My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 119


__ADS_3

Tepukan di lengannya membuat dokter Safitri yang awalnya tengah menyelami pikirannya sendiri, tersadar dari lamunannya. Lalu matanya langsung tertuju kearah Fanya yang masih setia terbaring di atas brankar.


"Dokter kenapa melamun? Apa dokter memiliki masalah? Atau ada sesuatu yang terjadi dengan kandungan saya?"


Raut wajah Fanya seketika berubah pias kala ia mengatakan kalimat terakhirnya tadi. Yakinlah ia sangat takut jika kandungannya yang selama ini ia jaga dan janin yang selama ini ia tunggu-tunggu kehamilannya malah terjadi hal yang tak ia inginkan. Ia takut jika harus kehilangan calon buah hatinya untuk yang kesekian kalinya.


Melihat kekhawatiran dari raut wajah Fanya, Dokter Safitri tampak tersenyum kecil.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan kondisi janin anda Nyonya. Mereka tampak kuat, sehat dan bagian tubuhnya juga mulai berkembang. Detak jantungnya pun terdengar sangat baik. Semuanya baik-baik saja nyonya," ucap dokter Safitri mencoba untuk menenangkan pasiennya walaupun dirinya sendiri tidak terlalu yakin dengan ucapannya tadi. Ia tak yakin jika dua janin yang ada di kandungan Fanya semuanya baik-baik saja karena entah kenapa ia berpikir ada sesuatu yang terjadi kepada dua janin itu. Tapi dirinya tidak boleh gegabah untuk memberitahu Fanya akan tebakannya itu. Ia harus memastikannya lagi.


Terlihat raut wajah Fanya yang tadi tampak pias kini berubah menjadi seperti sedia kala. Helaan nafas lega pun sempat ia lakukan. Kemudian dirinya mendudukkan tubuhnya saat dokter Safitri membereskan peralatan yang tadi sempat ia gunakan. Lalu setelahnya keduanya berjalan beriringan menuju ke meja kerja dokter Safitri.


Dokter Safitri tampak terdiam dengan tangan yang terus bergerak, mencacat resep obat yang nantinya akan ia berikan kepada Fanya.


Sedangkan Fanya, ia tersenyum dengan menatap serta mengelus perut buncitnya.


Hingga suara dokter Safitri mengalihkan perhatian Fanya dari perutnya.


"Nyonya, ini obat yang perlu anda tebus di apotek. Tolong di habiskan ya nyonya," ucap dokter Safitri dengan menyodorkan kertas resep tadi di hadapan Fanya. Tentu saja Fanya langsung mengambil kertas tersebut. Menatap sebentar sebelum ia memasukkan kedalam tas kecilnya.


"Anda tidak perlu khawatir dok. Saya selalu rutin meminum obat dari dokter. Dan terimakasih atas pemeriksaan hari ini Dok, sampai jumpa bulan depan," kata Fanya dengan senyum yang merekah sembari tangannya melambai, tapi ketika dirinya ingin berdiri, suara dokter Safitri menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar Nyonya." Fanya kembali mendudukkan tubuhnya di kursi yang sebelumnya ia gunakan.


Terlihat dokter Safitri tampak menautkan kedua tangannya sebagai pelarian atas rasa gugup yang tengah melanda dirinya.


"Kenapa ya Dok?" tanya Fanya dengan tak sabaran karena Dokter Safitri saat ini hanya diam saja, tak kunjung melanjutkan apa yang ia katakan tadi.


"Ehem, jadi begini. Sepertinya periksaan kita akan di ajukan," ucap dokter Safitri yang membuat Fanya mengerutkan keningnya.


"Diajukan?"


Tentunya dokter Safitri menganggukkan kepalanya.


"Benar. Dan pengajuan pemeriksaan kandungan nyonya akan kita adakan 1 minggu lagi." Fanya semakin tak mengerti kenapa pemeriksaan rutin setiap bulan harus diajukan bahkan sampai diajukan 3 minggu lebih awal dari sebelumnya. Ada apa ini sebenarnya? Apakah perkataan dokter Safitri yang mengatakan jika calon buah hatinya baik-baik saja tadi itu hanya sebuah kebohongan semata?


