
Setelah makan malam bersama, Zico mengantar Fanya kembali ke panti asuhan tanpa bertanya terlebih dahulu letak alamat tempat tinggal ke perempuan yang saat ini duduk di sampingnya.
Fanya menatap kearah Zico, meminta penjelasan kala mobil laki-laki itu telah masuk kedalam area panti.
Zico yang mengerti tatapan dari sang calon istri pun ia menampilkan senyumannya, lalu ia berkata, "Maaf, aku tau alamat panti ini karena aku pernah mengikuti kamu."
Kejujuran Zico itu membuat Fanya kini mengerutkan keningnya. Kapan Zico mengikutinya, perasaan ia tak pernah merasa diikuti oleh seseorang selama ini?
"Aku mengikutimu setelah kejadian di tempat kerjamu beberapa hari yang lalu." Seolah tau apa yang Fanya pikirkan, Zico menjawab pertanyaan yang berada didalam otak Fanya.
Fanya yang mengerti pun ia membulatkan bibirnya membentuk huruf O walaupun tidak mengeluarkan suara sedikitpun sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kita keluar sekarang," ucap Zico lalu setelahnya ia lebih dulu keluar dari dalam mobil, berlari kecil menuju ke samping pintu mobilnya yang lain, yang mana pintu itu berada disebelah Fanya.
Zico membukakan pintu mobil tersebut untuk Fanya yang dibalas senyuman manis oleh perempuan tersebut.
Keduanya kini saling berpegangan tangan kemudian melangkahkan kaki mereka masuk kedalam panti yang suasananya sedikit sepi. Maklum saja karena saat ini waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Dan kemungkinan para anak-anak sudah banyak yang tidur dan hanya tinggal orang dewasa saja yang sebagian belum mengantuk.
Fanya menekan bel yang tertera disamping pintu utama dan tak berselang lama, pintu yang berada dihadapan Fanya dan Zico terbuka, menampilkan seorang gadis dengan senyum manisnya.
"Kak Fanya udah pulang. Welcome home Kak," ucapnya dengan memberikan pelukan hangat kepada perempuan yang sudah ia anggap sebagai Kakak kandungannya itu.
Fanya membalas pelukan tersebut tak kalah hangatnya dari gadis tadi, tak lupa senyum manis pun tidak pernah luntur dari bibirnya.
Sedangkan Zico yang melihat kejadian itu, hatinya merasa hangat. Sungguh ia merasa beruntung karena bisa bertemu dengan Fanya dan berhasil mendapatkan hatinya.
__ADS_1
Gadis yang tadi memeluk tubuh Fanya dengan mata yang tertutup sesaat kini mata itu terbuka dan saat itu juga ia baru menyadari jika sang Kakak tidak sendiri melainkan ada orang lain yang sekarang tengah berdiri disamping Fanya dengan wajah datarnya.
Gadis tersebut tampak kesusahan menelan salivanya akibat melihat tatapan mata Zico yang menurutnya sangat menyeramkan sehingga ia kini melepaskan pelukannya.
"Ka---kak Fanya sama siapa?" tanya gadis itu takut-takut sembari menundukkan kepalanya.
Gerak-gerik dari gadis itu tentunya membuat Fanya curiga sehingga ia kini melirik kearah Zico. Dan saat ia melihat raut wajah Zico yang sangat-sangat berbeda saat bersama dengan dirinya tadi, ia langsung mendengus kesal sebelum tangannya langsung menepuk cukup keras lengan Zico yang otomatis membuat laki-laki itu meringis.
"Awwww, kenapa kamu memukulku, sayang? Sakti lho ini," ucap Zico dengan mengelus-elus lengannya.
Fanya memutar bola matanya malas sebelum dirinya memberikan isyarat dengan melirik kearah gadis yang saat ini tengah melongo dengan tatapan kearah Zico lalu kearah Fanya secara bergantian dan itu dilakukan secara berulang.
"Ap---apa aku tadi tidak salah dengar?" tanya gadis itu.
"Salah dengar tentang apa? Tentang saya yang memanggil Kakakmu ini dengan sebutan sayang?" Gadis itu menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari Zico.
