
Di dalam restoran itu sangat ricuh saat ini. Banyak orang yang tengah berada di dalam hanya diam tak ingin ikut campur urusan mereka. Mereka semua hanya melihat seorang karyawan restoran yang tengah kena marah oleh salah satu pelayan laki-laki disana. Karyawan itu hanya senantiasa menundukkan ketakutan dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak berani menatap orang yang berdiri tegak di depannya saat ini. Dan karyawan itu tak lain adalah Fanya.
Alasannya kemarahan itu tercipta hanya lantaran pemuda yang tengah murka merasa kesal dengan Fanya yang tak membuka suaranya ditambah ia yang sedikit tertarik dengan Fanya meminta nomor perempuan itu namun dirinya malah diacuhkan oleh Fanya yang semakin membuat amarahnya meluap karena dengan Fanya yang menolaknya, ia akhirnya di ejek oleh teman-temannya yang saat ini berusaha untuk menghentikan ke marahnya. Namun tak satupun yang berhasil. Laki-laki itu masih terus marah, tak sesekali ia juga mengeluarkan perkataan kotor yang ia tujukan kepada Fanya. Ia menganggap Fanya adalah perempuan yang sombong dan angkuh.
"Lo itu hanya karyawan biasa! Tidak seharusnya Lo sombong!" teriak pemuda itu.
"Woyy! Udah. Lo jadi tontonan semua orang!" ucap salah satu temannya berusaha untuk melerai amukan dari pemuda itu. Bahkan ia berniat untuk menarik pemuda itu untuk pergi dari restoran ini, tangannya yang menggenggam lengan pemuda justru langsung ditangkis olehnya.
"Justru biar semua orang tau buruknya pelayanan di restoran ini. Harusnya dia tau SOP dalam pekerjaan yang tengah dia tekuni. Dan gue yakin salah satu SOP yang di terapkan adalah melayani pembeli dengan ramah. Tapi apa yang dia lakukan! Dia melayani kita hanya diam saja! Tidak mengucapkan sepatah kata. Hanya sebuah tulisan! Benar-benar tidak sopan! Dia pikir, dia robot gitu yang tinggal melayani saja tanpa memberikan keramah tamahan untuk pembelian? Tapi aku rasa robot lebih pintar dari dia, karena robot ada yang bisa bersuara dan bisa melayani pembeli dengan ramah!" Dada pemuda itu naik turun karena emosi yang melanda dirinya dengan jari telunjuk yang terus mengarah ke Fanya.
Kesunyian hanya berlangsung beberapa detik saja sebelum suara pemuda itu kembali terdengar.
"Oh atau jangan-jangan Lo bisu lagi?!" Seringaian tercipta di bibir pemuda itu dengan tangan yang kini bersedekap. Matanya pun menatap Fanya dari atas sampai bawah dengan tatapan jijiknya. Rasa suka yang sempat menghampirinya hilang begitu saja dan sekarang justru berubah menjadi benci dengan Fanya.
"Pantas saja dari tadi diam saja ternyata bisu! Harusnya yang punya restoran ini tidak menerima orang bisu seperti kamu! Merusak citra restoran ini saja!" makinya untuk kesekian kali.
Fanya menggenggam kuat pakaian yang tengah ia kenakan. Sampai tiba-tiba...
Bughhhh!!
Suara nyaring dari pukulan keras yang berada disampingnya serta teriakan beberapa orang yang ada di dalam restoran membuat Fanya dengan seketika menegakkan kepalanya.
__ADS_1
Matanya melebar sempurna kala melihat langsung seseorang yang tengah berkelahi di hadapannya. Ahhh lebih tepatnya satu orang yang menghajar habis-habisan pemuda yang sedari tadi melupakan amarahnya kepadanya. Orang-orang yang melihatnya pun berusaha untuk melerai hantaman yang terus di layangkan oleh laki-laki tersebut. Tapi sayangnya saat mereka baru menyentuh lengan laki-laki tadi, mereka yang justru terkena bogeman. Alhasil agar nyawa mereka selamat, mereka memilih mundur dengan rasa iba kepada pemuda yang tengah terkurung di bawah badan laki-laki tadi.
Fanya awalnya tak tau siapa laki-laki yang tiba-tiba menyerang pemuda itu sampai akhirnya laki-laki itu bersuara, "Mulut Lo sampah! Sialan! Gue akan robek mulut Lo!"
Fanya semakin dibuat terkejut kala mengetahui jika laki-laki itu adalah Zico terlebih lagi ia dibuat shock saat mendengar penuturan dari Zico tadi.