"Saya hanya ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk kedua calon buah hati anda nyonya. Pasalnya kandungan anda sebentar lagi akan memasuki usia 5 bulan dan kandungan anda juga dulu sempat mengalami yang namanya kandungan lemah. Nah agar tidak terjadi hal yang lebih serius, biasanya rumah sakit disini selalu mengadakan pemeriksaan lebih lanjut untuk ibu hamil yang memiliki kandungan lemah seperti anda ini. Sekaligus untuk meninjau proses melahirkan yang baik untuk ibu serta janinnya," ucap dokter Safitri yang terpaksa sedikit berbohong. Ia memang berencana untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam untuk kandungan Fanya yang entah kenapa membuat dirinya kepikiran dengan kandungan pasiennya ini.


Fanya yang mendengar penjelasan itu, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mempercayai begitu saja ucapan dari Dokter Safitri tadi.


"Baiklah kalau begitu saya akan kembali kesini lagi satu minggu lagi."


Dokter Safitri tampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan tunggu kehadirannya ya nyonya. Ahhhh jangan lupa Nyonya kesini harus bersama suami Nyonya agar beliau juga tau kondisi calon buah hatinya," ucap dokter Safitri.


"Saya akan usahakan suami saya ikut hadir dalam pemeriksaan Minggu depan. Apa ada hal lain yang akan Dokter sampaikan kepada saya?" tanya Fanya.


"Itu saja yang akan saya sampaikan tadi nyonya."


Fanya tampak menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi ya dok. Mari."


Fanya yang sudah berdiri menyalami tangan dokter Safitri sebelum dirinya melangkahkan kakinya keluar dari ruang pemeriksaan dokter Safitri.


Kepergian dari Fanya tadi tak luput dari pandangan dokter Safitri hingga tubuh Fanya sudah menghilang dari balik pintu pun, dokter perempuan itu masih setia menatap kearah pintu yang tertutup itu.


Hingga tepukan di bahunya membuat perhatiannya teralihkan.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan pasien tadi Dok?" tanya suster yang selalu membantunya.


Dokter Safitri tampak menundukkan kepalanya dengan tangan yang bergerak, memijit pangkal hidungnya.


"Entahlah. Saya belum bisa memastikan apakah memang terjadi sesuatu dengan beliau atau tidak. Saya masih ragu dengan tebakan saya ini. Tapi saat saya melihat hasil USG-nya ada sesuatu yang menurut saya sangat janggal dan kejanggalan ini baru saya lihat secara langsung selama saya berprofesi sebagai seorang dokter kandungan. Dan sepertinya untuk memastikan tebakan saya ini, saya perlu berdiskusi dengan pemilik rumah sakit ini agar beliau bisa mengundang dokter kandungan yang lebih senior lagi dari saya untuk melakukan pemeriksaan kepada nyonya Fanya. Tapi saya berharap semoga hasilnya nanti tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Semoga tebakan saya salah," tutur Dokter Safitri yang merasa bimbang sekaligus takut jika tebakannya itu menjadi kenyataan. Ayolah walaupun Fanya bukan bagian dari keluarganya, tapi mengingat perjuangan perempuan itu untuk mendapatkan buah hati yang selalu gagal membuat dirinya menjadi se-khawatir ini dengan Fanya. Ia tak ingin perempuan itu harus kehilangan bayinya untuk yang kesekian kalinya. Membayangkan seberapa hancurkannya Fanya jika harus kehilangan lagi membuat dokter Safitri ingin menangis rasanya, bagaimana jika hal itu terjadi?

__ADS_1


Suster yang mendengar penuturan dari dokter Safitri tampak menggigit bibir bawahnya. Jika dokter Safitri mengatakan harus mengumpulkan beberapa dokter yang lebih profesional lagi dan lebih senior lagi berarti tebakan dari dokter Safitri mengarah ke hal yang serius. Dan entah kenapa dia juga ikut khawatir akan kondisi perempuan yang selalu baik dan ramah kepadanya itu.


"Ya Tuhan, apapun tebakan dari dokter Safitri, semoga semua itu tidak benar. Hamba mohon lindungilah nyonya Fanya dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Aamiin," batin suster itu mendoakan kebaikan untuk Fanya.


__ADS_2