My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 79


__ADS_3

Fanya yang melihat ketiga orangtua itu tengah tertawa lebar setelah berhasil menjahili Zico, ia hanya bisa menghela nafas panjang sebelum tangannya yang sedari tadi diam kini bergerak, menepuk-nepuk lengan Zico yang melingkar di dadanya.


"Kamu jangan dengar apa kata mereka tadi sayang. Kamu jangan jadi psikopat mau bunuh suami sendiri. Ingat dosa sayang. Aku juga tidak mau berpisah dengan kamu," ucap Zico yang tak henti-hentinya memohon kepada Fanya.


Fanya yang mendengar penuturan dari Zico, ia akhirnya menganggukkan kepalanya. Anggukan dari Fanya tentunya di rasakan oleh Zico, sehingga laki-laki itu kini melepaskan pelukannya, memutar tubuh Fanya hingga mereka berdua saling berhadapan.


"Kamu beneran tidak mau melakukan ide dari Daddy Aiden dan Daddy Max tadi kan sayang?" Untuk yang kedua kalinya Fanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan dari Zico tadi.


"Kamu tidak bohong sama aku kan?" Fanya memutar bola matanya malas.


"Memangnya aku pernah bohong sama kamu? Kalau pun aku berbohong, tidak mungkin aku akan menunggu waktu lama untuk melakukan aksi pembunuhan terhadap kamu. Pasti aku melakukannya saat ini juga terlebih aku memiliki tiga pendukung kuat sekaligus dengan jaminan aku mendapatkan seluruh harta kamu dan aku tidak di penjara jika aku melakukan pembunuhan itu. Jadi jika aku berbohong, tidak mungkin sekarang aku masih membiarkan kamu untuk berdiri di depanku dengan keadaan tidak terluka sama sekali."


Balasan dari Fanya itu berhasil membuat Zico menghela nafas lega. Ia pun segera memeluk tubuh Fanya kembali dengan sesekali memberikan kecupan kepada istrinya tercinta.


Sedangkan ketiga orangtua tadi yang melihat sepasang pasutri sudah akur kembali, mereka menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Yaahhh kok kamu tidak jadi membunuh Jio sih Fan? Fanya gak seru ishh!" teriak Mommy Della yang membuat sepasang pasutri itu mengalihkan pandangannya kearah Mommy Della.


"Mommy jangan mulai mancing keributan lagi. Jangan berusaha untuk menghasut Fanya kembali karena hasil yang akan Mommy dapatkan akan nihil. Fanya tidak akan pernah terhasut. Iya kan sayang?" Tanya Zico yang tentunya ia tujukan kepada istrinya itu bahkan tatapan matanya mengarah ke wajah Fanya tanpa melepaskan pelukannya.


Dengan tersenyum malu Fanya menganggukkan kepalanya.


"Tuh, kalian lihat sendiri kan jawaban dari Fanya. Jadi daripada kalian membuang-buang waktu untuk hal yang tidak akan pernah terjadi lebih baik kalian segera berangkat mencari si tuan putri alias Cheasea sana sebelum dia semakin jauh kaburnya," ujar Zico.


Mommy Della dan Daddy Aiden yang belum tau jika Cheasea sudah di temukan, mereka berdua dengan serempak menatap satu sama lain lalu kemudian keduanya memukul keningnya karena mereka berdua tadi sempat lupa akan tujuan utama mereka tadi.


"Astaga, bisa-bisanya kita lupa untuk cari Cheasea. Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat!" ucap Mommy Della penuh semangat. Tapi baru saja ia dan Daddy Aiden memutar tubuhnya, suara Daddy Max terdengar.


"Apa kamu bilang? Cheasea sudah ditemukan oleh Kak Jea?" tanya Daddy Aiden.


"Iya. Tapi mereka masih di luar. Mungkin Cheasea juga butuh menenangkan dirinya sendiri," jawab Daddy Max.

__ADS_1


"Syukurlah kalau memang Cheasea sudah ditemukan," ujar Mommy Della yang hanya dibalas anggukan oleh Daddy Max.


