
Pintu ruang UGD terbuka dan keluar lah Adam dengan jas dokter yang melekat di tubuhnya. Keluarnya dokter itu langsung mendapat pertanyaan yang dilayangkan oleh Zico.
"Gimana bang? Gimana keadaan Fanya? Dia baik-baik saja kan?" tanya Zico terlihat sekali jika ia sangat khawatir.
Zico tampak tersenyum kecil dengan tangan yang bergerak untuk menepuk pundak sang adik.
"Fanya hanya kelelahan dan mengalami dehidrasi. Tapi kamu tenang saja dia sekarang sudah baik-baik saja. Bahkan dia sudah sadar dan mungkin sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat," jelas Adam yang berhasil membuat Zico menghela nafas lega. Tak hanya Zico saja yang terlihat lega, melainkan Mommy Della dan Daddy Aiden pun juga sama.
"Tapi ada satu hal yang perlu Abang tanyakan ke kamu, Jio." Fokus ketiga orang yang baru saja menghela nafas lega itu mengarah ke Adam sepenuhnya.
"Apa kamu tau jadwal terakhir Fanya menstruasi?" tanya Adam yang berhasil membuat Zico berpikir keras. Sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya.
"Seingat Jio, Fanya terakhir kali menstruasi bulan lalu tanggal 5," balas Zico.
"Sekarang sudah tanggal 20. Kamu tau dia sudah menstruasi?" tanya Adam kembali.
Tentunya pertanyaan itu dibalas gelengan oleh Zico. Ingat dia laki-laki yang memiliki napsu cukup besar, ia harus mendapatkan haknya dari Fanya satu minggu 3 atau 4 kali dan terakhir kali ia melakukan hubungan badan dengan istrinya itu kemarin malam. Jadi sudah di pastikan jika Fanya belum mengalami datang bulan di bulan ini.
"Memangnya ada apa sih bang? Kenapa Abang tanya tentang masalah menstruasi Fanya. Apa ada sesuatu yang serius yang berkaitan dengan menstruasi itu?" tanya Zico penasaran.
"Tidak. Tidak seperti itu Jio. Hanya saja Abang merasa kalau Fanya tengah isi. Abang memang bukan dokter kandungan, tapi ingat Abang sudah punya istri dan anak. Jadi Abang sedikit tau ciri-ciri orang yang tengah hamil. Tubuh Fanya terlihat berisi dan yang buat Abang curiga, perut dia agak membesar. Abang kira tadi penyebab Fanya pingsan itu karena perutnya yang mungkin ada kelainan atau apa tapi setelah Abang periksa, Abang tidak menemukan penyakit apapun disana. Dan tidak mungkin membesarnya perut Fanya karena lemak, karena perut dia keras bukan empuk. Jadi dari situ Abang mikir kalau Fanya tengah hamil sekarang terlebih kamu tadi bilang kalau bulan ini Fanya belum datang bulan padahal tanggal datang bulan dia sudah kelewat," jelas Adam mengungkapkan seluruh isi pikirannya tadi.
__ADS_1
Ketiga orang tadi yang mendengar ucapan dari Zico tampak terdiam sekaligus terkejut. Mereka tak menyangka jika tidak menyadari jika selama ini Fanya tengah hamil.
"Abang yakin jika Fanya tengah hamil?" tanya Mommy Della untuk memastikan jika apa yang ia dengar tadi benar.
"Adam juga belum tau pasti Mom. Semua yang Adam katakan tadi hanya tebakan Adam saja. Dan untuk memastikannya Adam akan suruh dokter Ariana buat periksa Fanya saat ini juga." Mommy Della menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu tunggu apa lagi bang, sana gih panggil dokter Ariana," ucap Zico. Ia benar-benar tak sabar memastikan tebakan dari Adam tadi.
Adam yang mendapat usiran secara tak langsung dari sang adik, ia mendengus kesal. Tapi tak urung dirinya berjalan meninggalkan ketiga orang tadi yang tengah tersenyum senang dengan tatapan yang saling menatap satu sama lain.
Tak berselang lama setelah perginya Adam tadi, pintu ruang UGD kembali terbuka dan terlihatlah seorang suster yang tengah mendorong kursi roda yang tengah diduduki oleh Fanya.
