
"Saya sudah melihat semua pertengkaran itu terjadi. Dan saya dengar pemicu pertengkaran tadi adalah kamu. Benar begitu Fanya?" Tanya bos Fanya dengan menatap tajam kearah Fanya.
Keduanya kini berada di dalam ruang kerja bos restoran. Fanya sedari tadi tak berani menegakkan kepalanya apalagi menatap mata sang bos. Ia terus menunduk dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari bos-nya tadi.
Terdengar helaan nafas panjang dari laki-laki yang duduk di kursi kerjanya.
"Saya sudah mengatakan dari awal kamu bergabung di restoran ini untuk selalu bersikap sopan kepada pelanggan. Tapi kenapa kamu malah melanggarnya Fanya? Kamu tau akibat dari kamu yang melanggar aturan yang telah saya buat, restoran ini pasti akan mendapat nilai jelek dari pelanggan yang berakibat restoran ini nanti akan sepi dari pembeli dan berakhir bangkrut! Apa kamu tau itu Fanya?!" Suara tinggi dari bos tersebut semakin membuat nyali Fanya menciut. Ia tak bisa berbuat apa-apa, ia pasrah dengan kemarahan bos-nya tersebut.
Lagi dan lagi helaan nafas kembali terdengar sebelum suara bos laki-laki itu kembali terdengar.
"Dengan masalah yang terjadi saat ini saya memutuskan untuk memberhentikan kamu untuk bekerja di restoran ini."
Kepala Fanya kini menegak, matanya terbuka lebar dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar terkejut sekaligus tak menyangka akan ucapan dari bosnya tadi.
__ADS_1
Fanya menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menolak keputusan dari bosnya tadi. Dan dengan tangan yang bergetar hebat ia menulis sebuah kalimat untuk ucapan permohonan. Setelah selesai ia mendorong pelan note booknya kehadapan bosnya.
"Bos, saya mohon pikirkan baik-baik keputusan bos untuk memecat saya. Saya memang salah. Saya juga yang merupakan pemicu dari pertengkaran yang tadi terjadi. Tapi tidak sepenuhnya saya yang salah bos. Saya sudah berusaha untuk bersikap sopan kepada setiap pelanggan. Mereka juga tidak keberatan dengan keadaan saya yang seperti ini. Mereka selalu mengerti, hanya laki-laki itu saja yang mempermasalahkan keterbatasan saya. Saya tau kalau membalas ucapan seseorang hanya dengan tulisan sangat tidak sopan, tapi apa boleh buat, saya bisanya melakukan hal itu untuk sikap sopan saya untuk membalas ucapan pelanggan. Jika di beri pilihan saya juga tidak mau seperti ini bos karena saya merasa terbeban. Tapi lagi dan lagi saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk diri saya sendiri."
Tulisan panjang lebar itu baru saja selesai bos restoran baca, selembar kertas kembali disodorkan didepannya.
"Bos, saya mohon pikirkan keputusan bos tadi. Saya mohon jangan pecat saya bos."
Bos restoran tersebut menengadahkan kepalanya, menatap kearah Fanya yang tengah menatapnya dengan kedua tangan yang ia satukan tepat di depan dadanya, memohon agar bosnya berubah pikiran.
Fanya yang mendapar ucapan dari sang bos pun bibirnya yang selalu rapat kini terbuka dan mulai bergerak berniat untuk memberikan penjelasan lebih lanjut kepada sang bos. Namun sayangnya suara tak keluar dari bibirnya. Dan Fanya merutuki aksinya tersebut.
Sedangkan sang bos, tangannya kini terangkat, kode agar Fanya diam. Ia sudah tidak ingin lagi mendengar penjelasan apapun dari Fanya karena apa yang ia lihat lewat rekaman CCTV tadi sudah sangat jelas siapa yang salah dan siapa yang harus menerima konsekuensinya atas pertengkaran yang terjadi tadi. Dan orang itu adalah Fanya. Ia tak mau mengubah keputusannya tadi sehingga ia berkata, "Keputusan saya sudah bulat. Lagian apa yang pemuda tadi katakan benar. Jika tidak seharusnya restoran ini menerima orang cacat seperti kamu yang justru akan membuat reputasi restoran rusak. Jadi mulai hari ini kamu, Evanthe Fanya Zahira, saya pecat kamu menjadi salah satu karyawan di restoran ini untuk gaji kamu, akan segera saya kirim."
