ia bertemu dengan Daddy Aiden yang juga tengah tergesa-gesa menuju ke ruang UGD.
"Sayang. Kamu sudah tau kabar tentang Fanya kan?" tanya Daddy Aiden tanpa menghentikan langkahnya. Mommy Della menjawab dengan anggukan kepala singkat bahkan melirik kearah Daddy Aiden pun tidak. Fokusnya saat ini hanya tertuju kearah Zico dan juga Fanya.
Keduanya kini telah sampai di depan ruang UGD dan bertepatan dengan hadirnya kedua orangtua itu, pintu ruang UGD terbuka dan memunculkan dokter Ariana juga dokter Adam.
Ketiga orang tadi langsung merapat mendekati kedua dokter yang sedari tadi diam. Hingga suara Zico yang bergetar menyapa indra pendengaran semua orang disana.
"Gimana keadaan Fanya dan calon anakku, bang, Dok?" tanya Zico.
Dokter Ariana tampak menatap kearah Adam, seolah-olah meminta izin ke laki-laki disebelahnya itu untuk menjelaskan kondisi Fanya dan calon bayinya. Dan sepertinya Adam tau akan kode tatapan dari partner kerjanya itu sehingga ia menganggukkan kepalanya, memberikan izin kepada dokter Ariana.
Dokter Ariana yang sudah mengantongi izin pun, ia menghela nafas sembari mengalihkan pandangannya kearah semua orang yang harap-harap cemas menunggu jawaban kedua dokter didepan mereka.
"Maaf sebelumnya tapi ada dua hal yang akan saya sampaikan dan mungkin salah satunya membuat tuan-tuan dan nyonya sedih," ucap dokter Ariana.
"Katakan Dok. Kita akan mendengar penjelasan tentang kondisi Fanya dan calon bayinya sekarang juga," ujar Mommy Della tak sabaran walaupun jantungnya berdetak kencang.
"Jadi---"
To be continued!!! 😂
__ADS_1