"Sayang," ucap Zico mendekati Fanya. Tampak Fanya menengadahkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah tampan sang suami sembari tersenyum.
Fanya menggelengkan kepalanya. Tangannya pun bergerak, mengusap lembut rahang kokoh milik Zico. Bibirnya pun bergerak mengatakan, "Aku baik-baik saja. Tubuhku hanya sedikit lemas. Kamu tidak perlu khawatir."
Zico berdecak kala Fanya menyuruhnya untuk tidak khawatir. Hey, bagaimana ia tak khawatir jika tiba-tiba saja ia mendapatkan kabar jika istrinya tercinta pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit padahal sebelumnya terlihat baik-baik saja. Jika Fanya tau jantungnya hampir copot setelahnya mendapat kabar tadi.
Saat Zico ingin membalas ucapan dari Fanya tadi, bibirnya yang semula terbuka kini terkatup kembali kala suara Adam lebih dulu masuk kedalam indra pendengaran semua orang yang berada didepan UGD itu.
"Sus, segera bawa pasien ke ruang periksa dokter Ariana. Dokter Ariana sudah menunggu disana," ujar Adam.
__ADS_1
"Baik, Dok." Suster tadi langsung mendorong kursi roda yang di tempati oleh Fanya. Kepergian dari Fanya dan suster tadi tentunya diikuti oleh semua orang yang tadi berada di depan ruang UGD.
Sedangkan Fanya, perempuan itu tidak tau kenapa ia dibawa ke ruang periksa lagi. Bukannya dia tadi sudah di periksa oleh Kakak iparnya? Apa jangan-jangan ia memiliki penyakit yang cukup serius sehingga butuh penanganan lagi dengan dokter yang memang ahli dalam penyakit yang tengah dirinya alami saat ini?
Mata Fanya mengerjab kala ia mendengar ketukan pintu yang dilakukan oleh suster tadi. Dan saat ia menengadahkan kepalanya, tak sengaja matanya menatap tulisan yang berada di sisi pintu.
"dr. Ariana Darasita. Ruang Obgyn. Bukannya Obgyn itu mengarah ke perihal masalah reproduksi, kehamilan dan lain sebagainya?" Pertanyaan itu muncul di otak Fanya.
Dan belum sempat ia melayangkan sebuah pertanyaan, pintu di depannya terbuka dan terlihatlah seorang suster yang mempersilahkan mereka untuk segara masuk.
Saat semua orang itu masuk, mereka bisa melihat paras cantik dari seorang dokter yang memiliki nama Ariana itu.
"Selamat pagi," sapa dokter cantik itu.
"Selamat pagi, Dok," balas mereka dengan serempak.
"Saya tadi diberi amanah oleh dokter Adam untuk memeriksa adik iparnya. Apakah nyonya ini orangnya," tanya dokter Ariana dengan menatap kearah Fanya dengan senyum di bibirnya.
"Benar dia orangnya dok. Jadi bisa tidak dokter secara periksa dia sekarang juga?" Timpal Adam yang turut penasaran. Dokter Ariana hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu menyuruh dua suster tadi membantu Fanya untuk menuju ke bilik pemeriksaan dan membantu merebahkan tubuh Fanya diatas brankar.
"Apa suaminya ada? Jika ada mari ikut saya melakukan USG ke pasien," ucap Dokter Ariana.
__ADS_1
Zico tentunya dengan sangat antusias melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki dokter Ariana itu. Saat ia telah sampai, ia memposisikan dirinya disamping Fanya, menggenggam tangan istrinya itu yang masih bingung dengan situasi saat ini. Bahkan ia terkejut kala dokter Ariana menyikap baju yang ia kenakan sampai perutnya terekspos. Dan lagi-lagi ia terkejut kala ia merasakan jel dingin menerpa perutnya hingga sebuah alat yang entah ia tak tau alat apa menempel di perutnya, berputar-putar di area perutnya itu.
Fanya hanya bisa terdiam dengan menatap kearah dokter Ariana yang ekspresi wajahnya berubah-ubah dengan sesekali mengalihkan pandangannya ke sebuah layar yang hanya terlihat warna hitam dan putih itu. Tanpa mengalihkan pandangannya kearah Zico yang tengah harap-harap cemas dengan hasil USG yang tengah dokter Ariana lakukan kepada istrinya.