__ADS_1
Keputusan yang sudah mutlak bos-nya itu berikan sudah tak bisa lagi Fanya ubah. Ia harus pasrah dengan rasa sesak di dadanya. Tapi rasa sesak di dadanya bukan karena ia di pecat begitu saja oleh sang bos, melainkan dengan kata-kata yang di lontarkan oleh bosnya tadi yang berhasil menghancurkan hatinya. Ia juga sadar jika dirinya hanyalah orang cacat, tidak sempurna seperti bosnya ataupun orang lain di luar sana. Tapi apakah tidak bisa orang-orang itu menjaga tutur katanya agar orang-orang yang memiliki keterbatasan seperti Fanya ini tidak terluka hatinya? Jika mereka sudah tau jika seseorang memiliki keterbatasan, apakah mulut tajam mereka diam saja? Tanpa mencela keterbatasan mereka dengan berkata orang cacat lah, orang bisu lah dan lain sebagainya? Sungguh, Fanya saat ini sangat sakit hati. Luka di hatinya yang sudah mengangga lebar justru ditaburi garam di dalamnya, semakin sakit rasanya. Baru beberapa saat ia mendapat julukan orang bisu, sekarang ia mendapat julukan orang cacat. Dan Fanya saat ini bisa menyimpulkan jika bukan dirinya lah yang tidak memiliki kesopan-santunan melainkan orang-orang yang mencelanya lah yang tidak memiliki sikap itu.
Dengan hati yang terluka hebat, Fanya langsung berlari keluar dari ruang kerja sang bos. Tanpa berpamitan terlebih dahulu. Air mata yang sedari tadi ia tahan pun kini sudah membasahi kedua pipinya.
Fanya dengan kasar menghapus air matanya dengan kaki yang menuruni anak tangga.
Saat ia sudah menginjakkan kakinya di lantai satu restoran tersebut, beberapa pasang mata milik teman-temannya langsung menatap kearahnya. Namun Fanya hanya menatap mereka dengan sekilas sebelum dirinya kembali berlari menuju ke ruang karyawan.
Tentu saja hal itu membuat para karyawan itu penasaran hukuman apa yang Fanya terima dari bos mereka. Mereka sangat yakin jika hukuman yang didapat Fanya bukan hukuman ringan, mengingat mereka melihat Fanya menangis.
"Apa Fanya baik-baik saja?" celetuk salah satu karyawan perempuan membuat yang lainnya menggelengkan kepalanya, tidak tau.
"Huh, biar aku menyusulnya," ujar satu karyawan perempuan yang lain sebelum ia melangkahkan kakinya ingin menyusul kepergian Fanya. Namun sayang, baru beberapa langkah, Fanya sudah keluar dari dalam ruang karyawan itu dengan tadi terselempang di bahunya.
__ADS_1
"Fan," panggil karyawan perempuan yang tadi berniat untuk menyusulnya. Tapi Fanya hanya melewati dirinya begitu saja tanpa melirik kearahnya sedikitpun. Begitu pula dengan karyawan lainnya yang hanya di lewati oleh Fanya yang tengah berlari keluar dari restoran tersebut. Tentu saja hal itu semakin membuat mereka bingung sekaligus bertanya-tanya hukuman yang diterima oleh Fanya.
Sedangkan Fanya, ia yang sudah keluar pun ia dengan cepat menghapus air matanya. Menolehkan kepalanya kearah restoran yang sudah 1 tahun ini menjadi tempatnya untuk mengais rezeki. Dan beberapa detik kemudian, ia kembali melangkahkan kakinya untuk pergi dari depan restoran tersebut sebelum ada salah satu temannya yang menyusul kepergiannya. Jujur saja Fanya merasa kesal dengan teman-temannya yang tadi tidak membantunya sama sekali. Harusnya mereka membantunya menjelaskan tentang keterbatasan yang ia milik karena Fanya tidak mempermasalahkan jika para pelanggan di restoran tempatnya bekerja tau kekurangannya. Tapi sayangnya teman-temannya justru diam saja, melihat dirinya terpojokan atas tindakan pemuda tadi. Seolah-olah kejadian tadi merupakan sebuah pertunjukan yang sepantasnya hanya untuk di tonton saja.