
Zico yang sedari tadi fokus dengan laptopnya, perhatiannya teralihkan ke sebuah benda pipih yang selalu berada di sampingnya kini tengah berdering nyaring.
Buru-buru Zico mengangkat telepon tersebut kala ia melihat nomor seseorang yang ia kenal di layar ponselnya.
"Halo. Kenapa Teri?" tanya Zico kala sambungan telepon tersebut telah terhubung.
📞 : "Halo tuan. Tuan, segera kesini. Bu Fanya, tuan."
Zico yang mendengar nama Fanya disebutkan oleh Teri langsung menegakkan tubuhnya.
"Ada apa dengan Fanya? Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Zico mulai khawatir.
📞 : "Bu Fanya tiba-tiba pingsan tuan."
"Pingsan, kenapa bisa?" tanya Zico sembari berdiri dari posisi duduknya kemudian ia menyambar jaket yang berada di gantungan baju dan kunci mobilnya.
📞 : "Saya juga kurang tau penyebabnya tuan. Hanya saja tadi sebelum pingsan Bu Fanya terlihat pucat dan lemas." Zico mengusap wajahnya dengan kasar berusaha mengalihkan rasa khawatirnya.
"Kamu jangan kemana-mana tetap disamping Fanya. Saya segara kesana," ujar Zico yang sudah keluar dari apartemennya.
📞 : "Baik tuan," ucap Teri sekaligus penutup percakapan diantara mereka berdua.
Dengan berlari kecil Zico bergegas menuju ke basemen gedung apartemen tersebut. Dan saat ia sudah masuk kedalam mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli lagi dengan keselamatannya karena yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya ia yang harus segara sampai dan mengetahui keadaan Fanya.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Zico telah sampai di restoran miliknya. Beberapa karyawan memberikan hormat kepadanya kala ia berpapasan dengan mereka. Tentunya Zico hanya membalasnya dengan anggukan kecil tanpa senyum di bibirnya dan tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Tuan," ucap Teri dan Ita secara bersamaan kala Zico sudah berdiri di depan mereka berdua.
"Dimana Fanya?" tanya Zico.
"Ada di dalam tuan. Dokter Dani tengah memeriksa keadaan Bu Fanya saat ini," jawab Teri yang membuat Zico menganggukkan kepalanya sebelum ia melangkahkan kakinya mendekati pintu ruang kerja Fanya. Tanpa permisi terlebih dahulu, Zico langsung membuka pintu ruangan tersebut dan benar saja apa yang dikatakan oleh Teri tadi jika saat ini Fanya tengah diperiksa oleh dokter khusus untuk para karyawan di restoran tersebut yang sengaja Zico bawa untuk kenyamanan para karyawannya.
Zico kembali menutup pintunya saat tatapan matanya bertemu dengan mata Dani. Ia lalu melangkahkan kakinya mendekati laki-laki berjas putih itu.
"Gimana keadaannya?" tanya Zico sembari menatap wajah Fanya yang tampak sangat pucat namun terlihat tenang dengan mata yang tertutup rapat.
Laki-laki yang berprofesi sebagai seorang dokter pun ia menghela nafas panjang kemudian ia menarik tangan Zico untuk sedikit menjauh dari tubuh Fanya.
"Saya tau isi pikiran kamu, tuan Zico yang terhormat. Jadi lebih baik kamu singkirkan pikiran negatif kamu yang menuduh saya seorang gay sebelum saya operasi otak kamu dan saya tukar dengan otak sapi," geram Dokter Doni yang tak sekali dua kali ia dituduh memiliki kelainan menjijikan itu oleh Zico, jadi ia sudah tau isi pikiran Zico saat laki-laki itu mengatakan agar ia tidak menyentuhnya.
"Hmmm. Jadi katakan sekarang, kenapa calon istri saya bisa pingsan?" Dokter Doni tampak terkejut mendengar ucapan dari Zico yang mengklaim jika Fanya adalah calon istrinya. Tapi bukan saatnya ia mengintrogasi Zico saat ini juga. Jadi dirinya memiliki untuk menjelaskan tentang kondisi Fanya saja.