Dan saat mereka bertiga tengah berbincang-bincang membicarakan Cheasea, tak ada yang menyadari jika sepasang suami-istri yang sempat bertengkar kecil itu sudah menghilang dari ruang keluarga itu. Tentu saja bukan kehendak keduanya yang ingin pergi dari ruangan itu melainkan hanya kehendak Zico saja. Dia tiba-tiba menarik tangan Fanya dan membawa kabur istrinya itu menuju ke lantai dua, dimana letak kamar mereka berada.


Fanya sempat terkejut, bahkan ia juga sempat protes kepada suaminya karena jujur saja ia juga ingin tau apa yang tengah mereka bicarakan apalagi mengenai Cheasea, gadis yang ia khawatirkan. Tapi apa daya, jika suaminya sudah berkehendak, ia tak bisa berbuat apa-apa. Protestan dengan cara apapun tak akan mempan untuk mencegah keputusan Zico sehingga dengan berat hati, ia mengikuti perginya Zico.


Dan saat keduanya telah sampai di kamar, dengan gerakan cepat Zico mengunci pintu kamar mereka. Kemudian ia menatap kearah Fanya yang berdiam diri tak jauh darinya. Perempuan itu sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Untuk apa suaminya itu membawa dirinya ke kamar? Tidak mungkin kan kalau dia ingin mengajaknya tidur bersama di sore hari seperti ini? Ahhh atau mungkin suaminya itu tidak mau ketiga orangtua tadi menemukan keberadaan mereka berdua yang telah kabur dari mereka? Hmmm bisa jadi.


Tapi sepertinya tebakannya itu salah besar. Bagaimana tidak? Melihat tatapan Zico dengan senyum miringnya seakan-akan menjawab jika laki-laki itu memiliki tujuan lain berbeda dengan tebakan dari Fanya tadi. Dan sepertinya Fanya tau maksud dari tatapan dan senyuman Zico itu. Sehingga saat Zico semakin mendekati dirinya, ia berjalan mundur hingga tak terasa punggungnya menabrak tembok. Ia tak bisa menghindari Zico lagi karena kedua tangan suaminya sudah mengunci pergerakannya.


"Sayang," panggil Zico dengan suara seraknya sembari salah satu tangannya bergerak, mengelus pipi Fanya.


"Karena aku sudah menuruti perintahmu tadi maka hukuman yang tadinya akan kamu berikan kepadaku sekarang sudah batal, maka dari itu aku sekarang menginginkanmu, sayang," ucap Zico dengan kalimat terakhir sengaja ia bisikkan tepat di samping telinga Fanya. Membuat wanita itu merasa merinding. Ia tau maksud dari ucapan Zico tadi, apa lagi jika bukan melakukan hubungan suami-istri seperti yang semalam mereka lakukan. Ayolah Fanya masih merasakan sedikit rasa perih di bagian bawahnya.


Bulu kuduk Fanya yang tadinya sudah berdiri semakin dibuat meremang kala tiba-tiba Zico melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Disini sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Zico dan tanpa Fanya pikirankan sebelumnya, saat Zico mengatakan perkataannya tadi laki-laki itu juga mengelus area yang ia maksud tentu saja di area sensitif Fanya dibawah sana. Oh astaga, suaminya itu tidak bisa kah diam sejenak saja? Jujur saja apa yang dilakukan oleh Zico mampu membangunkan napsu Fanya.


Sedangkan Zico, laki-laki itu yang melihat ekspresi wajah Fanya sekaligus hembusan nafas istrinya itu yang tak beraturan tanda jika Fanya sudah terpancing dengan tindakannya tadi, tanpa menunggu waktu lama lagi. Ia langsung mengangkat tubuh Fanya kedalam gendongannya kemudian ia membawa tubuh istrinya itu menuju kearah ranjang. Dan tanpa aba-aba lagi setelah ia merebahkan tubuh Fanya, ia langsung menyambar bibir istrinya lalu proses pembuatan baby kembali terjadi.


__ADS_2