My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 72


__ADS_3

Fanya yang merasakan pelukan Zico yang semakin mengerat, tangannya bergerak memukul pelan lengan sang suami. Tidak sakit memang pukulan yang diberikan oleh Fanya, tapi Zico tetap mendesis kesakitan.


Dan tanpa melepaskan pelukannya tadi, Zico sedikit mencondongkan tubuhnya, mendekat ke wajah Fanya.


"Stttt sakit sayang. Kenapa kamu tega pukul aku sih? Aku kan gak melakukan kesalahan apapun," tutur Zico.


Kerucutan di bibir Zico justru bukannya mengundang rasa kasihan dari Fanya, melainkan malah mengundang rasa geli dari perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu. Sehingga tangan Fanya kini memukul pipi Zico tapi lagi-lagi pukulan itu tidak terlalu keras.


"Aws, kok malah di pukul lagi sih? Tega banget sama suami sendiri," keluh Zico masih dengan kerucutan di bibirnya.


Fanya bergidik sebelum ia membalas ucapan dari Zico.


"Lagian siapa suruh kamu meluk aku kayak gini mana di depan banyak orang lagi. Malu lah sayang. Dan bisa tidak bibir kamu itu tidak manyun. Geli tau lihatnya."


Balasan dari Fanya dengan bahasa isyarat itu membuat tanda tanya besar dari ketiga orang yang tidak tau sama sekali tentang latar belakang Fanya. Terutama Cheasea, ia menatap lekat Fanya dengan kerutan di keningnya.


"Hal apa sebenarnya yang tidak aku ketahui tentang istri Kak Jio? Kenapa dia membalas ucapan dari Kak Jio menggunakan bahasa isyarat? Kenapa tidak dengan suara saja? Aneh," batin Cheasea.


"Atau jangan-jangan---" sambung Cheasea kemudian ia menolehkan kepalanya kearah kedua orangtuanya yang duduk di sebelah kanan dan kirinya.


Kedua orang paruh baya itu masih menatap lekat kearah Fanya yang saat ini terus menimpali ucapan Zico yang belum juga diam. Dan tentunya Fanya menggunakan bahasa isyaratnya.

__ADS_1


Karena rasa penasarannya sudah terlampau tinggi, lengan Cheasea bergerak, menyenggol lengan sang Mommy.


Senggolan itu berhasil membuat Mommy Jea menolehkan kepalanya kearah sang putri dengan salah satu alisnya yang terangkat, seolah-olah berkata, "Kenapa?"


Cheasea mendekatkan wajahnya tepat berada disamping telinga sang Mommy guna membisikkan suatu hal yang sedari tadi mengusiknya.


"Mom, Mommy tau tidak kenapa istri Kak Jio tidak membalas ucapan dari Kak Jio menggunakan suaranya saja? Dia orang normal kan?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Cheasea mendapat gelengan kepala oleh Mommy Jea. Pasalnya ia sendiri juga tidak tau kenapa istri Zico tidak bersuara. Dia waktu itu saat Mommy Della dan Daddy Aiden memberitahu informasi mengenai Zico yang ingin menikah, mereka tidak memberitahu secara rinci calon istri Zico itu seperti apa. Tadi pun saat di acara pernikahan, Fanya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika mereka berdua mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Alhasil mereka tidak tau menahu tentang keadaan Fanya yang sebenarnya.


Cheasea yang melihat gelengan kepala dari sang ibunda, ia mendengus kecil. Tapi ia tak menyerah, ia harus mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Sehingga dirinya kini berganti menyenggol lengan Daddy Max.


Dan reaksi yang diberikan oleh Daddy Max sama dengan reaksi yang diberikan oleh Mommy Jea tadi. Sama-sama mengangkat salah satu alisnya.


"Dad, Daddy tau tidak kenapa istri Kak Jio tidak membalas ucapan dari Kak Jio menggunakan suaranya saja? Dia orang normal kan?"


Sayang seribu sayang balasan dari Daddy Max sama dengan balasan yang diberikan oleh Mommy Jea tadi. Dan hal itu membuat Cheasea berdecak kesal. Ayolah dirinya sudah sangat penasaran. Jadi tolong siapapun beritahu jawabannya kepada Cheasea sekarang juga.


Seolah mendengar keluhan Cheasea, tiba-tiba suara Mommy Della terdengar di seluruh ruangan tersebut. Tentunya hal itu membuat seluruh orang yang ada disana langsung memfokuskan perhatian mereka kearah Mommy Della.