Ingin sekali Fanya berteriak untuk menghentikan aksi Zico. Namun sayangnya usahanya akan berakhir sia-sia. Alhasil dengan ketakutan yang menyelimuti dirinya. Ia melangkahkan kakinya mendekati Zico dan pemuda tadi.
Tangannya yang bergetar hebat perlahan menyentuh lengan Zico yang mana tangan laki-laki itu sudah ingin melakukan apa yang tadi ia ucapkan.
Zico yang merasa lengannya di cengkram kuat oleh seseorang, ia menggeram kesal. Tangannya pun sudah berada di udara, berniat menghantam orang yang dengan berani mengganggu dirinya. Namun tangannya itu berhenti di udara saat ia melihat wajah Fanya lah yang berada di sampingnya saat ini.
Fanya perlahan membuka matanya dan dengan seketika matanya yang masih berkaca-kaca bertemu dengan mata tajam milik Zico. Tangan laki-laki itu pun turun dan kembali mencengkeram kuat kerah pemuda tadi.
Fanya yang tak ingin Zico kembali mengulangi aksinya lagi, ia semakin mengencangkan cengkraman tangannya di lengan Zico sembari menggelengkan kepalanya, isyarat agar Zico menghentikan keributan ini.
Dan saat Fanya berusaha melunakkan hati Zico yang tampaknya masih enggan melepaskan pemuda tadi, suara menggelegar di belakang tubuh Zico terdengar.
"Apa-apaan ini!" Tatapan semua orang kini teralih ke seseorang yang baru datang.
Fanya yang melihat orang itu, dirinya semakin tak tenang. Ia sudah membayangkan konsekuensi apa yang akan ia dapatkan nanti dari bosnya itu karena ia sangat yakin bosnya sudah tau pemicu utama pertengkaran tersebut gara-gara dirinya. Yap, orang yang baru datang itu adalah bos Fanya, pemilik restoran tersebut yang menurut Fanya sangat galak.
__ADS_1
Dengan berkacak pinggang bos tersebut berucap, "Seret mereka berdua keluar dari restoran saya!"
Perintah dari laki-laki itu langsung dituruti oleh beberapa karyawan laki-laki tersebut daripada mereka terkena amukan dari bosnya jika tidak segara melakukan perintahnya.
Zico sempat memberontak saat sekitar 5 orang memegangi dirinya dan membawa ia keluar dari restoran tersebut. Namun sayangnya tenaganya yang hampir terkuras habis karena aksinya tadi, alhasil ia tak bisa lepas dari cekalan orang-orang itu. Tak hanya Zico saja yang diseret keluar, pemuda tadi pun juga sama nasibnya.
Saat keduanya sudah berada di luar, Zico masih sempat menatap tajam pemuda tersebut yang sudah tak berdaya sembari berucap, "Urusan kita belum selesai! Lo ganggu Fanya, berarti Lo siap nanggung akibatnya!"
Dan setelah mengatakan hal tadi, Zico mengalihkan pandangannya kearah lima orang yang masih setia memegangi dirinya.
"Lepaskan saya. Jika kalian tidak mau bernasib sama dengan bajingan itu!" ujar Zico dengan suara rendahnya. Tentu saja nyali ke lima orang tadi langsung menyusut. Mereka dengan cepat melepaskan Zico. Namun dengan keberanian yang masih tersisa, mereka tetap menjaga pintu masuk restoran, menghalau jikalau Zico atau pemuda tadi mau masuk lagi.
Zico yang melihat ke-lima orang itu berjajar rapi di depan pintu, ia berdecak kesal. Padahal ia berniat masuk lagi dan membawa Fanya pergi. Namun sepertinya ia harus mengurangkan niatnya tadi dan ia akan menunggu Fanya di mobilnya saja.
Sedangkan didalam restoran, Fanya senantiasa menundukkan kepalanya saat tatapan sang bos mengarah kepadanya. Sebelum ia mendengar helaan nafas panjang dari laki-laki tersebut lalu ia mengalihkan pandangannya ke semua pengunjung restoran tersebut.
"Maaf sudah mengganggu ketenangan kalian semua atas kejadian tadi. Saya selaku pemilik restoran ini meminta maaf yang sebesar-besarnya." Laki-laki itu tampak membungkukkan tubuhnya kearah pengunjung restoran tersebut. Ia merasa tak enak hati atas kejadian tadi.
Dan setelah ia memastikan jika pengunjung kembali tenang, laki-laki itu mengalihkan pandangannya kembali kearah Fanya sembari berkata, "Kamu, Fanya. Ikut saya!"
Bahu Fanya seketika melorot saat mendengar ucapan bos-nya itu. Langkahnya pun sangat loyo mengikuti kepergian bos-nya tadi dengan harapan semoga ia tak mendapat hukuman berat dari bos-nya itu.
__ADS_1