
Kedua bibir itu saling bertemu hanya beberapa detik saja karena Fanya langsung melepaskan ciumannya lebih tepatnya kecupannya tadi dengan kepala yang saat ini ia tundukkan, berusaha menyembunyikan semu merah di kedua pipinya.
Sedangkan Zico yang sedari tadi membeku, ia mengerjabkan matanya. Tangannya pun kini bergerak memegang bibirnya sendiri. Walaupun hanya sebuah kecupan singkat, Zico masih bisa merasakan kenyalnya bibir Fanya. Ahhh mengingat hal itu Zico tersenyum malu-malu. Saking malunya ia meletakkan keningnya di bahu Fanya yang berada di depannya.
"Please jangan lihat wajahku dulu, Fan. Aku malu," ucap Zico dengan diakhiri suara lirih diakhir kalimat yang ia ucapkan.
Fanya yang tadi sempat bingung, kenapa Zico malah meletakkan keningnya di bahunya, ia kini tersenyum lebar saat tau maksud dari laki-laki yang entah bisa ia katakan calon suaminya atau belum itu. Ternyata Zico sama dengannya yang mati-matian menahan salting karena kecupan pertama mereka. Dan mungkin wajah laki-laki itu tengah memerah sempurna sehingga ia malu jika sampai Fanya melihat wajahnya seperti kepiting rebus itu.
Tangan Fanya bergerak menepuk-nepuk punggung Zico. Sedangkan Zico, ia menepuk-nepuk pipinya pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang hampir gila karena dimabuk cinta dengan Fanya.
Beberapa saat dua orang itu saling diam satu sama lain sembari menenangkan dirinya sendiri hingga Fanya dibuat terperanjat kaget kala tiba-tiba Zico menggendongnya dan memutar tubuhnya sampai Fanya kini melingkarkan tangannya di leher Zico cukup erat.
Putaran tubuh Zico yang tengah menggendong Fanya terhenti saat mereka sudah berada di samping ranjang. Zico langsung merebahkan tubuh Fanya secara perlahan, namun saat tubuh Fanya sudah menyentuh kasur, bukannya ia langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Fanya, ia justru mengukung tubuh Fanya di bawahnya.
Tangan Zico kini bergerak menyentuh setiap inci wajah Fanya sembari berkata, "Mata ini milikku, hidung ini milikku, bibir ini juga milikku, semua yang ada ditubuh kamu sekarang adalah milikku. Jadi jangan harap aku mau berbagi dengan laki-laki lain. Aku harus menjadi satu-satunya di dalam hidup kamu. Dan berjanjilah jangan pernah mengkhianatiku jika kamu tidak mau melihatku gila karenamu. Aku mencintaimu, Fanya. Sungguh aku sangat mencintaimu. I love you."
Zico memberikan kecupan di kening Fanya cukup lama yang membuat Fanya memejamkan matanya dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya. Ia berharap keputusannya menerima cinta Zico merupakan keputusan yang tepat. Dan untuk masalah keluarga Zico yang nanti tidak mensetujui hubungan mereka, Fanya akan memikirkannya nanti sembari mencari cara agar meluluhkan hati keluarga Zico jika mereka tidak memberikan restunya.
Zico kini menjauhkan bibirnya dari kening Fanya, tubuhnya pun ia gulingkan kesamping tubuh Fanya yang kini merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap kearahnya. Tentu saja Zico juga melakukan posisi yang sama sehingga keduanya kini saling berhadapan.
__ADS_1
"Terimakasih telah menerima cintaku, Fanya. Tidak sia-sia penantianku selama bertahun-tahun yang berakhir membuahkan hasil yang sangat-sangat manis untukku." Zico mengecup punggung tangan Fanya yang ia genggam.
"Dan untuk rencana pernikahan kita, aku akan membahasnya bersama keluargaku sekaligus aku akan mengenalkan kamu dengan mereka," ucap Zico yang membuat jantung Fanya bergemuruh dengan sedikit rasa takut yang kembali menguasainya.