"Kalian pasti penasaran tentang Fanya kan?" Ketiga orang itu hanya diam, tidak membalas dengan suara maupun dengan anggukan kepala mereka. Namun Mommy Della tau sehingga dirinya kembali melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kalian tidak perlu bertanya-tanya lagi, kenapa Fanya memakai bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan kita karena dia merupakan orang yang spesial. Dia memiliki keterbatasan dalam berbicara, iya kan Fanya?" Fanya yang tiba-tiba ditanya pun ia menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang. Ia tadi sebenarnya sempat terkejut atas ucap dari Mommy Della yang memberitahukan tentang kekurangannya. Namun keterkejutannya itu hanya sesaat saja sebelum ia merasa lega karena tak perlu menjelaskan ke tiga orang yang mungkin kebingungan kenapa dia berkomunikasi dengan cara berbeda.


Sebenarnya tak hanya Fanya saja yang terkejut atas ucapan dari Mommy Della melainkan ketiga orang yang tadi penasaran jauh lebih terkejut dari Fanya. Dan dengan seketika tatapan ketiganya mengarah ke arah Fanya. Ketika sang empu yang memiliki kekurangan itu mengiyakan ucapan dari Mommy Della, ketiganya memberikan tatapan mata berbeda-beda. Entah itu tatapan iba, tatapan kasihan dan tatapan turut prihatin. Sampai tiba-tiba Cheasea berkata dalam hati, "Tidak aku sangka perempuan pilihan Kak Jio adalah seorang perempuan yang memiliki keterbatasan. Kalau begitu bukankah aku lebih baik darinya? Aku sempurna tidak memiliki keterbatasan apapun."


Cheasea menggelengkan kepalanya, menghalau pikirannya yang sudah melampaui batasan. Sekaligus untuk menyadarkan dirinya mau dia sesempurna apapun jika Zico memilih perempuan yang saat ini sudah menyandang status sebagai istrinya, dia bisa apa?


"Nah karena kalian sudah tau. Aku harap kalian bisa mengerti. Tapi kalian tenang saja. Jika kalian mau berkomunikasi dengan Fanya tapi kalian tidak tau bahasa isyarat, Fanya akan membalas ucapan kalian dengan tulisan," beritahu Mommy Della yang diangguki oleh ketiga orang tadi.


Dan setelah percakapan itu tak ada lagi yang bersuara hingga Fanya yang merasa jika ini lah waktu yang tepat untuk Zico memaafkan kesalahan Cheasea, ia menyenggol lengan suaminya itu hingga Zico menatap kearahnya.


"Cepat katakan kepada gadis itu jika kamu sudah memaafkan kesalahan yang sudah dia perbuat," ucap Fanya hanya bibirnya saja yang bergerak. Tapi untungnya Zico paham dengan ucapannya tadi.


"Tidak mau," balas Zico dengan suara lirih hingga orang-orang disekelilingnya tak ada yang mendengar suaranya. Ia masih kekeuh untuk tidak mau memaafkan kesalahan Cheasea.


"Ayolah. Maafkan dia," paksa Fanya kembali dengan bahasa isyaratnya.


Zico menggelengkan kepalanya ribut. Kalau dirinya tidak mau ya tidak mau, kenapa istrinya itu tetap memaksanya sih?


Fanya memejamkan matanya, mencoba bersabar atas sikap suaminya yang keras kepala.


Dan saat Fanya ingin kembali membujuk Zico, tiba-tiba suara gadis yang tengah mereka bicarakan terdengar.

__ADS_1


"Kak Fanya tidak perlu memaksa Kak Jio memaafkanku. Aku tidak apa-apa kok kalau kak Jio belum bisa memaafkanku," ujar Cheasea dengan senyum manisnya. Ia akan memaklumi Zico yang masih tak kunjung bermurah hati memaafkannya. Walaupun Cheasea tidak bisa bahasa isyarat, entah kenapa perasaannya mengatakan jika Fanya tengah memaksa Zico untuk memaafkannya dan sepertinya perasaannya itu benar adanya karena tak berselang lama saat ia mengatakan perkataannya tadi, Zico berkata, "Nah kamu dengar sendiri kan kalau dia tidak masalah jika aku tidak memaafkan dia. Jadi jangan memaksaku lagi."


Cheasea hanya bisa menundukkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Sedangkan Fanya, ia menghela nafas pasrah dengan keputusan bulat yang Zico buat.


__ADS_2