"A---APA? CALON IS---" Belum sempat gadis itu melanjutkan teriakannya, tangan Fanya sudah lebih dulu bertengger di bibirnya, membungkam erat bibirnya tersebut lalu kemudian ia mendorong pelan gadis tersebut yang masih ia bungkam mulutnya agar segara masuk kedalam rumah.
Sedangkan Zico, ia terkekeh kecil melihat wajah terkejut gadis tadi sekaligus melihat reaksi Fanya yang tampak kelimpungan saat gadis tadi berteriak. Dua orang itu benar-benar sangat lucu dan sangat pas menjadi sepasang Kakak beradik.
Fanya yang sudah berhasil membawa gadis tadi sampai di ruang tamu, ia melepaskan bungkaman tangannya. Lalu setelahnya ia menggerakkan tangannya, memberikan bahasa isyarat kepada gadis tersebut.
"Bisakah kamu tidak teriak-teriak? Teriakan kamu tadi bisa membangunkan semua orang yang sudah terlelap. Dan itu tidak sopan karena sudah menggangu ketenangan orang lain. Kamu paham, Lesi?"
Gadis yang tengah diomeli oleh Fanya hanya memberikan cengirannya.
__ADS_1
"Hehehe iya-iya Kak, aku paham kok. Hanya saja aku terlalu terkejut dengan ucapan Kakak tadi. Alhasil aku teriak deh," ucap Lesi yang hanya dibalas helaan nafas dari Fanya.
"Lain kali jangan diulangi lagi."
"Siap Kak," balas Lesi dengan memberikan sikap hormat kepada Fanya.
"Ehemmm, apa seorang tamu harus menunggu diluar seperti ini dan memang tidak diperkenankan masuk kedalam?" Ucapan dari Zico tadi membuat dua perempuan yang tengah berada di ruang tamu itu langsung mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara.
Dan saat itu juga Fanya menepuk keningnya sebelum ia melambaikan tangannya, kode agar Zico langsung masuk saja.
Sedangkan Lesi, ia berkata, "Hehehe maaf Kak lupa. Silahkan masuk Kak hmmmm Kak---"
Lesi cukup bingung karena ia belum tau nama laki-laki yang tadi bersama Kakaknya itu.
"Zico," timpal Zico sembari melangkahkan kakinya kedalam rumah panti yang sangat luas itu.
"Ohh namanya Kak Zico. Silahkan Duduk Kak," ucap Lesi yang tak setakut tadi ketika pertama kali melihat wajah Zico karena laki-laki itu saat ini sudah mengubah ekspresi wajahnya.
Tanpa di suruh untuk kedua kalinya Zico langsung mendudukkan tubuhnya. Sedangkan Fanya dan Lesi, mereka berdua kembali berhadapan. Terlihat Fanya menggerakkan tangannya, tengah bercakap dengan bahasa isyarat.
"Lesi, aku minta tolong buatkan teh hangat dengan gula setengah sendok teh saja untuk Kak Aka. Kakak mau ke kamar ibu dulu."
Lesi tampak menganggukkan kepalanya. Tapi saat Fanya ingin beranjak dari hadapannya, Lesi memegang lengan Fanya.
"Tunggu dulu Kak. Aku masih butuh penjelasan Kakak tentang ucapan Kak Zico tadi," ucap Lesi dengan suara lirih agar Zico tidak mendengar ucapannya. Ia juga tidak memanggil Zico dengan panggilan yang sama dengan yang Fanya sebutkan tadi. Karena laki-laki itu tadi memperkenalkan diri dengan nama Zico sekaligus ia menganggap jika panggilan "Kak Aka" ini hanya di khususkan untuk Fanya saja.
__ADS_1
"Nanti kamu akan tau sendiri jawabannya."
Balasan dari Fanya itu membuat bibir Lesi mengerucut lucu. Apalagi saat melihat Fanya mulai melangkahkan kakinya dari hadapannya yang membuat Lesi sebal dengan Kakaknya yang satu itu. Tidak tau kah dia jika dirinya sudah kepo maksimal? Tapi apalah daya, ia ingin memaksa agar Fanya menjelaskan semuanya sekarang justru akan membuat mereka berdua dipandang tidak sopan karena masih ada tamu yang perlu mereka jamu. Alhasil Lesi memilih untuk pergi juga dari ruang tamu menuju dapur, menjalankan tugas yang tadi Fanya berikan kepadanya.