Zico yang menyadari perubahan raut wajah Fanya, ia semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Tenang lah. Keluargaku bukan orang jahat, mereka baik semua. Jadi kamu tidak perlu khawatir oke. Lagian nanti ada aku saat kamu bertemu keluargaku. Kamu bisa mengaduk perilaku mereka jika mereka sudah lancang melukai hati ataupun fisikmu. Aku akan menegur mereka jika mereka memang melakukannya. Dan ingat satu hal, aku selalu mempercayai kamu. Jadi apa yang kamu katakan akan aku anggap itu sebuah kebenaran," tutur Zico mencoba menenangkan Fanya.
Fanya tampak menghela nafas panjang sebelum dirinya menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya ia mendudukkan tubuhnya, meraih notebooknya dan menulis sesuatu disana.
Zico meraih notebook yang baru saja disodorkan oleh Fanya. Ia ikut duduk, lalu selanjutnya ia membaca kalimat di notebook tersebut.
Zico tersenyum dengan tangan yang mengembalikan notebook milik Fanya.
"Besok," jawab Zico yang otomatis membuat Fanya membelalakkan matanya terkejut. Kenapa semuanya serba cepat? pikir Fanya. Ayolah otak Fanya belum menemukan cara untuk menyakinkan keluarga Zico jika dirinya pantas bersanding dengan laki-laki itu jika memang mereka menolaknya mentah-mentah.
"Lebih cepat, lebih baik bukan?" sambung Zico. Fanya memejamkan matanya sesaat dengan helaan nafas panjang.
"Baiklah, terserah kamu saja."
__ADS_1
Balasan dari Fanya dengan seketika membuat Zico semakin melebarkan senyumannya.
"Kalau begitu kamu istirahatlah. Karena mungkin pagi-pagi buta kita akan berangkat kerumah keluargaku." Fanya mengerutkan keningnya.
"Rumah keluargaku semuanya sekaligus rumahku yang sebenarnya ada di Jakarta sayang. Jadi lebih baik kita berangkat pagi karena kalau siang bakal macet parah," jelas Zico yang sepertinya tau keterbingungan Fanya tadi.
Fanya membalas dengan anggukan kepalanya beberapakali. Kemudian ia bergerak memposisikan seluruh tubuhnya diatas ranjang. Tapi saat dirinya ingin merebahkan tubuhnya, bersiap untuk istirahat seperti yang dikatakan oleh Zico, suara laki-laki itu kembali terdengar yang membuat Fanya mengurungkan niatnya.
"Tunggu sebentar sayang. Sepertinya kamu masih hutang penjelasan kepadaku," ujar Zico yang kini bersedekap dada dengan tatapan intimidasinya.
Fanya memincingkan salah satu alisnya, seolah-olah alisnya itu mewakili dirinya untuk berkata, "Penjelasan apa yang harus aku jelaskan kepadamu?"
"Jelaskan kenapa kamu tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi setelah pertemuan kedua kita waktu itu? Dan berakhir kita bertemu kembali beberapa minggu yang lalu di sini, di kota Bandung ini?" ucap Zico yang penasaran alasan Fanya tidak lagi di Jakarta setelah kejadian naas itu. Sekaligus ia juga penasaran, kenapa ia sangat sulit sekali menemukan Fanya padahal perempuan itu masih berada di negara kelahirannya dan berada di kota yang sangat dekat dengan kota Jakarta sekaligus kota yang ditempati Fanya bukanlah kota terpencil. Tapi kenapa sangat sulit menemukan Fanya waktu itu?
Fanya tampak menerawang ke kejadian masa lampau agar ia bisa menjawab pertanyaan dari Zico tadi. Dan saat ia sudah teringat semuanya, ia menorehkan semua jawaban atas pertanyaan dari Zico tadi diatas kertas notebooknya.
Zico dengan setia menunggu Fanya selesai dengan kegiatannya hingga beberapa menit telah berlalu. Dan tampaknya Fanya telah selesai menulis semua jawabannya di sana sehingga ia kini menyodorkan notebooknya tersebut kearah Zico. Tentu saja Zico menerimanya dengan senang hati.
Dan dengan perasaan yang benar-benar diliputi rasa penasaran yang tinggi Zico mulai membaca kalimat jawaban dari Fanya yang begitu panjang itu.
__ADS_1