"Sebenarnya tidak ada hal yang perlu dikawatirkan. Nona Fanya tidak memiliki riwayat penyakit ganas. Hanya saja imun didalam tubuhnya sangatlah rendah yang mengakibatkan ia akan cepat kelelahan dan berakhir sakit seperti saat ini. Dan sepertinya dia juga telat makan sehingga asam lambungnya naik karena dia memiliki riwayat sakit maag," jelas dokter Doni yang membuat Zico mengerutkan keningnya. Ia kira selama bekerja sampai lembur, Fanya selalu menyempatkan dirinya untuk makan tapi ternyata Zico kecolongan. Ia tidak terlalu memperhatikan pola makan Fanya padahal hal tersebut yang menjadi salah satu penyebab Fanya pingsan saat ini.
Ini juga gara-gara dirinya yang akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia tak bisa 24 jam mengawasi Fanya. Mengingat hal itu, Zico jadi marah dengan dirinya sendiri yang ia anggap tak becus menjaga Fanya.
Saat Zico dan dokter Doni masih berada di tempatnya sebelumnya, disisi lain tepatnya di atas sofa, perlahan Fanya membuka matanya. Ia mengerjabkan matanya saat cahaya masuk kedalam retinanya. Dan saat itu juga Fanya merasa sesuatu yang sangat berat kini tengah menghantam kepalanya. Benar-benar sangat sakit dan sangat memusingkan.
__ADS_1
Fanya mengedarkan pandangannya saat telinganya menangkap suara seseorang yang tengah saling berbincang. Saat ia sudah bertemu dengan sumber suara, Fanya sangat terkejut ketika ia melihat postur tubuh seseorang yang sangat ia kenal.
Seseorang yang beberapa hari belakangan ini menghilang bagaikan ditelan bumi dan sekarang tiba-tiba muncul didepannya.
"Tidak mungkin itu Kak Aka. Aku sepertinya hanya salah lihat saja."
Fanya menggelengkan kepalanya yang justru membuat pusing yang menderanya semakin menjadi dan dengan refleks ia mendesis kesakitan.
Desisan yang terbilang kecil itu masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Zico. Laki-laki itu menolehkan kepalanya kearah belakang tubuhnya. Matanya terbuka lebar kala melihat Fanya justru memukul-mukul kepalanya.
Zico yang tak akan membiarkan Fanya menyakiti dirinya sendiri ia berlari kencang menuju ke tempat Fanya. Lalu setelahnya ia menangkap kedua tangan Fanya yang tadi sempat perempuan itu gunakan untuk memukul kepalanya sendiri.
"Hey kenapa? Kenapa menyakiti diri kamu sendiri?" tanya Zico yang justru membuat Fanya terdiam namun matanya kali ini berkaca-kaca siap menumpahkan cairan bening. Dan tatapan matanya itu seolah-olah berkata, "Aku sedang tidak menyakiti diriku sendiri. Tapi kepalaku sangat sakit! Aku melakukan pukulan tadi untuk meredakan rasa sakit di kepalaku!"
Zico yang sepertinya paham dengan tatapan mata dari Fanya pun ia mengulurkan tangannya lalu mengelus kepala Fanya.
"Disini sakit ya?" tanya Zico yang kali ini bukan hanya elusan saja yang ia berikan di kepala perempuan kesayangannya itu melainkan pijatan kecil juga ia lakukan.
Fanya menganggukkan kepalanya guna menjawab ucapan dari Zico tadi.
Zico tersenyum kala Fanya menjawabnya. Bahkan tatapan perempuan itu tak sedatar beberapa hari belakangan tapi sudah kembali menatapnya dengan tatapan lembut. Dan Zico menyimpulkan jika Fanya sudah tidak marah lagi kepadanya dan semoga saja kesimpulan yang ia buat itu memang benar adanya.
Zico menjongkokkan tubuhnya disamping tubuh Fanya yang terbaring di atas sofa tanpa menghentikan pijatannya.
__ADS_1
"Istirahatlah. Aku akan membantu kamu menghilangkan rasa sakit kepalamu dengan pijatanku," ujar Zico yang diangguki kecil oleh Fanya. Perempuan itu menutup matanya, pijatan yang diberikan oleh Zico tak bisa ia ragukan sama sekali karena hal itu benar-benar membantu meredakan sakit kepalanya. Dan seperti yang diperintahkan oleh Zico sekaligus ia merasa keenakan, akhirnya Fanya tertidur dengan membiarkan Zico terus memijatnya dan salah satu tangannya yang lain menggenggam erat tangan kanannya.